
Di kediaman Melati dan Daniel sedang di sibukkan dengan orang yang mendekor rumahnya. Karena besok mereka akan mengadakan aqiqah untuk putra mereka baby Arsen. Aqiqah di lakukan secara sederhana saja. Hanya ada keluarga dekat. Daniel maupun tuan Eddy juga mengundang beberapa rekan bisnisnya. Tidak lupa juga mereka mengundang anak yatim-piatu dari panti asuhan terdekat dari tempat tinggalnya.
Tok tok tok.
" Mas, bukain dulu pintunya. Mungkin itu mama, baby Arsennya lagi nyusu nih." Ujar Melati.
" Iya sayang bentar." Ucap Daniel membuka pintu.
" Mama, ada apa?" Tanya Daniel mempersilakan nyonya Sarah masuk.
" Mama kemari buat manggil kalian turun. Tamu undangan sudah datang. Pak imannya juga sudah tiba. Hanya kalian saja yang belum ada di sana, sebagai penyelenggara acara." Jawab nyonya Sarah.
" Sebenarnya kita udah mau turun ma. Tapi lihat baby Arsen nya ngak lepas nyusu. Di lepas nanti dia nangis lagi. Ngak mungkin juga kan Melati turun dengan seperti ini." Ucap Melati.
" Ya ngak bisa lah. Yang bisa lihat kamu kayak gitu cuma aku. Enak aja mereka mau berbagi. Hehehe mama juga boleh kok, kan mama mamanya istri aku." Ucap Daniel.
" Mas." Ucap Melati melotot.
" cucu oma. Lapar ya. Cepat ya sayang. Jangan lama. Kasian undangannya bisa karatan. Apalagi pak imannya." Ucap nyonya mengusap lembut kepala baby Arsen.
" Iya oma. Dikit lagi kok." Ucap Melati menirukan suara anak kecil.
" Coba sini mama bantuin lepas pelan pelan. Moga-moga aja di ngak nangis." Ucap nyonya.
" Iya ma."
Setelah baby Arsen lepas menyusu, mereka turun ke bawa dengan Daniel yang menggendong anaknya.
" Karena pemilik acaranya sudah ada di tengah tengah kita semua, tidak perlu menunggu lama lagi acara aqiqah untuk baby Arsen putra pertama nona Melati dan tuan Daniel bisa kita mulai sekarang juga." Ucap MC nya.
" Baiklah acara untuk aqiqah baby Arsen kita awali dengan pembacaan ayat suci Al-Qur'an yang akan di bawakan oleh nyonya Sarah selaku oma si kecil Arsen." Ucap MC nya.
__ADS_1
Nyonya Sarah pun segera memulai membaca ayat suci Al-Qur'an. Suara nyonya Sarah terdengar begitu merdu di telinga tamu hadirin yang di sana.
Usai membacakan ayat suci Al-Qur'an, acara berlanjut ke acara inti yaitu proses aqiqah baby Arsen. Mereka membacakan sholawat nabi juga.
Setelah itu,Daniel dan Melati menyantuni anak yatim-piatu dengan memberikan amplop pada setiap anak di yatim-piatu yang hadir di sana. Lalu tamu undangan di persilahkan untuk menyicipi hidangan yang sudah mereka siapkan.
Daniel memberikan baby Arsen pada Melati. Karena ia masih akan menemani rekan bisnisnya mengobrol bersama dengan mertua dan kakak iparnya.
" Dedeknya, masih tidur ya mami?" Tanya Arin.
" Iya sayang. Dedeknya masih tidur." Jawab Melati.
" Ohh. Padahal kakak mau main sama dedeknya." Ucap Arin cemberut.
" Aduh cucu oma, wajahnya kok kesal kayak gitu sih. Nanti cantiknya ilang loh." Ucap nyonya Sarah menggoda Arin.
" Wajah cantik Arin tidak akan ilang oma, walaupun Arin main lumpur sekalipun." Ucap Arin.
" Ohh ya?" Tanya nyonya Sarah.
" Iya anak bunda yang paling cantik." Ucap Dinda.
" Bima mana Din?" Tanya nyonya Sarah.
" Ikut ayahnya ma. Anak itu ngak mau lepas dari ayahnya. Takut ayahnya di ambil orang ma." Jawab Dinda tertawa.
" Anak itu. Tapi bagus lah. Bisa jadi pawang kamu tuh. Kalau nanti ada wanita lain yang akan menggoda Arka, Bima sendiri yang akan menghadapinya." Ujar nyonya Sarah.
" Hahaha. Mama bisa aja deh. Tapi semoga saja rumah tanggaku sama mas Arka di jauhkan dari hal seperti itu." Ucap Dinda.
" Aamiin. Mama hanya bisa mendoakan yang terbaik untuk pernikahan kamu dan Melati nak." Ucap nyonya Sarah tulus.
__ADS_1
" Aamiin ma." Ucap keduanya.
" Ya sudah mama mau kesana dulu menemui papa kalian. Sekalian mau menyapa istri dari rekan bisnisnya papa kalian." Ucap nyonya Sarah.
" Iya ma."
Setelah nyonya Sarah pergi, Dinda dan Melati mengobrol.
" Mel, biar kakak yang gendong baby Arsennya. Biar kamu bisa makan dulu." Ucap Dinda.
" Ngak usah kak. Aku juga udah makan tadi. Tapi kalau kakak mau gendong, nih." Ucap Melati.
" Hei, sayang ini bunda nak. Mulai sekarang kamu manggil aunty dengan sebutan bunda ya nak. Seperti kakak Arin memanggil ibumu mami mau ya nak." Ucap Dinda.
" Mau dong bunda." Balas Melati.
" Hahahaha." Keduanya pun tertawa.
" Mel, kamu ngak ngundang Natasnya?" Tanya Dinda.
" Aku ngundang dia kok kak. Cuma kasih kabar ngak bisa datang, karena lagi hamil jadi ngak bisa melakukan perjalanan jauh." Jawab Melati.
" Oh jadi udah hamil?" Tanya Dinda kepo.
" Iya katanya udah hamil." Jawab Melati.
" Ohh. Kamu hebat ya Mel orangnya ngak pendendam. Kamu bisa memaafkan dan berteman dengan mantan pengganggu rumah tangga kamu waktu masih dengan Aditya dulu." Ucap Dinda.
" Sebenarnya aku awalnya agak susah untuk melakukan itu. Tapi kalau di pikir lagi, buat apa sih kita marah sama orang lain itu sampai berlarut larut. Apalagi sampai dendam. Karena hal itu kalau kita pikirin terus, yang ada kita ngak akan bahagia. Karena yang ada di otak kita hanya ada bagaimana cara kita untuk bisa balas dendam hingga akhirnya kita lupa cara untuk bahagia. Jadi aku memutuskan untuk mengikhlaskan dan memaafkan semua yang pernah terjadi pada kita di masa lalu. Aku juga bersyukur bisa punya penggantinya seperti mas Daniel kak. Dia sosok yang bisa menarik aku keterpurukan masa lalu ku. Aku bahagia bisa jadi istrinya kak. Ya walaupun aku agak kesal kalau otak mesumnya kambuh." Ucap Melati.
" Hahahaha. Mesum, tapi bikin kamu ketagihan kan." Goda Dinda.
__ADS_1
" Iya kak. Buktinya jadi lah baby Arsen di antara aku dan mas Daniel." Balas Melati tertawa di ikuti oleh Dinda juga.
Malam harinya, setelah acara berakhir. Dinda pamit pulang ke rumahnya. Karena letak sekolah dari rumah Daniel berlawanan arah. Jadi mereka memutuskan untuk pulang walaupun sebenarnya ingin menginap di sana. Tapi tidak mereka lakukan, karena Arin juga yang sudah kelas 1 SD sedang ujian semester.