
Sore hari sekitar jam lima, Daniel pulang ke rumah. Di lihatnya pembantu di rumahnya sedang menyiram bunga kakaknya Dinda. Ia menatap heran, pembantu di rumahnya sama sekali tidak pernah menyiram bunga milik kakaknya itu. Karena selama ini Kakaknya Dind tidak pernah menyuruh pekerja di rumahnya untuk mengerjakan itu. Dinda sendririlah yang akan mengurus semua bunga bunga miliknya itu. Tapi sekarang ia melihat pembantunya sedang menyiram bunga kakaknya itu.
" bi, ka Dinda ada" tanya Daniel menghampiri pembantunya itu
" ada den di dalam sama non Melati" jawab bibi
" oh gitu ya. Aku masuk dulu ya" ucap Daniel
" iya den" jawab bibi "Aden mau bibi buatan kopi" tanya bibi lagi
" tidak usah bi. Aku sudah banyak minum kopi tadi di kantor" jawabnya
Daniel pun meninggalkan pembantunya dan masuk ke dalam rumah. Dia mencari kakaknya tapi tidak terlihat. Lalu ia memilih masuk ke dalam kamarnya. Saat berjalan ke arah kamarnya, ia melewati kamarnya Dinda. Samar samar ia mendengar suara Melati dan Dinda dari dalam kamarnya Dinda.
Di dalam kamar, Daniel melepa sepatutnya. Lalu lanjut ia melepas semua pakaian yang melekat di badannya. Setelah itu Daniel segera ke kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya yang sudah sangat lengket karena aktivitas hariannya di kantor.
Tidak lama kemudian Daniel keluar dari kamar mandi menggunakan handuk menutupi tubuh bagian bawahnya. Terlihat tubuh kekarnya juga perut kotak kotak yang sangat menggoda iman kaum hawa bila memandangnya. Daniel pun membuka lemari pakaiannya. Ia mengambil baju kokoh dan juga sejadah untuk menjalankan sholat magrib. Setelah sholat magrib Daniel berganti pakaian santai dan keluar dari dalam kamarnya.
Melati dan Dinda pun sama. Setelah sholat magrib bersama, mereka keluar dari kamar menuju dapur untuk mempersiapkan makan malam nanti. Mereka pun segera memanaskan kembali makanan yang mereka masak tadi lalu menghidangkannya di atas meja makan. Selesai menata makanan Daniel pun datang.
" wah enak nih kayaknya" ucap Daniel menelan ludah menatap makanan di depannya
" Daniel kapan kamu pulang? Kok kakak ngak liat" tanya Dinda melihat Daniel
" tadi kak sore. Waktu aku datang juga kakak ada di dalam kamar juga" jawab Daniel " hei kamu Melati kan? Teman kakakku waktu di restoran" ujar Daniel melirik ke arah Melati
" iya benar" jawab Melati tersenyum
__ADS_1
" aku nyuruh kakak aku ngundang kamu makan malam di sini. Karena aku ingin mengucapkan terima kasih sama kamu. Karena kamu juga kakakku yang biasanya menutup diri dari dunia luar bisa kembali dan berinteraksi dan berhubungan dengan orang lain" ujar Daniel sementara Melati hanya tersenyum saja tanpa membalas ucapan Daniel
" ayo Daniel Melati kita duduk" pinta Dinda pada mereka berdua
" iya kak" Jawab mereka bersamaan
" Daniel kamu mau di ambilin apa sama kakak" tanya Dinda pada Daniel
" aku mau pentol bakso 4 buah sama kuahnya jangan di banyakin kak. Trus aku juga mau ayam kecapnya yang terlihat ingin sekali ku makan kak" jawab Daniel
Dinda pun mengambilkan apa yang di ucapkan Daniel tadi" nih buat kamu di makan ya. Kalau mau nambah bilang nanti kakak ambilin lagi buta kamu" ujar Dinda
" oke kak, aku makan ya" jawab Daniel memakan makanannya
Sementara Dinda dan juga Melati mengambil bagian mereka sendiri sendiri. Mereka bertiga pun melahap makanan mereka.
" Melati yang masak. Kakak cuma bantu bantu ajah sedikit" jawab Dinda sambil makan dan hanya menganguk ngangguk saja sambil memakan makanannya
Melihat itu Daniel yang hanya menganguk seperti itu Melati pun bertanya " kenapa Daniel? Ngak enak ya masakan aku"
" enak kok. Siapa bilang ngak enak. Ini aku malah mau tambah lagi" jawab Daniel melihat ke arah Dinda. Dinda pun paham segera mengisi ulang piring Daniel " tunggu tadi kamu bilang kamu yang masak" lanjut Daniel karena tadi ia kurang ngeh dengan ucapan kakaknya karena asik memasukkan nasi ke dalam mulutnya
" iya kenapa Niel" tanya Melati lagi
" astaga kakak kok gitu sih. Melati kan kita yang ngundang untuk makan di sini. Masa iya Melati sendiri yang masak makanannya. Seharusnya kakak sendiri tau" ucap Daniel menatap Dinda jengah
" hehehe,, kan masakan Melati enak Niel. Jadi sekalian aja kakak minta tolong sama Melati untuk masak makanannya. Tapi kakak bantu Melati juga kok. Tadi kan kakak bilang, mungkin kamu aja yang ngak dengar" jawab Dinda dengan polosnya" bukannya kamu sendiri bilang kalau masakan Melati enak. Jadi ngak papa dong Melati yang masak makan malamnya" lanjut Dinda menyerahkan kembali piring Daniel
__ADS_1
" tapi ngak gitu juga kali. Dia juga tamu di sini. Masa iya tamu di suruh masak" ujar Daniel mengambil ulang piringnya
" iya iyaa lain kakak ngak kayak gitu lagi kok. Iya kan Mel" ucap Dinda
" iya ngak papa kok kak. Daniel lagian aku senang masak kok. Jadi ngak papa aku masak makanan malam ini" jawab Melati
" iya iya terserah kalian aja. Aku mau lanjut makan" jawab Daniel melanjutkan makannya
Setelah perdebatan kecil di meja makan. Melati Dinda dan Daniel melanjutkan makan malam mereka dengan tenang tanpa suara. Hingga akhirnya mereka selesai makan. Masakan Melati hampir ludes di makan mereka. Daniel lah yang paling banyak makannya. Melati senang, mereka melahap masakan buatannya. Pembantu yang di belakang juga. Mereka memuji muji masakan Melati hingga piring mereka kosong.
Daniel pun bersendawa dengan keras menandakan perutnya sangat kenyang
" ihh Daniel keras banget sih suara kamu" ucap Dinda
" hehehehe, sorry kak. Itu artinya perut aku kenyang banget" jawab Daniel " Melati masakan kamu benar benar enak. Aku hampir saja menghabiskan semua makanan yang ada di atas meja ini. Mungkin kalau perut aku mampu, aku habisin semua yang ada di sini. Sayangnya perut aku udah ngak sanggup makan lagi" pujinya pada Melati
" iya Daniel. Makasih kalo kamu suka masakan. Aku. Lain kali aku masakin kamu sama kak Dinda lagi" jawab Melati
" ya udah aku ke sana dulu ya" ucap Daniel meninggalkan meja makan
" iya hati hati jalannya. Itu kamu kekenyangan. Hati hati muntah. Kan sayang makanan yang kamu makan harus kamu muntahin lagi" seru Dinda meledek Daniel
" tenang aja kakakku yang cantik dan baik hati. Aku akan hati hati dan ngak akan muntah" jawab Daniel
Melati dan Dinda pun membersihkan sisa makan malam mereka. Sisa makanan yang tidak habis, Dinda taruh di wadah kecil dan ia masukkan ke dalam kulkas. Sisa makanan itu akan mereka makan jika nanti lapar nanti. Entah iti Dinda, Daniel ataupun pembantu di sana. Sebenarnya bibi ingin membantu mereka membersihkan meja makan. Tapi Dinda melarangnya. Karena ia dan Melati sudah cukup untuk melakukannya. Dinda menyuruh bibi untuk segera beristirahat. Karena sedari tadi bibi tidak mau diam bekerja. Dinda sengaja meminta Melati untuk masak tadi, karena ia ingin pembantunya itu berisrahat. Namun bukannya berisrahat, bibi malah mencari sesuatu yang bisa ia kerjakan yaitu menyiram bunga Dinda. Dinda sudah melarangnya tapi bibi memaksa untuk melakukannya. Katanya ia tidak suka berdiam diri seperti itu. Jadi terpaksa Dinda pun mengizinkannya.
Jam sudah menunjukkan pukul 09.00 malam. Dinda Daniel dan Melati pun sholat is'ya berjamah. Dinda meminta Daniel untuk jadi imam dirinya dan Melati. Awalnya Daniel menolak. Karena sejujurnya ia tidak pernah jadi imam sholat. Daniel tidak percaya diri melakukannya. Namun Dinda memaksanya, Dinda mengatakan dia harus belajar jadi imam untuk isri dan anaknya jika nanti Daniel menikah. Akhirnya Daniel pun mau mengimani Melati dan Dinda.
__ADS_1
Setelah sholat, Melati pamit pulang ke rumahnya. Dinda sudah memintanya untuk tidur di rumahnya. Namun Melati menolak, ia memaksa untuk pulang dan tidur di rumahnya. Dinda pun mengizinkannya dan meminta Daniel mengantar Melati pulang ke rumahnya. Daniel pun segera mengambil kunci mobilnya dan mengatakan Melati sampai ke depan rumahnya. Setelah itu ia balik ke rumahnya dan langsung menuju ruang kerja untuk memeriksa email yang di kirimkan sekretarisnya tadi.