
Usai berbincang, mereka melanjutkannya dengan acara sesi foto keluarga. Semua orang nampak bahagia dengan pernikahan Dinda dan Arka.
Acara pernikahan pun selesai. Kini Dinda dan Arka sedang berada di dalam kamar. Arka menatap Dinda yang sedang di bantu oleh perias untuk melepas hiasan yang ada di kepalanya.
Setelah membantu Dinda, para perias itu segera perg dari sana. Arka menutup pintu setelah mereka keluar. Kemudian ia berjalan mendekat ke arah Dinda. Ia mengangkat dagu Dinda dengan perlahan, lalu di tatapnya wajah gadis yang sudah resmi menjadi istrinya.
" Sayang terimakasih, kamu mau menerimaku sebagai suamimu." Ucap Arka pada Dinda.
" Iya mas. Tapi yang harusnya bilang terima kasih itu adalah aku. Karena kamu mau menungguku untuk kau jadikan istrimu." Ucap Dinda menatap Arka penuh cinta.
Keduanya saling menatap dengan tatapan penuh cinta. Arka mengunci tatapan Dinda agar tertuju padanya. Dinda pun menatap penuh ke arah Arka. Arka memegang dagu Dinda dan mendekat ke bibir Dinda. Dinda pun menutup matanya saat bibir Arka menyentuh bibirnya. Arka ******* pelan bibir Dinda. Dinda yang awalnya diam, perlahan mulai membalas ciuman Arka. Keduanya terhanyut dalam dunia mereka sendiri. Sampai pada akhirnya suara ketukan pintu mengangagetkan kedua insan itu.
Bukannya mengakhiri ciumannya, Arka malah semakin memperdalam ciumannya. Dinda pun memukul mukul dadanya agar segera mengakhiri aktivitas mereka.
" Sayang, kenapa mukul aku sih?" Tanya Arka.
" Mas, itu ada yang mengetuk pintu. Cepat bukain dulu." Jawab Dinda.
" Ohh biarin aja." Ucap Arka yang ingin melanjutkan kegiatan yang terhenti tadi.
" Mas. Apa sih kamu. Cepat bukain pintunya. Dari tadi pintunya di ketuk seseorang. Ayo cepat kamu bukain dulu." Ujar Dinda melotot ke arah Arka.
" Iya iya sayang. Jangan marah dong. Ntar cantiknya ilang." Ucap Arka mengecup bibir Dinda sebelum berjalan ke arah pintu.
" Ngapain aja sih? Lama banget bukain pintunya. Mama hampir karatan nungguin kamu bukain pintunya." Ucap Mira kesal begitu Arka membuka pintunya.
" Ehhhh ibu." Ucap Arka menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
" Mana Dinda?" Tanya Mira.
" Iya bu." Sahut Dinda yang sudah ada di belakang Arka.
" Sayang cepat kalian siap siap ya. Lalu kita makan siang bersama di bawah. Setelah ini kita berangkat ke hotel untuk mempersiapkan resepsi kalian nanti malam." Ucap Mira pada Dinda.
" Iya bu. Dinda bersih bersih dulu." Jawab Dinda.
" Iya sayang. Dan kamu Arka, jangan kamu gangguin istri kamu dulu. Tunda sampai nanti malam, bisa kan? Kamu mau dia kelelahan dan ngak bisa menemani kamu duduk di pelaminan nanti malam." Ucap Mira.
" Iya bu. Arka ngerti. Dah ibu. Arka mau bersih bersih." Ucap Arka menutup pintu sebelum Mira membalas ucapannya.
Brakkkk
" Dasar anak kurang ajar." Ucap Mira mengelus dadanya karena sikap Arka tadi.
__ADS_1
Arka menyusul Dinda yang sudah duluan ke kamar mandi. Tapi ia membuka pintu, pintu tidak bisa di bukanya. Dinda telah menguncinya lebih dari dalam. Karena ia tau, Arka pasti akan masuk ke dalam bersamanya. Dan pun tau jika acaranya mandinya akan lebih lama jika di lakukan dengan Arka.
Lima belas menit kemudian Dinda telah keluar dari kamar mandi lengkap dengan baju di badannya. Ia melirik ke arah Arka. Terlihat wajah Arka yang terlihat menahan kesal.
" Kenapa kau mengunci pintunya?" Tanya Arka.
" Karena aku tau kau pasti akan ikut ke masuk ke dalam." Jawab Dinda.
" Ya tentunya aku akan ikut. Kita kan sudah jadi suami istri sudah sewajarnya kita mandi bersama bukan." Ujar Arka.
" Ya aku tau. Tapi jika kau ikut mandi denganku. Yang ada bukannya mandi, malah menjadi acara lain di kamar mandi." Ucap Dinda.
" Baiklah. Kali kau lolos. Tapi tunggulah nanti malam, aku tidak akan melepaskanmu, sayang." Ucap Arka dengan nada sensual di telinga Dinda. Lalu iaa pun masuk ke dalam kamar mandi.
Tubuh Dinda merinding usai mendengar ucapan Arka dengan terdengar sensual di telinganya.
Sekarang Arka dan Dinda sudah berada di meja makan bersama dengan keluarga yang lainnya.
" Lama banget nungguin kalian muncul di sini. Aku hampir mati kelaparan karena kalian." Ucap Daniel ketus.
" Namanya pengantin baru. Jadi ya gitu deh." Balas Arka cuek.
" Dasar kakak ipar laknat." Ucap Daniel kesal.
Dinda hanya tersenyum saja mendengar ucapan Arka dan Daniel barusan. Makan malam pun di mulai. Dinda dengan telaten menyajikan makan di piring Arka. Begitu pula dengan Melati. Walaupun ia dan Daniel belum menikah, ia tetap mengambilkan nasi dan lauk untuk Daniel.
" Makasih istriku sayang." Ucap Arka. Dinda hanya menjawab dengan tersenyum.
" Bu, dimana Arin?" Tanya Arka di sela makannya.
" Arin sudah tidur di kamar. Dia juga sudah makan duluan. Kalau nungguin kalian pasti anak kamu mati kelaparan." Jawab Mira.
" Maaf Dinda sayang. Ibu ngak maksud ngomong kayak gitu. Ucapkan ibu tadi untuk Arka. Karena ibu tau bagaimana wataknya dia ini." Tambah Mira.
" Iya bu. Dinda ngerti kok." Ucap Dinda.
Makan siang pun berakhir. Kini mereka semua akan bersiap untuk berangkat ke hotel, tempat yang akan di langsungkannya acara perayaan pernikahan Arka dan Dinda. Dinda dan Arka pergi mengecek Arin di kamar. Gadis mungil yang sudah resmi menjadi anak sambungnya itu terlihat pulas tertidur.
" Mas, kamu gendongnya pelan pelan ya. Takutnya Arinnya terbangun. Karena ia baru saja tertidur." Bisik Dinda saat Arka akan menggendong putrinya.
" Iya sayang. Mas tau kok." Jawab Arka.
" Ayo. Yang lain sudah menunggu kita." ajak Arka padanya sambil menggendong Arin.
__ADS_1
" Semuanya sudah siap kan?" Tanya Daniel.
" Sudah." Jawab mereka.
" Ayo kita berangkat sekarang juga. Kak Dinda dan Arin satu mobil sama ka Arka. Melati dan tante Mira semobil sama aku." Ucap Daniel.
Mereka hanya menganguk saja mendengar ucapan Daniel tadi. Mereka pun berangkat menuju hotel dengan mobil masing-masing.
Sesampainya di hotel, mereka memasuki kamar masing-masing yang sudah di sediakan oleh Arka dan Daniel. Perayaan pernikahan Arka dan Dinda akan di lakukan di hotel baru yang di kelola bersama oleh Arka dan Daniel beberapa waktu lalu.
Arin di tempatkan di kamar Mira. Karena jika di kamar Arka dan Dinda, tentu tidurnya akan terganggu. Karena di sana sudah menunggu para perias yang akan merias Dinda untuk acara nanti malam. Sebelum di rias, Dinda meminta meminta waktu sedikit untuk melakukan sholat ashar. Ia sholat dengan Arka sebagai imamnya. Usia sholat, Dinda di berikan pijatan untuk merilekskan tubuhnya agar fresh saat bersanding di pelaminan bersama dengan Arka.
.
.
.
Para perias pun mulai melakukan lukisan di wajah Dinda. Sekitar hampir satu jam mereka melakukan berbagai lukisan di wajah cantiknya.
Setelah itu mereka membantu Dinda untuk memakai gaun di tubuhnya. Gaun cantik bertema zen, yaitu biru, sangat indah berada di tubuh rampingnya Dinda. Warna zen yang tenang dan damai akan digandrungi seiring dengan tren pernikahan simpel dan intimate yang juga banyak disukai wanita generasi milenial.
Arka juga telah selesai memakai tuksedo berwarna biru senada dengan gaun yang di pakai Dinda.
Melihat Dinda yang telah selesai di rias, Arka pun melangkah mendekati wanita yang beberapa waktu lalu telah sah menjadi miliknya. Ia begitu terpesona melihat wajah cantik istrinya itu.
" Cantik. Kamu sangat cantik sayang." Kata yang lolos dari bibir Arka. Dinda tersipu mendengar perkataan Arka.
" Arka Dinda sekarang sudah waktunya untuk kalian duduk di pelaminan." Seru Mira.
" Iya bu. Ayo sayang." Ucap Arka memberikan tangannya untuk Dinda.
Keduanya pun berjalan menuju singasana milik keduanya. Semua orang di sana tersenyum bahagia melihat keduanya.
Melati yang di temani Daniel juga tersenyum bahagia melihat Arka dan Dinda.
" Lihatlah, kak Dinda terlihat sangat bahagia bersama suaminya." Ucap Melati tanpa menoleh pada Daniel.
" Iya sayang, kau benar. Kakak sungguh sangat bahagia. Setelah ini giliran kita yang akan duduk di kursi seperti itu." Ucap Daniel.
Melati pun menoleh ke arah Daniel" Dan aku tidak sabar menantikan hari itu." Ucapnya tersenyum pada Daniel.
" Dan aku adalah pria yang paling bahagia bersanding denganmu kelak di pelaminan." Ucap Daniel mengeratkan pegangan tangannya pada Melati. Melati tersenyum bahagia mendengar penuturan Daniel barusan.
__ADS_1
" Tuan Daniel.." Sahut seseorang dari belakang mereka.