Terpaksa Bercerai Muda

Terpaksa Bercerai Muda
Episode 50


__ADS_3

Segala persiapan pernikahan telah Arka dan Dinda selesaikan. Kini keduanya tinggal menunggu hari pernikahan saja. Pernikahan keduanya akan dilaksanakan esok hari di kediaman Dinda, atas permintaan Daniel sendiri. Ia ingin rumahnya menjadi saksi dari pernikahan kakaknya kelak. Rumah mereka sudah di hias sedemikian indah. Dengan bunga bunga berwarna putih menghiasi rumah mereka. Sebelumnya Dinda ingin menikah dengan tema outdoor, tapi karena cuaca yang sedang musim hujan. Akhirnya mereka membatalkanya, padahal ia sudah mendapatkan tempat untuk itu. Pihak dari lokasi yang di sewa Dinda tidak mengembalikan uang dari dp sewanya. Dinda maupun Arka pun tidak mempermasalahkan itu semua.


" Mel, akhirnya kamu sampai juga." Ujar Dinda menyambut Melati.


" Iya kak. Maafin aku juga kelamaan di cafe. Cafe makin ramai di kunjungi sama pengunjung yang ingin mengisi perut mereka di sana." Jelas Melati.


" Iya ngak papa. Yang penting kamu bisa kesini, kakak udah senang banget." Ucap Dinda.


Melati hanya tersenyum saja mendengar ucapan Dinda.


" Aku sampai bosan tau, sendiri di rumah segede ini. Ngak bisa kemana mana. Ngak bisa ngapain ngapain juga. Arka dan calon suami kamu melarang kakak melakukan itu semua." Keluh Dinda pada Melati.


" Yaaah, namanya calon pengantin ya harus gitu. Kak, gimana kalau kita perawatan ajah. Badan aku pegal semua minta di pijit. Udah lama juga ngak ngerasain di SPA." Ucap Melati.


" Kamu ajah Melati. Kakak udah bosan perawatan terus. Hampir hari hari orang dari salon suruhannya tante Mira datang kemari. Supaya aku melakukan perawatan di rumah ajah tidak di luar rumah." Ucap Dinda.


" Wah asik dong kak. Itu artinya calon mertuanya kakak sayang dan peduli sama kakak. Terus mereka udah dateng ngak hari ini. Kalau kakak ngak mau, biar aku gantiin aja." Ucap Melati mengedipkan matanya pada Dinda.


" Boro-boro aku nolak. Tante Mira selalu minta foto sebagai bukti kalau aku melakukan perawatan tubuh. Setidaknya walau cuman facial." Ujar Dinda.


" Tapi kamu tenang ajah. Kamu juga bisa perawatan bareng aku kok Mel. Supaya aku ada temannya. Orang salon itu kayak lagi gigi. Kalau aku ngak ajak ngomong . Ngak akan bisa ngomong. Kayak orang gagu tau." Tambah Dinda.


" Maaf non, itu ada orang dari salon udah dateng." Ucap pembantunya menghampiri mereka.


" Nah, orang yang kita omongin udah dateng. Suruh masuk aja bi. Saya sama Melati tunggu di sini saja." Ucap Dinda.


" Iya non, akan bibi sampaikan." Ucap pembantunya.


" Bibi, seperti biasa buatkan mereka minum dan cemilan juga." Ucap Dinda.


" Baik non akan bibi siapkan." Jawabnya.


Tidak lama kemudian orang salon yang mereka tunggu menghampiri keduanya.


" Selamat siang nona Dinda." Ucap salah satu dari mereka.


" Iya siang juga mba." Jawab Dinda sopan.


" Bisa kita mulai perawatannya? Tanya seseorang.


" Bisa. Tapi apa boleh adik ipar saya juga ikut perawatan bersama saya juga?" Jawab Dinda melirik ke arah Melati


" Bisa nona." Jawabnya.


" Kalau begitu ayo kita ke kamar saya." Ucap Dinda menarik tangan Melati diikuti oleh mereka di belakangnya.


Dua jam sudah Dinda dan Melati melakukan perawatan bersama.


" Aaaa segarnya. Badan aku jadi fresh kak. Ngak kaku kayak tadi. Makasih ya kak. Oh iya jangan lupa bilang ucapan terima kasih aku sama calon mertuanya kak Dinda." Ucap Melati.


" Iya nanti akan aku sampaikan." Balas Dinda.


Seperti biasa, selesai melakukan tugasnya, salah satu atau bisa dibilang pemimpinnya atau juga orang yang bertanggung jawab memotret Dinda dan Melati untuk di kirimkan pada Mira calon mertuanya Dinda.


" Bagus. Gaji kalian akan di transfer sekarang juga. Silakan kamu kirimkan nomor rekening kalian." Ucap Mira lewat pesan.


" Baik bu." Jawabnya.


Setelah membalas pesan dari Mira, ia menyimpan kembali ponselnya.


" Nona Dinda, tugas kami sudah selesai. Sekarang kami akan pamit pulang dulu." Ucapnya sopan.

__ADS_1


" Iya silahkan. Tapi kalian minum dulu minuman yang di hidangankan bibi tadi." Jawab Dinda.


" Sudah nona." Jawabnya.


" Kalau begitu kalian hati hati pulangnya." Ucap Dinda.


" Iya bu. Kami permisi dulu." Ucap mereka kompak.


" Melati, kamu nginep sini aja ya malam ini." Pinta Dinda pada Melati.


" Iya kak. Tapi baju aku gimana kak?" Jawab Melati.


" Kamu akan memakai baju yang sama dengan Daniel, sebagai tanda perwakilan keluarga dari kami. Gimana, kamu ngak papakan kan pakai baju seperti itu?" Jawab Dinda.


" Ngak papa kok kak." Ucap Melati.


" Kak, aku mau sholat ashar dulu. Boleh pinjam mukenahnya?" Ucap Melati.


" Bisa dong. Kita sholat bareng. Aku juga belum sholat Ashar tadi." Jawab Dinda.


Keduanya melakukan sholat berjama'ah bersama. Sesaat kemudian, Melati sudah berganti baju dengan memakai bajunya Dinda.


" Cakep banget sih calon iparnya aku." Puji Dinda pada Melati.


" Aaaa kakak, yang cantik bajunya kok." Ucap Melati tersipu mendengar pujian Dinda.


" Kok baju sih. Orang kamunya emang cantik." Ucap Dinda.


Melati hanya bisa tersenyum saja mendengar ucapan Dinda.


Pukul lima sore, mobil Daniel memasuki pekarangan rumah mereka. Ia pun dan memasuki rumahnya.


" Ehh Daniel, kamu udah pulang?" Tanya Dinda.


" Iya kak." Jawab Daniel.


Melati hanya tersenyum saja melihat Daniel tersenyum padanya.


" Kamu ngak kangen sama aku yank?" Tanya Daniel mendekat ke arah Melati.


" Ngak tuh." Jawab Melati datar menggoda Daniel.


" Ngak papa kamu ngak kangen sama aku. Asal cintamu padaku tidak berkurang." Ujar Daniel.


" Ngak tau tuh." Jawab Melati semakin menggoda Daniel.


" Yank, kamu kok gitu sih sama aku. Emang kamu udah cinta lagi sama aku." Ujar Daniel lesu melihat Melati biasa saja menanggapinya.


Ia melihat Melati hanya sibuk memainkan ponselnya. Merasa di abaikan, ia pun memutuskan untuk pergi ke kamar saja.


Melihat Daniel meninggalkannya dengan wajah yang terlihat lesu, ia pun tertawa pelan melihat Daniel seperti itu. Ia pun memutuskan menyusul Daniel ke kamarnya.


Melati mengintip kamar Daniel, tidak terlihat di sana. Ia mendengar suara percikan air dari dalam kamar mandi. Ternyata Daniel sedang mandi. Melati pun masuk ke dalam kamarnya, Daniel. Ia membuka lemari dan mengambil baju untuk di pakai oleh Daniel. Hal itu sudah biasa ia lakukan saat berada di rumah Daniel.


Kleeeekk


Pintu kamar mandi terbuka. Daniel keluar dengan handuk melilit di tubuhnya. Ia melihat bajunya terletak di atas. Senyum pun mengembang di wajahnya. Ia pun memakai baju tersebut.


Lalu ia menghampiri Melati yang sedang berdiri di balkon dan memeluknya dari belakang.


" Apa yang sedang kau lakukan di sini?" Tanya Daniel memeluknya.

__ADS_1


" Tidak ada." Jawab Melati cuek.


Mendengar ucapan Melati, Daniel membalikkan tubuh Melati menghadap ke arahnya. Ia menatap Melati begitu dalam. Melihat tatapan Daniel, Melati menjadi gugup.


Cuuppp


Daniel mengecup bibir Melati. Pipi Melati merona dengan apa yang dilakukan Daniel tadi.


" Kau ingin mengerjaiku dengan berpura-pura cuek padaku. Hmmm." Ucap Daniel menatap Melati.


" Tidak. Kata siapa?" Ucap Melati cepat.


" Ohh jadi kau tidak ingin mengaku. Lihat apa yang akan aku lakukan padamu." Ucap Daniel menatapnya dengan licik.


Dan akhirnya..


" Hahaha hahha,, Daniel stop." Ucap Melati mencegah tangan Daniel agar berhenti menggelitiknya. Namun bukannya berhenti. Daniel semakin menggelitiknya.


" Daniel hahahhahaha stop. Aku mohon aaa hahahaha. Stop Daniel. Aku udah ngak kuat lagi." Ucap Melati memohon dengan di iringi suara tertawa.


" Dengan satu syarat. Apa kamu akan mengabulkannya." Ucap Daniel.


" Iya akan aku kabulkan." Ucap Melati.


Daniel pun berhenti menggelitik Melati.


" Apa syaratnya?" Tanya Melati.


" Cium aku sekarang juga." Jawab Daniel tersenyum.


" Tidak aku tidak mau. Untung banget kamu." Ucap Melati menolak.


" Oh jadi tidak mau." Ucap Daniel menggelitik Melati kembali.


" Hahahahha Daniel iya akan aku lakukan." Ucap Melati. Daniel pun berhenti menggelitik Melati.


Cuuupp


Melati mengecup bibir Daniel saja. Ia tidak mau melakukan yang lebih lagi. Namun, saat ia akan menjauhkan kepalanya, Daniel menahan kepalanya dan ******* bibir Melati lebih lama lagi.


" Ihhhhhh kok kamu curang sih." Ucap Melati kesal.


" Yang ada kamu tuh yang curang. Aku kan maunya cium. Tapi kamu hanya mengecupnya saja. Jadi aku hanya melakukan apa yang harusnya kita lakukan." Ujar Daniel tanpa dosa.


" Udah, ngak usah marah." Sambung Daniel mencubit gemas pipi imut Melati.


Malam hari pun tiba, Melati dan Dinda sudah berada di kamarnya Dinda. Dan Daniel ia berada di ruang tamu, menemani pihak WO melihat dekorasi pernikahan jika ada yang rusak. Daniel ingin pernikahan kakaknya terlihat sempurna. Maka dari itu ia ingin memastikan semuanya sesuai dengan dengan keinginan kakaknya.


" Kak, gimana perasaan kakak besok?" Tanya Melati.


" Yang pasti aku senang plus deg degan Mel." Jawab Dinda memegang dadanya.


" Wajar kalau kakak deg degan. Besok akan menjadi hari paling bersejarah bagi kakak. Hari dimana kakak akan menjadi seorang istri dan akan mengabdikan diri kakak untuk suami kakak nanti dan menjadi ibu terbaik untuk anak sambung kakak. Kan kakak dapat calon suami yang sudah punya bonus seorang anak." Ujar Melati.


" Iya Melati, kamu benar. Mudah-mudahan aku bisa menjadi istri menantu juga ibu yang baik untuk Arin nanti." Ucap Dinda.


" Kak ato tidur. Kakak harus tidur, supaya besok matanya ngak hitam seperti mata panda. Bisa bisa kak Arka tidak bisa mengenali kakak sebagai calon istrinya melihat seperti itu." Goda Melati pada Dinda.


" Apaan sih kamu Mel. Jangan sampe deh." Ucap Dinda segera tidur.


Melati pun sama, ia juga ikut tidur menjelajahi alam mimpi yang sudah menunggunya

__ADS_1


__ADS_2