
Malam ini, sesuai perjanjian, Daniel membawa Melati untuk makan malam di rumahnya. Kebetulan di rumahnya, sedang si kecil Arin yang menggemaskan dan Arka, ayahnya.
" Malam Melati." Ucap Dinda melihat Melati datang.
" Malam juga kak." Jawab Melati.
" Hallo tante cantik." Ucap Arin nyaring.
" Ekh ada si kecil Arin yang manis dan menggemaskan." Ucap Melati mencubit gemas pipi gembul milik Arin.
" Arin cantik tante, bukan manis." Ucap Arin menekan kata cantik untuk dirinya.
" Iya iya, Arin cantik tidak manis. Tapi pahit." Balas Melati meledek gadis kecil tersebut.
" Bunda, tante cantik nakal." Ucap Arin mengadu.
" Hahaha,, maafin tante ya sayang. Iya deh Arin cantik, tapi tidak pahit. Oke." Bujuk Melati pada Arin agar tidak mengambek.
" Iya iya Arin maafin tante cantik. Asal jangan di ulangi lagi." Ucap Arin.
Semua orang di sana hanya tersenyum, Melihat tingkah keduanya.
" Ayo, kita makan malam." Ucap Dinda pada mereka.
" Iya." Jawab semuanya.
Mereka pun makan malam bersama di temani celoteh so kecil Arin sebagai penghibur makan malam mereka.
" Alhamdulillah kenyang juga. Ternyata masakan kak Dinda, enak juga." Ucap Daniel memuji, lalu di bumbuhi ledekan pada. Dinda.
" Ya enaklah. Mang kamu pikir hanya masakan adik ipar saja yang enak." Balas Dinda meledek keduanya.
Blusssssh
__ADS_1
Pipi Melati merah menahan malu, mendengar ucapan Dinda tadi. Lalu ia menatap ke arah Daniel.
" Iya sayang, ka Dinda udah tau tentang hubungan kita." Jelas Daniel pada Melati.
Buugh
" Aduh sayang, kok nendang aku sih. Mana kuat lagi tendangan kamu." Ucap Daniel mengelus kakinya yang sakit karena di tendang Melati.
Melati semakin malu dan kesal mendengar perkataan Daniel tadi.
" Kamunya sih, ngomongnya keras gitu. Ya pantas Melati malu." Bela Dinda pada Melati.
" Sayang, emang kamu malu ya. Tapi malu kenapa?" Tanya Daniel polos.
Melati jangan di tanya lagi, wajahnya semakin merah semerah kepiting rebus. Begitu juga dengan kupingnya. Ia hanya mampu menunduk menyembunyikan rona wajahnya.
Arka dan Dinda hanya tersenyum geli melihat tingkah keduanya.
Mereka pun melanjutkan obrolannya do ruang keluarga, sambil menemani si kecil Arin menonton kartun kesukaannya.
" Kapan apanya sih kak?" Tanya Daniel balik tidak mengerti.
" Kapan rencana kalian untuk melanjutkan ke jenjang lebih serius lagi tentang hubungan kalian ini." Ucap Dinda.
" Aku terserah Melati aja kak. Tapi kata Melati, ia ingin kakak yang menikah dulu. Iya kan sayang?" Jelas Daniel.
" Iya kak. Benar kata Daniel. Aku ingin kak Dinda duluan. Kami juga tidak ingin melangkah kak Dinda." Lanjut Melati menjelaskan.
" Soal itu kalian tenang saja. Kami memang sudah berencana untuk menikah." Ucap Arka.
" Haaaah. Beneran kak?" Tanya Daniel melonggo.
" Iya Niel." Jawab Dinda singkat.
__ADS_1
" Jadi kakak sudah menerima lamaran kakak ipar?" Tanya Daniel cepat melihat jari manis Dinda yang sudah melingkar sebuah cincin putih.
" Iya Daniel." Jawab Dinda sambil memamerkan cincinnya di jari manis.
" Japan kak Arka melamar kakak?" Selidiki Daniel menatap keduanya.
" Beberapa hari yang lalu." Jawab Dinda santai.
Sementara Arka, ia terlihat tidak enak kepada Daniel. Pasalnya, ia tidak meminta izin Daniel untuk melamar Dinda terlebih dahulu.
" Maaf ya Niel. Bukan maksud aku tidak meminta izin padamu dulu." Ucap Arka menyesal.
Daniel menatap Arka bingung.
" Kenapa minta maaf? Aku malahan senang, akhirnya sebentar lagi, kakakku yang cantik ini akan segera melepas masa singelnya." Ungkap Daniel.
" Jadi kamu tidak marah pada kami Daniel?" Tanya Arka.
" Tidak. Memangnya kenapa aku harus marah coba? Bagi aku yang penting kakakku senang dan bahagia, aku pasti akan turut senang juga." Jelas Daniel.
Arka maupun Dinda hanya saling melempar senyum mendengar perkataan Daniel.
" Jadi kapan kalian akan mempersiapkan pernikahan kalian?" Tanya Daniel.
" Mulai besok." Jawab Arka cepat.
" Besok?" Ucap Dinda kaget.
" Iya besok. Aku ingin segera mengikatmu dalam tali pernikahan, agar tidak lepas lagi dari aku." Ungkap Arka tegas.
Pipi Dinda memerah mendengar ucapan Arka tadi.
" Lebih cepat lebih baik. Agar aku semakin cepat juga memperistri wanitaku ini." Ucap Daniel mencubit pipi gemas Melati.
__ADS_1
Seperti Dinda, pipi Melati ikutan merah mendengar ungkapan pria yang sudah berlabuh dalam hatinya itu. Sedangkan Daniel, ia semakin gemas saja melihat wajah Melati yang merah seperti itu. Andai mereka sudah menikah, sudah pasti ia akan mengajak Melati ke kamar. Haaah Andai saja. Pikir Daniel menatap Melati dengan tatapan cinta.