
Jadilah Vanessa mulai tinggal dirumah miliki ibunya..pakaian bekasnya segera di singkirkan Widya dan menggantinya dengan pakaian baru dari beberapa desainer terkenal dan memenuhi ruangan Vanessa,
dan Vanessa tidak bisa menolak pemberian sang ibu...
Gadis itu baru saja selesai mandi dan memakai pakaian lalu menyisir rambutnya, ia memeriksa ponselnya dan mendapat kabar dari Reni kalau Direktur mencarinya bahkan memberi hadiah besar bagi siapapun yang akan menemukan Vanessa dan menginformasikan dimana dia tinggal Vanessa lalu menghela nafasnya..bagaimana sekarang, dia harus tetap bersembunyi sekarang..
Gadis itu lalu mengirim pesan..
Tetap rahasiakan dimana aku tinggal Reni...
Baiklah Vaness, aku mengerti...kau harus tenang sekarang..
Vanessa duduk di depan meja rias yang di penuhi berbagai alat makeup mahal...ia mengerutkan kening....ia tak butuh perawatan apapun, lagi pula dia hanya akan numpang disini...jika situasinya lebih baik maka Vanessa akan pergi...
Telp di samping ranjangnya berdering dan segera Vanessa mengangkatnya..suara ibu..
''Ayo turun sekarang sayang, Ibu menunggumu makan malam, disini juga ada Daness..bukankah kau ingin bertemu dengannya...''
''Baiklah...aku akan turun...''
Vanessa meletakan gagang telp dan sedikit berdecak...aapapun upaya ibu untuk mengambil hatinya tak akan mudah...Vanessa masih tidak terima dengan masa lalunya..
Vanessa bangkit dari tempat duduknya dan melangkah keluar kamar..
*******
Sementara di ruang makan, sudah ada Nada dan Widya yang duduk, Widya menatap Nada yang tampak takut padanya,...gadis muda itu menjadi sangat pendiam dan tertutup sejak Sebastian memarahinya dan memberikan kuasa atasnya pada Widya,...jadi dengan tidak langsung kalau hidup Nada berada di dalam kendali seorang ibu tiri seperti Widya,..
''Apa aku boleh makan sekarang ibu..''
Widya hilang kesabaran dan seseaat kemudian, sebuah garpu melayang dan menggores pipi Nada...hingga gadis itu mengerang seolah tidak percaya..
''Ibu....''
''Bukankah aku baru saja menelfon anakku...apa kau tak bisa menunggu...apa kau akan mati jika menunggu sebentar...''suara Widya meninggi...
Nada menggeleng lemah...
''Tidak....ini salahku dan maafkan aku..''
Nada menghapus pipinya yang tergores dan berdarah...dan menutupinya dengan rambutnya..
Tak berapa lama kemudian, Vanessa muncul di pintu..dan sedikit terkejut melihat ketenangan yang mengerikan dari sang ibu sementara tak jauh darinya tampak seorang gadis muda duduk di depan meja makan..
''Duduklah Vanessa....''ucap Widya singkat..
''Yah....dan ibu..siapa dia..''tanya Vanessa..
''Dia Nada adik tirimu..''jawab Widya singat..
Vanessa tersenyum...
''Hai....aku Vanessa...aku adalah akakmu sekarang..''ucap Vanessa mengulurkan tangan..
Nada sontak mengangkat muka dan tersenyum mengulurkan tangannya pada Vanessa...
''Senang bertemu denganmu kak Vanessa..ibu banyak menceritakan tentang kakak...dan aku sangat bahagia kita bertemu..kakak sangat cantik..''ucap Nada dengan tatapan takut..
__ADS_1
Vanesaa tersyum...
''Mengapa wajahmu berdarah..''
Hening...
Nada membeku tak tau harus menjawab apa...
''Ini tergores karna kuku..tadi aku tak sengaja menggores wajahku sendiri...''
Vanessa tersenyum..
''Anak-anak...bagaimana kalau kita makan sekarang..''ucap Widya penuh kelembutan...
Vanessa tersenyum ketika sang ibu mengambil makanan untuknya di piring..
sedangkan Nada hanya mampu menghela nafas...sang ibu tiri bahkan tidak melihatnya...
''Dimana Daness...aku tidak melihatnya..''
''Daness sedang berada di taman, kita akan menemuinya nanti setelah makan ya sayang, Ibu akan menunjukan sesuatu untukmu sebagai hadiah..''
''Ibu tidak perlu...''
''Tolong jangan menghalangi kasih sayang seorang ibu Vanessa....ibu akan sedih..''
Vanessa meringis...wanita yang aneh..''Baiklah...terserah ibu saja...Vanessa menoleh pada Nada yang sedang mengaduk makannannya..setelah ini kita ke taman Nada..''
''Tidak.....Nada harus tidur lebih awal..bukankah begitu sayang..''tanya Widya dengan senyuman dingin...
''Yah,.....aku akan sakit kepala jika terlalu berada di luar...''balas Nada dengan suara tercekat.
Ada apa...??
********
Dary menatap anak buahnya kali ini...
''Apa hubungannya dengan Sebastian Pearl kali ini...''liriknya tajam..
''Aku tidak tau apa hubungan mereka tuan tapi..nona Vanessa masuk ke kediaman keluarga Sebastian...
''Apakah mungkin menjadi pelayan disana..''
''Aku akan mengirim mata-mata...''
''Tidak...jangan,...nyonya Widya Pearl bukan orang sembarangan dia sangat pintar dan dia akan sangat marah jika tau seseorang menyelidiki rumahnya...kau tau Daddy Jhon berteman dengan tuan Sebastian,,....aku tak mau membuat Daddy marah...''
''Baik tuan,...tapi aku memiliki kecurigaan lain tuan Dary..''
''Siapa...''
''Reni di bagian CS, dia adalah teman nona Vanessa mungkin saja..''
Dary tertawa....
''Anton...aku tak ingin membuang waktu mengenai Vanessa, aku ingin kau menyelidiki gadis yang bernama Reni itu dan jika kau tau sesuatu maka jangan menunda..untuk mengabarinya padaku...apa kau mengerti..''
__ADS_1
''Baiklah...tuan aku mengerti...''
''Bagus......aku harus pergi..''
Dary lalu keluar bersama Anton yang berjalan di belakangnya..namun baru beberapa langkah..ia membeku melihat sosok Dars dan juga Valerie melangkah bersama...
Dary sungguh gugup karna ini pertemuan pertama setelah penembakan itu..matanya sedikit panas...perut Valerie sudah membesar,...dan membayangkan jika saja Dars terbunuh maka dia akan menanggung beban kebencian dari wanita yang dia cintai dan keponakannya sendiri..
''Hai...Dary...''sapa Valerie lebih dahulu..
Sementara Dars hanya berdehem dengan gugup...ia dan Dary tampak tidak nyaman bersama..
''Apakah kalian mencari Daddy..dia aada di ruangannya...aku permisi..''
Dary melangkah melewati Dars dan Valerie begitu saja,..
''Kami mencarimu dan bukan Daddy...''ucap Valerie memeluk perutnya..
Dary memutar tubuhnya dan mengerutkan kening..
''Ada apa mencariku...aku......''
''Aku ngidam dan tiba-tiba ingin makan bersama kau dan Dars....jadi apakah kau mau melakukannya Dary...demi keponakanmu..''
''Hah.........''
Dary sungguh kehilangan taringnya..dia memandang Dars sesaat yang kemudian tersenyum kepadanya...
Dary merasa seluruh bebannya terangkat,...matanya berkaca-kaca..
''Baiklah...aku setuju, aku akan mentraktir kalian..''
Dars mengangguk...
''Kebetulan...aku lupa membawa dompetku..''jawab Dars tersenyum...
*********
Restoran Seafood di pinggir pantai..
Dary dan juga Dars duduk berhadapan dengan Valerie di sampingnya..wanita cantik itu mulai memesan beberapa menu, dia tau benar kesukaan si kembar karna bagaimanapun, ia mengenal betul siapa mereka berdua...
Dary menatap Dars dengan tatapan menyesal..
''Bagaimana lukamu..''ucapnya basa basi..
''Aku merasa tak pernah sebaik ini Dary...aku tidak merasakan sakit lagi...'' jawab Dars pelan..
Pelayan pun datang membawa makanan...dan mereka lalu mulai makan bersama...Dary mengambil sebuah potongan besar udang yang sudah di bersihkan dan ia meletakannya di dalam piring Dars...
Keduanya bertatapan...
''Kau menyukainya bukan..bahkan kita selalu saling merebut untuk mendapatkannya...''
Dars mengangguk dengan rasa haru...
''Kakak....aku mohon, maafkan aku....''ucap Dary dengan sungguh-sungguh..
__ADS_1
Dars melirik Valerie.......