Terjerat Cinta Security

Terjerat Cinta Security
Suasana Memanas


__ADS_3

Setelah memesan makanan, Sony kembali lagi kemejanya, bergabung dengan Vania dan Sindy. Tak lama kemudian Beni datang lalu menyapa mereka bertiga yang sedang duduk di satu meja.


 


“Sudah pesan makanan?” Beni duduk di kursi dekat Sindy.


 


“Sudah,” jawab Sony singkat.


 


Vania terus terdiam dan sesekali matanya melihat sekitarnya tanpa ada tujuan hanya untuk menghilangkan rasa gugup.


 


“Oh ya Son, nanti antar aku ke Malioboro ya, aku mau berkunjung dan berbelanja.”


 


“Maaf Sin, aku tidak bisa. Nanti sama Beni saja ya.”


 


“Yah, kenapa? Aku males sama Beni, dia begitu bawel,” ucap Sindy dengan nada sedikit manja dengan nada putus asa.


 


“Nggak ada yang mau pergi sama kamu Sin! Berangkat aja sendiri.” Beni merasa terganggu dengan ucapan Sindy. Meskipun mereka sudah saling mengenal, tetapi dia selalu bertengkar jika di satukan.


 


“Nanti malam aku harus menemani Vania mencari sesuatu.”


 


Vania yang tidak merasa ada janji dengan Sony pun ia mengernyitkan dahinya pada Sony, namun ia tak mau bertanya karena ia sudah kehilangan mood.


 


Beberapa menit kemudian, makanan mereka datang. Perhatian Sony selalu tertuju pada Vania, ia melayani Vania dengan baik meskipun ia juga sedang menyuap makanan ke mulutnya. Sindy yang melihatnya merasa risih dan tidak nyaman. Sedari tadi Vania tak mengucap satu kata pun, ia hanya terdiam kaku berada di antara Sony, Beny, dan Sindy. Penampilan mereka sangat berkelas sedangkan ia hanya berbaju karyawan biasa.


 


“Son, tumben kamu pesan jus mangga. Bukankah kamu suka jus alpukat?” tanya Sindy sok akrab.


 


“Aku suka keduanya.”


 


“Aku ingat banget dulu aku pernah buatin kamu jus mangga yang asem banget terus sejak itu kamu benci sama mangga. Ingat nggak?! Hahaha.”


 


Sony hanya tersenyum tipis menanggapi ocehan Sindy yang tidak penting. Ia lebih fokus pada makanannya. Vania pun tiba-tiba merasa hatinya mulai memanas. Mungkin ia cemburu pada Sindy karena ia lebih mengenal Sony lebih dulu dibanding dirinya.


 


Vania makan dengan tergesa-gesa, tak peduli makanan itu mengotori sekitar bibirnya. Ia melampiaskan kecemburuannya dengan banyak mengambil sambal.


 


“Dek, pelan-pelan makannya. Sambalnya juga kenapa banyak-banyak sih, nanti sakit perut.” Sony memperhatikan Vania yang berkelakuan aneh. Tangan Sony meraih tisu dan mengelap bibir Vania dengan lembut.


 


“Son, tahu nggak. Sejak kamu pergi dari rumah, Tante selalu mengajakku membuat kue, mengajakku ke mall. Dan tante selalu menyuruhku buat telepon kamu agar kamu mau pulang. Tapi aku berpikir percuma juga, karena aku yakin kamu juga nggak bakal mau. Soal perjodohan pun aku juga tidak pernah menyetujuinya, kecuali kalau kamu mau sih aku malah seneng. Hahaha..” ucapan itu sontak membuat Vania terkejut


 


Entah apa tujuan Sindy berbicara seperti itu di depan Vania. Mungkin ia sengaja membuatnya terbakar api cemburu, atau mungkin ada maksud lain.


 


“Mas, aku sudah selesai. Boleh aku pergi?” Vania bertanya pada Sony yang duduk tepat di sebelahnya. Mangkuk yang tadinya berisi bakso itu tinggal tersisa kuah yang sangat merah setelah di lahap oleh Vania dengan penuh nafsu. Mana tahan Vania berlama-lama di situ. Sindy dari tadi asyik mengajak bicara Sony meskipun Sony tak menanggapinya, berbeda dengan Beni yang sibuk dengan ponselnya.

__ADS_1


 


“Mas antar!” ucap Sony singkat sambil mengelap mulutnya dengan tisu lalu berdiri.


 


“Tidak perlu Mas, aku bisa sendiri. Lanjutkan saja makannya.”


 


“Son, di sini aja lah. Aku belum selesai makan nih.” Sindy menarik tangan Sony namun ditepisnya.


 


Vania melirik tegas pada Sindy lalu bola mata itu mengarah ke Sony seolah mengisyaratkan kekesalan.


 


“Permisi, saya duluan.” Ucap Vania pada Beni dan Sindy.


 


“Maaf Sin, ada yang harus aku bicarakan dengan Vania.”


 


Sony mengikuti Vania yang sudah tertinggal beberapa meter. Langkah Vania dibuat cepat agar terbebas dari pandangan wanita menyebalkan itu.


 


“Dek, tunggu.” Sony mengejar lalu berjalan di samping Vania.


 


“Lain kali, aku tidak mau makan satu meja dengan dia.” Tukas Vania dengan kesal, pandangannya mengarah lurus ke depan sambil mengibas-ngibaskan tangannya ke depan mulut karena kepedasan.


 


“Mas suka lihat kamu cemburu, Dek. Tapi jangan terus marah-marah tidak jelas begitu, nyiksa diri itu namanya. Awas aja nanti kalau perutnya sakit gara-gara sambal.”


 


 


“Kok jadi Mas yang di salahkan?”


 


“Au ah!” gerutu Vania. Sony lalu menghentikan langkah gadis itu, ia berdiri tepat di depannya menghalangi Vania berjalan.


 


“Mas, aku mau lewat.” Vania melangkah ke samping kanan, Sony pun mengikutinya. Vania bergeser ke samping kiri ia juga mengikutinya hingga Vania menatap tajam Mas Sony namun di balas senyum manis olehnya.


 


“Senyum dong, jelek banget kalau cemberut begitu.”


 


“Biarin jelek! Sana kalau mau cari yang cantik! Pergi sama Sindy.” Membuang muka ke damping


 


“Astaga Dek ... sudah dong ngambeknya, ngapain kamu cemburu kalau Mas aja tidak ada apa-apa dengan Sindy. Mas juga tidak menanggapinya. Mas sayang sama kamu, mana mungkin Mas tergoda sama wanita lain.”


 


“Bener? Sedikit pun Mas tidak menyukainya?”


 


“Beneran sayang...”


 


Bola mata Vania yang tadinya mengarah ke samping melirik tegas kini menjadi teduh, senyumnya juga mulai melebar.

__ADS_1


 


“Nah, gitu dong. Kan cantik kalau senyum, nanti malam aku ke rumah ya Dek.”


 


“Mas, memangnya kita mau ke mana sih nanti malam?” penasaran dengan perkataan Sony beberapa saat lalu ketika di meja kantin.


 


“Tidak ke mana-mana Dek, Mas hanya menghindari Sindy aja. Apa Mas boleh pergi berdua dengannya?”


 


“Pergi aja kalau berani.” Mata Vania tajam seperti mata singa yang mau menerkam mangsanya.


 


“Besok habis subuh kita berangkat ya, Dek.” Sony menggandeng tangan Vania meneruskan langkah yang sempat terhenti.


Mereka menyusuri sekitar taman belakang yang di kelilingi pepohonan serta bunga-bunga indah. Membicarakan perihal lamaran dan pernikahan.


 


“Mas, aku benar-benar takut membayangkan besok, bagaimana reaksi Bapak dan Ibu ketika anaknya mau menikah. Aku saja sekarang masih belum merasa dewasa, apa aku bisa menjadi istri?”


 


“Dewasa bukan diukur dari umur, tapi pola pikir. Apa gunanya berpacaran lama-lama, yang ada kita akan terus memproduksi dosa. Apalagi Mas yang susah mengendalikan diri sendiri. Iman Mas masih lemah, jadi daripada Adik ikut terjerumus mending kita nikah, kan?”


 


“Iya juga sih, Mas memang sangat menyeramkan.” Ucap Vania nyengir kuda.


 


“Apa maksudmu Dek?!” Dahi itu memperlihatkan kerutan yang samar karena terkejut serta bingung dengan ucapan Vania.


 


“Bukan apa-apa, hehe ...” Sony hanya menggelengkan kepala begitu paham jalan pikiran Vania. Tak lama kemudian setelah mereka berkeliling melewati taman dan halaman samping, sampailah mereka ke koridor house keeping.


 


Vania diantar sampai depan pintu house keeping, padahal ia bisa sendiri dan tidak mungkin terjadi apa-apa. Sony memang berlebihan, masih di area hotel saja khawatir apalagi jika Vania pergi seorang diri.


Bersambung....


...Hay, reader baik...


... ...


...tolong tinggalkan jejak ya.....


... ...


...berikan like, komentar dan vote kalian.....


...agar author semakin semangat...


... ...


...siap terima 🌷,❤, ☕ dan yang lainnya😁😁...


...Terima Kasih .... lopyu pul dah....


... ...


...kenalan sama author yukk, follow IG @Epha_Yunitha...


... ...


 


 


 

__ADS_1


 


__ADS_2