Terpaksa Bercerai Muda

Terpaksa Bercerai Muda
Episode 71


__ADS_3

" Uweeeeeekkk. Uweekkkkk."


Terdengar suara Melati yang sedang muntah di kamar mandi. Daniel pun terbangun dan segera mendekati Melati.


" Sayang, kamu muntah?" Tanya Daniel.


" Iya mas. Ngak tau knpa perut aku mual banget tadi." Jawab Melati.


" Terus masih mual?"Tanya Daniel memijit tenguknya.


" Udah ngak lagi mas." Jawab Melati berbalik memeluk Daniel sambil mengendus ngendus ketiaknya.


" Sayang geli tau." Ucap Daniel kegelian.


" Enak banget baunya mas. Aku suka." Ucap Melati.


" Ya udah kalau gitu, kita lanjutin tidur kita ya sayang. Masih ada waktu untuk tidur sebelum subuh datang." Ucap Daniel membawa Melati kembali ke tempat tidur.


Sebelum tidur, Daniel membantu Melati mengganti pakaiannya. Karena baju yang ia kenakan tadi, sudah kotor terkena muntahannya. Tidak ada rasa jijik Daniel melakukan itu semua. Ia malah kasian pada istrinya. Karena demi mengandung anaknya, Melati mengalami itu semua. Jika bisa, biar ia saja yang merasakan mual yang melanda Melati.


" Sayang maafkan aku ya." Ucap Daniel sendu.


" Maaf untuk apa mas?" Tanya Melati bingung.


" Maaf karena mengandung anakku, kamu jadi kesusahan." Jawab Daniel.


" Kamu bicara apa sih mas. Ini juga anakku. Anak kita mas. Aku malah senang menjalani ini semua. Aku akan menjalini ini dengan hati yang ikhlas mas." Ucap Melati dengan senyum.


" Ya udah kalo gitu, kita tidur lagi ya sayang." Ucap Daniel.


" Iya mas. Tapi kamu jangan pakai baju ya mas. Aku pengen cium bau badannya kamu. Baunya enak banget mas." Ucap Melati.


" Iya sayang. Aku lepas baju dulu." Ucap Daniel.


" Udah sayang. Ayo kita tidur." Ucap Daniel.


Melati pun tidur dengan memeluk Daniel begitu eratnya. Daniel pun merasa senang melihat tingkah Melati yang manja padanya seperti itu. Ia pun bersyukur, Melati tidak seperti wanita hamil yang lainnya. Yang tidak akan mau berdekatan dengan suaminya. Melihat wajah suaminya pun pun kesal. Pokoknya Daniel sangat bersyukur.


" Kamu yang sehat ya nak. Kami menantikan kehadiranmu bersama kami di sini." Ucap Daniel dalam hati mengelus perut Melati yang masih terlihat rata.


Ia Melati sudah tertidur dengan nyenyak. Ia pun mengecup kening Melati, kemudian memejamkan matanya melanjutkan tidurnya yang sempat terhenti karena kaget dengan suara Melati yang sedang muntah di kamar mandi.

__ADS_1


*****


Hari pun terus berlanjut. Tidak terasa kandungan Melati sudah berusia empat bulan. Hari ini keduanya mengadakan syukuran empat bulanan berupa pengajian. Karena usia empat bulan itu, janin sudah di beri nyawa. Mereka juga mengundang ustad untuk memberikan ceramah singkat dan anak yatim piatu.


" Sayang kamu cantik banget pakai jilbab seperti ini." puji Daniel menatap kagum Melati.


" Kamu juga tampan pakai baju seperti ini juga mas." Puji Melati balik.


" Aku ingin kamu memakai jilbab seperti ini sayang jika berada di luar rumah."Ucap Daniel.


" Kamu ingin aku berhijab mas?" Tanya Melati.


" Emm,,, aku sih maunya gitu. Tapi aku juga ngak mau maksa kamu sayang."Jawab Daniel.


" Doain aja ya mas. Aku akan belajar sedikit demi sedikit." Ucap Melati.


" Iya sayang pasti aku doain yang terbaik untuk kamu aku dan calon anak kita ini." Ucap Daniel mengelus perut Melati.


" Iya mas." Ucap Melati.


Tok tok tok


Mendengar suara ketukan pintu Daniel pun bergegas membuka pintu kamarnya.


" Ayo buruan kalian turun. Semua orang sudah berkumpul. Tinggal kalian berdua pemilik acara yang belum ada." Ucap Dinda.


" Bentar kak. Aku panggil Melati dulu." Ucap Daniel berbalik memanggil Melati. Tapi saat ia berbalik Melati sudah ada tepat di belakangnya.


" Ekhhh sayang. Baru aja aku mau manggil kamu." Ucap Daniel.


" Aku dengar suara kak Dinda makanya aku langsung kemari mas." Ucap Melati.


" Ayo kita turun. Jangan membuat mereka menunggu kita terlalu lama." Ucap Melati.


" Iya kamu benar Mel. Daniel pegangi istrimu." Ucap Dinda.


" Iya kak. Ayo sayang." Ucap Daniel.


Daniel Melati dan Dinda menghampiri tamu undangan yang telah menanti mereka.


Acara pun di mulai dengan membaca ayat suci alqur'an. Lalu di lanjutkan dengan ceramah yang di bawakan oleh pak ustad. Setelah itu mereka akhiri dengan jamuan makan. Melati menyediakan makanan yang di datangkan khusus dari cafe yang ia kelola. Semua terlihat sangat menikmati menu dari cafenya. Sebelum acara selesai, Melati dan Daniel memberikan uang yang berisi di amplop pada anak dari panti asuhan itu.

__ADS_1


Tak terasa acara pun telah selesai. Saat ini semua orang sedang duduk di balkon atas sambil menikmati angin sore.


" Silakan di minum minuman dan cemilannya non den." Ucap bibi Ani.


" Makasih ya bi. Maaf jadi ngeropotin bibi nih kita." Ucap Dinda.


" Hehehhe ngak papa kok non Dinda. Ini kan memang sudah menjadi tugas saya." Ucap bibi Ani.


" Bibi istrahat aja. Nanti ada orang yang datang untuk membersihkan sisa acara di bawah. Bilangin sama bi Irma juga. Kalian pasti capek juga dari tadi melayani para tamu yang datang."Ucap Daniel.


" Iya den. Nanti bibi sampaikan sama Irma. Kalau begitu saya permisi dulu ya." Ucap bibi Ani.


" Iya bi silakan." Ucap semuanya.


" Kamu capek sayang?" Tanya Daniel.


" Mmmm,, lumayan mas. Mungkin karena dari tadi duduk ngak nyandar. Punggung aku rasanya capek." Jawab Melati.


" Itu wajar Mel. Apalagi usia kandungan kamu udah empat bulan. Jadi kamu sudah mulai merasakan hal seperti itu." Seru Dinda.


" Iya kak. Tapi ngak papa kok. Aku akan menikmatinya. Kan ada tukang urut gratis." Ucap Melati terkekeh melirik Daniel.


"Iya. Nanti aku pijitin kamu sayang kalau pegal."Ucap Daniel.


" Ya emang harus gitu." Ucap Dinda.


" Arin kemana kak? Tanya Melati.


" Arin udah tidur. Kecapean dia dari main lari larian sama anak panti seumuran dia tadi." Jawab Dinda.


" Trus Bima kemana kak?" Tanya Daniel.


" Bima tidur di kamar, kakak titip sama baby sister." Jawab Dinda.


" Bima makin hari tambah menggemaskan ya kak." Ucap Melati.


" Iya. Ngak nyangka aku bisa lahirin anak menggemaskan seperti itu. Tapi aku kesal. Aku yang mengandung, aku yang melahirkan sambil mempertaruhkan nyawa. Pas lahir, wajahnya mirip banget sama mas Arka. Hampir semuanya ikut dia. Untung kulitnya putih ikut aku." Ucap Dinda.


" Hehehhe. Kan dia anak kak Arka kak." Ucap Daniel.


" anak aku juga kali. Kan bikinnya berdua sama aku."Ucap Dinda tertawa.

__ADS_1


" Hahahahahhahaha." mereka tertawa bersama.


Tak terasa hari mulai gelap. Sekarang mereka sudah berada di kamar membersihkan tubuh mereka yang sudah lengket karena acara tadi. Setelah itu mereka turun ke bawah untuk makan malam bersama. Ada juga Arka di sana yang baru pulang dari luar kota. Ia tidak sempat ikut merayakan acara empat bulanannya Melati.


__ADS_2