
Sony mengulas senyum di balik masker hitam yang menutup bibir manisnya itu. Seakan senang dan merasa sangat berbunga-bunga hatinya ketika Vania bertingkah imut nan menggemaskan, secara tidak langsung ia menunjukkan rasa cemburu dan tak rela jika kekasihnya itu di lihat oleh para betina bermata liar.
“Sekarang Mas baru paham Dek,” Sony terkekeh, suaranya memecah pandangan Vania terhadap perempuan di sekolahnya yang baru saja adu mata dengannya.
“Paham apa?! Sebaiknya Mas cepat pergi dari sini deh! Males aku tuh.” Gerutu Vania menatap mata Sony dengan lirikan tak biasa seakan ingin mengamuk padanya karena sudah membuat kehebohan para kaum hawa di sekolahnya.
“Hahaha... Mas baru paham kalau ternyata ini yang membuatmu menyuruh Mas memakai jaket dan masker Dek, kamu tidak rela kan, kalau Mas di lihat para gadis cantik di sini?!” Sony tertawa menggoda Vania.
“Apa sih Mas?! Aku cuma lebih suka Mas berpenampilan seperti ini, tertutup.” Pipi Vania mulai bersemu pink. Tolong Mas, biarkan kegantengan itu hanya aku yang bisa menikmatinya, memandangmu puas. Jangan biarkan wanita di luaran sana melihatmu dalam, aku tak suka. Aku sungguh tidak rela.
“Kalau diizinkan Mas akan menunggumu di kantin sana ya.” Tukas Sony yang sengaja membuat Vania meradang dengan perkataannya.
“Enggak!!! Mas balik hotel sekarang atau tidak usah menemuiku lagi nanti! Cepetan Mas... please...!” Vania mulai merajuk sedikit meninggikan suara pada Sony dan mendorong pelan lengan Sony yang masih duduk di jok motornya.
“Beri Mas alasan dulu. Kenapa?!” cecar Sony.
“Karena Mas akan jadi tontonan mereka semua. Mas sadar enggak, wajah Mas Sony itu akan membuat mereka meleleh! Mereka pikir Mas beramal muka untuk umum?!” menyilangkan tangannya dan membuang mukanya kesamping.
“Kamu kenapa sangat lucu Dek.. rasanya Mas tidak tahan ingin mencubit pipimu.” Sony lagi-lagi menanggapi amukan Vania dengan senyuman lebar. “Baiklah Mas akan pergi, tapi sebelumnya Mas mau minta sesuatu.”
“Apa?!” sahut Vania yang masih berdiri di samping motor Sony. Ia lalu mendekatkan tangan ke wajah Vania, dengan sigap Sony menarik hidung mungil Vania dan mencubit kedua pipinya,, tak peduli dengan banyak mata yang memandang dari halaman sekolah.
“Auw! Sakit tau Mas. Kebiasaan. Hobi banget mencetin hidung dan nyubit pipiku.” Vania memonyongkan bibirnya menjadi tampak lebih maju ke depan. Semakin Vania berceloteh, semakin Vania ngambek, semakin semangat juga hasrat Sony untuk menggodanya.
“Nanti pulang jam berapa? Mas jemput.”
“Oke Mas, nanti jam satu tunggu aku di sana ya.” Vania menunjuk sudut jalan yang berjarak beberapa meter dari posisi ia berdiri saat ini.
“Kenapa Mas harus menunggu di sana. Itu sangat jauh Dek.”
“Biar tidak di lihat betina liar. Puas?! Dah ya Mas aku masuk dulu.”
“Iya Dek, belajar yang bener. Jangan mikirin Mas terus.” Kekeh Sony.
“Ish... GR!”
Sony menggelengkan kepalanya menatap punggung Vania yang semakin berlalu menjauh.
.
__ADS_1
.
Setelah kepergian Sony, Vania melangkahkan kakinya dengan pasti memasuki area sekolah yang bercat abu dan hijau itu, di sekitarnya tampak bunga berwarna-warni menghias indah di taman halaman sekolahnya.
Terdengar suara tak enak di telinga Vania ketika ia melewati sekumpulan siswa kelas lain yang tadi menyaksikan Vania diantar oleh pria keren berbaju serba hitam. Lebih tepatnya mereka iri dengan Vania yang dapat memiliki pria setampan dan sekeren Sony.
“Alah, dibanding dia juga cantikkan aku.” Ucap salah satu perempuan yang tidak menyukai Vania yang menurutnya gayanya sok cantik dan sok imut. Vania memang imut kok. Hehe
“Baru juga di antar begitu saja, sudah bangga. Pamer sana sini.” Sahut temannya satu lagi.
Vania tak memedulikan celoteh demi celoteh yang di lontarkan para pengagum Sony, lelaki yang baru saja mereka temui di luar gerbang sekolah.
Bel berbunyi, sebagai isyarat tanda waktu masuk kelas untuk memulai pelajaran. Vania duduk di meja paling pinggir dekat dengan sahabatnya, Dina. Mereka saling menyapa dan mengobrol sebelum guru datang ke kelasnya dan memulai pelajaran.
“Eh, kok aku enggak lihat Ega. Dia nggak masuk ya, Din?!” tanya Vania, matanya berkeliling menyapu sekitar area kelas.
“Tadi sih kata Leo dia memang tidak bisa masuk sekolah karena habis jatuh dari motor.”
“Hah?! Benarkah?” Vania terheran mendengar jawaban Dina. Apa dia jatuh beneran? Atau jangan-jangan dia tidak masuk karena malu wajahnya babak belur? Apa dia baik-baik saja ya? Gumam Vania dalam hatinya.
“Woi! Malah ngelamun. Kenapa?!”
“Ah sudahlah, jangan terlalu di pikirkan. Yang ada dia nanti ke pedean lagi. Di kira kamu ngasih perhatian kalau sampai menanyakan kabarnya.” Tutur Dina menasehati sahabatnya.
“Iya juga sih,.” Vania menghembuskan nafasnya kasar.
“Van, Mas Sony sampai kapan di sini?” tanya Dina.
“Mungkin besok atau lusa dia sudah pulang Din, kenapa memangnya?”
“Enggak apa-apa sih. Aku sedikit khawatir saja, kepikiran sama Ega. Takutnya dia nekat menyuruh teman-temannya buat gebukin Mas Sony.”
“Ah Dina! Jangan begitu dong! Kau membuatku takut.”
“Ya, sebaiknya Mas Sony suruh hati-hati Van kalau pulang. Kan sendirian. Mana pakai motor lagi. Kenapa sih tidak naik kereta atau bus saja?”
“Nggak tahu lah, katanya dia ingin lebih tahu jalanan kota ini. Biar besok-besok lebih gampang menjelajahi berbagai daerah di sini.”
__ADS_1
“Eh, tapi si Ega parah nggak sih kira-kira?!” tanya Dina.
“Kok nanya ke aku sih, mana kutahu.” Sahut Vania.
“Kan kamu yang tahu kejadiannya.”
“Iya, tapi bukan berarti aku langsung mengeceknya kan, posisiku sama Mas Sony. Masa mau melihat keadaannya. Wong yang bikin babak belur aja Mas Sony.” Vania berdecak lalu memicingkan matanya pada Dina yang terus menghujani pertanyaan.
Sementara itu di waktu yang sama, dan tempat yang berbeda. Ega yang sedang berkumpul dengan temannya di salah satu bangunan tua menyusun rencana untuk balas dendam. Ega yang masih kesakitan atas tindakan Sony semakin membara ketika ada salah satu temannya mengirim video saat Vania diantar Sony ke sekolah.
Ega yang sudah di butakan cinta menjadi seorang yang pemarah dan pendendam. Dia hanya ingin memiliki Vania dan tidak bisa membiarkannya bahagia dengan orang lain. Padahal masih sekolah namun otaknya sudah terpengaruh dengan perbuatan kriminal.
Pertemanan yang di jalin Ega memang sangatlah keras, berteman dengan orang-orang dewasa yang suka menyelesaikan masalah dengan bertaruh nyawa di banding berpikir dengan kepala dingin.
“Nanti kita tunggu kabar selanjutnya Bang, pukul berapa dan ke mana mereka akan pergi.” Ucap Ega kepada empat orang temannya.
.
.
Bersambung.....
.
.
.... Hay, reader baik...
... ...
...tolong tinggalkan jejak ya.....
... ...
...berikan like, komentar dan vote kalian.....
... ...
...kalau boleh, kasih hadiah bunga tau kopi jug seneng banget kok....
... ...
...makasih yaa... 💚💚...
... ...
...silahkan mampir juga ke IG author yukk, Epha_Yunitha...
__ADS_1