Terpaksa Bercerai Muda

Terpaksa Bercerai Muda
Episode 69


__ADS_3

Daniel tidak jadi pergi ke perusahaan. Ia meminta sekretaris untuk menghendel perusahaan dan mengirimkan pekerjaannya melalui email saja.


Usai sarapan pagi, Daniel mengantarkan Melati ke rumah sakit. Mereka akan memeriksa kandungan Melati.


Setibanya di sana, mereka langsung mendaftar. Melati berada di antrian nomor 5. Daniel membawa Melati duduk di kursi tunggu dengan hati-hati.


Cukup lama menunggu, tibalah giliran nama Melati yang di sebut.


" Atas nama nyonya Daniel Bayanaka." Ucap seorang perawat.


Melati dan Daniel langsung menoleh saat nama Melati di panggil.


"Ya saya sendiri." Ucap Melati.


" Mari ikut saya ke dalam. Dokter sudah menunggu." Ucap perawat itu ramah.


Mereka mengikuti perawat itu masuk ke dalam ruangan dokter.


" Selamat pagi nyonya, pak, silakan duduk." Ucap dokter paruh baya itu ramah.


" Selamat pagi juga dokter. Iya terima kasih." Ucap suami istri itu bersama.


" Kalau boleh saya tau, ada yang bisa saya bantu?" Tanya dokter.


" Begini dokter,, emm kami ingin memeriksa kandungannya istri saya. Tadi istri saya sempat pingsan di rumah. Dan dokter sudah memeriksanya, ia mengatakan jika istri saya sedang mengandung. Ia menganjurkan pada kami untuk memeriksanya di rumah sakit agar lebih segnifikan dan untuk mengetahui usia kandungan istri saya dokter." Jawab Daniel mewakili Melati.


" Ohh begitu. Kalau silakan untuk nyonya agar berbaring di ranjang itu. Biar bisa memeriksanya melalui USG." Ucap dokter.


" Bisa dokter." Ucap Melati.


" Ayo sayang, biar aku bantu." Ucap Daniel.


Melati sudah berbaring di ranjang sesuai permintaan dokter. Perutnya juga telah di olesi jel untuk mempermudah dokter menggerakkan alat yang sedang ia pegang untuk memeriksa Melati.


Di layar monitor di depan mereka, terlihat sesuatu yang sedang bergerak dalam rahimnya Melati.


" Nah, itu adalah calon anaknya kalian. Ia masih sangat kecil. Usianya baru tiga minggu. Masih sebesar biji kacang kalau tidak salah." Ucap dokter.


Melati dan Daniel begitu bahagia melihat calon anak mereka di layar itu. Sesekali Daniel mengecup pipi Melati karena sangat bahagia.


" Apa ingin di cetakan gambar calon anak kalian nyonya? Tanya dokter.

__ADS_1


" Iya dok, kalau boleh tolong cetakkan." Jawab Daniel.


" Tentu saja. Tunggu sebentar ya pak. Oh iya, nyonya sudah bisa bangun dan duduk di kursi." Ucap dokter.


Melati pun bangun dari ranjang itu dengan di bantu Daniel. Mereka sudah kembali duduk di kursi di depan dokter.


" Ini pak hasil fotonya calon bayi kalian." Ucap dokter.


" Terima kasih dokter." Ucap Melati tersenyum bahagia melihat foto hitam putih itu.


" Kandungan nyonya Melati masih sangat mudah. Masih sangat rentan mengalami keguguran nantinya. Ini saya akan berikan resep penguat kandungan agar kandungannya kuat. Tapi walau begitu, anda tetap hati-hati menjaga kandungan anda mengingat ini masih sangat dini. Jangan terlalu banyak bergerak agar tidak kecapean. " Ucap dokter menjelaskan.


" Iya dokter. Saya akan menjaga istri saya agar bisa kandungannya." Ucap Daniel antusias.


" Iya pak. Suami juga harus bisa mewanti wanti menjaga istri pak. Ini resep obatnya, bisa di tebus di apotik di depan." Ucap dokter.


" Iya dokter terima kasih." Ucap Daniel mengambil resep obat.


" Kalau begitu kami permisi dulu dokter. Sekali lagi kami ucapkan terima kasih." Ucap Daniel tersenyum tulus.


" Iya pak, terima kasih kembali." Balas dokter ramah.


" Ayo sayang." Ucap Daniel.


" Iya nyonya, silakan." Ucap dokter.


Sekarang Daniel dan Melati sedang menunggu antrian untuk menembus obat yang di resepkan dokter yang memeriksa Melati tadi. Bisa saja Daniel menggunakan kekuasaannya sebagai pengusaha yang berpengaruh agar tidak mengantri untuk mengambil obat. Hanya saja Daniel bukan orang yang suka memaafkan kekuasaan yang di punyanya hanya demi kepentingan pribadi.


Daniel menyuruh Melati untuk duduk saja. Ia sendiri yang pergi mengambil obatnya. Ia tidak membiarkan Melati melakukan itu. Seperti yang di katakan dokter tadi, bahwa Melati tidak boleh sampai kelelahan.


" Sayang, aku sudah selesai mengambil obatnya. Ayo kita pulang." Ucap Daniel.


" Iya mas. Ayo." Ucap Melati.


Daniel dan Melati berjalan perlahan menuju mobil. Daniel membantun Melati duduk secara perlahan dan hati-hati di kursi mobil. Ia pun segera melajukan mobilnya meninggalkan rumah sakit.


Saat perjalanan pulang Melati melihat ada yang menjual Mangga muda. Daniel yang paham pun segera berhenti di depan penjual buah Mangga muda itu.


" Sayang kau ingin beli itu?" Tanya Daniel.


" Iya mas. Tidak tau kenapa, aku jadi ngiler melihatnya. Apa mungkin bawaan dedek bayi?" Jawab Melati.

__ADS_1


" Ohh jadi dedek bayinya ingin makan Mangga muda ya nak. Baiklah ayah akan membelikannya untuk kalian ya nak. Tunggu sebentar ayah akan belikan dulu." Ucap Daniel mengusap perut rata Melati.


" Tunggu ya sayang. Aku belikan dulu." Ucap Daniel membuka pintu mobil.


" Tidak perlu turun mas. Ini penjualnya ada di depan aku. Aku tinggal buka kaca mobilnya, trus beli deh." Cegah Melati.


" Tapi sayang, nanti kamu bisa kelelahan." Ucap Daniel.


" Mas kamu lebay deh. Orang aku belinya sambil duduk juga. Kelelahan dari mananya." Ucap Melati membuka kaca mobil.


" Ya udah kalau gitu." Ucap Daniel mengalah.


" Pak saya beli Mangga mudanya sekilo ya. Yang paling muda ya pak." Ucap Melati.


" Iya neng. Tunggu sebentar." Ucap penjual buah itu menimbang Mangga pesanan Melati.


" Ini neng Mangga mudanya. Saya sudah pilihkan yang paling muda."Ucap penjual itu menyerahkan tas plastik yang berisi Mangga muda pesanannya.


" Terima kasih ya pak. Ini uangnya." Ucap Melati memberikan selembar uang seratus ribu.


" Tunggu sebentar ya neng. Saya ambil kembaliannya dulu." Ucap penjual Mangga.


" Tidak usah pak. Ambillah saja kembaliannya untuk bapak." Ucap Melati.


" Aduh neng, jangan neng. Harga Mangga yang neng beli cuma 20 ribu. Sementara sisa uangnya masih ada 80 ribu. Tunggu sebentar ya, saya ambilkan kembaliannya dulu." Ucap penjual Mangga itu.


" Tidak usah pak. Anggaplah itu adalah rezeki untuk bapak." Ucap Melati.


" Terima kasih neng. Saya doakan agar neng sehat selalu dan banyak rezekinya." Ucapnya tulus.


" Iya pak terima kasih." Sahut Daniel di sebelah Melati.


" Kalau begitu kami permisi dulu. Semoga jualannya lancar dan laris manis ya pak." Ucap Daniel.


" Iya silahkan pak, bu. Terima kasih atas do'anya." Ucap penjual itu.


" Mari pak." Ucap Melati menutup kembali kaca mobil.


Mobil yang di bawa Daniel itu bergerak meninggalkan tempat penjual buah itu. Dalam perjalanan ke rumahnya, Melati menyuruh Daniel berhenti. Ia melihat penjual cilok. Ia ingin sekali memakan cilok itu. Daniel pun membelikannya beberapa porsi. Untuk Melati dan pekerjaan di rumahnya. Melati begitu lahap menikmati Cilok yang di belikan Daniel untuknya. Daniel tersenyum bahagia Melati makan begitu lahap. Ia senang Melihat tidak mengalami hal yang di rasakan kakaknya Dinda selama hamil muda.


Setelah itu, mereka melanjutkan perjalanan menuju rumah. Setibanya di rumah, Melati meminta pada bibi untuk membuat rujak yang agak pedas untuk Mangga yang di belinya tadi. Sebenarnya ia ingin yang ekstra pedas. Hanya saja Daniel melarangnya memakan yang terlalu pedas.

__ADS_1


Melati juga meminta agar bibi Ani menyisihkan sebagian mangganya untuk di buatkan sambal Mangga. Ia ingin memakannya dengan ayam goreng.


__ADS_2