Terpaksa Bercerai Muda

Terpaksa Bercerai Muda
Episode 76


__ADS_3

Orang itu membawa Daniel menuju suatu tempat.


" Ahhhh siaall. Akan ku balas jalang itu nanti." Umpat Daniel mulai membuka bajunya.


" Rio, cepat. Aku sudah tidak tahan lagi." Ucap Daniel memohon.


" Iya, sebentar lagi kita akan sampai." Ujar Rio


Rio adalah orang yang di hubungi oleh Daniel tadi saat minuman yang di beri obat oleh Laura mulai bereaksi. Ia berusaha sebisanya agar tetap terlihat baik baik saja sambil menunggu Rio temannya. Rio juga adalah seorang dokter. Jadi ia juga sudah tau apa yang harus di lakukan jika ada orang yang tidak sengaja meminum minuman yang mengandung obat perangsang.


Kebetulan ia juga berada di kota yang dengan Daniel. Ia datang ke kota ini, untuk mengunjungi rumah kakek dan neneknya.


Rio membelokkan mobilnya ke rumah kakek dan neneknya. Ia memapah Daniel dengan di bantu oleh satpam yang berjaga.


" Bantu aku bawa dia ke kamar." Ucap Rio.


" Baik den." Ucap satpam itu.


Keduanya memapah Daniel ke kamar tamu langsung ke kamar mandi.


" Minta bibi bawakan semua es batu yang ad di kulkas pak." Ucap Rio usai meninggalkan Daniel yang sedang mendinginkan tubuhnya di bathup.


" Baik den." Ucapnya.


Selang beberapa saat satpam itu kembali bersama bibi membawa es batu yang di minta Rio tadi.


" Ini den es batunya." Ucap mereka.


" Langsung masukkan ke dalam bathup itu." Ucap Rio.


Mereka melakukan apa yang di katakan oleh Rio.


" Ahhh Rio tolong aku. Aku butuh pelepasan. Aku butuh istriku Rio. Berendam seperti ini, tidak mengurangi sedikitpun reaksi obat itu." Teriak Daniel.


Bibi dan satpam hanya diam saja mendengar teriakan Daniel.


" Iya gue Niel. Tapi istri loh lagi ngak di sini. Udah loh di situ aja. Belum lama juga loh berendam, makanya pengaruh obatnya belum hilang sedikit pun. Ohh iya pak bawakan saya tali." Ucap Rio.


" Iya den."


" Dan untuk bibi, tolong belikan resep obat ini di apotek yang masih buka. Saya butuh secepatnya bi. Tolong bibi cepat." Ucap Rio pada pembantu di rumah kakek dan neneknya.


" Baik den."


Sementara itu di hotel, Laura sudah menunggu Daniel di dalam kamarnya. Ia memastikan dulu pak Burhan sudah tidur. Ia menunggu dengan mengenakan lingerie berwarna maron. Ia terlihat sangat sexi menggunakan itu. Cukup lama ia menunggu. Yang di tunggu tak kunjung datang juga.


" Daniel kemana. Kenapa sampai sekarang ia belum kembali ke hotel juga. Padahal aku sangat yakin jika obat sudah bereaksi padanya." Ucap Laura gelisah menunggu kedatangan Daniel.


" Aaaa sial. Seharusnya aku tetap berada di sampingnya. Kenapa juga aku harus menuruti ucapan si Burhan." Ucapnya kesal.


" Satu jam lebih aku menunggu tapi ia tidak kunjung datang. Sialan. Tidak mungkin kali ini aku gagal. Seorang Laura tidak pernah gagal mendapatkan keinginannya. Tapi sekarang ini apa. Benar benar sial. Arrrrgggghhhh Daniel. Jalang mana yang kau pakai untuk menyalurkan nafsumu itu. Aku di sini untuk melayani nafsumu itu. Arrrgggghhh brengsek." Teriak Laura marah.


Ia mengambil jubah mandi menutupi tubuhnya dan keluar dari sana. Karena ia yakin Daniel tidak akan datang.


Daniel semakin gelisah. Ia melihat Rio sebagai istrinya Melati.


" Melati sayang. Kemarilah. Aku butuh kamu sayang. Mendekatlah baby." Ucap Daniel melihat Rio seperti Melati.


" Brengsek kau Daniel. Aku Rio sahabatmu. Bukan Melati istrimu. Ayo pak bantu saya mengikatnya." Gerutu Rio.

__ADS_1


" Baik aden."


" Sayang kenapa kau marah. Bukannya kau juga menyukai hal ini juga. Ayo sayang kita bercinta. Ahhhh sayang aku sudah tidak tahan lagi." Rancau Daniel mencoba mencium bibir Rio.


" Sialan kau Daniel. Aku Rio bukan istrimu Melati." Ucap Rio marah karena di cium Daniel.


" Sayang, kenapa wajah kamu ada kumis dan jenggot sih?" Tanya Daniel meraba wajah Rio.


" Ya iya. Gw kan bukan istri loh. Gw Rio sahabat Lo bangsat. Stop pegang pegang gw seperti ini." Ucap Rio menyingkirkan tangan Daniel di wajahnya.


" Ayo pak, pegang tangannya. Ini orang harus secepatnya di ikat. Kasian bibir suciku di cium keparat ini. Bibir ini hanya boleh di cium oleh tunangan ku Rere saja. Awas kau Daniel." Ucap Rio mengikat tangan Daniel.


" Sayang kenapa aku di ikat. Ayo kita bercinta baby. Ahhhh aku sudah tidak tahan lagi." Ucap Daniel mengecup bibir dan leher Rio.


Buuuughhh.


" Brengsek kau Daniel. Benar benar menjijikkan." Ucap Rio usai meninju Daniel.


" Sudahlah aden. Tidak ada gunanya marah padanya. Orang dianya tidak sadar begini. Lihat rupanya tinju yang aden berikan telah membuatnya pingsan." Ucap pak satpam.


" Iya juga sih pak. Tapi saya kesal tau. Emang saya cowok apaan di cium kayak tadi." Ucap Rio geli.


" Siapa yang memberikan obat seperti itu padanya den?" Tanya pak satpam setelah mereka mengikat tubuh Daniel agar saat sadar tidak akan kemana mana.


" Wanita yang akan merusak rumah tangganya dan istrinya." Jawab Rio.


" Dasar tidak tau malu. Zaman sekarang masih ada saja orang yang ingin mengganggu rumah tangga orang lain. Seperti tidak ada pria lain saja." Ucap pak satpam ikutan kesal.


" Tapi beruntung ia obat tidak memberikan efek yang parah padanya. Kalau tidak akan runyam jadinya pak. Cukup kita rendam ia dengan air dingin atau es batu. Setelah sadar akan saya berikan ia obat untuk mengurangi reaksi dari obatnya." Ucap Rio menatap kasihan ke arah Daniel.


" Iya den. Saya pernah baca artikel kalau kita meminum obat seperti itu harus di salurkan. Jika tidak, tubuh kita akan mengalami kerusakan saraf yang parah." Ucap pak satpam.


" Iya den." Ucapnya.


" Ayo pak kita keluar. Tapi sebelum itu kunci dulu pintunya. Agar dia tidak bisa keluar dari dalam sana." Ucap Rio.


" Baik den." Ucapnya.


Bibi telah kembali membawa obat yang di belinya tadi. Ia langsung memberikannya pada Rio.


" Bibi sama pak Ari tidur saja." Ucap Rio meminum kopi yang di buatkan oleh bibi.


" Tidak den. Saya akan menemani Aden saja. Siapa tau teman Aden itu mengamuk lagi. Pasti akan sangat repot kalau aden menanganinya sendiri saja." Tolak pak Ari.


" Iya den. Bibi juga tidak akan tidur." Ucap bibi menambahi.


" Lebih baik bibi tidur saja. Tidak baik untuk kesehatan bibi juga." Ucap Rio.


" Iya bi. Benar kata den Rio. Bibi tidur saja. Biar kami yang mudah yang berjaga." Ucap pak Ari.


" Mudah palamu. Usiamu dan den Rio berbeda jauh pe'a." Ucap bibi kesal.


" Cuma beda 10 tahun saja bi. Nah kalau sama bibi, jauhnya banyak bi." Ucap pak Ari meledek.


" Kurang ajar kau Ari. Lihat saja tidak akan ku masakkan makanan untukmu." Ucap bibi kesal.


" Ehhh jangan bibi sayang. Bibi tidak sayang kepadaku. Kata bibi sudah menganggap aku seperti anak sendiri. Masa baru di ledekin sedikit sudah marah sih. Bibi tidak seru. Sana tidur. Nanti bibi kena darah tinggi nanti." Ucap pak Ari.


" Ari awas kau." Ucap bibi pergi dari sana.

__ADS_1


Rio hanya diam saja mendengar perdebatan bibi dan pak Ari yang biasa mereka lihat. Bagi penghuni rumah ini, itu adalah hiburan bagi Mereka.


Melati merasa gelisah dan tidak bisa tidur. Bayi di dalam kandungannya juga suka menendang nendang. Melati sampai merasa sakit. Tidak biasa calon anaknya menendang kuat dalam waktu yang lama.


" Kamu kenapa nak. Kamu rindu sama papi ya sayang?" Tanya Melati berbicara dengan calon anaknya di dalam perut.


Perut Melati di tendang kembali dengan sangat kuat.


" Auuuuu. Nak jangan menendang seperti itu sayang. Mami kesakitan." Ucap Melati meringgis.


Ia mengambil hp berusaha menghubungi Daniel tapi tidak tersambung.


" Ya Allah kamu dimana mas. Kenapa hpnya tidak aktif." Risau Melati.


Bayi di dalam kandungannya semakin memberikan tendangan dari kecil hingga kuat. Kadang Melati meringgis.


" Sayang udah ya. Papi pasti pulang kok untuk mengelus perutnya mami." Ucap Melati mengelus perutnya.


Bukannya diam, malah menendang dengan kuatnya.


" Auuu ya Allah sakit. Mas, Daniel apa yang terjadi padamu m kenapa anak kita menendang nendang begitu kuatnya." Ucap Melati meringgis kesakitan. Keringat sudah membasahi peluhnya.


Dinda keluar kamar untuk mengambil air minum. Ia melihat kamar Melati lampunya masih menyala. Ia mencoba membuka pintu, ternyata tidak di kunci.


Dinda melihat Melati seperti orang yang sedang merasa kesakitan.


" Ya Allah, Melati apa yang terjadi padamu?" Tanya Dinda panik.


" Aku tidak tau kak. Bayinya dari tadi menendang nendang. Sakit mba. Sungguh sakit." Jawab Melati lemah.


" Sayang, sudah ya. Kasian mami kamu nak." Ucap Dinda mengelus lembut perut Melati.


" Apa sering seperti ini Mel?" Tanya Dinda.


" Tidak kak. Baru kali ini saja. Ia menendang hanya ada satu atau dua kali saja kak." Jawab Melati.


" Daniel sudah kamu hubungi?" Tanya Dinda.


" Sudah kak. Tapi ponselnya tidak aktif. Sudah berkali kali aku coba tetap saja tidak aktif. Aku khawatir kak. Mungkin si dedek kayak gini, ia merasa ada yang terjadi pada Daniel." Jawab Melati menangis.


" Syuuuuuuut. Semoga tidak ada yang terjadi dengan Daniel. Kita do'akan semuanya baik baik saja. Sekarang kamu tidur ya. Kakak temani kamu malam ini. Baby nya juga sudah tidak menendang lagi." Ucap Dinda menenangkan Melati.


" Tapi kak..."


" Udah ngak papa. Kamu tidur. Kasian dedeknya kalau kamu gelisah seperti ini. Kakak temani kakak temani kok." Ucap Dinda.


" Baik kak."


Dinda mengelus ngelus rambut Melati hingga nafasnya terdengar teratur. Sejujurnya Dinda juga merasa khawatir pada adiknya itu. Ia merasa sesuatu terjadi padanya. Tapi ia tidak memperhatikan pada Melati. Ia tidak ingin menambah kekhawatiran pada wanita hamil ini. Ia berharap itu bukan perkara yang besar. Semoga Daniel pulang ke rumah tidak membawa sesuatu membuat rumah tangganya dengan Melati ada masalah.


# Jangan lupa


***LIKE


COMENT


SHARE


VOTE

__ADS_1


RATING 5***


__ADS_2