
“Benarkah? Terus Bapak jawab apa Mas?”
“Bapak bilang, semua terserah kamu Dek. Keputusan ada di tangan kamu. Kalau pun kamu mau menerima, ya Bapak ikhlas menyerahkanmu kepada Mas. Tapi pada saat itu Mas sudah mengajakmu untuk menikah, tapi jawabanmu belum mau. Ya sudah Mas akan menunggu. Tapi untuk kali ini, Mas tidak bisa menunggumu. Mas akan memaksamu meskipun kamu tidak mau.”
“Mas, aku belum siap!”
“Apa yang harus kamu persiapkan Dek? Mas hanya perlu ragamu untuk selalu di samping Mas. Lagi pula Bapak juga sudah memberi lampu hijau, kan. Beliau hanya berpesan agar aku menjagamu dan juga tidak boleh memakanmu sebelum waktu itu tiba.” Sony tersenyum penuh tanda tanya.
“Memakanku?” Vania memang benar-benar tak memahami perkataan Sony.
“Iya Dek, memakan ragamu itu? Hahaha.” Sony tertawa terbahak-bahak melihat ekspresi polos Vania yang masih belum paham. “Sudahlah, jangan bahas itu.”
“Tapi kenapa Mas harus memaksaku sih? Kenapa tidak mau sabar menungguku? Padahal aku masih punya keinginan buat membahagiakan Bapak Ibu sama adik-adikku Mas.”
“Dek, apa kamu pikir dengan kamu menikah, kamu tidak bisa membahagiakan mereka? Mas pasti juga akan ikut berperan untuk membahagiakan mereka. Jangan khawatir.”
“Aku akan memikirkannya, Mas.” Singkat Vania.
“Sampai kapan? Mau tidak mau, Mas akan mengajakmu pulang besok. Dan kita langsung ke Jakarta menemui Papa.”
“Hah? Papa? Papanya Mas Sony?” Vania tak menyangka akan di pertemukan dengan orang tua Sony, sedangkan dia beranggapan dia masih belum pantas untuk menemui mereka.
“Aku takut Mas.”
“Apa yang kamu takutkan, Dek? Mas selalu di dekatmu. Buang jauh-jauh rasa takutmu itu. Percayalah sama Mas, tidak akan terjadi apa-apa. Mereka hanya ingin berkenalan dengan calon mantunya.”
“Tapi apa mungkin mereka mau menerimaku Mas? Sedangkan aku hanya seperti ini, berbeda dengan perempuan tadi? Siapa namanya?! Ah mengingatnya saja aku menjadi kesal.” Menyilangkan tangannya dan cemberut memonyongkan bibirnya lima senti.
“Hahaha ... “ tawa Sony menggema di seluruh ruangannya, “kamu sangat menggemaskan Dek.” Duduk berdekatan tiada jarak membuat Vania semakin dag-dig-dug. Sony memeluk Vania dari samping karena bahagia melihat kecemburuannya.
Vania pun lagi-lagi menunjukkan pipi merahnya, ia tersipu malu dengan perlakuan Sony.
“Ya sudah kalau begitu aku turun dulu ya, Mas. Pasti banyak yang mencariku di bawah.” Vania beranjak dari sofa.
“Dek, kamu tidak melupakan sesuatu?”
“Apa? Aku hanya membawa kopi ke sini Mas. Tidak membawa barang lain.” Vania yakin tidak ada yang terlupa dan tertinggal sesuatu.
Sony lalu berdiri berjalan ke arah Vania yang sudah hampir sampai pintu. Sony terus mendekat, Vania pun melangkah mundur hingga akhirnya ia terpojok di pintu dengan kedua tangan Sony yang mengunci Vania.
“Kamu melupakan hukumanmu, sayang.” Ucap Sony mendekatkan wajahnya, bahkan hanya berjarak lima senti dengan wajah Vania. Vania yang tidak bisa berkutik dan mulai merasa malu ia beringsut ke bawah ingin lolos. Namun gagal, Sony lebih dulu menangkap tubuh itu lalu memeluknya.
__ADS_1
“Mas sangat merindukanmu.”
Vania hanya terdiam merasakan kembali pelukan hangat itu. Ia merasa sangat tenang dan nyaman, meski hanya sebentar pelukan itu mampu menghapus rasa rindu Sony dan menggantinya dengan kebahagiaan.
“Apa kau merindukanku Dek?”
“Sangat.” Vania melingkarkan tangannya ke pinggang Sony.
“Apa kamu mau mengatakan sesuatu?”
"Yakin? sepertinya ada yang mengganggu pikiranmu, bicaralah."
“Aku--aku sayang sama Mas Sony, aku tidak mau melihat Mas Sony dengan perempuan lain. Hatiku sakit Mas, sakiiit sekali.”
“Tidak akan sayang, Mas janji. Maaf tadi sudah membuatmu menangis.” Sony masih memeluknya erat sambil mengusap lembut kepala Vania.
“Mas, aku turun ya.” Melepas pelukannya namun tangan Vania masih bergelayut manja di pinggang Sony. Ia mendongak ke atas menatap wajah tampan Sony.
“Baikalah, nanti makan siang sama Mas.”
“Selalu begitu! Aku mau sendiri Mas. Aku tidak nyaman kalau makan sama Mas Sony, selalu dilihat orang-orang. Aku malu.”
“Mas tidak peduli. Lagi pula sebentar lagi kita akan menikah.” Kata Sony dengan penuh keyakinan.
Cup
Sony mencium pipi kanan Vania saat ia melihat ke samping. Seketika Vania memegang pipinya yang merona karena terkejut. Sony lalu menunjuk pipinya agar di cium oleh Vania. Namun ia menggeleng tidak mau, Sony sudah pasrah tidak menerima ciuman dari Vania karena ia menolaknya.
“Buka dulu pintunya Mas.” Sony membuka kunci pintu itu. Sesampainya depan pintu, Vania berbalik lalu dengan cepat mengecup bibir Sony dengan melompat karena Sony terlalu tinggi. Bagaikan kilat ia berlari menuju lift seperti anak kecil yang sedang bermain. Sony pun terkejut dan tersenyum kegirangan menyentuh bibirnya yang baru saja mendapat vitamin di siang hari dari sang kekasih.
Sangat memalukan, kenapa aku semakin berani mencium Mas Sony. Bibir itu masih sangat terasa, aduuhhh ... pipiku, kenapa jadi memanas begini. Vania bergumam dalam hati menelangkup pipinya yang merah sesekali mengusap bibirnya yang masih terasa bekas bibir Sony.
Sony menutup pintu dengan pelan lalu bersender dibaliknya. Ia tersenyum sendiri mengingat tingkah lucu Vania yang sangat menggemaskan. Bibir itu bagaikan candu untuk Sony, sekali ia merasakannya, semakin ia ketagihan ingin terus menciumnya.
🌷
🌷
Saat jam makan siang, Sony ternyata sudah menunggu Vania di kantin. Vania dengan senyumnya menyapa Sony dari kejauhan, namun ia langsung merubah senyumnya menjadi kesedihan karena melihat wanita yang tiba-tiba menghampiri Sony.
“Kenapa dia lagi! Kenapa harus ada dia di sana!” Vania membalikkan tubuhnya memilih pergi dari kantin itu.
“Dek, ayo ikut makan siang. Aku kenalkan pada Sindy. Dia juga ingin berkenalan denganmu.” Sony mengejar Vania yang malah pergi.
“Nggak mau! Aku malu. Mas nikmati saja makan siangnya berdua dengan dia.” Vania bersikeras untuk pergi. Ia tidak peduli dengan perutnya yang sedang kelaparan.
__ADS_1
“Dek, Mas tidak berdua. Ada Beni juga, dia sedang di toilet. Ayolah!”
Setelah Sony membujuk dan merayunya, akhirnya Vania mengikuti ucapan Sony meskipun hatinya berat, enggan berkenalan wanita itu. Dengan bergandeng tangan, Vania melangkah dengan perlahan. Mulai sekarang ia sudah tidak peduli lagi pembicaraan negatif soal dirinya yang berpacaran dengan sang owner hotel. Kalaupun ia harus di benci, ia pasrah.
“Sin, kenalkan ini Vania. Dia yang akan menjadi istriku nanti.” Vania mengangguk dalam rangkulan Sony yang masih berdiri di dekat meja Sindy.
“Oh, hai Vania. Senang berkenalan denganmu.” Sindy mengulurkan tangannya.
“Iya mbak, salam kenal.” Jawab Vania polos.
“Ayo, silakan duduk. Kita makan bareng. Eh Beni mana Son, lama banget dia.”
“Sebentar lagi juga datang.” Sony menanggapi pertanyaan Sindy.
“Dek, kamu mau makan apa?”
“Apa saja. Terserah Mas.”
“Mas pesankan dulu makanan kesukaan kamu ya.” Sony mendatangi seorang pelayan yang sedang sibuk mengelap meja. Sudah menjadi kebiasaan Sony, tidak pernah memanggil pelayan dengan teriakan.
Sindy melihat Vania dengan teliti. Vania yang merasa diperhatikan ia tidak nyaman. Entah itu tatapan merendahkan, atau tatapan heran. Kenapa Sony begitu mencintainya.
“Kamu cantik ya Van, tapi sayang kamu terlalu polos.” Sindy tersenyum.
“Hah? Maksudnya?” Vania mengernyitkan dahinya.
“Ah tidak apa-apa. Lupakan saja.” Sindy mengibaskan tangannya sambil menyeringai.
Bersambung....
...Hay, reader baik...
... ...
...tolong tinggalkan jejak ya.....
... ...
...berikan like, komentar dan vote kalian.....
...agar author semakin semangat...
... ...
... siap terima 🌷,❤, ☕ dan yang lainnya😁😁...
... Terima Kasih .... lopyu pul dah....
... ...
...kenalan sama author yukk, follow IG @Epha_Yunitha...
... ...
__ADS_1