
Pukul 05.00 Melati bangun dari tidurnya. Ia melemaskan ototnya dulu, lalu ke kamar mandi membersihkan tubuhnya dan menjalankan sholat subuh. Setelah selesai sholat, Melati ke dapur untuk membuat sarapan paginya. Ia membuka kulkas sambil berpikir ia akan memasak apa untuk sarapannya hari ini. Akhirnya ia memutuskan membuat nasi goreng dan telur ceplok saja.
Setelah matang masakan yang di buatnya. Melati pun, langsung melahapnya tanpa sisa. Sehabis, makan Melati mencuci piring bekas makannya. Kemudian ia ke kamar bersiap siap. Rencananya, hari ini, Melati akan berjalan jalan untuk melihat lihat keadaan sekitar tempat tinggalnya. Melati berdandan sedikit agar wajahnya tidak terlihat pucat. Merasa dirinya sudah rapi. Ia pun mengambil tasnya dan bersiap pergi. Tak lupa juga ia mengunci pintu rumahnya juga.
Udara di pagi hari yang masih terasa sejuk, membuat Melati berjalan kaki menelusuri jalan. Ia Matanya melihat lihat keadaan sekitar, ternyata jika pagi hari kompleks tempat tinggalnya terasa sangat sepi. Karena orang orang dewasa pergi bekerja dan anak anak kecil bahkan remaja akan pergi ke sekolah. Ia melihat seorang wanita sedang menyiram tanaman di depan rumahnya. Melati pun menyapa wanita itu.
" selamat pagi mbak" apa Melati ramah pada wanita itu
" selamat pagi juga" menoleh ke arah sumber suara
" perkenalkan saya Melati penguhuni baru di kompleks ini mbak" ucap Melati memperkenalkan dirinya
" saya Dinda. Oh penghuni baru rupanya. Pantas saya baru melihat kamu di sini"
" iya mbak. Saya baru pindah beberapa hari yang lalu di sini"
" sini ayo masuk dulu. Tidak baik mengobrol di luar" ajaknya kepada Melati ke dalam rumahnya
" emm,, emang ngak papa mbak. Siapa tau mbak masih ada kerjaan. Saya tidak ingin mengganggu aktivitas mbak dan ini masih terlalu pagi untuk saya bertamu. Tadi saya juga hanya ingin menyapa mbak saja" ujar Melati sungkan
" tidak kok. Ayo sini masuk dulu. Kita mengobrol di dalam rumah" menarik tangan Melati ke dalam rumahnya
Melati pun mengikuti Dinda masuk ke dalam rumahnya
" bi, bibi. Buatkan minum untuk tamu kita ya bi" titahnya pada pembantu rumahnya yang sedang menyapu lantai
" iya nyonya, segera saya buatkan. Mohon tunggu sebentar ya" jawab pembantunya
" ya sudah saya tunggu di ruang tengah ya bi"
" baik nyonya"
__ADS_1
" ayo Melati kita duduk di sana"
Melati mengikuti Dinda ke ruangan yang di maksudnya tadi
" ayo duduk"
" iya mbak"
" kalau saya boleh tau, kamu pindahan dari daerah mana. Dan kenapa sampai pindah ke sini" tanya Dinda pada Melati
" saya dari kota A mbak. Saya pindah ke sini, setelah saya Bercerai dengan suami saya mbak" jawab Melati
" ohh kamu sudah Bercerai. Maaf ya saya tidak bermaksud bertanya seperti itu kepada kamu" ucap Dinda merasa bersalah kepada Melati
" ngak papa kok mbak" jawab Melati dengan tersenyum
Pembantu Dinda pun datang membawa minum mereka
" permisi nyonya ini minuman untuk nyonya dan tamu nyonya" ucap pembantunya sambil meletakkan gelas di atas meja
" iya nyonya. Saya permisi dulu ke belakang dulu nyonya" ucap pembantunya undur diri kebelakang
" iya silahkan bi" jawab Dinda
" ayo Mel, silakan minum tehnya dulu" ucap Dinda
" iya mbak makasih" jawab Melati mengambil minumnya
" Maaf Melati, kalau boleh saya tau umur kamu berapa" tanya Dinda kepada Melati
" umur saya 23 mbak" jawab Melati
__ADS_1
" ooh umur kamu hanya selisih 4 tahun dari saya dan 2 tahun dari adik saya" ucapnya dan Melati hanya tersenyum saja
" mbak Dinda sudah menikah" tanya Melati
" saya belum menikah Mel, dulu saya pernah hampir menikah, tapi pernikahan saya gagal. Pria yang akan saya nikahin ternyata mempunyai seorang istri. Dan lebih parahnya, ternyata dia dan istrinya bekerja sama untuk menutupi pernikahannya. Mereka melakukannya karena ingin mengambil harta saya saat suaminya menikah dengan saya nanti. Hal itu membuat saya trauma dan tidak ingin menjalin hubungan dengan pria mana pun. Untungnya saya mengetahuinya lebih dulu. Jika tidak entah apa yang akan terjadi kepada saya dan adik saya Mel jika harta peninggalan orang tua saya ini di ambil oleh mereka " ujar Dinda menjelaskannya kepada Melati dengan mengingat kejadian yang menyakitkannya hatinya itu
" Maaf ya jadi buat mbak sedih dengan mengingat itu. Aku ngak bermaksud untuk seperti itu" ucap Melati sesal
" udah ngak papa kok. Lagian itu udah berlalu dan kejadiannya sudah lama sekali"
" aku yakin suatu hari nanti, pasti mbak akan menemukan laki laki yang benar-benar sayang sama mbak. Dan itu pasti"
" udah ngak ngomongin tentang mbak. Mending ngomongin tentang kamu Mel"
" kita hampir sama mbak. Ngak ada yang baik untuk di bicarakan tentang saya" ucap Melati tertawa dan ikuti oleh Dinda juga
Mereka melanjutkan obrolan mereka tanpa sadar waktu. Setelah bertemu Dinda, Melati benar benar melupakan kesedihannya usai perceraiannya dengan Aditya beberapa waktu lalu. Apalagi Dinda yang memiliki kisah yang hampir sama dengannya. Dinda pun demikian, ia merasa bahagia bertemu Melati. Setelah kejadian itu, Dinda benar-benar menutup akses pertemananya dengan orang-orang. Di kantor pun, ia hanya akan bicara secukupnya dan setelah urusan kantor selesai Dinda langsung pulang ke rumahnya. Setiap karyawannya menyapa dirinya, Dinda selalu tidak pernah membalasnya. Mereka pun memaklumi sikap Dinda yang seperti itu. Karena mereka juga tau kejadian yang menimpa bos mereka itu.
Setelah adiknya lulus kuliah. Dinda menyuruh adiknya menggantikan posisinya di kantor. Dinda ingin di rumah saja. Dia tidak ingin berurusan lagi dengan perusahaan. Apalagi setiap bertemu klien yang mempunyai anak laki-laki. Pasti mereka selalu berniat menjodohkan dirinya. Dinda pun tau, bahwa mereka hanya ingin menguasai perusahaannya setelah anak mereka berhasil menikahinya. Tapi Dinda sebodoh yang mereka kira. Karena perusahaan peninggalan orang tuanya itu sudah ia alihkan sebagian besar untuk adiknya sewaktu adiknya memasuki bangku kuliah dulu. Sebenarnya adiknya tidak ingin menerima semua itu. Dia ingin harta warisan orang tuanya di bagi rata. Tapi Dinda meyakinkan adiknya, bahwa suatu hari nanti adiknya pasti akan menikah dan pasti ia akan menafkahi anak dan istrinya kelak. Maka dari itu Dinda melakukan semua itu.
Tidak terasa hari semakin siang, Melati pamit pulang pada Dinda. Tapi Dinda menahannya. Karena Dinda menawarkan ingin makan siang dengan Melati juga. Melati sudah menolaknya dengan halus. Tetapi Dinda memaksanya, Melati pun menerima tawaran Dinda. Mereka pun makan siang berdua. Setelah makan siang, Melati langsung pamit pulang pada Dinda. Dinda pun mengantar Melati sampai depan pagar rumahnya. Melihat Melati mulai menghilang dari pandangannya Dinda pun masuk ke dalam rumah menuju kamar dan beristirahat siang.
#*pliiss tolongin author ya
Tolong kasih semangat dong buat Author dengan🙏🙏
**Like👍
Coment😀
Vote dan😍,
__ADS_1
Share ke akun sosial media kalian sebanyak banyaknya🤩
Agar ada timbal balik antara Author dari kalian ✌️🙏💪💪***