Terjerat Cinta Security

Terjerat Cinta Security
Berpisah Lagi


__ADS_3

Vania memberikan stun gun atau alat kejut listrik yang biasa di gunakan untuk melindungi diri dari penjahat.


Meski dalam keadaan lemas, namun Sony tak pantang menyerah. Ia segera bangkit dan maju mendekati musuhnya. Dua orang dari mereka berhasil di sengat arus listrik itu. Dan keduanya lagi mendekati Vania berniat untuk membawanya bertemu dengan Ega. Kalah cepat, Sony segera berlari ke arah Vania yang sedang di genggam erat kedua tangannya oleh mereka.


“Hei! Lepaskan dia!” teriak Sony berbalik arah melihat Vania di kuasai mereka.


 


Sebelum Sony mengarahkan alat kejutnya ke tubuh mereka, Sony seperti membabi buta menghajar mereka habis-habisan. Tadinya ia memang sangat lemah karena belum ada persiapan yang tiba-tiba di serang berkeroyok. Namun sekarang ia lampiaskan semua kekesalannya. Setelah mereka babak belur, tak lupa Sony menyetrumkan alat kejut itu kakinya.


 


“Tenang saja, kalian hanya akan lumpuh beberapa saat.” Ucap Sony pada empat lelaki itu.


“Mas! Mas Sony tidak apa-apa, kan?!” tanya Vania sendu meneteskan buliran hangat dari matanya.


 


“Mas baik-baik saja Dek, lihat.” Membentangkan kedua tangannya, menunjukkan kalau dia tak ada yang terluka meskipun sedikit berdarah di pojok bibirnya yang lembut sempurna itu.


 


“Benarkah? Tapi itu berdarah Mas. Mas Sony masih bisa naik motor?” memperhatikan sekitar tubuhnya.


 


“Bisa sayang, Adik tenang saja. Serius Mas tidak apa-apa ini.” Tersenyum berusaha menenangkan Vania. “Simpan lagi ini di tas Adik,” menyerahkan alat kejut yang di pakainya tadi.


 


“Iya Mas.”


 


“Pacar Mas hebat banget, nurut kata Mas. Sampai sekarang alatnya masih di simpan dan di bawa ke manapun pergi, terima kasih ya Dek.” Sony memuji dan mengusap pipi Vania yang sudah di basahi air mata.


 


Sementara itu, dua orang yang terkena setrum alat kejut itu masih belum bisa bergerak dari tempat terkaparnya, mereka lemas karena senjata kecil mungil itu seketika melumpuhkan sementara mekanisme otot. Jika Sony tega, mungkin ia akan mengarahkannya ke area sekitar jantung yang berefek buruk pada kesehatan.


 


Vania dan Sony akhirnya meninggalkan tempat sepi itu, mereka membatalkan rencana awal yang ingin pergi ke kebun teh sekedar menghirup udara segar karena Vania memilih ingin pulang saja dan mengobati luka Sony, lalu membiarkannya beristirahat.


“Dek, Mas antar pulang ya.”


 


“Ah, iya Mas.


.


.


Beberapa menit kemudian mereka tiba di rumah Vania.


“Mas, masuk yuk,” ajak Vania begitu turun dari motornya.


 


“Bolehkah? Tadi pagi kenapa Mas mau masuk nggak boleh Dek?!”


 


“Kalau jam segini, Bapak Ibu tidak ada di rumah Mas, adik juga ke rumah nenek. Hehe...” Vania meringis karena seperti ada kesempatan untuk berduaan dengan kekasihnya itu.


 


Pagar berwarna hitam dan bangunan berwarna abu itu terlihat sangat asri, terdapat beberapa tanaman menyegarkan mata di terasnya yang terhubung langsung dengan ruang tamu.

__ADS_1


 


“Assalammualaikum,” ucap Sony begitu memasuki rumah yang tak begitu besar itu, namun terlihat sangat bersih dan rapi dengan tataan khas ibu rumah tangga. Berbeda dengan dirinya yang hidup sendiri, hanya bisa bersih-bersih saat di kontrakannya tanpa ada pajangan-pajangan yang menghias di dalamnya.


 


“Wa’alaikumsalam, sebentar ya Mas aku buatkan Mas Sony minum dulu.” Vania pergi mengganti bajunya lalu bergegas membuatkan minuman untuk Sony.


 


“Ini Mas,” mata Sony terbelalak kaget melihat pakaian Vania yang tidak biasa sambil membawa minuman serta kotak P3K.


 Bukan dres anggun nan cantik, tetapi daster rumahan yang berhasil membuat mata Sony seperti hilang kendali. Ia merasa Vania sangat seksi menggunakan pakaian itu. Daster berbahan kaos lembut dengan panjang selutut, ditambah lagi rambut Vania yang pendek di ikat ke atas karena gerah. Terlihat leher jenjang yang begitu putih dan mulus tanpa noda.


 


“Diminum dulu Mas, terus aku obati lukanya.” Vania menjatuhkan tubuhnya di kursi seberang Sony yang terhalang meja.


 


“Ehmm...” Sony minum tanpa berkedip melihat Vania. Tatapannya seolah menusuk jantung Vania yang kini tiba-tiba berdegup kencang.


“Tatapanmu kenapa seperti itu sih Mas, sangat membuatku tidak nyaman. Gerogi tahu di lihatin seperti itu.” Gumam Vania.


 


“Kenapa Mas? Ada yang salah?” Vania reflek membetulkan rambutnya yang sedikit berantakan.


 


Sony yang sedang menyesap minumannya hanya menggeleng tanpa kata. Ia menaruh gelas yang baru saja di pegangnya. Vania meneteskan obat merah pada kapas dan mengobati luka yang ada di bibir Sony. tak lupa ia mengompreskan es pada pipinya yang sedikit lebam karena pukulan.


.


.


Mereka mengobrol hingga tak terasa dua jam telah berlalu. Dengan berat hati, Sony berpamitan pada Vania kalau sore ini dia akan kembali lagi ke kotanya. Lagi-lagi Vania gadis kecil yang cengeng itu menjatuhkan buliran hangat yang keluar dari matanya.


 


 


“Habisnya, cepet banget Mas Sony balik. Baru juga dua hari. Kenapa tidak bisa lebih lama lagi Mas.”


 


“Mas kan harus kerja Dek. Tidak enak kalau terlalu lama ambil cuti. Sabar ya,.. selesaikan dulu sekolahmu nanti kita akan terus bersama.” Tutu Sony mengelus pucuk kepala Vania. “Mas pulang dulu balik dulu ya sayang.


 


Vania mengangguk pelan mengiyakan dengan penuh keterpaksaan. Vania terus bergelayut manja pada Sony padahal ia sudah bersiap untuk memakai jaket dan sarung tangan setelah ia berpamitan pada gadis manja itu. Ketika hendak melangkahkan kakinya, Vania tiba-tiba memeluk Sony dari belakang, Sony merasakan kehangatan yang sangat nyaman begitu juga dengan Vania, merasakan hal yang dama dengan apa yang Sony rasakan ketika mereka salinh berpelukan.


Vania tak peduli, ia tak malu lagi bertingkah berani pada Sony.


 


“Pinjam sebentar saja Mas, biarkan seperti ini dulu.” Pinta Vania menginginkan tubuh Sony untuk di peluknya, menghirup wangi khas lelaki itu membuat hatinya terasa tenang dan aman.


 


Sony yang berdiri tegap meraih tangan Vania yang sedang berada di perutnya, menggenggamnya erat dengan penuh kasih tanpa pamrih.


Selang beberapa waktu, setelah Vania lega dan melepaskan pelukannya, Sony memutar tubuhnya mengadahkan wajahnya ke Vania.


“Dek, Mas boleh pergi sekarang?”


 


“Iya Mas,  jaga diri Mas baik-baik ya.”

__ADS_1


 


“Pasti sayang, Mas yang harusnya berkata seperti itu,” mengelus pipi Vania dan membelai rambutnya.


 


“Mas akan pastikan, Ega tidak mengganggumu lagi Dek. Jangan khawatir ya.”


 


Sony mendaratkan ciuman perpisahan sementara, hanya tiga detik bibir mereka saling berpautan. Lalu mereka berpelukan erat seakan melepas semua beban yang terikat. Melepas semua gundah yang akan datang.


 


“Ma, aku harap kita akan seperti ini s sayang sama kamu Dek,”


Dek terus sampai nanti, sampai waktunya tiba aku akan mendatangi kedua orang tuamu. Dan memilikimu seutuhnya. Mas berjanji.


 


“Aku juga Mas,”


Kali ini kenapa begitu berat buatku, padahal sebelumnya pernah mengalami perpisahan juga. Seperti biasa, LDR lagi. Namun sekarang, hatiku seperti tersayat rasanya, tak tahu kenapa, apa penyebabnya, yang jelas aku merasa sesak.


.


 


.


.


.


Bersambung.....


.


.


... Hay, reader baik...


... ...


...tolong tinggalkan jejak ya.....


... ...


...berikan like, komentar dan vote kalian.....


... ...


...kalau boleh, kasih hadiah bunga tau kopi juga seneng banget kok....


... ...


...makasih yaa... 💚😍💚...


... ...


...silahkan mampir juga ke IG author yukk, Epha_Yunitha...


 


 


 


 

__ADS_1


 


__ADS_2