
" Mama dari mana? Dan ini belanjaan mama ya. Banyak sekali." Tanya Melati.
" Mama tadi habis dari kantor papa kamu. Terus pulangnya mama sudah singgah sebentar ke mall dan belanja sedikit deh." Jawab nyonya Sarah.
" Sedikit! Ini yang mama bilang sedikit?" Tanya Melati melongo.
" Iya kenapa. Lagian ini bukan untuk mama juga. Ini untuk cucu mama yang ada dalam kandungan kamu sayang." Jawab nyonya Sarah mengelus perut Melati.
" Astaga mama! Kemarin mas Daniel sudah mengirimkan banyak sekali perlengkapan bayi dari tokoh dan tokoh mama tambah lagi. Buat apa sih ma, nanti ngak ke pakai kan sayang ma." Ucap Melati.
" Itu kan baru dari Daniel. Dari mama sebagai omanya belum ada kan sayang. Jadi sekalian saja mama belikan. Tenang saja, mama belikan baju yang agak kebesaran supaya bisa dia pakai kalau dia usia 1 tahun. Nih lihat bagus kan." Ucap nyonya Sarah membongkar paper bag dan memperlihatkan pada Melati.
" Ini kan baju cewek ma. Memang mama tau jenis kelamin bayi aku. Melati kan belum pernah melakukan USG untuk melihat jenis kelamin di baby." Tanya Melati.
" Mama yakin kok kalau anak kamu ini perempuan. Pasti perempuan." Jawab nyonya Sarah.
" Seyakin itu?" Tanya Melati.
" Iya sayang. Dulu juga saat pertama kali mama ketemu kamu, mama sudah merasa kalau ada ikatan batin sama kamu sayang. Dan terbukti ternyata kamu adalah anak mama." Jawab nyonya Sarah.
" Ya udah terserah mama aja deh. Tapi kalau meleset dugaan mama jangan nangis ya. Karena baju yang mama beli ini tidak akan ke pakai." Ucap Melati.
" Kalau meleset, kamu kan bisa hamil lagi. Siapa tau anaknya perempuan. Jadi anak kamu yang kedua nanti yang akan memakainya." Ucap nyonya Sarah.
" Ihh mama, ini juga belum lahir. Masa udah mikirin anak kedua aku." Ucap Melati cemberut.
" Hehehe maaf sayang. Habisnya mama gemas banget bentar lagi mau punya cucu. Pokoknya kamu tenang aja sayang, feeling mama pasti benar kok. Anak kamu pasti perempuan. Ihh mama udah ngak sabar menanti hari lahirnya. Mama juga ngak sabar pengen dandanin cucu mama ini." Ucap nyonya Sarah mencubit gemas pipi Melati.
" Ya terserah mama aja deh." Ucap Melati pasrah.
" Kamu udah makan sayang?" Tanya nyonya Sarah.
__ADS_1
" Tadi udah. Tapi sekarang lapar lagi. Hehehe." Jawab Melati tertawa memperlihatkan deretan gigi putihnya yang tersusun rapi.
" Yuk kita makan bareng. Mama juga lapar. Padahal tadi udah makan bareng papa kamu di kantor. Mungkin karena kelelahan belanja." Ajak nyonya Sarah.
" Iya ma." Ucap Melati mengikuti langkah kaki ibunya ke ruang makan.
•
•
•
Sementara itu di tempat pak Burhan, nasib Laura semakin hari jauh dari kata baik. Hidupnya benar benar tragis di tempat itu. Tubuhnya yang dulu indah terawat, sekarang jauh dari kata baik dengan siksaan setiap hari yang di berikan oleh pak Burhan.
" Apa ini? Apa kamu ingin membunuhku. Kenapa masakanmu buruk sekali." Maki pak Burhan melepar piring ke lantai.
" Maafkan aku." Ucap Laura menunduk takut.
" Kamu bisanya apa sih? Semua hal yang kamu kerjakan tidak pernah ada yang becus." Tanya pak Burhan.
" Aku bertanya padamu jalang? Kenapa kau hanya diam saja. Apa kau sengaja ingin membuatku marah. Haahh begitu. Rasakan ini." Ucap pak Burhan.
Plaak. Sebuah tamparan keras menempel di pipi Laura hingga membuatnya terhuyung ke belakang. Air mata mengalir di pipinya karena merasa sakit.
" Oh iya aku tau, yang bisa kau hanyalah melayani laki laki di atas kasur. Iya kan? Jawab aku. Dasar pelacur." Teriak pak Burhan.
" Aku bukan pelacur. Aku tidak pernah menjajakan tubuhku ke sembarang pria. Kalau pun aku pelacur. Aku pelacur pribadimu yang berada di bawah kuasa mu." Ucap Laura dalam hati.
" Hei apa kau sekarang tuli? Aku tanya itu jawab sialan." Burhan menjambak rambut Laura.
" Ampun, ini sakit. Aku mohon hentikan." Ucap Laura memohon.
__ADS_1
Burhan melepas tangannya dari rambut Laura lalu mendorongnya jatuh ke lantai.
" Ohh iya, aku punya kabar baik untukmu. Melati ternyata putri pengusaha ternama dari Dubai. Hidupnya sekarang sungguh sangat bahagia. Apalagi sebentar lagi dia akan melahirkan anak pertamanya dengan Daniel. Indah bukan? Wanita yang selalu kau usik hidupnya sekarang tengah menikmati indahnya hidup bahagia bersama dengan keluarganya. Harusnya kau bersyukur. Karena bukan orang tuanya yang memberikan mu pelajaran karena berani mengusik hidup putri mereka. Mungkin saja mereka akan mengirim dirimu ke budaya untuk jadi santapan Buaya sebagai balasan perbuatan mu pada Melati. Aku masih bisa di bilang baik kan?" Ucap Burhan meninggalkan Laura di sana.
" Kenapa hidupnya selalu saja beruntung. Dia mendapatkan segala hal tanpa harus berusaha keras. Kenapa itu bukan aku. Kenapa harus kamu Melati. Dari dulu kamu selalu menjadi pusat perhatian dan aku selalu menjadi orang yang di kucilkan. Kenapa perbedaan itu sangat jauh. Sekarang kau senang bahagia bersama dengan keluarga mu. Lihatlah aku. Terjebak dengan pria kejam seperti Burhan. Hidupku benar benar malang. Aku juga ingin bahagia tanpa bersusah payah meraih semua hal itu sepertimu. Hikssss kenapa hidupku hancur seperti ini." Ucap Laura menangis.
" Laura." Teriak Burhan.
Laura segera menghapus air matanya dan menghampiri Burhan sebelum ikat pinggangnya yang datang menjemputnya.
" Iya ada apa?" Tanya Laura.
" Kenapa air ku belum kau sediakan. Cepat sediakan aku mau mandi." Jawab Burhan.
" Maaf tadi aku lupa." Ucap Laura segera menyiapkan air untuk Burhan.
" dasar tidak berguna." ucap pak Burhan.
Burhan mengikuti langkah kaki Laura ke dalam kamar mandi.
" Sudah aku sediakan airnya. Aku juga memberikan aroma terapi kesukaan mu di bathtub." Ucap Laura pergi. Tapi tangannya di tahan oleh Burhan.
" Siapa yang menyuruhmu pergi?" Ucap Burhan mendorong Laura ke dinding.
" Ku mohon jangan lakukan ini. Aku sangat lelah." Ucapnya memohon.
" Aku tidak peduli. Sudah ku bilang kau adalah jalangku. Sekarang aku menginginkan mu. Jadi nikmatilah." Ucap Burhan ******* kasar bibir Laura dengan penuh nafsu.
Laura hanya bisa menangis di perlakukan begitu seperti harinya oleh Burhan.
" Ya tuhan kapan ini berakhir. Apa benar dosaku pada Melati sangat banyak sehingga siksaan ini belum berakhir juga. Aku sungguh tidak tahan lagi." Ucapnya menangis dalam hati.
__ADS_1
Setelah mendapatkan maunya, Burhan meninggalkan dirinya di bawah guyuran air. Perlahan Laura berdiri membersihkan tubuhnya dan keluar dari sana.
Burhan sudah tidak ada di kamarnya. Entah kemana perginya laki laki itu. Kesempatan itu di pergunakan oleh Laura untuk beristirahat. Tubuhnya sangat lelah setelah di hajar oleh Burhan. Belum lagi pekerjaan rumah yang ia lakukan setiap harinya tiada henti.