
Malam yang panjang telah di lewati Sony dan Vania dengan saling berpelukan dan terlelap dalam mimpinya. Saat ini jam di dinding kamar Vania telah menunjukkan pukul setengah lima pagi. Sony yang lebih awal bangun segera membangunkan istrinya untuk sholat dan bersiap-siap untuk pergi ke Jogja.
“Sayang, bangun. Sudah subuh ini, ayo sholat dulu.” Sony berjalan menuju kamar mandi.
“Mas, aku ngantuk. Lima menit lagi.” Jawab Vania dengan suara khas bangun tidur.
“Nanti di mobil tidur lagi sayang, sekarang sholat dulu. Kalau tidak bangun nanti Mas tinggal ya.” Ancam Sony dengan nada lembut, ia masih berdiri tak jauh dati ranjang, mengurungkan niatnya untuk masuk ke kamar mandi sebelum memastikan istrinya benar-benar bangun dan tidak tidur lagu.
“Iya,, ih jahat banget sih Mas. Nyiksa istri.” Gerutu Vania.
“Astaghfirullah, nyiksa dari mananya sayang. Mas salah apa?!” sony mengernyitkan dahinya.
“Mas menyuruhku bangun dan tidak sabar, sama saja itu namanya pemaksaan dan tidak ada rasa kasihan pada istri yang sedang mengantuk.” Ujar Vania mengerucutkan bibirnya, ia beringsut dari tidurnya lalu merubah posisinya,, sekarang ia duduk bersender di kepala ranjang tapi masih tak melepaskan selimutnya.
Ya Tuhan, apa lagi ini. Menghadapi wanita apa memang seperti ini? Moodnya tak tentu, kalau bukan istri tercinta pasti sudah kubuang ke genteng. Tahan Son, tahan...
Sony menarik nafas panjang sambil memejamkan mata, ia lalu mengeluarkannya dengan kasar.
“Ya, sudah Mas minta maaf. Sekarang bangun ya sayang.... masa baru bangun sudah marah-marah sih, nanti cantiknya hilang loh.” Sony mendekat merangkak ke ranjang lagi.”
“Cantik hilang nggak masalah, udah laku juga. Mas juga mau tuh walau Adik jelek!"
“Kalau tidak mau, Mas tidak akan mungkin menikahimu sayang.”
"Jadias Aony menyesal menikahiku?!"
"Mana ada kata menyesal, Dek?! Kapan Mas bilang begitu, jangan ngada-ngada sayang."
Vania melirik tajam, lagi-lagi ia mengerucutkan bibirnya tanoa menjawab perkataan Sony.
“Ayo bangun, Dek. Kita harus kejar waktu, jangan lambat.” Ucap Sony berlalu pergi menuju ke kamar mandi. Ia enggan meladeni Vania yang banyak bicara. Prinsipnya, lebih baik ia menghindar daripada terus di salahkan.
“Tuh kan, kasar lagi! Mas memang menyebalkan!"
__ADS_1
“Ya Allah, iya, iya Mas minta maaf sayangku... Mas memang salah. Maafkan Mas ya Mas memang salah, Mas tidak pwenah benar.” Sony berkata dengan penuturan yang sangat di buat lembut dan super hati-hati. Bahkan ia mengaku kalau ia salah, meskipun sebenarnya ia tak merasa bersalah.
“Nah gitu dong Mas, yang lembut. Adik kan tidak suka di kasari, apalagi baru bangun tidur.” Ujarnya membuat Sony semakin menahan kesabarannya.
Di mana pun dan kapan pun, lelaki pasti akan kalah dengan betina. Aku memang salah, dan terus akan salah. Kapan aku bisa benar?! memang tidak pernah. Batin Sony memaki dirinya.
“Iya sayang, yuk sholat.”
Setelah selesai menjalankan kewajibannya sebagai umat, mereka lalu bersiap dan keluar dari kamar, mencari Pak Asta dan Bu Jasmin untuk berpamitan.
“Di teras belakang, di temani segelas teh panas dan secangkir kopi, Bu Jasmin dan Pak Asta mengobrol seraya memandangi kebun belakang yang mulai menyubur, hijaunya pepohonan yang bercampur embun memanglah sangat segar di pandang mata, apalagi di nikmati dengan orang kesayangan.
“Pak, Bu, sedang apa?” tanya Vania.
“Pak, Bu, Vania sama Mas Sony mau pamitan.”
“Berangkat sekarang?” Tanya Pak Asta.
“Iya Pak, Mas Sony sore nanti mau ketemu klien. Jadi, siang harus sampai sana.”
“Oh, baguslah. Kalau masih pagi-pagi begini, kendaraan pasti belum ramai.” sambung Pak Asta.
“Nduk, jaga diri baik-baik ya. Jaga martabat suamimu. Ingat semua pesan Ibu, kan?”
“Iya Bu, tentu saja Vania akan mengingatnya sampai kapan pun.”
__ADS_1
“Ya, sudah kalian berangkatlah. Bapak dan Ibu akan selalu mendoakan kalian di sini. Semoga Allah memberkahi rumah tangga kalian.”
Sony dan Vania pun berpamitan. Sony lalu melajukan mobil hitamnya dengan kecepatan 90 km/jam karena jalanan pagi petang masih sangat sepi. Hingga ia seperti menjadi penguasa jalan.
🌷🌷🌷
Setelah menempuh lima jam perjalanan, akhirnya mereka sampailah dii Grand Luxury Hotel. Vania enggan turun dari mobil. Ia masih sangat ragu dan takut dengan reaksi para karyawan di sana. Karena Vania memang sangat menyadari kalau Sony, suaminya itu adalah idola para wanita di hotelnya. Banyak betina yang bahkan bersikap sok manis demi mendapat perhatian dari Sony.
“Mas, aku pulang saja ya.” Masih belum mau beranjak dari jok depan sebelah Sony.
“Jangan aneh-aneh, Dek. Hari ini kita memasuki hotel pertama kali sebagai pasangan suami istri. Jadi jangan lagi membantah ya. Mas ingin Adik selalu di sampingku. Menemani Mas kerja.” Sony turun dan memutari mobilnya untuk membukakan pintu Vania.
“Tapi Mas. Aku sungguh tidak siap mental kalau mereka semua membullyku.”
“Siapa yang akan berani mengatai istriku, Mas tidak akan membiarkannya. Jangan pernah takut sama siapa pun Dek. Ayo turun.” Sony berkata sambil pintu sebelah Vania terbuka setelah di bukakan oleh Sony tadi.
“Dan aku juga lupa untuk memakai pakaian formal Mas. Adik yakin, pasti mereka akan menertawakanku.” Vania memandang dirinya yang hanya mengenakan celana jeans panjang dan kaos panjang dengan warna yang senada.
“Dek, Mas jamin tidak akan ada yang berani menertawakanmu. Mas di sampingmu, semua akan aman.”
“Ya, di depan kita mereka pasti pura-pura ramah menyapa, Mas. Tapi setelah kita berlalalu, aku yakin mereka akan membicarakan kita Mas.”
“Bicara apa sih, Dek. Ayo masuk, Mas harus menyiapkan berkasnya. Sudah siang ini sayang ...” Sony membujuk Vania, berdiri di sebelahnya yang masih duduk manis dengan seat bealt yang mengikat tubuhnya. “Kalau tidak mau turun baiklah, Mas tidak segan-segan menggendongmu sampai ke atas sayang.” Ancam Sony dengan senyum liciknya sambil menyelipkan tangannya ke bawah oaha Vania, bersiap menggendong.
“Ah iya, Adik turun sekarang.” Vania melepas seatbealtnya, lalu menginjakkan kakinya ke bumi, ia mulai mengatur langkah dengan perlahan. Sony yang tak sabar dengan jalan lambat Vania, ia langsung meraih tangannya, lalu menggandengnya.
Tak peduli banyak pasang mata yang melihat, Sony hanya acuh. Berjalan dengan biasa dan masih menyapa ramah para karyawan di hotelnya. Ia begitu santai memamerkan kemesraannya, sementara Vania ... ia hanya menunduk. Ia sangat malu dan tidak enak dengan betina hotel yang menatapnya dengan mata sinis.
Terdengar suara cempreng mengganggu telinga sehat Sony. Tanpa aba-aba, Sony mendadak menghentikan langkahnya sehingga Vania terkejut dan ikut berhenti mendadak. Sony menajamkan bola matanya ke satu arah di meja resepsionis. Langkahnya kasar untuk segera menghampirinya.
Bersambung...
__ADS_1
Untuk lima hari ke depan, author hanya bisa up malam ya. Karena masih ada acara keluarga. Repot banget nih, bela-belain mata ngantuk, sepet, capek. Masih saja nulis demi kalian yanv setia. Terima kasih ya...❤❤❤ jangan lupa tinggalkan jejak sayang. Udah hafal kan?🤭