Terpaksa Bercerai Muda

Terpaksa Bercerai Muda
Episode 100


__ADS_3

Pagi hari di rumah sakit.


Pagi pagi sekali, Dinda sudah berada di rumah sakit. Begitu mendengar kabar kalau Melati sudah melahirkan besoknya ia dan suaminya menjenguk Melati di rumah sakit walau tanpa sarapan dulu. Ia lebih cepat datang dari nyonya Sarah dan tuan Eddy. Suaminya akan mampir sebentar sebelum akhirnya berangkat ke kantor.


" Pagi mamud." Sapa Dinda saat membuka pintu ruangan Melati.


" Ehh kak Dinda, Masuk." Ucap Melati.


" Cuma Melati aja sih yang di sapa, kok aku ngak." ucap Daniel cemberut.


" Ohh hai adikku yang tampan. Selamat ya sudah jadi seorang ayah. Maaf tadi kakak lupa. Hehehe." Cengir Dinda.


" Dasar kakak durhaka." Omel Daniel.


" Selamat ya Mel, akhirnya kamu jadi seorang ibu juga. Kakak turut senang untuk kalian berdua." Ujar Dinda.


" Makasih ya kak. Duduk dulu kak." Ucap Melati.


" Ngak usah kakak berdiri saja. Nanti kalau pegal kakak duduk kok." Ucap Dinda.


" Selamat ya Melati Daniel sudah menjadi orang tua." Ucap Arka.


" Iya makasih kak." Ucap keduanya.


" Daniel awas kamu di situ. Kakak mau duduk di situ pengen ngobrol sama Melati." Ucap Dinda.


" Ngobrol ya ngobrol aja, ngapain aku harus keluar dari sini coba." Ucap Daniel sinis kepada Dinda.


" Ihh awas dulu. Kakak mau ngomong sama Melati. Kamu temani mas mu duduk di sofa sana." Ujar Dinda menarik Daniel menuju sofa.


" Dinda makin kesini jadi reseh ya mas Arka." Aduh Daniel pada Arka.


" Apa katamu, aku kutuk kamu jadi pulpen mau." Ancam Dinda.


" Yii ogah. Baru sehari jadi ayah masa udah main kutuk aja. Jadi pulpen lagi. Kalau tambah ganteng sih ngak pa- pa. Iya kan sayang." Ucap Daniel menggoda Melati.


" Kok bisa aku punya adik narsis kayak kamu." Ucap Dinda geli.


" Itu berkah kak." Ucap Daniel.


" Tau ahh." Ucap Dinda.


" Gimana rasanya menemani istri lahiran Niel?" Tanya Arka.


" Jantung aku kayak mau copot kak melihat perjuangan Melati menahan sakit mempertaruhkan nyawanya demi melahirkan anak kami." Jawab Daniel tegang mengingat proses lahiran Melati tadi.


" Itu yang kakak rasakan juga Niel. Makanya kakak sangat mencintai kakakmu Dinda karena rela melakukan itu demi anak kami Bima." Ucap Arka menerawang beberapa waktu yang lalu saat ia menemani Dinda melahirkan.


" Punya Melati jalan lahirnya di di gunting?" Tanya Arka pelan.


" Maksudnya gimana kak?" Tanya Daniel bingung.


" Itu loh, aduh gimana nanya nya. Ngak sopan aku kalau nyebut itu secara langsung." Jawab Arka menggaruk kupingnya.


" Ngomong aja kak, supaya aku ngak bingung." Ucap Daniel.


" Tempat masuknya adik kecil kamu di gunting ngak sama dokter tadi waktu Melati lahiran?" Tanya Arka.


" Oh itu, bilang kek dari tadi." Ucap Daniel.


" Iya itu. Gimana di gunting ngak sama dokter?" Tanya Arka.


" Punya bini aku ngak. Kenapa punya kak Dinda di gunting ya kak?" Tanya Daniel berbisik.


" Iya. Aku sampai ngak tega melihatnya. Soalnya si Bima kebesaran. Jadi ngak muat kalau ngak di gunting. Dari pada sobek, akibatnya akan fatal nantinya kata dokter." Ucap Arka sendu.


" Terus gimana jadi lebar punya kak Dinda?" Tanya Daniel kepo.


" Ya iya. Tapi abis lahiran langsung di jahit sama suster." Jawab Arka.


Daniel merinding ngilu mendengar perkataan Arka.


" Untung punya kamu ngak di gunting sama dokter sayang. Kalau iya bisa pingsan aku. Udah kamunya sempat ngak sadar lagi tadi. Ternyata perjuangan seorang istri untuk melahirkan anaknya tidak mudah. Dengan berbagai macam kejadian." Batin Daniel menatap Melati yang tertawa bercanda ria sama kakaknya Dinda.


" Tadi Melati juga sempat tidak sadar kak waktu lahiran." Ucap Daniel.


" Terus?" Tanya Arka.


" Aku dan mama memberinya semangat agar ia tetap membuka matanya dan lanjut melahirkan anak kami. Aku sempat takut banget tadi kak. Aku takut kehilangan istri aku. Tapi untungnya dia langsung membuka matanya lagi." Jawab Daniel.


" Kita sebagai pria hanya tau cara membuatnya saja. Tanpa ikut merasakan sakitnya." Ucap Arka.


" Benar kak."


" Wah kamu juga bakal puasa 40 hari Niel. Sama kayak aku dulu." Goda Arka.


" Kenapa harus 40 hari kak? Tanya Daniel.


" Karena proses nifas wanita habis melahirkan itu ya segitu lamanya." Jawab Arka.


" Alamak, kasian kamu boy." Ucap Daniel menatap sendu anunya.


" Hahaha yang sabar. Semua suami merasakan hal itu Niel." Ucap Arka.


" Tapi ngak pa- pa kok kak." Ucap Daniel tersenyum.


" Kenapa kamu tersenyum?" Tanya Arka.

__ADS_1


" Aku bisa memberikan libur panjang sama istri aku untuk melayani ku di ranjang kak. Lagi pula aku sudah mengambil bagianku semalam sebelum Melati brojol." Jawab Daniel cengengesan.


" Hmm pantas aja Melati lahirannya tengah malam. Ternyata sudah kamu bantuin ya Niel." Ucap Arka menggeleng kepalanya.


" Hehehehe." Ucap Daniel tertawa.


Sementara itu Dinda dan Melati membicarakan proses lahiran putra mereka.


" Gimana ceritanya kamu bisa lahiran tengah malam sih Mel?" Tanya Dinda kepo.


" Aku ngak tau kak. Semalam itu aku dan mas Daniel ngobrol dan kita,,,," ucap Melati terhenti.


" Kita apa sih Mel. Jangan bikin kakak penasaran dong." Desak Dinda.


" Itu anu kak," ucap Melati merona.


" Hmm kakak paham. Daniel jenguk anak kalian ya?"Tanya Dinda.


" Iya kak." Jawab Melati malu-malu.


" Pantas kamu lahiran cepat dari perkiraan dokter, ternyata di bantu sama bapaknya ya." Ucap Dinda.


Melati tidak menjawab wajahnya sudah merah menahan malu.


" Udah ngak usah malu. Kakak juga sebelum kemari masih main sebentar sama ayahnya anak-anak." Bisik Dinda.


" Beneran?" Tanya Melati.


" Iya. Enak juga. Jadi kakak ngak bisa nolak Mel soal yang itu. Begitu juga kan kamu sama Daniel semalam. Karena enak makanya ngak bisa nolak walaupun sedang tidak ingin. Iya kan?" Goda Dinda.


" Kak Dinda. Udah deh." Ucap Melati malu.


" Mama kapan kemari Mel?" Tanya Dinda.


" Mungkin sedang dalam perjalanan kemari kak." Jawab Dinda.


" Assalamu'alaikum." Ucap nyonya Sarah dan tuan Eddy.


" Wallaikusallam ma pa." Ucap mereka.


Arka dan Daniel langsung menyalami keduanya. Di susul oleh Dinda.


" Nah tuh orangnya udah nongol. panjang umur emang." ucap Melati.


" Mama bawa apa?" Tanya Dinda.


" Mama bawa sarapan untuk kalian." Jawab nyonya Sarah.


" Banyak banget ma." Ucap Dinda.


" Iya ma. Mas Arka cuma ngopi tadi di rumah." Ucap Dinda.


" Gimana keadaan kamu sayang?" Tanya nyonya Sarah.


" Udah lebih baik ma." Jawab Melati.


" Makan dulu ya. Mama suapi." Ucap nyonya Sarah.


" Ngak usah ma. Biar Melati makan sendiri. Pasti mama juga belum makan kan." Tolak Melati.


" Iya kata Melati. Biar Daniel saja yang menyuapi Melati." Sahut Daniel dari sofa.


" Ngak pa- pa Niel. Mama dan papa tadi sebelum kesini sudah sarapan lebih dulu. Lebih baik kamu sarapan saja. Habis itu ganti baju. Mama bawain kamu baju ganti itu ada di dalam tas. Biar mama yang suapi Melati makan." Ucap nyonya Sarah.


" Ya udah deh." Ucap Daniel mengambil bajunya dari dalam tas.


" Makasih ya ma." Ucapnya menuju kamar mandi.


" Dinda ajak suami kamu sarapan juga." Ucap nyonya Sarah.


" Iya ma."


" Sayang kamu mau sup nya atau ayamnya atau dua duanya?" Tanya nyonya Sarah.


" Dua duanya ma." Jawab Melati.


" Ma, aku kan sudah besar. Kenapa harus di suap sih." Ujar Melati.


" Mama ingin mengganti waktu kita yang sempat terlewatkan sayang. Apalagi sekarang kamu baru saja melahirkan. Mama ingin merawatmu sampai kamu sehat nak." Ujar nyonya Sarah sendu.


" Maafin Melati sudah buat mama sedih." Ucap Melati memeluk ibunya.


" Ngak pa- pa kok sayang. Ayo makan dulu." Ucap nyonya Sarah.


" Iya ma." Ucap Melati.


Melati makan dengan lahap. Ia bahkan sampai minta tambah sama nyonya Sarah. Tuan Eddy mengabdikan momen tersebut dengan kamera ponselnya.


Usai sarapan Arka langsung pamit berangkat ke kantor.


Pintu di buka dari luar oleh suster yang membawakan bayi Melati dan Daniel. Daniel langsung mengambil anaknya dari tangan suster.


" Bayi nya sudah di mandikan nyonya tuan. Tadi ia tertidur dan terbangun menangis. Mungkin ia lapar nona." Ucap suster.


" Iya. Makasih ya sus." Ucap Melati.


" Sama-sama nona." Ucapnya keluar dari sana.

__ADS_1


" Sini Niel, Kakak mau gendong." Ucap Dinda.


" Nanti saja kak setelah dia nyusu." Ucap Daniel.


" Ohh iya kakak lupa."


" Anak papi lapar ya nak. Sini nyusu dulu sama maminya." Ucap Daniel menyerahkan anaknya pada Melati.


Tuan Eddy langsung mengalihkan pandangannya dari arah Melati. Walau tidak begitu, ia tidak akan bisa melihat Melati menyusukan anaknya. Karena terhalangi oleh tubuh kekarnya Daniel.


" Lapar ya cucu oma?" Tanya nyonya Sarah.


" Iya Oma." Jawab Melati menirukan suara anak kecil.


" Wajahnya mirip banget sama kamu Niel. Hanya mata dan warna kulitnya ngikut Melati." Ucap nyonya Sarah.


" Benar ma. Baby nya putih banget kayak Melati. Ohhh gemes banget sih kamu nak. Cepat nyusunya aunty mau gendong kamu sayang." Ucap Dinda.


" Itu artinya gen aku lebih kuat ma." Ucap Daniel bangga.


" Kasian banget jadi kita Mel, udah sakit menahan sakit. Pas lahir anak lebih banyak ikut bapak." Ucap Dinda pura- pura.


" Ngak usah drama deh kak." Ucap Daniel kesal.


" Ngak drama. kan emang sakit kan Mel. Kan sendiri sudah lihat perjuangan istri kamu melahirkan anak kalian yang tampan ini." ucap Dinda.


" Iya aku tau." ucap Daniel.


" Namanya sudah kalian siapkan?" Tanya tuan Eddy dari belakang.


" Sudah pa." Jawab Daniel.


" Namanya siapa? Mama penasaran." Tanya nyonya Sarah.


" Papa juga ma." Ucap tuan Eddy.


" Dinda juga sama."


" Namanya Arsenio Calvin Bayanaka. Artinya seseorang yang gagah Berani serta ramah pada sesama. Kita akan memanggilnya baby Arsen." Ucap Daniel


" Wah namanya bagus ya. Semoga kelak kamu jadi anak yang berbakti ya nak sama seperti nama kamu." ucap Dinda.


" Aamiin."


" Halo baby Arsen. Ini aunty sayang. Cepat nyusunya. Aunty pengen gendong kamu sayang." ucap Dinda.


Pukul 08.00 tepat tuan Eddy pamit ke kantor. Begitu juga dengan Dinda. Tidak lama setelah tuan Eddy pergi, ia segera pamit pulang. Karena ia khawatir pada kedua anaknya. Tinggal lah nyonya Sarah dan Daniel yang menemani Melati di ruangannya.


" Selamat pagi." Ucap dokter.


" Pagi juga dok." Jawab mereka.


" Saya periksa dulu ya nona." Ucap dokter.


" Silakan dokter." Ucap nyonya Sarah menyingkir sambil menggendong cucunya menuju sofa.


" Gimana keadaan istri saya dok?" Tanya Daniel.


" Semua baik tuan. Sore nanti nona Melati sudah boleh pulang ke rumah." Jawab dokter.


" Syukurlah. Aku kangen rumah mas." Ucap Melati senang.


" Belum juga sehari kamu di sini, sudah kangen rumah." Ucap Daniel mencubit pipi Melati.


" Rumah sakit dan rumah itu beda mas. Walaupun ruangan ini di tata layaknya rumah, tetap saja namanya rumah sakit mas." Ucap Melati.


" Iya. Sore kamu pulang ke rumah." Ucap Daniel.


" Nanti akan ada suster yang kemari mengurus surat surat nona akan keluar dari rumah sakit." Ucap dokter.


" Iya terima kasih dok." Ucap Melati.


" Sama-sama nona. Saya keluar dulu." Ucap dokter.


" Dok." Panggil nyonya Sarah.


" Iya nyonya." Jawab dokter.


" Berikan nomor rekening anda beserta punya suster yang membantu anak saya melahirkan tadi." Ucap nyonya Sarah.


" Buat apa nyonya Sarah?" Tanya dokter.


" Berikan saja." Jawab nyonya Sarah.


" Baik nyonya." Ucapnya keluar dari sana.


Tidak lama kemudian datanglah suster yang membantu Melati melahirkan dengan membawa surat pengeluaran Melati dari rumah sakit beserta dengan nomor rekening. Setelah itu ia segera keluar dari sana.


Di ruangan suster.


Suster yang tidak di ketahui namanya itu segera membuka ponselnya begitu mendengar suara notifikasi ponselnya. Ia begitu kaget melihat uang yang di kirim ke rekeningnya.


" Ya tuhan ini benar. Aku tidak percaya. Ini gaji aku dalam setahun kerja di rumah sakit ini." Ucapnya senang.


" Aku bisa membiayai wisuda adikku tanpa cicil." Ucapnya senang.


" Terima kasih nyonya Sarah. Aku berdoa semoga keluarga kalian di limpahkan Rahmat dari Allah SWT dan bahagia selalu." Ucapnya tulus.

__ADS_1


__ADS_2