Terjerat Cinta Security

Terjerat Cinta Security
Perpisahan


__ADS_3

“Mas, aku harus pergi sekarang.” Aku berpamitan pada Mas Sony sambil membawa koper dan tas ransel.


 


“Sini Dek Mas bantu.” Merebut koper dan ransel dari tanganku.


 


“Aku ambil boneka sama tas satu lagi ya Mas. “


Aku masuk bersamaan dengan Dina yang juga balik dua kali untuk mengambil barangnya.


 


“Din, tunggu aku ya kalau mau masuk bus. Aku mau berpamitan dulu sama Mas Sony.”


 


“Iya Van, santai aja.”


 


Aku berjalan keluar memeluk boneka pemberian Mas Sony. Kulihat Mas Sony berdiri di samping koperku dan menenteng tasku. Hatiku rasanya tak karuan. Sedih tapi seperti ada dorongan yang memaksaku untuk harus tersenyum. Jangan menangis Van, jangan menangis. Itu hanya akan membuat Mas Sony sedih. Gumamku dalam hati,


 


“Sudah tidak ada yang ketinggalan Dek?” tanya Mas Sony.


 


“Eh, ti-tidak Mas.” Jawabku cepat membuyarkan lamunku.


 


“Ya sudah ayo, Mas bantu memasukkan barangnya.”


 


Aku berjalan dengan langkah gontai, berat sekali rasanya kakiku untuk berjalan. Mas Sony memasukkan Koper dan tasku ke dalam bagasi barang, boneka dan tas yang aku bawa aku simpan di kursi tempat aku duduk, di paling belakang. Di dalam bus sudah banyak temanku yang duduk manis bercanda gurau, karena sudah pasti mereka sangat bahagia akan segera bertemu dengan keluarganya. Ada sekitar 20 orang  yang ada di dalam bus, mereka juga baru selesai magang di berbagai hotel yang tersebar di Yogya.


 


“Mas, aku pergi dulu ya. Aku harus segera naik ke bus.” Ucapku dengan menahan genangan air mata yang memaksa ingin jatuh.


 


“Iya Dek, semoga selamat sampai rumah ya, lancar perjalanannya. Dan ingat jangan menangis. Harus senyum. Oke?!” Tersenyum kecil dengan mata sayu.


 


“Siap Mas.” Jawabku tersenyum meski air mataku lolos. Aku cepat mengusapnya.


 


“Mas di sini akan sangat merindukanmu Dek. Jaga dirimu baik-baik ya di sana.” Menggenggam kedua tanganku.


 


Aku mengangguk tersenyum dengan pipi yang sudah basah karena air mata. “Mas, aku menyayangimu. Terima kasih, selama ini sudah menjagaku, melindungiku, dan memperlakukanku seperti ratu.” Tangisku semakin terisak, namun bibirku masih tetap tersenyum. “Dan aku juga minta maaf, sudah sangat merepotkan Mas.”


 


“Dek, seharusnya Mas yang berterima kasih. Adik telah memberikan waktu yang sangat berharga untuk Mas lebih dalam mengenalmu, mengenal rasa yang tidak pernah aku rasakan sebelumnya. Terima kasih atas semua kebaikanmu sayang, terima kasih juga sudah selalu ada untuk Mas.” Meraih kedua tanganku dan di genggam erat. Mas Sony mencium lembut kedua punggung tanganku.


 


“Iya Mas, aku bahagia bisa mengenal Mas Sony, Mas sangat berarti buatku.”


 

__ADS_1


“Van, ayo. Sudah mau berangkat.” Teriak Dina dari kejauhan.


 


“Mas aku pergi dulu ya. Selamat tinggal. Jaga diri Mas baik-baik. Tolong jaga hati Mas buatku. Aku akan selalu memberi kabar.”


 


“Jangan pernah ucapkan selamat tinggal Dek. Sampai bertemu lagi. Hapus air matanya dan senyum untuk Mas. Bisa?!”


 


“Iya Mas, Sampai bertemu lagi ya.” Ucapku tersenyum lebar dan bersalaman mencium punggung tangan Mas Sony.


“Assalammu'alaikum sayang.” Lanjutku.


 


“Waalaikum salam, gadis kecilku tersayang.” Mas Sony mengacak rambutku gemas dan tersenyum manis.


 


Aku berjalan, melangkahkan kakiku dengan cepat memasuki bus. Tampak semua orang memperhatikanku. Banyak yang bersorak karena mereka seperti baru selesai menonton drama romantis. Ada juga yang melihatku tidak senang. Siapa lagi kalau bukan Widya dan Ega.


 


SONY.


Dek, semoga kamu selalu dalam lindungan Allah saat aku tak di sampingmu. Semoga Allah mempertemukan kita di saat yang tepat. Berat, sangat berat buatku untuk berpisah denganmu. Namun aku harus tetap tersenyum, aku harus tetap tegar meski hatiku rapuh. Aku tidak mau kamu sedih karena melihatku pilu.


Aku berharap, kamu akan selalu mengingatku Dek. Aku akan sangat merindukanmu di sini.


 


Sony melambaikan tangannya saat bus itu mulai berjalan menjauh, Vania yang duduk di kursi belakang masih menyaksikan senyum Sony dan membalas lambaian tangan sebagai perpisahan. Senyum yang terukir di bibir keduanya sangat terlihat jelas meski air mata terus mengalir.


 


Sony mulai menunggangi motornya, menuju rumah sederhana yang beberapa hari terakhir ia rasakan keberadaan Vania di sampingnya. Sepanjang jalan Sony merasakan hatinya sangat gundah. Sebentar air matanya jatuh begitu saja.


 


Son, kenapa kamu begitu cengeng. Kamu sangat berlebihan, baru kali ini kamu menangisi wanita. Kamu hanya ditinggal sebentar Son, hanya sebentar. Bukan selamanya. Apa yang membuatmu khawatir? Kamu masih bisa vidio call, kamu masih bisa mengirim pesan setiap saat. Lalu alasan apa yang menjadikanmu semakin cemas?! Hati Sony terus bergelut dengan pikirannya sendiri.


 


Di waktu yang sama, Vania meratapi kesedihannya.


 


VANIA.


Mas, aku tidak tahu kenapa aku harus sesedih ini. Baru saja aku meninggalkanmu, rasa rinduku sudah berkecambuk dalam hatiku. Semua yang aku rasakan selama ini, sesaat menjadi kenangan. Semoga kelak nanti kita dipersatukan Mas. Tunggu aku, aku akan kembali dengan cinta yang sama. Semoga Allah selalu memberkahi langkah kita Mas. Sehat selalu lelaki hebatku. Aku sangat mencintaimu.


Tangis Vania semakin terisak di kala ia mengingat masa-masa bahagia yang ia lewati bersama Sony. Dipeluknya boneka pemberian lelakinya itu untuk menutup wajahnya yang sedang basah karena air mata, agar tidak terlihat salah satu temannya. Beruntung dia duduk di kursi paling belakang dengan Dina.


 


“Van, sudah dong jangan menangis terus. Sebaiknya kamu telepon Mas Sony, biar enakkan. Kalau dengar suaranya pasti lega.” Ucap Dina berusaha menenangkanku.


 


“Bagaimana aku bisa bicara dengannya Din, suaraku saja serak begini. Nafasku berat. Yang ada semakin membuatku sedih.”


 


“Ya sudah kamu tidur saja. Tuh lihat, yang lain sudah sangat nyenyak.” Menunjuk ke kursi depan.


 

__ADS_1


“Kamu saja yang tidur Din. Aku mau lihat jalan.” Jawabku beralasan.


 


Aku membuka ponselku, membuka aplikasi berwarna hijau berlogo telepon, kuketik pesan singkat kepada Mas Sony.


 


“Mas, sudah pulang? Sedang apa sekarang?”


 


Online


 


“Mas baru saja sampai rumah Dek,” balasnya.


 


“Aku memikirkanmu Mas,”


 


“Belum juga ada satu jam masa sudah kangen Dek...”


 


“Aku juga tidak tahu Mas kenapa aku bisa secepat ini merindukanmu.”


 


“Tidur saja Dek, agar tidak selalu memikirkan Mas. Dan jangan menangis terus, jelek tahu, dasar cengeng.”


 


Dari mana Mas Sony tahu kalau saat ini aku menangis?


“Aku tidak menangis Mas. Aku hanya sedang melamun kok.” Jawabku berbohong.


 


“Adik bohong, tahu enggak kalau Adik menangis terus, itu akan membuat Mas tidak tenang. Sudah ya, coba pikirkan orang tua di rumah mereka lebih merindukanmu Dek. Sekarang Adik harus berusaha bahagia. Oke?!”


 


“Iya Mas, aku akan mencobanya.”


 


“Jadi anak yang pintar ya Dek, belajar yang rajin. Jangan memikirkan lelaki terus. Tidak baik. He he,,”


 


“Siap Bos.” Aku lekas bisa tersenyum, sedikit lega. Aku harus semangat. Buat apa bersedih terus, tidak ada gunanya juga.


 


Bersambung....


 


 


Dukung author ya, tinggalkan jejak.


komen, like, vote


Thanks😍💚💚

__ADS_1


__ADS_2