
“Dek?! Tunggu!” teriak Sony tak sempat memberhentikan langkah Vania.
“Kenapa malah berlari? Bukankah harusnya dia senang aku kembali?” gumam Sony sambil memasuki ruangan Beni.
“Ben. Vania tadi kenapa?” Sony duduk dengan kasar di sofa dep meja kerja Beni.
“Hei bro, kapan sampai?! Baru datang bukannya salam malah menanyakan Vania.” cibir Beni.
“Dia tadi dari sini, kan? Kenapa langsung berlari, melihatku saja seperti ketakutan. Harusnya kan, dia senang aku kembali, atau kamu berbuat sesuatu padanya?!” Bingung dengan sikap Vania.
“Kamu gila?! Mana berani aku macam-macam sama Vania. Aku sudah menganggapnya seperti adikku sendiri. Tadi memang aku melihat matanya agak sedikit sembah dan basah, sepertinya habis menangis.” Ucap Beni sambil menutup laptopnya, dan sedikit meregangkan tubuhnya.
“Hah? Menangis? Kenapa?”
“Mana kutahu! Dia saja tak mengaku ketika aku bertanya. Jawabannya hanya kelilipan debu. Aneh, kan?”
“Bagaimana keadaan Om Gunawan?” peduli Beni terhadap Papa Sony, karena ia juga mengenalnya cukup dekat.
“Semakin membaik, Alhamdulillah. Aku susul Vania dulu, ya Ben.” Berdiri dari sofa.
“Suruh saja dia ke sini.”
“Ah, iya aku baru ingat. Pasti dia akan marah kalau aku terang-terangan menemuinya di depan banyak orang.” Sesuai kesepakatan, Vania tidak mau satu orang pun tau kalau ia mempunyai hubungan spesial dengan Sony.
“Ya sudah, aku ke ruanganku dulu.”
Sony berjalan ke ruangannya, lalu masuk ke kamar, menjatuhkan badannya ke tepi ranjang berukuran king size. Ia lalu mengambil gagang telepon dan menekan tombol nomor tiga, terhubung ke departemen house keeping.
“Departemen house keeping, selamat siang?”
Vania mengangkat telepon itu dengan cepat, hingga ia tak begitu memperhatikan nomor yang tertera di telepon itu.
“Bisa tolong antarkan kopi ke ruangan saya?” Sony tersenyum mendengar suara Vania. Sedikit mengobati rasa kangennya.
001 ... itu kan, nomor ruangannya Mas Sony, ya Tuhan kenapa juga aku tadi mengangkatnya.Pasti ini hanya akal-akalan Mad Sony saja agar aku menemuinya. Vania melihat nomor yang tertera di layar kecil telepon.
“Maaf Pak, sepertinya Anda salah menekan nomor, saya sambungkan ke layanan FB service, ya Pak.“ Vania menghela nafas panjang, menahan kesedihan mengingat Sony datang dengan seorang perempuan.
“Saya mau kopi buatan kamu, sayang. Kemarilah, aku beri waktu satu menit."
Dia masih memanggilku sayang? Apakah dia masih menyayangiku? Bagaimana ini, apa aku harus naik?! Aku takut jika nanti dia mengenalkanku dengan perempuan itu. Gumam Vania, tak menjawab permintaan Sony, ia malah bengong dengan pandangan kosong.
__ADS_1
“Satu menit dari sekarang Dek, aku akan menghukummu jika terlambat.” Sony tersenyum bisa mempermainkan Vania.
Vania tersadar dari lamunnya, ia begitu terkejut dengan ucapan Sony yang akan menghukumnya,
“Ah iya, iya!” menutup teleponnya dengan kasar dan berlari ke dapur karyawan.
"Ah kenapa sih harus berlarian begini. Apa dia sengaja mengerjaiku? Menyebalkan sekali. Lihat saja! Kalau sampai dia mengenalkanku dengan calon istrinya itu, aku akan menunjukkan bahwa aku kuat, aku bisa kok tanpa dia! Sabar Vania, sabar... kamu pasti bisa menghadapinya.” Batin Vania menenangkan pikirannya yang bergelut tiada habis sambil menuangkan air panas di gelas yang sudah berisi gula dan kopi.
“Akhhh .... panas, panas!” begitu cerobohnya Vania, air itu mengenai tangannya, pikirannya yang kacau membuatnya tidak bisa berkonsentrasi.
Namun dia tidak memedulikan tangannya yang mulai memerah, yang ia pikirkan hanya ingin cepat sampai ke ruangan Sony mengantar kopi pesanannya. Ia tak tahu hukuman apa yang akan di berikannya.
Melewati lift dengan membawa nampan kecil berisi kopi sedikit menyusahkannya, berjalan sedikit cepat saja kopi itu akan tumpah dan mengotori gelas bagian luarnya.
“Sudah berapa menit ini, aku pasti terlambat, Ya Tuhan Mas Sony benar-benar menyebalkan.” gumam Vania yang tengan melewati koridor yang cukup oanjang.
Setelah mengarungi medan yang cukup menyulitkan bagi Vania, akhirnya sampailah ia di depan kamar Sony. Tangan itu mengetuk dengan gemetar, sedikit gelisah, takut ia melihat pemandangan yang menyedihkan di dalam sana.
Tok ... Tok ... Tok
Tanpa menunggu lama, wajah sumringah Sony pun muncul di balik pintu. Ia tersenyum lebar dan mempersilakan Vania masuk, namun Vania ragu ia langsung memberikan kopi pada Sony lalu ia beranjak pergi. Sony meraih tangan Vania dengan sigap.
“Aaww! Sakit.” Rintih Vania melepaskan tangannya yang di pegang oleh Sony.
“Nggak! Aku mau turun aja, banyak kerjaan.” Vania melengos, berjalan tergesa-gesa.
Sony lalu masuk ke kamarnya menaruh kopi ke meja, ia lalu menyusul Vania yang berjalan ke arah lift.
“Dek! Berhenti nggak!”
Vania begitu terkejut mendengar bentakan dari Sony, selama ini ia tidak pernah di bentak sekali pun ia marah. Ia pria yang sabar dan selalu lembut terhadap wanitanya.
Kamu sudah berubah Mas, bahkan untuk pertama kalinya kamu meninggikan suara. Apa kamu memang sudah tidak menganggapku?
Sony memegang kedua lengan Vania, menatap mata gadis itu, mulai berkaca-kaca.
“Maaf, Mas tidak bermaksud membentakmu, Dek. Tolong, dengarkan Mas dulu. Ikut Mas masuk dulu, mau bicara.” Sony yang sadar akan ucapannya merasa bersalah pada Vania.
“Tidak perlu Mas, aku bisa terima, aku ikhlas melepasmu. Jadi Mas tidak perlu menjelaskan.“ Ucap Vania menunduk menahan air matanya agar tidak terjatuh seolah ia tahu apa yang akan Sony katakan.
Sony mengerutkan dahi, bingung dengan ucapan Vania, kenapa dia tiba-tiba bicara seperti itu. Apa maksudnya?
Sony menggendong Vania tanpa persetujuan, ia memasukkan Vania ke dalam ruangannya karena gemas dengan sikap Vania yang dari tadi terus membantah dan selalu menghindarinya. Vania berontak mengibaskan kakinya ingin turun.
__ADS_1
“Mas, turunkan aku!”
“Ssstt ... diamlah sayang, Mas cuma mau bicara penting, dari tadi kamu menghindari Mas terus,” Sony tersenyum menatap lekat wajah manis Vania yang sedang di gendongnya.
“Tapi aku tidak mau mendengarnya, Mas!” Vania masih terus menggoyangkan kakinya berusaha turun, tetap saja ia kalah dengan tenaga Sony.
Sony mendudukkan Vania di sofa, lalu ia mengunci pintunya agar gadis itu tidak keluar sebelum Sony selesai bicara.
Mata Vania tidak bisa berhenti memeriksa sekeliling, menyapu setiap sudut ruangan itu, tak di temukannya wanita yang tadi bersama Sony.
“Di mana dia? Atau jangan-jangan di kamar Mas Sony? Ah, dia saja sudah bebas bisa masuk ke kamar Mas Sony, pasti mereka sudah sangat dekat.” Batin Vania menebak-nebak dengan hatinya yang mulai nyeri.
“Sayang, lihat apa sih? cari apa?"
Vania menggelengkan kepala lalu menunduk lagi. Sony yang tadinya duduk di depan Vania, kini berpindah duduk di dekatnya, mengelus rambut pendek Vania, lalu merangkulnya.
“Dek, kamu tidak suka Mas pulang? Kenapa dari tadi menghindar terus? Kata Beni tadi kamu menangis, kenapa? Apa ada yang menyakitimu?”
“Mas yang menyakitiku!” tiga kata yang diucapkan Vania begitu mengejutkan Sony.
“Apa salahku, Dek? Tolong jelaskan, Mas tidak merasa melakukan kesalahan apapun, jangan buat Mas semakin bingung.”
“Mas kenapa begitu tega?! Aku tahu aku memang tak sebanding dengannya, bahkan aku bukan apa-apa. Tapi bukan begini caranya, dengan Mas mempertemukan aku dengan dia, Mas sudah sangat melukai hatiku, sakit Mas. Aku juga punya perasaan.” Vania menepuk dadanya.
Ia mulai menangis tersedu-sedu tidak bisa menahannya lagi, kata-kata itu lolos begitu saja bersamaan dengan buliran hangat yang keluar dari matanya. Entah saat ini Vania yang polos atau dia memang benar-benar bodoh. Hanya karena cemburu dia menebak-nebak semuanya.
Bersambung....
...Hay, reader baik...
... ...
...tolong tinggalkan jejak ya.....
... ...
...berikan like, komentar dan vote kalian.....
... ...
...kalau boleh, kasih hadiah bunga tau kopi juga seneng banget kok....
... ...
...makasih yaa... 💚😍💚...
...silahkan mampir juga ke IG author yukk, Epha_Yunitha...
__ADS_1