
Vania lalu memiringkan posisinya membelakangi Sony. Ia juga menutupkan selimut pada tubuhnya yang polos tanpa sehelai benang.
“Mandi dulu sayang, habis itu kita tidur.” Pinta Sony.
“Capek Mas, Adik mau langsung tidur aja.”
“Mandi sebentar sayang, jangan malas. Mas mandikan ya. Yuk!” Sony turun dari ranjang dan dengan sigap ia menyelipkan kedua tangannya ke bawah tubuh Vania, satu tangan berada di paha, tangan lainnya menahan punggungnya agar bisa mengangkat Vania dengan mudah.
“Mas! Turunkan!” rengek Vania. Sony menggendong tubuh Vania yang polos menuju kamar mandi.
“Mas turunkan kalau sudah sampai kamar mandi, Dek.”
“Awas ya, kalau macam-macam!” Ancam Vania pada Sony, karena ia sudah sangat hafal dengan kebiasaan suaminya itu. Berawal dari mengajak mandi, ujung-ujungnya minta tambahan jatah untuk energi kebahagiaannya.
“Sedikit sayang, tidak banyak kok. Hehe” kekeh Sony sambil menggendong Vania. Mereka lalu melakukan ritual mandi bersama, di selingi sedikit permainan dewasa. Bagi Sony, semua aset di tubuh Vania adalah mainan baru yang sangat membuat candu. Bahkan jika di beri kesempatan ia akan betah berlama-lama memainkannya walau sehari penuh di dalam kamar, namun ia masih memikirkan istrinya yang selalu saja mengeluhkan perlakuan beringasnya.
🌷🌷🌷
“Sayang, bangun .. sudah subuh. Sholat dulu.” Sony mengelus pucuk rambut Vania, ia sudah semangat bangun sejak beberapa menit yang lalu. Tampaknya hormon bahagia sudah mulai merambat ke otaknya.
“Masih ngantuk, Mas. Bentar lagi ya.” Vania menarik selimut.
“Sayang ... ayo bangun.” Sony lagi-lagi menghujani Vania dengan ciumannya.
Dengan berat, Vania akhirnya membuka matanya perlahan. Ia mengucek lalu mengerjapkannya untuk mengumpulkan kesadaran.
“Mas, badanku sakit semua.” Keluh Vania, Sony lalu membantu mendudukkannya. Tentu saja badannya remuk, Sony sudah menghabisinya semalam, membanting-bantingkan tubuh mungil itu.
“Nanti habis sholat Mas pijitin sayang, sekarang bangun, ini minum dulu.” Sony mengulurkan gelas berisi air madu yang telah di raciknya, setelahnya ia memberikan satu kurma yang memang bagus di konsumsi setelah bangun tidur.
***
Selesai sholat, Vania duduk bersender di kepala ranjang, di susul oleh Sony di sebelahnya.
“Jadi mau di pijit, Dek?”
“Tidak perlu Mas, aku mau masak.”
“Tidur saja sayang, kenapa mesti masak kalau sudah ada Fitri.”
“Sejak menikah, Adik belum pernah sama sekali memasak untuk Mas Sony. Apa Mas tidak mau mencicipi masakanku?”
__ADS_1
“Kan, bisa lain kali sayang. Sekarang, sebaiknya Adik istirahat saja, ya. Pasti capek banget karena peperangan semalam.” Ucap Sony sambil memijit kaki Vania yang sudah ada di pangkuannya.
“Mas, Adik mau masak dulu, pijat memijatnya nanti malam saja.”
“Baiklah sayang, dengan senang hati Mas menunggu malam tiba.” Menyeringai dan mengedipkan matanya sebelah.
“Dasar mesum! “ lirik Vania pada Sony, ia lalu beranjak dari ranjang.
“Hahaha ... Mas suka kalau Adik judes begitu. Semakin cantik, semakin menggoda.” Sony menepuk pant*at Vania yang berdiri di sampingnya.
***
Jam masih menunjukkan pukul 06.00, matahari yang cerah menyapa setiap sudut ruang ketika Vania membuka pintu dan jendela, embun pagi yang masih menempel di setiap dedaunan itu terlihat sangat segar. Begitu juga tanah yang masih basah bekas hujan semalam.
Sony baru saja menyelesaikan lari paginya di sekitar lapangan yang tak jauh dari rumah. Hampir setiap pagi ia menyempatkan waktu untuk berolahraga, meskipun terdapat beberapa alat olahraga di dalam rumah, ia lebih suka menghabiskan waktunya di luar sambil menghirup udara pagi yang segar.
“Sayang, sudah selesai masaknya?” sapa Sony sambil mengelap keringat di dahinya dengan handuk kecil yang melingkar di lehernya.
“Sudah dong.” Vania menata meja makan yang sudah tersaji beberapa menu sarapan pagi.
“Masak apa sayang?” Sony memeluk Vania dari belakang. Dagunya menempel pada bahu Vania.
“Ehmmm ... kelihatannya sangat enak, Dek.”
“Enak tidak enak, pokoknya harus bilang enak.” Jawab Vania sambil tersenyum.
“Dih, maksa. Tapi Mas yakin semua makanan ini enak sayang, dari penampilannya saja sudah membuat naf*su makan Mas naik.”
“Semoga saja tidak mengecewakan. Minum dulu Mas, Adik buatin jus tomat campur wortel. Seger loh.”
Glek Glek Glek ... satu gelas ludes dengan sekali napas, sepertinya Sony benar-benar dahaga, atau memang jus buatan istri memang seenak itu?
Cup . “Terima kasih sayang, Adik memang istri idaman.” Sony mengecup pipi Vania.
“Mas, malu tahu kalau Mbak Fitri lihat.” Sambungnya sambil melihat kanan kiri takut Fitri memperhatikan.
Cup. Lagi-lagi ciuman itu mendarat di pipinya, kali ini ia menggesekkan bibirnya menjelajah pipi lalu ke bibir merah seksi Vania.
__ADS_1
“Mas! Nyebelin deh!” mengusap bekas ciuman Sony di pipinya karena risih bekas keringat yang menempel.
“Ya ampun, keringat suami sendiri juga Dek. Padahal biasanya keringat kita menyatu loh.”
“Mandi nggak!” Vania mengangkat centong nasi siap-siap memukul Sony kalau ia terus-terusan menggodanya.
“Ampun, iya iya sayang, berangkat nih !” Sony lalu kabur dengan tawanya.
“Mbak Fitri, saya ke kamar dulu, ya. Mau menyiapkan bajunya Mas Sony.” Pamit Vania pada Fitri yang tengah repot membereskan dapur bekas masaknya, Fitri tidak memperbolehkan Vania untuk mencuci perkakas dapur karena ia sadar itu adalah pekerjaannya.
Setelah keluar dari kamar mandi, Sony menuju ruang ganti untuk bersiap-siap pergi ke hotel. Ia memakai kemeja yang sudah di siapkan Vania.
Vania langsung mendekat ketika Sony keluar dari ruang ganti dengan kemeja yang masih belum dikancingkan, di tangannya membawa dasi berwarna senada dengan jas yang akan dipakainya nanti.
“Sayang, ayo ikut Mas ke hotel, nanti Mas mau mengajakmu makan siang. Mas mau mengenalkanmu sama teman lama.” Ucap Sony mengelus pipi Vania yang tengah mengancingkan kemeja yang di pakai Sony.
“Siapa Mas? Lelaki atau perempuan?”
“Teman lelaki, Dek. Tapi dia bawa istri juga.”
“Tapi, aku pakai baju apa Mas, apa Mas tidak malu mengajakku?” Vania tidak pede dengan dirinya yang selalu di hina kampungan oleh beberapa staff di hotel Sony. Padahal wajah dan tubuhnya tak menggambarkan seperti orang desa pada umumnya. Dia wanita yang anggun, berkulit bersih dan berwajah cantik imut.
“Kenapa harus malu, justru Mas bangga memilikimu sayang. Dan ke depannya Mas akan lebih sering mengajakmu di berbagai acara resmi.”
“Sekarang mandilah, dandan yang rapi. Mas menunggumu di meja makan.” Sony membuka pintu kamar dan segera keluar. “O iya sayang, bajunya Mas sudah siapkan di lemari paling ujung, pilihlah sesukamu.”
Vania lalu berjalan ke ruang ganti, ia membuka lemari besar yang terletak di sebelah kamar mandi.
“Hah?! Kapan Mas Sony membeli semua ini? Bahkan dia membeli semua warna dan berbagai model.
“Mas tunggu!” Vania menengok ke arah Sony.
“Ya, kenapa sayang?”
“Sini dulu!” Vania mengayunkan tangannya sebagai isyarat.
Bersambung....
Jangan lupa komennya ya gengs, like dan vote juga.
Thank you...❤❤🌷🌷
__ADS_1