
Malam harinya Daniel dan Melati makan malam di luar. Sesuai dengan permintaan Melati, keduanya makan di rumah makan lesehan. Di sana Melati memesan sayur asem, Gurame bakar kecap, Cumi bakar beserta dengan sambal terasi plus dengan nasi putih hangat untuk keduanya.
Tidak perlu menunggu lama, makanan pesanan mereka di bawakan oleh pelayan.
Melati dan Daniel lekas makan makanan itu. Makanan itu sungguh terasa nikmat di lidah. Perpaduan sayur asem ikan Gurame dengan cumi bakar juga sambal di padukan dengan nasi putih hangat sesuai dengan cuaca yang sedang dingin dinginnya. Tidak perlu menggunakan waktu yang lama, mereka meludes semua makanan yang ada di atas meja itu.
Selesai dengan makan malam, Melati dan Daniel jalan. Mereka ingin berpacaran usai menikah. Ini pertama kalinya sesudah menikah, keduanya berjalan bersama. Daniel menghentikan mobilnya yang di sewanya di sebuah taman. Taman itu tampak ramai. Apalagi ini adalah malam minggu. Jadi sangat banyak muda mudi yang berada di sana. Di sana juga terdapat beberapa orang yang berjualan makanan angkringan. Mulai dari makanan utama, minuman hangat, penjualan es krim dan berbagai macam cemilan.
Daniel menggenggam tangan Melati dengan eratnya. Walaupun sudah sah menjadi miliknya, ia masih saja berjaga jaga agar Melati tidak di lirik oleh pria lain. Ia ingin semua pria di taman itu melihat, jika Melati adalah miliknya. Hanya miliknya. Karena ada beberapa pasang mata yang melihat terus ke arah Melati. Maupun yang punya pasangan dan juga juga tidak punya, melirik Melatinya.
" Dasar mata keranjang, sudah punya kekasih di sampingnya masih saja melihat punyaku. Bagaimana jika kekasihnya tidak ada bersama dia. Dasar pria hidung belang." Ucap Daniel kesal.
Melati hanya tersenyum mendengar ucapan Daniel yang terdengar kesal. Sebenarnya bukan cuma Melati saja yang di lirik oleh orang yang di sana. Para wanita di sana pun sama. Mereka begitu terpesona dengan Daniel. Tubuh tinggi tegap kulit yang tidak terlalu putih membuat kesan maskulin terhadap Daniel sangat kuat.
Melati sebenarnya risih dengan tatapan para wanita itu terhadap suaminya. Tapi ia melihat Daniel yang terlihat posesif padanya. Jadi kadar kesalnya berkurang sedikit.
Melihat sebuah bangku yang kosong, Daniel mengajak Melati untuk duduk di sana.
" Ramai banget ya mas." Ucap Melati.
" Iya sayang. Mungkin karena malam ini adalah malam minggu." Ucap Daniel.
" Oh iya. Aku lupa jika ini malam ada malam minggu."Ucap Melati.
" Mas, aku mau itu!" Tunjuk Melati.
" Ya udah bentar ya sayang. Biar aku belikan." Ucap Daniel.
" Ikut. Aku mau ikut kamu beli." Ucap Melati manja.
" Ya sudah, ayo sayang." Ucap Daniel menggandeng tangan Melati.
" Pak, ciloknya 20 buah ya." Ucap Melati.
" Iya neng. Bentar ya. Saya buatkan dulu."jawab penjual cilok itu.
" Pak yang pedas ya. Kecapnya jangan di banyakin." Ucap Melati.
" Iya neng." Jawabnya.
" Sayang, kamu suka pedas ya?" Tanya Daniel.
" Ngak terlalu sih. Aku juga ngak begitu kuat makan makanan yang pedas. Tapi entah mengapa saat melihat cilok, aku ingin sekali memakan makanan yang pedas mas." Jawab Melati.
__ADS_1
" Gimana kalau kamu sakit perut sayang?" Tanya Daniel lagi.
" Mudah mudahan tidak akan mas. Nah itu cilokku." Jawab Melati mengambil cilok dari penjualnya.
" Makasih ya pak." Ucap Melati.
" Ohh iya. Pak ini bayarnya cilok istri saya." Ucap Daniel memberikan selembar uang pecahan seratus ribu.
" Sebentar tuan, saya ambilkan dulu uang kembaliannya." Ucap penjual itu mengambil uang kecil dari tasnya.
" Tidak perlu pak. Kembaliannya untuk bapak saja." Tolak Daniel.
" Tapi tuan ini.. " Ucapnya terhenti.
" Ambil saja pak. Anggap saja itu adalah rezeki untuk bapak." Ucap Daniel.
" Terima kasih banyak tuan." Ucap penjual cilok.
" Sama-sama pak. Ayo sayang kita kembali ke bangku itu." Ucap Daniel.
Mereka kembali ke bangku yang mereka duduki tadi. Melati memakan ciloknya dengan sangat lahap. Daniel melihatnya jadi ikutan ngiler.
" Sayang, aku boleh mencobanya!" Ucap Daniel.
" Boleh dong mas. Ini aku suapin kamu mas." Ucap Melati.
" Auuuu sayang, ini sangat pedas." Ucap Daniel kepedasan menelan paksa ciloknya.
" Ngak tuh. Aku ngak merasa kepedasan." Ucap Melati tetap makan.
" Sayang, udah stop kamu makannya. Ini beneran pedas. Nanti kamu bisa sakit perut loh." Ucap Daniel mengambil ciloknya dari tangan Melati.
" Mas, kok di ambil sih. Aku masih mau makan tau." Ucap Melati kesal.
" Sayang, ini pedas loh. Nanti kamu bisa sakit perut." Ujar Daniel.
" Tapi aku tidak merasakannya." Ucap Melati mengambil kembali ciloknya.
" Sayang itu..." Ucap Daniel terhenti.
" Mas, kamu diam deh. Aku masih mau makan." Ucap Melati melotot memotong ucapan Daniel.
Daniel menghela nafas melihat Melati yang tidak mau denger padanya.
__ADS_1
" Mas, aku sudah selesai makan. Ayo kita pulang. Aku sudah mengantuk." Ucap Melati.
" Iya. Ayo."Ucap Daniel.
Keduanya berjalan menuju mobil. Mobil itu membawa mereka kembali ke hotel. Selama perjalanan tidak ada pembicaraan antara Melati dan Daniel. Di lihatnya, ternyata Melati sudah tertidur.
" Hmm,, tertidur lagi. Kenapa akhir akhir ini, dia sering mudah tidur sesudah makan." Ucap Daniel melihat Melati.
Sesampainya di hotel, Daniel menggendong Melati menuju kamar yang mereka sewa.
Di dalam kamar, ia meletakkan istrinya di atas tempat tidur. Ia membelai lembut pipi Melati lalu mengecup kening Melati.
" Cantik. Walau tadi kau sedikit membuatku kesal karena tidak mau denger perkataanku." Ucap Daniel tersenyum mencubit kecil hidung Melati.
Melati terbangun merasakan cubitan kecil dari suaminya itu.
" Mas, kita sudah sampai. Tapi kenapa kau tidak membangunkan aku?"Tanya Melati.
" Untuk apa gunanya aku, jika tidak bisa menggendongmu kemari." Jawab Daniel.
" Tapi kan aku berat mas." Ucap Melati.
" Kau tidak berat sayang. Kau sangat ringan seperti kapas." Ucap Daniel terkekeh.
" Masa sih?" Tanya Melati.
" Iya sayang.
Memang setiap Daniel menggendong Melati, ia sama sekali tidak merasakan keberatan. Mungkin karena ia sering berolarga dan suka mengangkat beban. Makanya ia tidak tidak merasa keberatan saat menggendong Melati.
" Mas, sini. Aku mau tidur di peluk kamu."Ucap Melati manja.
" Baiklah tuan putri. Dengan senang hati aku akan memelukmu tidur." Ucap Daniel langsung berbaring di samping Melati.
Melati memeluk Daniel dengan erat. Ia memeluk sambil mencium bau ketiak Daniel. Entah mengapa ia sangat suka dengan bau ketiaknya Daniel.
" Sayang, kenapa kau mencium ketiakku?" Tanya Daniel heran.
" Enak mas maunya. Aku suka." Jawab Melati menja mencium ketiaknya.
" Kamu aneh deh sayang." Ucap Daniel.
" Sayang, jangan di lepas pelukannya. Aku mau di peluk. Ihhh kamu." Ucap Melati kesal menarik tangan Daniel agar kembali memeluknya.
__ADS_1
" Iya sayang. Ini aku peluk kok." Ucap Daniel langsung memeluk Melati.
Ia memeluk sambil mengelus ngelus kepalanya Melati. Perlahan, suara nafas Melati mulai teratur. Partanda ia sudah tertidur. Daniel juga segera memejamkan matanya untuk tidur. Keduanya tidur sambil berpelukan.