Terpaksa Bercerai Muda

Terpaksa Bercerai Muda
Episode 55


__ADS_3

Pesta pernikahan Arka dan Dinda telah usai. Kini keduanya telah berada di kamar pengantin yang telah di buat seindah mungkin oleh Arka dengan bantuan petugas hotel.


" Mas, kamu yang buat ini?" Tanya Dinda menunjuk area tempat tidur yang terlihat sangat kesan romantisnya. Lampu hias dengan di padukan mawar merah yang tercium sangat wangi di hidung.


" Iya sayang." Jawab Arka memeluk Dinda dari belakang.


" Tapi kapan?"Tanya Dinda lagi.


" Tadi saat kita berada di pelaminan." Jawab Arka.


Dinda berbalik melihat Arka dengan wajah kebingungan.


" Tadi kan kamu ada di sana tanpa kemana-mana. Lalu bagaimana bisa melakukan ini smua?" Tanya Dinda lagi.


" Sayang,, aku melakukannya dengan di bantu tangan pengurus hotel di sini." Jawab Arka.


" Ohh bilang dari tadi, agar aku tidak kebingungan seperti itu." Ucap Dinda .


" Sayang?" Ucap Arka pelan.


" Apa" Jawab Dinda.


" apa kamu sudah siap untuk melakukannya?" Tanya Arka.


Dinda tidak menjawabnya. Hanya mengangukkan kepadanya sebagai jawabannya. Arka pun tersenyum lalu menggendong Dinda menuju tempat tidur mereka. Dan terjadilah hal yang biasa di lakukan oleh pengantin baru pada umumnya. Arka membuat Dinda merasakan indahnya surga dunia yang sesungguhnya.


.


.


.


.


Sebulan sudah Arka dan Dinda menjalani pernikahan mereka seperti pasangan suami istri pada umumnya. Keluarga kecil itu tampak bahagia. Apalagi setelah Dinda di nyatakan hamil,menambah kebagian di hidup mereka. Si kecil Arin sangat antusias, saat orang tuanya mengatakan ia akan mempunyai seorang adik. Ia sudah tidak sabar di panggil kakak oleh adiknya itu. Dan tentu ia tidak akan sendiri lagi. Akan ada seorang teman, yaitu adiknya yang akan menemaninya bermain.

__ADS_1


Sementara itu, Daniel dan Melati nampak sibuk mempersiapkan hari pernikahan keduanya. Saat ini tahap persiapan yang mereka lakukan sudah mencapai delapan puluh persen. Mereka tinggal menyebarkan undangan, melakukan fitting baju pengantin ulang agar sesuai dengan proporsi tubuh mereka menjelang hari bahagia mereka. Melati dan Daniel mempersiapkan dirinya dengan baik dan juga mental mereka agar benar siap menghadapi hari pernikahan mereka.


" Sayang kamu lagi ngapain?" Tanya Daniel di seberang telepon.


" Aku lagi perawatan di salon mas. Kenapa?" Jawab Melati.


" Tidak. Aku hanya kangen kamu saja." Ucap Daniel.


" Tinggal seminggu lagi sayang. Tunggu sebentar lagi." Ucap Melati.


" Iya aku tau. Tapi seminggu seperti menunggu setahun tau. Kamu ngak kangen aku sayang?" Ucap Daniel.


" Haha kamu lucu banget sih sayang. Ya tentunya aku kangen dong. Masa iya ngak kangen sih." Jawab Melati.


" Ya sudah, kamu lanjutkan perawatannya. Agar kamu semakin mempesona saat pernikahan kita nanti. Aku akan melanjutkan pekerjaanku. Karena menjelang pernikahan kita nanti, aku akan cuti dan bisa tenang meninggalkan perusahaan nantinya." Ucap Daniel.


" Iya sayang. Jangan terlalu capek bekerjanya. Kau juga harus menjaga kesehatanmu. Agar pernikahan kita nanti kau tidak akan sakit. Apa kau mau saat ijab kabul mempelai prianya di ganti oleh orang lain. Karena kau sedang sakit." Goda Melati.


" Tidak bisa. Aku tidak bisa di gantikan oleh orang lain saat ijab kabul nanti. Kau hanya bisa menikah denganku. Karena kau hanya milikku. Hanya aku yang bisa memiliki dirimu. Titik." Ucap Daniel tegas.


" Ya ya, I know. Jadi Ku harap kau jangan terlalu lelah bekerja. Kau harus bisa menjaga kesehatanmu. Agar kau bisa menikahi ku nanti." Ucap Melati.


Melati tersenyum mendengar ucapan Daniel.


" Baiklah kalau begitu semangat kerjanya rajaku. Ratumu ini akan mempercantik diri agar pantas bersanding dengan dirimu di singgasana rumah tangga kita nantinya."Ucap Melati menyemangati Daniel.


" Baiklah sayang. Aku akan matikan telponnya. Silakan bersenang senang." Ucap Daniel.


" Iya. Bye. Love you." Ucap Melati segera mematikan telponnya sebelum mendengar ucapan balasan dari Daniel.


" By ju... " Ucap Daniel terhenti.


" Kucing manisku. Beraninya mematikan telponnya sebelum aku membalas pengakuan cintaku." Ucap Daniel tersenyum melihat ponselnya yang terpasang fotonya dan Melati.


" Aku sudah tidak sabar menjadi suamimu nanti. Aaaa kenapa lama sekali menunggu satu minggu itu. Aa ya sudah lebih aku lanjutkan pekerjaan ini agar aku bisa menghilangkan sedikit rasa rinduku padamu sayang. Aku sangat merindukanmu. Cuuupp." Ucap Daniel mengecup foto Melati di layar ponselnya.

__ADS_1


Di sisi lain, Melati merasa sangat malu usai mengatakan cinta pada Daniel. Wajahnya sudah merona. Apalagi di ruangan itu bukan hanya dia sendiri. Ada pegawai salon di sana yang sedang melakukan tritmen padanya.


" Dasar calon pengantin bucin." Batin pegawai itu tersenyum.


.


.


.


Di tempat lain sepasang suami istri yang tak lain Aditya dan Natasya sedang makan siang bersama di sebuah restoran. Usai melakukan rapat bersama petinggi perusahaan, Aditya mengajak Natasya makan siang bersama.


" Makanan di sisi enak ya mas." Ucap Natasya menyelesaikan makanan siang.


" Iya. Makanan di sini memang sangat enak." Ucap Aditya.


" Kamu sering makan di sini mas?" Tanya Natasya.


" Iya. Ini restoran favorit mami dan papi." Jawab Aditya.


" Juga restoran favorit aku dan Melati dulu." lanjutnya membatin.


" Mas, udah selesaikan. Aku pulang dulu ya." Ucap Natasya.


"Iya. Kamu hati hati di jalan." Ucap Aditya.


" Iya mas." Ucap Natasya.


" Ohh iya kamu akan di antar pulang sama Kevin." Ucap Aditya.


" Ngak usah mas. Karena aku dari sini ngak langsung pulang rumah. Aku akan mengunjungi temen aku dulu." Tolak Natasya.


" Ya udah kalau gitu. Aku bantuin kamu untuk cari taksinya." Ucap Aditya.


" Iya mas. Makasih." Ujar Natasya.

__ADS_1


" Hemm." dehem Aditya.


Aditya membantu Natasya mencari taksi. Setelah Natasya mendapatkan taksi dan memastiskannya naik ke dalam taksi. Aditya segera meluncur menuju ke perusahaannya.


__ADS_2