Ternoda Oleh Sang Mafia Kejam

Ternoda Oleh Sang Mafia Kejam
Licik


__ADS_3

Vanessa tertawa kesal mendengar ucapan keras dari ibunya...ia membalikan tubuhnya dan mendekati sang ibu dengan pandangan marah dan tidak terima...


''Ibu.....semakin kau berusaha mendekatiku semakin aku muak padamu Bu..kau tau benar kalau aku tak akan pernah tinggal denganmu sampai kapanpun...aku bahkan tak akan pernah mengijinkan diriku untuk tinggal denganmu..''


Widya tertawa...


''Aku bukan wanita lemag Vanessa..dan aku rasa kau mewarisi semua sifatku jadi sayangku...aku ingin mengatakan satu hal padamu bahwa aku...tak akan pernah menyerah..aku akan membawamu tinggal dirumahku...''


''Ibu sangat mengerikan itu sebabnya ayah...memilih melepaskanmu dan kau tau apa yang membuat aku bersyuku memiliki ayahku...''


Widya menyipitkan matanya dengan kejam...


''Vanessa Widya...''


''Satu-satunya hal terbaik yang ayah lakukan adalah tidak mengijinkan kau membawaku ibu....selamat tinggal dan nikmati hidupmu bersama keluarga barumu dan lupakan saja kalau kau punya putri...dan terimakasih ata tumpangan mobil mewahmu..''


Vanessa melangkah meninggalkan pantai dengan menyetop taxi, sementara Widya menggertakan giginya..


Susah payah dia mengumpulkan semua harta agar Vanessa menikmatinya namun gadis keras kepala itu malah pergi tapi Widya tak akan pernah hilang akal...


Widya lalu menelfon anak buahnya dengan cepat...


''Cari dan awasi putriku yang bernama Vanessa Widya,...dimana dia tinggal dan bersama siapa...aku ingin kau benar-benar memberikan semua informasinya dengan cepat...''


Widya mematikan sambungan telp lalu melangkah masuk ke mobil...cuaca yang panas akan merusak kulitnya sayang sekali dia telah melakukan perawatan mahal......


**********


Reni membuka pintu dan hampir melompat tentu saja...melihat Vanessa kembali ke kamar mereka yang sempit dengan wajah kesal..


''Kau pikir aku hantu yah....mengapa kau menatapku begitu...''


''Aku pikir memang kau adalah hantu, karna yang asli sudah menjadi nona muda yang kaya...''


''Astaga kau membuatku kesal..''


Vanessa masuk ke dalam kamar sempitnya bersama Reni dan berbaring di ranjang tipis ...ia memandang langit-langit kamar...Reni mendekatinya dengan tatapan kagum..


''Jadi ayah tirimu adalah Sebastian Role...dia sangat kaya raya,...bahkan kekayaannya menyamai Group D tempat kita sekarang akan bekerja..''


Vanessa menoleh acuh...


''Itu hidupku....aku tak ingin di kaitkan dengannya aku adalah Aku Vanessa Widya...mungkin aku juga harus mengganti nama belakangku Reni..''ucap Vanessa..


''Hus...jangan begitu, sebenci apapun kau pada ibumu tapi jangan lupa dia yang melahirkanmu ke dunia..kau tidak bisa menghakimi jalan hidup yang dia pilih karna kita pun masih muda..''


Mendengar hal itu membuat Vanessa tertawa...


''Kau semakin bijak Reni...''


Reni hanya tertawa...


''Jadi kau bertengkar dengan ibumu yah....''


Vanessa menoleh..

__ADS_1


''Aku berniat putus hubungan dengannya....''


Belum sempat Vanessa meneruskan ucapannya, dia mendapat hadiah lemparan bantal hingga Vanessa meringis...


''Ada apa denganmu...'' jerit Vanessa protes.


''Sebenci apapun kau pada ibumu, setidaknya kau masih punya ibu...tapi berbeda denganku aku tidak seberuntung dirimu....aku tak punya siapa-siapa ketika lahir dan sampai saat ini aku selalu saja sendirian...''


''Oke...maafkan aku ya Ren...jangan sedih...''bisik Vanessa sedikit menyesal...


Reni tersenyum...


''Ya sudah...kita harus tidur sekarang karna besok pagi-pagi sekali kita akan langsung bekerja...''ucap Reni lalu tidur di samping Vanessa...


Kedua sahabat itu menatap langit kamar dan hanya tersenyum...


''Reni....kita akan selalu bersama....kita akan sukses dan bahkan menikah sampai punya anak...aku tak ingin persahabatn kita putus...hanya kau sahabatku Ren...''bisik Vanessa dengan tarikan nafas..


Reni pun mengangguk...


''Jika kau sedang dalam kesulitan beritau aku...meski aku tak punya apapun, tapi aku masih punya tenaga dan pikiran untuk membantumu Vaness..''


Airmata Vanessa menetes..


''Oh...malam ini sweet sekali...''bisik Vanessa menghapus airmatanya...


Kedua sahabat itu kembali melanjutkan perbincangan malam itu sebelum tidur dan memulai pertempuran pekerjaan berat besok pagi...


Vanessa berdoa agar dia tak akan pernah bertemu dengan sang ibu selamanya..


Seorang wanita yang masih cantik di usia 35 tahun itu memasuk rumahnya dengan pandangan lesu, dia menjelma menjadi wanita penuh kelembutan di depan suaminya...


''Sayang...bagaimana...dimana putrimu Vanessa....''


Widya tersenyum lemah....


''Putriku sedikit keras kepala jadi...aku masih harus berusaha lebih keras untuk menyakinkan dirinya kalau..dia akan bahagia bersamaku, tapi dia sangat mandiri...''


''Berikan dia perusahaan yang dia mau...suruh dia memilih sayang...''ucap Sebastian...


Widya tersenyum lalu mendekati suaminya..memperbaiki dasi Sebastian dan menatapnya...


''Kau sudah memberikanku banyak sayang aku tidak bisa...''


''Milikku adalah milikkmu sayang, kau mengurus Nada dengan susah payah jadi...ini belum seberapa...''


''Tapi sayang aku ingin...Vanessa mendapat perusahaan yang sudah berkembang jadi dia tak perlu susah payah belajar...aaah..permintaanku sedikit....''


''Lakukanlah apa yang menurutmu baik..Nada dan Vanessa adalah putriku jadi sama saja...kau bisa memberikan perusahaan mana saja..''


Widya tersenyum...


''Bagaimana dengan perusahaan Nada....perusahaan Fashion itu sangat maju dia bisa...''


''Lakukan apapun yang menurutmu baik sayang....aku sangat percaya padamu...''

__ADS_1


''Oh....kau baik sekali sayang...aku akan melihat putra kita Daness..apa dia sudah bangun...''


''Ayo kita melihatnya bersama...''ajak Sebastian memeluk Widya...


Sementara di balik pintu Nada menyipitkan matanya dengan tajam...ibu tirinya akan membawa anak kandung ke dalam rumahnya...


Nada tak akan pernah membiarkannya...ketika gadis itu sedang merenung di balik pintu ia begitu terkejut ketika pintu di dorong dengan kasar hingga ia terjatuh...


Widya muncul dengan tatapan membunuh kepadanya..


''Anak nakal....kau menguping pembicaraan orang tua yah...''


Nada mengepalkan tangannya..


''Ibu....''


Belum sepat dia bicara...Widya sudah menjambak rambut gadis itu dan membenturkannya di tembok..sinar matanya menajam...


''Jangan pernah melawanku atau kau akan hancur seperti debu...aku membesarkanmu dan melupakan anak kandungku sendiri....kurasa saatnya kau harus balas budi..''


''Apa kau bercanda...aku tidak akan...''


Widya mendorong tubuh Nada menjauh lalu mencakar lengannya sendiri dan membuatnya berdarah..sedangkan gaunnya ia robek dengan keras..


''Ibu...apa yang kau lakukan...''


''Menyingkirkanmu...apalagi....''tawa Widya seperti seorang pskikopat kejam...


Wajah Nada menjadi pucat...


''Aaaaarrrgggghh....''


Widya menjerit sembari menjatuhkan semua barang-barang di dapur...rambutnya juga ia rusak dari tatanan mahal....perhiasannya...dia rusak sendiri...


''Ibu.......''ucap Nada dengan tatapan tak percaya..


Tak berapa lama kemudian Sebastian muncul dan melebarkan mantanya...


''Ada apa ini...''


Sementara Nada menggeleng mulai menangis...


''Ayah aku tidak...''


''Jika kau tidak suka dengan kedatangan anak ibu..kau bisa bicara baik-baik dan tak perlu menghina ibu.....''


''Sayang....''ucap Sebastian memeluk Widya dan menenangkannya...


''Ayah...aku tidak.....''


''Diam.......bukankah kau sudah keterlaluan Nada...''


Widya menarik sudut bibirnya dengan dingin....


Dia tak akan kalah.......

__ADS_1


__ADS_2