Terjerat Cinta Security

Terjerat Cinta Security
Papa, Sembuhlah


__ADS_3

Keesokan harinya, di rumah Sony


“Son, aku antar ke bandara, ya?” Beni menawarkan diri untuk mengantar Sony yang hendak pergi ke Jakarta hari ini menemui orang tuanya.


 


“Apa di hotel tidak ada kerjaan? Takutnya malah keteteran kalau kamu tinggal.” ujar Sony sambil membereskan barang yang akan dibawanya. Memasukkan beberapa pakaian ke koper kecil berwarna hitam.


 


“Tenang saja Bro, ke bandara juga cuma sebentar ini. Bukannya tidur di sana, kan?!”


 


Sebelum ke bandara, Sony menyempatkan waktunya sebentar untuk menemui gadis kecilnya. Ia merasa gundah jika harus meninggalkan Vania walau hanya hitungan hari. Berharap semua akan baik-baik saja dan tidak ada perubahan apa pun.


 


🌿🌿🌿


 


Sony duduk di sofa bersebelahan dengan Vania, sedangkan Beni yang berniat mengantar, kini tengah menyesap rokok di halaman depan sambil berjalan-jalan.


 


“Dek, Mas pamit ya? Untuk beberapa hari ke depan, minta tolonglah sama Beni jika perlu bantuan, jangan sungkan. Dia sahabat baik Mas. Dan kalau Mas belum memberimu kabar, bersabarlah, jangan terlalu gelisah. Mungkin Mas akan sedikit sibuk di sana.”


 


“Iya Mas,” Vania hanya mengiyakan perkataan Sony yang baginya itu sangat berat. Entah ada perasaan yang mengganjal, mungkin takut akan terjadi hal yang tak diinginkan, atau mungkin hanya sekedar khawatir semata.


 


“Jaga dirimu baik-baik ya, Dek. Semangat kerjanya, dan jangan banyak melamun. Harus selalu bahagia walau jauh dariku.”


 


“Kita sudah terbiasa LDR, Mas. Jadi tenang saja, aku tidak akan kaget.” Vania tersenyum, berusaha memperlihatkan wajah santainya meskipun sebenarnya dalam hati sangat bertolak belakang. Kalau diizinkan, ingin rasanya ia ikut Sony pulang, tapi Vania sadar dia bukan apa-apa.


 


“Mas, tiketnya jam berapa?”


 


“Jam delapan Dek,”


 


“Mas, ini sudah jam tujuh. Cepat berangkat, nanti ketinggalan pesawat loh, belum perjalanannya juga.”


 


“Ikut Mas ke bandara yuk, Dek? Mau?”


 


“Boleh?”


 


“Sangat boleh.”


 


“Kalau begitu aku ganti baju dulu ya, Mas?”


 


“Tidak usah, Dek. Begitu saja sudah cantik.”


 


“Ah, masa pakai piyama Mas? Memalukan sekali.”


 


Selang beberapa menit setelah Vania mengganti pakaiannya, ia keluar dari kamar dan menghampiri Sony yang sedang menyesap segelas teh yang di buatkan oleh Fitri, asisten rumah tangga.


 


“Yuk.” Ajak Vania.


 


Sony lalu berdiri dan menggandeng tangan Vania, menuntunnya ke halaman dan membukakan pintu mobil bagian belakang.


 


“Mas,...”


 


“Ya,... kenapa Dek?”


 


“Mas Beni ke mana?”


 


“Astaga! Mas baru sadar kalau dia nggak ada.” Ucap Sony setelah Vania masuk ke dalam mobil dan menyadari tidak ada siapa pun di dalamnya.


 


“Ben! Beni!” Sony berteriak di sekitar halaman. Mata Sony mengitari setiap sudut dan menelisik pohon besar yang terletak di depan rumah itu.

__ADS_1


 


“Astaga! Ben ngapain sih di sini? Ayo cepetan, udah telat nih.”


 


“Iya, iya, bawel banget.” Beni yang tengah asyik melakukan panggilan telepon terkejut ketika Sony memanggilnya dan menepuk pundaknya dari belakang.


 


“Vania ikut Ben, nanti tolong pulangnya kamu antar ke sini lagi ya.”


 


“Siap bos!”


 


“Oalah, ini toh yang namanya Vania. Baru pertama kali aku melihatnya Son. Cantik ya, lebih cantik aslinya dari pada di foto.” Ucap Beni dengan santainya setelah masuk ke mobil bagian kemudi.


 


Sony yang duduk di belakang dengan Vania menatap tajam Beni melalui spion.


 


“Bisa diem aja nggak, Ben!”


 


“Dih, muji Vania dikit aja udah sensi. Hahaha.”


 


“Salam kenal ya, Mas Beni.” Vania tersenyum ramah.


 


“Oh, iya Van. Salam kenal juga.”


 


***


 


Dua puluh menit kemudian, mobil berwarna hitam itu berhenti tepat di depan pintu masuk bandara. Sony turun membukakan pintu untuk Vania, lalu ia menuju bagasi belakang untuk mengambil kopernya.


“Son, aku cari parkiran dulu. Kalian masuk aja.”


 


“Oke.”


 


 


“Boleh Mas peluk kamu, sayang?”


 


“Hem... di sini? Malu Mas dilihat orang.”  Mata Vania menelisik sekitar. Bandara itu sangat ramai pengunjung yang akan pergi dan yang baru datang, namun memang cukup banyak juga orang yang saling melepas kepergian pasangannya di sana, atau mungkin keluarganya. Mereka saling berpelukan.


 


“Iya sayang, hanya sebentar.” Sony merentangkan kedua tangannya siap menyambut tubuh Vania dalam pelukannya.


 


Vania maju dua langkah dari tempat ia berdiri, ia menghamburkan tubuhnya pada Sony lalu melingkarkan kedua tangannya di pinggang lelaki itu. Sony yang berdiri tegap memeluk erat tubuh mungil Vania. Ia mengelus lembut punggung juga rambut gadis itu.


 


Vania mulai terisak, sepertinya ia menjadi cengeng sejak mengenal Sony, hatinya terlalu lemah jika harus berpisah dengan kekasihnya itu. Ya, meskipun ia pergi bukan untuk bertahun-tahun. Namun tetap saja ia bersedih.


 


Sony mencium pucuk kepala Vania kemudian melepaskan pelukannya. Membelai kedua pipi Vania dengan lembut, menghapus buliran yang membasahi pipinya.


 


“Selalu begini. Cengeng!” Sony menggoda, Vania memukul pelan dada Sony.


 


“Woy! Mau berapa jam lagi bermesraan di sini?!” ucap Beni yang hanya berjarak sekitar satu meter dari mereka.


 


“Aku menunggumu, lama sekali.” Ujar Sony.


 


“Ya sudah, cepat chek in nanti terlambat Son.”


 


“Baiklah kalau begitu, aku pergi dulu ya. Titip hotel Ben, maaf merepotkanmu.”


 


“Santai Bro. Hati-hati ya.”


 


“Ya, terima kasih. “

__ADS_1


 


“Dek, Mas berangkat dulu ya. Jangan bersedih.” Sony menggenggam tangan Vania dan menatapnya lekat.


 


“Hati-hati ya, Mas. Semoga selamat sampai tujuan, dan semoga Papa Mas Sony ceoat sembuh.”


 


“Terima kasih sayang, jaga diri baik-baik.” Sony mengecup punggung tangan Vania. Lalu beranjak pergi. “Ben, titip Vania, pastikan dia aman. Terima kasih!” Sony sedikit berteriak meninggikan nada suaranya.


 


Vania dan Beni berdiri menatap kepergian Sony, semakin lama semakin jauh, tak terlihat lagi punggung lelaki itu.


 


🌿🌿🌿


 


Rumah Sakit Jakarta


“Selamat siang, permisi mau tanya, ruang Bapak Gunawan Dirgantara di mana, ya?” Sony bertanya pada perawat yang berjaga di meja informasi.


 


“Sebentar saya cek dulu.”


 


“Bapak Gunawan Dirgantara berada di ruang VIP Dahlia ya, Pak. Lantai tiga, keluar dari lift belok kanan. ”


 


“Baik, terima kasih.”


 


Sony berjalan menuju lift, menekan tombol angka tiga, bersamaan dengan beberapa pengunjung lain di rumah sakit itu yang mungkin juga akan menjenguk keluarga atau temannya.


 


Beberapa detik kemudian, mesin lift itu berhenti tepat di lantai tiga.


Di ujung koridor terlihat wanita paruh baya bersanggul dan mengibas-ngibaskan kipas yang di pegangnya bersama lelaki gagah. Mereka terlihat berbincang serius. Sony pun langsung menghampiri mereka.


 


“Assalammualaikum, Ma, Kak.” Sapa Sony kepada Bu Rima dan Dony dan mengulurkan tangannya mengajak bersalaman.


Ingin rasanya aku memelukmu, Ma. Sejak dulu, aku tak pernah merasakan kehangatan kasihmu. Apa Mama sudah tidak menyayangiku?


 


“Akhirnya kamu datang juga Son.” Ucap Bu Rima jutek membiarkan Sony mencium punggung tangannya.


 


“Papa di mana?”


 


“Ada di dalam, sedang istirahat, Son.” Jawab Dony, kakaknya.


 


“Boleh Sony masuk?” tanya Sony, matanya mulai sayu. Kehadirannya pun seperti tak diharapkan, meskipun ia dipaksa untuk pulang.


 


Sony pun membuka pintu ruangan itu. Menghampiri lelaki yang tengah tertidur pulas di brankar. Tubuhnya kurus, wajahnya pucat, rambutnya juga sudah memutih.


 


Pa, maafkan Sony. Papa cepatlah sembuh, Sony akan berusaha membahagiakan Papa. Sony tak peduli jika harus mengorbankan kebahagiaan Sony, asalkan Papa sembuh.


Bersambung....


...Hay, reader baik...


... ...


...tolong tinggalkan jejak ya.....


... ...


...berikan like, komentar dan vote kalian.....


... ...


...kalau boleh, kasih hadiah bunga tau kopi juga seneng banget kok....


... ...


...makasih yaa... 💚😍💚...


 


...silahkan mampir juga ke IG author yukk, Epha_Yunitha...


 


 


 

__ADS_1


 


__ADS_2