Terpaksa Bercerai Muda

Terpaksa Bercerai Muda
Episode 103


__ADS_3

Pagi harinya Melati sudah di sibukkan dengan mengurus si kecil baby Arsen. Daniel yang paham pun ia mengambil sendiri pakaiannya dari lemari. Tetapi jas, ia mau cuma Melati istrinya yang memasangkannya. Sejak Melati yang memasang das untuknya, Daniel sudah tidak tau lagi cara memakai das.


" Sayang, pasangin das aku dong." Teriak Daniel pada Melati di balkon bersama dengan si kecil Arsen.


" Ia sebentar mas. Tunggu ya nak. Papi kamu panggil mami sebentar." Ucap Melati.


" Loh, mas sudah di sini. Padahal baru saja mau aku samperin." Ucap Melati melihat Daniel sudah berdiri di sampingnya.


" Iya sayang. Supaya kamu ngak bolak balik." Ucap Daniel mencium baby Arsen di dalam troler.


" Anak papi ganteng banget sih kayak papinya. Uhh gemes deh." Ucap Daniel.


" Sini mas, aku pasangin das kamu." Ucap Melati.


" Kamu ngak bisa pasang das sendiri ya mas?" Tanya Melati.


" Sejak kamu yang masangin. Udah lupa aku tuh. Lagian itu tugas kamu sayay. Iya kan anak papi yang ganteng tiada duanya." Jawab Daniel.


" Udah mas. Yuk kita keluar, sebelum mama ketuk pintu seperti biasa." Ucap Melati.


" Iya sayang. Baby nya biar papi yang gendong ya nak." Ucap Daniel mengambil baby Arsen dari dalam troller.


Keluarga kecil itu berjalan menuju meja makan untuk sarapan pagi.


" Selamat pagi ma." Ucap Melati.


" Pagi juga sayang. Cucu gantengnya oma, sini oma gendong ya." Balas nyonya Sarah mengambil baby Arsen dari gendongan Daniel.

__ADS_1


" Hmm wangi banget sih kamu sayang. Udah di mandiin sama mami kamu ya nak." Ucap nyonya Sarah.


" Iya ma. Melati mandiin tadi, di bantuin mas Daniel juga." Ucap Melati mengambilkan sarapan untuk Daniel.


" Lagi mas?" Tanya Melati.


" Udah cukup sayang." Jawab Daniel.


" Ma, baby Arsen biar Melati aja yang gendong. Biar mama makan aja dulu." Ucap Melati.


" Ngak usah. Kamu aja dulu yang makan. Mama masih mau gendong cucu mama ini. Uhh gantengnya. Apa sayang, maunya di gendong Oma ya." Ucap nyonya Sarah bermain dengan baby Arsen.


" Ya udah Melati makan duluan ya. Tapi papa mana ma. Kok ngak keliatan?" Tanya Melati.


" Iya ma, papa mana. Kok ngak ikut sarapan bareng kita. Papa lagi sakit ya ma?" Tanya Daniel.


" Ohhh." Ujar keduanya.


Melati dan Daniel makan dengan tenang sambil melihat baby Arsen yang Anteng di pelukan omanya.


" Cucu oma ganteng ya. Apa nak, kenapa liatin Oma kayak gitu. Ini Oma nak. Oma cantik ya. Hehehe. Gemes banget sih kamu. Pengen oma gigit kalau ngak nangis." Ucap nyonya Sarah bermain dengan baby Arsen.


Daniel dan Melati sudah selesai sarapan. Setelah mencium si kecil Arsen dan pamit pada nyonya Sarah, dengan di temani Melati Daniel berjalan ke depan pintu untuk berangkat ke kantor.


" Sayang, mas berangkat dulu." Ucap Daniel mengecup kening Melati.


" Iya mas. Kamu semangat kerjanya ya." Ucap Melati.

__ADS_1


" Iya sayang pasti mas semangat kok. Kalau kamu kerepotan ngurusin anak kita, kamu telepon mas aja. Mas pasti pulang untuk bantuin kamu ngurus anak kita." Ucap Daniel mencubit gemas pipi Melati yang masih terlihat cabi.


" Iya mas. Tapi aku ngak akan repot kok. Kalau pun aku repot, kan ada mama sama bi Ani yang bantuin aku juga. Jadi kamu tenang aja mas. Mas bisa kerja dengan tenang di kantor. Cari uang yang banyak buat beli popok baby Arsen ya mas." Ucap Melati menggoda.


" Uuh mas gemes liat kamu. Pasti kok sayang. Mas cari uang banyak untuk kamu dan anak kita nanti." Ucap Daniel.


" Ya udah berangkat gih sana. Nanti telat lo." Ucap Melati.


" Telat pun ngak papa. Orang mas bosnya juga. Ngak akan ada yang berani mecat ataupun negur mas di kantor sayang." Ucap Daniel.


" Dasar sombong." Cibir Melati.


" Bukan sombong sayang. Tapi fakta. Ya udah mas berangkat dulu ya sayang." Ucap Daniel.


" Iya mas. Kamu hati hati ya di jalan. Jangan lupa makan siang, jangan cuma kerja terus. Ehh nanti kalau pak Iwan ngak sibuk, aku minta pak Iwan untuk mengantar makan siang untuk kamu ya mas." Ucap Melati mencium tangan Daniel seperti biasa.


" Iya sayang. Kamu baik- baik di rumah ya sayang." Ucap Daniel.


" Iya mas."


" Andai kamu ngak lagi palang merah, mas pengen makan kamu sayang." Bisik Daniel mengecup bibir Melati sebelum masuk mobil


" Mas Daniel." Teriaknya.


" Hahaha. Daaah sayang, mas kerja dulu ya cari uang yang banyak untuk kamu dan anak kita. I love u more istriku sayang." Teriaknya dari dalam mobil.


" Astaga mas." Ucap Melati malu dengan tingkah Daniel. Apalagi pak Iwan berdiri tidak jauh dari mereka. Jadi pak Iwan mendengar dan melihat dengan jelas kelakuan absurd suaminya.

__ADS_1


__ADS_2