
“Se—sebentar Mas, aku harus...” aduh, bagaimana ini, aku terlalu malu untuk melihat Mas Sony tanpa baju. Rasanya tak sanggup dan ingin menutup mata saja melihat Mas Sony berada di tempat tidurku seperti seorang raja menunggu selirnya. Ah aku lupa, bukankah ini sudah menjadi tempat tidur kami? ini bukan lagi kamar pribadiku.
Melihat Vania yang masih berdiri di depan lemari, Sony menghampirinya dan memeluknya dari belakang hingga tubuh mereka pun menyatu.
“Masih dingin?” tanya Sony yang begitu semangat memeluk Vania dengan mesra, ia berpikir pelukannya akan menghangatkan tubuh Vania yang ia pikir kedinginan. Tangan Sony melingkar erat di perut Vania. Dagunya bertumpu pada bahu gadis itu.
“Mas! Kenapa tiba-tiba ke sini, sebentar aku harus ke kamar mandi dulu.” Belum berhasil ia mengambil dalemannya, ia malah di kejutkan Sony yang memeluknya dari belakang.
“Tidak perlu bolak balik terus ke kamar mandi, Dek. Mau ngapain lagi?” ucap Sony pelan, Vania merasakan nafas Sony terasa hangat di lehernya.” Sini Mas bantu mengeringkan rambutnya.” Lanjutnya.
“Mas Sony ke sana dulu, aku mau ganti baju.”
“Kenapa sayang dengan bajunya? Kok ganti lagi?” Sony masih bergelayut manja memeluk Vania.
“Mas, please ... aku belum memakai pakaian dalam. Tadi pas mandi lupa bawa.” Ujar Vania dengan berani. Ia tidak peduli lagi bagaimana nanti Sony berpikir. Sudah terlanjur basah, ia sudah menghilangkan rasa malunya.
Sony melepas pelukannya dan memutar tubuh Vania. Sontak Vania sangat terkejut dan lebih mempererat lagi tangannya yang sedang menyilang di dada.
Sony mendekatkan wajahnya ke telinga Vania, ia lalu membisikkan sesuatu yang membuat Vania melotot.
“Tidak perlu memakainya Dek, nanti juga akan di lepas.” Bisik Sony sambil tersenyum. “Sudah sini Mas bantu mengeringkan rambutnya, nanti masuk angin sayang.” Ajak Sony ke meja rias.
Apa-apaan Mas Sony. Belum apa-apa sudah berani saja berkata seperti itu. Apa dia tidak malu? Apa memang wanita saja yang punya malu jika melakukan hal itu pertama kali?
Vania menuruti kata Sony untuk menuju meja rias, meskipun sebenarnya ia risih tanpa mengenakan pakaian dalam. Sama saja ia telanj*ang. Baju yang di kenakan saja berbahan dasar satin halus. Tentu saja itu akan menjiplak bagian dalamnya. Piyama itu mempunyai kancing di depannya, berlengan pendek dan satu setel dengan celana panjangnya yang juga sangat tipis.
“Mas, aku bisa sendiri. Tidak perlu repot-repot.”
“Aku lebih senang jika kamu diam dan menikmati layananku.”
__ADS_1
“Selama Mas bisa membantumu, Mas akan melakukan apa pun itu.”
“Baiklah, terima kasih Mas.” Vania memperhatikan pantulan Sony di cermin. Ia sedang sibuk membelai rambut basah Vania dengan jari-jarinya.
“Apa terlalu panas?” ucap Sony ketika menyalakan hair dryer dan mengarahkan ke rambut Vania yang basah.
“Tidak Mas, cukup.”
Dengan lihainya, Sony memegang handuk di tangan kirinya dan pengering rambut di tangan kanannya. Selang beberapa menit, rambut Vania kering total atas bantuan Sony. Sony lalu mengajaknya ke tempat tidur untuk beristirahat.
“Ayo Dek, kita tidur.” Ajak Sony ke ranjang yang penuh dengan taburan kelopak bunga mawar merah di atasnya. Menambah suasana menjadi romantis. Sony pun duduk bersender di senderan tempat tidur itu. Sementara Vania, ia masih berjalan lambat seperti siput, langkahnya seperti menahan batu besar, sangat berat untuk melangkah mendekati tempat tidur itu.
Sony dari kejauhan menatap dan memperhatikan Vania berjalan, fokusnya pada sesuatu di balik baju Vania yang menerawang. Terlihat bulatan yang bergoyang ke sana ke mari, dan juga benjolan kecil seperti biji kacang yang menggesek kain putih tipis itu.
“Sini.” Sony menepuk bantal di sebelahnya, menyuruh Vania untuk tidur.
Vania pun duduk di tepi ranjang lalu menaikkan kakinya, ikut duduk bersender sejajar dengan Sony. Ia meraih bantal untuk di peluk agar menutupi dadanya.
“Dek, tenang saja. Mas tidak akan memaksamu untuk melakukannya sekarang. Mas akan menunggumu sampai kamu siap.” Ucap Sony dengan suara lirih, kalimat yang keluar dari bibirnya tak seirama dengan hatinya yang menginginkan lebih atas istrinya. Namun ia tidak mau jika ini menjadi hal paksaan untuk Vania. Apalagi benda di bawah sana sudah tegang sedari tadi saat memandangi bentuk tubuh istrinya.
“A—aku ... aku hanya ... Maafkan Vania ya, Mas.” Vania menunduk merasa bersalah. Sungguh saat ini hatinya memang sedang ketakutan mengingat hal mengerikan itu, banyaknya ia sering membaca buku atau artikel yang mengatakan jika melakukan hubungan badan pertama kali akan terasa sangat menyakitkan.
“Sttt .... tidaak apa – apa, Dek. Mas santai kok. Jadi kamu jangan grogi seperti itu, bersikaplah biasa seperti sebelumnya.”
Sony mendekat lebih rapat ke tubuh Vania. Ia menarik Vania ke pelukannya hingga pipi Vania menempel pada dada Sony. Sony pun dengan mesra mencium pucuk kepala Vania dengan lembut, ia merasa seperti di sayang.
__ADS_1
Sony merasakan sesuatu yang aneh menempel di bagian samping dadanya. Benda kenyal yang menempel erat itu sungguh baru pertama kali ia rasakan, bagaimana juniornya tidak semakin tegang mendapat reaksi seperti itu.
Ya Tuhan, kuatkan aku. Semoga aku bisa menahannya untuk sekarang. Sony mendongakkan kepalanya, memejamkan sebentar kedua matanya dan menarik napas panjang, ia berusaha bersikap sebiasa mungkin walau ia menikmati benda kenyal itu menempel di tubuhnya, apalagi hanya terhalang kain tipis.
“Terima kasih ya Mas, sudah mau mengertikanku.” Vania melingkarkan tangannya ke pinggang Sony.
“Iya sayang, ke depannya apa pun yang membuatmu tidak nyaman, bicaralah jangan sungkan.” Ujar Sony mengelus lengan Vania dengan tangan kanannya yang menangkup tubuh kecil itu dari punggungnya.
“Dek, boleh Mas? ...”
“Iya, ... kenapa Mas?” Vania mendongakkan kepalanya, melihat Sony yang tidak meneruskan kalimatnya.
“Boleh Mas menciummu?”
Vania mengangguk pelan menyetujui permintaan Sony. Mendapat lampu hijau, akhirnya Sony bertindak cepat, ia langsung mengangkat tubuh Vania ke pangkuannya agar bibir mereka sejajar dan mempermudah untuk melakukan ciuman. Sony menatap lekat Vania, mata sayu itu terus menembus sampai ke jantung Vania. Membuat jantungnya semakin berdegup kencang.
Sony mulai mengecup bibir Vania dengan lembut, ia memainkan dan terus me*lumatnya dengan penuh kasih sayang. Semakin lama ciuman itu semakin dalam hingga lidah mereka pun bertemu.
Mereka seperti makhluk yang kehausan, dengan rakusnya tautan itu semakin panas sampai nafas keduanya pun tersengal-sengal karena tidak bisa menghirup oksigen dengan bebas. Sony menyesap pelan bibir merah Vania, ia juga sangat menikmati setiap hisapan kecil yang Vania berikan.
.Bersambung....
...Hay, reader baik...
... ...
...tolong tinggalkan jejak ya.....
... ...
...berikan like, komentar dan vote kalian.....
...agar author semakin semangat...
... ...
...siap terima 🌷,❤, ☕ dan yang lainnya😁😁...
__ADS_1