Terjerat Cinta Security

Terjerat Cinta Security
Kedatangan Mama


__ADS_3

Flash Back


Sebelum acara pernikahan Sony dan Vania, tepatnya satu hari yang lalu. Pak Gunawan dari Jakarta sedang bersiap untuk segera berangkat ke bandara menuju Jogja untuk mendampingi Sony ketika di pernikahannya nanti. Ia merapikan koper yang berisi beberapa setel baju. Tak hanya Pak Gunawan, Dony Kakaknya Sony pun juga akan ikut bersama dengan istrinya.


 


Pak Gunawan tak begitu memaksa jika istrinya tidak mau ikut. Ia pun juga sudah berusaha membujuknya beberapa hari yang lalu namun tetap saja ia bersikukuh untuk tidak ikut.


“Halo, ada apa meneleponku?” ucap Pak Gunawan ketika mengangkat telepon dari adiknya, Pak Irawan.


 


“Di mana sekarang? Apa kamu sudah berangkat?” tanya Pak Irawan terdengar dari sambungan teleponnya. Saat ini dia sudah berada di Grand Luxury hotel bersama istrinya, Bu Reni. Ia sudah tiba satu jam yang lalu.


 


“Sebentar lagi, aku masih merapikan pakaian.”


 


“Ya sudah kita ketemu di hotel Sony, aku tunggu.”


 


“Telepon dari siapa Pa?” tanya Bu Rima yang baru memasuki kamarnya, ia mendengar suaminya baru saja menelepon seseorang.


 


“Telepon dari Irawan, memastikan aku sudah berangkat atau belum.” Jawabnya sedikit cuek sambil memasukkan baju ke dalam kopernya.


 


“Mereka juga datang?” tanya Bu Rima sedikit terkejut adik iparnya malah datang ke pernikahan anaknya, padahal mereka sedang berada di Singapura mengurus Hotel barunya di sana. Sesibuk apa pun mereka, pasti akan meluangkan waktu untuk keponakannya sendiri yang sudah dianggap seperti anak kandung.


 


“Ya pasti datanglah, Ma. Tidak mungkin Irawan tidak hadir di pernikahan anak kesayangannya.”


Pak Gunawan setengah menyindir istrinya, ia ibu kandung Sony namun seperti tidak pernah menganggapnya sebagai anak kandung. Sungguh aneh, kenapa ia harus pilih kasih kepada kedua anaknya yang sama-sama lelaki. Naluri Ibu harusnya lebih peka, namun berbeda dengan Bu Rima.


 


“Tidak usah menyindir Pa, salah sendiri, Sony tidak mendengar perintahku. Kalau saja dia menikah dengan Sindy, Mama pasti akan memperlakukan dia seperti Dony.”


 


“Terserah Ma, mau kamu ikut atau tidak. Itu tak berpengaruh apa pun untuk Sony. Sony bukan tipe lelaki yang cengeng meskipun hatinya lembut, dia adalah anak Papa yang kuat dan tangguh. Jadi tanpa kehadiranmu pun, Sony pasti akan tetap bahagia. Kalau kamu Ibunya, harusnya kamu merasa bahagia ketika anakmu juga bahagia. Kecuali kamu tidak menganggap Sony anakmu.”


 


“Bicara apa sih Pa?! Tega sekali kamu mengatakan itu padaku?!”


 


“Memangnya ada perkataanku yang salah? Aku hanya berbicara apa yang menurutku benar. Ya sudah, Papa berangkat dulu.” Pak Gunawan bergegas dari kamarnya sambil menenteng koper kecil berwarna hitam.


 


Apa aku sudah terlalu jahat pada Sony? Gumam Bu Rima sambil menatap punggung suaminya yang menuruni tangga.

__ADS_1


 Nggak! Aku melakukan semua ini hanya untuk kebaikan Sony juga kan, semua orang tua tahu yang terbaik untuk anaknya. Jadi di mana salahku?!


Apa sebaiknya aku menyusul ke sana? Tapi aku masih tidak bisa menerima gadis itu. Mana pernikahannya di kampung lagi. Bosan sekali, pasti panas dan tidak ada AC. Bagaimana ini? Apa yang harus aku lakukan? Batin Bu Rima sambi mondar-mandir di dalam kamarnya, ia masih terus bergelut dengan pikirannya dan terdiam untuk beberapa saat.


 


Tok ...Tok ... Tok ...


Suara ketukan pintu terdengar dari luar kamarnya.


 


“Masuk!” perintah Bu Rima.


 


“Ma, ayo kita berangkat. Kok belum siap?” ajak Dony pada sang Mama untuk berangkat ke Jogja.


 


“Mama di rumah aja. Kamu aja sana berangkat?!” jawabnya ketus.


 


“Ma, apa Mama tidak kasihan pada Sony, dia anak Mama juga kan? Mama ingat waktu pernikahan Dony dulu? Mama begitu bahagia dan mengadakan resepsi yang sangat mewah untuk kami. Masa pernikahan Sony Mama sama sekali tidak turun tangan, bahkan Mama tidak peduli padanya, menghadirinya saja Mama keberatan.” Keluh Dony membujuk Bu Rima untuk tetap ikut.


 


“Kamu anak yang penurut Don, makanya Mama bahagia. Tidak seperti Sony, dia keras kepala, susah diatur. Bagaimana bisa dia seenaknya melawan Mama?!”


 


 


“Dony! Cukup! Berani sekali kamu kurang ajar sama Mama!


 


“Maaf Ma! Dony hanya ingin Mama sadar dan berlaku adil pada Sony kasihan dia Ma.”


 


“Keluar dari kamar Mama!” perintah Rima dengan penuh emosi.


 


Dony pun akhirnya keluar dari kamar Mamanya. Sejenak  wanita itu berpikir lagi, mengingat semuanya yang sudah ia perbuat pada Sony dan Dony. Begitu kontras dan nyata perbandingan kasih sayangnya, sangat berbeda jauh.


 


Maafkan Mama Son, Mama sudah banyak salah sama kamu. Baiklah, Mama akan hadir dalam pernikahanmu, tapi bukan berarti Mama merestui kalian. Mama mau lihat nanti bagaimana dia memperlakukanmu, apa dia pantas jadi menantuku atau tidak. Gumam Bu Rima. Tanpa menunggu menit ia yakin dengan keputusannya. Ia lalu memesan tiket via online dengan jam terbang se awal mungkin. Koper pun segera di ambilnya dan dengan singkat kilat ia merapikan barang-barang yang akan di bawanya. Dony dan sang istri menyusul Pak Gunawan yang sudah berada di bandara. Mereka berangkat bersama-sama. Sedangkan Bu Rima harus berangkat kurang lebih satu jam lagi.


🌷🌷🌷


Pak Gunawan, Dony beserta istrinya sudah tiba di Hotel Sony fan berkumpul dengan Pak Irawan serta Bu Reni. Tak ketinggalan juga Beni dan kekasihnya, Sinta. Di mana Sindy? Ya, Sindy memilih balik ke Jakarta dan menjauhi keluarga Sony. Ia sudah kecewa dengan perlakuan Sony terhadapnya yang tidak memedulikannya. Meskipun awalnya ia berniat untuk terus berusaha mendapatkan Sony, namun percuma juga jika janur kuning sudah melengkung, semuanya sia-sia. Tiada harapan lagi baginya untuk terus melanjutkan misinya.


 


Lobby Grand Luxury Hotel

__ADS_1


 


“Mbak Rima?!” teriak Bu Reni yang sedang duduk di sofa menghadap ke kaca, mengarah ke bagian luar hotel. Sontak semua mata tertuju pada wanita paruh baya dengan tampilan cetarnya.


 


“Mama kamu datang Don!” teriak Pak Gunawan dengan semringah.


 


“Alhamdulillah, akhirnya Mama mau juga datang ke pernikahan Sony.” Gumam Dony, wajahnya tampak lega. Tidak sia-sia dia membujuk Mamanya. Ia mengulas senyumnya lebar.


 


Bu Rima berjalan memasuki lobby, Pak Gunawan pun menyambutnya dengan bahagia dan mengajaknya untuk bergabung.


 


“Ma, kamu datang? Syukurlah, Papa sangat bahagia sekali. Terima kasih ya.”


 


“Jangan GR Pa! Mama hanya menghadiri saja. Bukan untuk merestui mereka.” ucapnya dengan nada sinis dan melihat sekeliling hotel, Bu Rima memang sangat tinggi gengsinya. Ia gengsi mengakui kalau dirinya memang sudah sadar atas kesalahan masa lalunya.


 


“Apa pun alasan kamu Ma. Papa percaya dalam hati kamu, kamu memang Ibu yang baik.”


 


“Ah sudahlah Pa, bawel!” jawab Bu Rima singkat lalu ia mendudukkan tubuhnya ke sofa di samping Bu Reni, istri dari Pak Irawan pun langsung mengobrol mengenai bisnis juga fashion.


 


Malam harinya, mereka semua berangkat menuju kota Vania dengan menggunakan kereta api. Terlalu jauh jika harus mengendarai mobil. Hotel bintang empat adalah pilihan Pak Gunawan untuk menginap satu atau dua hari ke depan bersama keluarga, juga sahabat Sony.


 


Bersambung....


...Hay, reader baik...


... ...


...tolong tinggalkan jejak ya.....


... ...


...berikan like, komentar dan vote kalian.....


...agar author semakin semangat...


... ...


...siap terima 🌷,❤, ☕ dan yang lainnya😁😁...


 


 

__ADS_1


__ADS_2