
Arka menunggu Dinda yang katanya hanya mengambil air minum saja. Tapi sudah satu jam berlalu. Dinda tidak kunjung kembali. Iapun pergi menyusul Dinda. Ia melihat kamar Melati terbuka. Di lihatnya ada istrinya yang tengah menatap adik iparnya tertidur.
" Sayang." Panggil Arka.
Syuuuuuuut. Dinda menempelkan tangannya di bibir. Pertanda agar Arka tidak bersuara keras.
" Ada apa sayang?" Tanya Arka saat di tarik menjauh dari kasur Melati.
" Tadi aku lihat Melati kesakitan. Bayi di perutnya terus menendang tanpa sebab." Jawab Dinda.
" Mengapa bisa seperti itu?" Tanya Arka lagi.
" Aku tidak tau mas." Jawab Dinda.
" Mungkin si cabang bayi merasa ada yang sedang terjadi dengan ayahnya sayang. Makanya ia menendang terus." Ucap Arka.
" Ia mas. Aku juga merasa seperti itu. Kasian banget aku lihat Melati tadi kesakitan banget mas. Wajahnya pucat lemah." Ucap Dinda menatap Melati yang sudah terlelap tidur.
" Aku malam ini temani Melati tidur ya mas?" Tanya Dinda.
" Terus aku gimana sayang?" Tanya Arka balik.
" Ya mas tidur sama Arin dulu. Aku mau bawa Bima tidur sama aku. Karena Bima ngak bisa di tinggal sama kamu. Ia masih butuh Asi aku mas. Boleh ya?" Jawab Dinda memohon.
" Tapi sayang. Malam ini aku mau buka puasa setelah puasa seminggu penuh." Ucap Arka merengek.
" Ayolah mas. Hanya malam ini saja. Aku khawatir si cabang mengamuk nanti. Aku kasihan sama Melati mas kesakitan sendirian. Aku sebagai kakaknya Daniel akan menemaninya saat seperti itu mas." Ucap Dinda.
" Tapi sayang..."
" Aku janji besok malam kita begadang." Bujuk Dinda.
" Baiklah sayang. Hanya malam ini saja. Besok tidak boleh." Ucap Arka menyerah.
" Cuuuuupp makasih suamiku sayang." Ucap Dinda mengecup bibir Arka.
" Sayang kok cuma gitu. Lagi dong." Ucap Arka.
" Ngak. Nanti kamu keblabasan." Tolak Dinda.
" Ayo mas. Kita ke kamar. Aku ambil baby Bima. Arin juga kamu pindahkan ke kamar Melati ya mas." Ucap Dinda.
" Loh sayang kalau Arin juga ikut kamu, aku tidur sama siapa? Masa ia malam ini harus meluk guling lagi." Ucap Arka kesal.
" Heheheh iya mas. Terus gimana dong. Aku takut Arin bangun tengah malam ngak lihat aku. Kan dia taunya tidur sama kita mas. Aku ngak mau ia berpikir kita mindahin Arin saat ia tertidur." Jelas Dinda memeluk Arka.
Arka hanya diam saja sambil mengelus Dinda. Ia bersyukur menjadikan Dinda sebagai istri dan ibu sambungnya Arin. Dinda tidak pernah memberikan perbedaan kasih sayang antara Arin dan Bima. Ia melepas pelukannya dan mengecup kening Dinda dengan lama.
" Makasih ya sayang, kamu memperlakukan Arin dengan baik. Aku bersyukur menikah denganmu sayang." Ucap Arka.
" Kamu ngomong apaan sih mas. Sebelum aku ketemu kamu, aku sudah bertemu Arin lebih dulu. Aku sudah menyayangi dan mencintai Arin sebelum aku jatuh cinta sama kamu mas." Ucap Dinda.
" Iya aku tau kok sayang. Saat seperti ini, aku jadi ingin memakanmu sayang." Ucap Arka.
" Iiiihh mas lepas. Nanti besok mas. Udah cepat gendong Arin ke kamar Melati." Ucap Dinda.
" Baiklah sayang." Ucap Arka lemah.
Besoknya di rumah Rio. Daniel terbangun dari tidurnya. Ia matanya melihat kesana kemari.
" Ini dimana?" Gumamnya menggigil lemah.
Ingatannya melayang dengan apa yang terjadi semalam. Ia bersumpah membalas Laura setelah ini.
__ADS_1
" Dingin." Ucapnya.
Semalam, Rio dengan di bantu pak Ari memberikan es batu di bathup tempat Daniel berada. Daniel berusaha bangun walaupun lemah. Ia sudah tidak kuat menahan dingin.
Rio membuka pintu untuk mengecek keadaan Daniel.
" Udah bangun loh. Gw pikir ngak akan bangun bangun. Kasihan si Melati jadi janda lagi." Gurau Rio.
" Sialan loh nyumpahin gw mati. Tolong bawa dari sini Rio. Dingin banget sumpah." Ucap Daniel.
" Iya bentar. Aku ambil handuk dulu." Ucap Rio.
Ia membantu Daniel melepas semua barang bajunya. Kecuali ****** ***** milik Daniel. Lalu ia pakaikan handuk ke Daniel.
" Gede juga punya loh Niel. Pasti bini lo puas dengan servisnya loh." Canda Rio.
" Daniel." Ucap Rio membangunkan Daniel.
" Ehhh pingsan lagi." Gerutu Rio.
" Kurang ajar. Loh berat amat sih Nil. Makan apa sih lo. Atau keberatan dosa nih orang." Ucap Rio kesal memapah Daniel menuju tempat tidur.
Ia memakai Daniel selimut menutupi seluruh tubuhnya dan memeriksa Daniel. Rupanya kondisi tubuhnya sudah sangat lemah. Ia memasangkan infus di tangannya. Ia menyuntikkan cairan ke infusnya. Ia berharap agar Daniel segera pulih.
" Gimana den, temannya?" Tanya bibi.
" Udah baikan kok bi. Cuma masih tidur. Tapi udah aku pasangin infus juga. Semoga setelah ini ia cepat pulih." Jawab Rio.
" Ohh gitu ya den. Ohh iya ibu sama bapak sudah menunggu Aden di meja makan." Ucap bibi.
" Iya bi. Saya akan kesana." Ucap Rio.
" Pagi nenek kakek." Ucap Rio.
" Kata bibi kamu bawa teman kamu semalam. Gimana udah baikan orangnya?" Tanya nenek.
" Udah mendingan kok nenek. Cuma itu tadi pingsan lagi. Cuma udah aku infus juga." Jawab Rio memakan nasi gorengnya.
" Kurang ajar banget wanita yang melakukan itu pada temanmu itu. Mana istrinya lagi hamil juga kan?" Tanya nenek memastikan.
" Iya nek. Istrinya Daniel lagi hamil nek." Jawab Rio.
" Jadi itu Daniel sahabat Kamu?" Tanya nenek lagi.
" Iya nek."
Kakek hanya diam saja mendengar pembicaraan istri dan cucunya. Tapi bukan berarti ia tidak peduli dengan nasib Daniel sekarang.
Di hotel, pak Burhan dan Laura menunggu Daniel untuk berangkat ke proyek bersama.
" Daniel dimana ya? Kenapa belum datang juga?" Tanya pak Burhan.
" Aku tidak tau mas." Jawab Laura.
" Jadi Daniel beneran tidak pulang. Kurang ajar. Kemana dia menyalurkan hasratnya karena pengaruh obat. Itu adalah obat yang kuat. Kalau benar ia mencari jalang di tempat lain. Pasti mereka akan bekerja semalam penuh. Sial harusnya itu aku." Ucap Laura kesal dalam hati.
" Ya sudah kita duluan saja. Mungkin ia akan menyusul kita di sana." Ucap pak Burhan mengajak Laura pergi.
" Ia mas." Jawab Laura.
Di rumah, Melati masih saja menghubungi Daniel walaupun tidak ada jawaban.
" Mel, di makan dulu. Kasian si dedek kelaparan. Kakak yakin Daniel pasti baik baik saja. Mungkin hp sedang mati." Ucap Dinda.
__ADS_1
" Iya Mel, makan dulu. Kasian anak yang ada di dalam perut kamu kelaparan." Ucap Arka menambahi.
" Iya kak." Ucap Melati makan walaupun rasanya terasa hambar. Karena pikirannya tertuju pada Daniel yang hingga sekarang tidak bisa di hubungi.
" Semoga kamu baik baik saja mas." Ucap Melati dalam hati.
Setelah sarapan, Rio memeriksa Daniel. Panasnya Daniel sudah agak menurun. Matanya tidak sengaja melihat ponselnya Daniel yang rupanya mati. Ia pun menghidupkan. Ia melihat ada banyak sekali panggilan dari orang. Terlebih lagi istrinya Melati. Ia pun menelepon Melati untuk memberi kabar. Karena ia tau ibu hamil gelisah karena suaminya tidak ada kabarnya.
" Halo,mas kamu dimana. Kenapa hp kamu dari semalam mati." Tanya Melati beruntun.
" Halo Mel, aku bukan Daniel. Aku Rio sahabatnya. Masih ingat kan?" Tanya Rio.
" Iya aku ingat. Kenapa hp mas Daniel ada Sama kamu. Mas Daniel dimana Rio?" Tanya Melati.
" Daniel ada sama aku. Masih tidur." Jawab Rio.
" Apa terjadi sesuatu Rio?" Tanya Melati.
" Emmmm gimana ya jawabnya." Jawab Rio bingung.
" Rio jawab aku. Apa terjadi sesuatu?" Desak Melati.
" Iya." Jawab Rio.
" Apa yang terjadi Rio?" Tanya Melati.
" Tapi kamu janji dulu ngak akan kaget. Karena itu akan berpengaruh pada kehamilan kamu Mel." Jawab Rio.
" Iya aku janji. Cepat kasih tau apa yang terjadi Rio?" Balas Melati.
" Ngak kamu tarik nafas yang panjang terus lepas pelan pelan." Ucap Rio.
" Baik."
Melati melakukan apa yang di katakan oleh Rio.
" Sudah Rio. Sekarang kasih tau aku apa yang terjadi dengan mas Daniel." Ucap Rio.
" Daniel di beri obat perangsang oleh wanita yang bernama Laura. Untungnya saat ia mulai merasakan efeknya, ia segera menghubungi aku. Aku membawanya ke rumah. Dan sekarang ini ia masih tidur. Mungkin pengaruh obat yang aku berikan juga." Ujar Daniel.
" Ya Allah mas Daniel." Ucap Melati menangis.
" Melati apa yang terjadi?" Tanya Dinda panik melihat Melati yang sudah menangis.
" Mas Daniel kak. Ia hampir saja di jebak oleh wanita yang dulu pernah merusak rumah tangga aku kak." Jawab Melati.
" Kurang ajar. Dasar wanita murahan." Ucap Dinda geram memeluk Melati.
" Halo, apa masih ada orang di sana?" Tanya Rio dari seberang telepon.
" Iya masih ada. Terus gimana keadaan Daniel Rio?" Tanya Dinda.
" Daniel sekarang udah baik baik aja kok kak. Ngak ada yang perlu di khawatirkan. Kak Dinda tenangin si bumil dulu. Kasian kalau kelamaan nangis. Itu tidak baik untuk kandungannya." Jawab Rio.
" Baik Rio. Kakak tutup dulu ya." Ucap Dinda.
" Iya kak." Jawab Rio.
" Cepat bangun Niel. Kasian bini lo di rumah." Guman Rio menatap Daniel.
Sementara di rumah Dinda menenangkan Melati yang masih menangis. Setelah Melati agak tenang. Ia membawa ke kamarnya untuk beristirahat.
Lalu ia pergi mengambil handphone untuk menghubungi seseorang.
__ADS_1