
Pagi hari saat matahari terbit dari ufuk timur kedua sejoli yang baru saja menghabiskan malam yang panas masih tertidur nyenyak saling berpelukan.
Secara perlahan si suami mulai membuka matanya. Ia merasa tangannya terasa sangat kebas. Di lihatnya ke arah samping, ternyata tangannya di jadikan bantal oleh istrinya. Ia pun tersenyum seolah melupakan tangannya yang kebas itu. Ia menatap wajah cantik istrinya yang masih tertidur pulas sambil memeluknya.
Ia menepikan anak rambut yang menutupi wajah cantik istrinya. Lalu di kecupnya kening sang istri. Karena merasa ada pergerakan, istrinya terbangun.
" Selamat pagi istriku." Sambutnya dengan senyum.
" Selamat pagi juga suamiku." Jawabnya dengan senyum pula.
Kedua sejoli itu tak lain adalah Daniel Dan Melati.
" Bagaimana tidurmu, istriku?" Tanya Daniel.
" Sangat nyenyak suamiku." Jawab Melati.
" Aku masih tidak percaya jika kita sudah menjadi suami istri. Saat kata sah terucap dari pak penghulu rasanya hatiku lelah. Hal yang aku takutankan selama ini sirna sudah. Kau telah sah dan resmi jadi milikku seorang dan calon anak anak kita nantinya." Ucap Daniel menatap lalu mencium kening mata kedua pipi dan berakhir di bibirnya. Melati membalas ciumannya Daniel. Keduanya berciuman dengan begitu pelan. Ciuman pagi hari yang mereka lakukan membuat keduanya ingin melakukan lebih dari sekedar ciuman.
" Sayang, apa aku boleh melakukannya lagi?" Tanya Daniel.
" Iya sayang lakukanlah. Aku milikmu. Lakukanlah yang harus kau lakukan." Jawab Melati.
" Baiklah sayang. Kata orang orang bercinta di pagi hari bisa membuat kau lebih cepat untuk hamil." Ucap Daniel.
Daniel dan Melati pun melakukan olahraga pagi hari di atas ranjang. Keduanya begitu menikmati aktivitasnya di atas ranjang itu. Mereka sama sama saling memuaskan hasrat masing masing mereka.
Hari bergerak siang, keduanya masih belum keluar dari kamar. Pembantu di rumah pun tidak membangunkan mereka. Toh kalau mau makan sudah di siapkan. Kalau sudah dingin ya tinggal di panaskan microwave.
" Sayang kau begitu hebat. Membuatku ingin melakukannya lagi." Ucap Daniel.
__ADS_1
" Iya tentu. Aku harus bisa memuaskanmu agar tidak ada alasan lagi untuk mencari makan di luar rumah." Balas Melati.
" Sayang sudah jam sebelas. Ayo kita mandi dulu. Lalu kita sarapan sekalian makan siang." Ucap Melati.
" Ayo sayang. Mandi bersama kan?" Ucap Daniel semangat.
" Iya sayang. Ingat sayang, hanya mandi saja. Tidak ada tambahnya. Tubuhku sudah sangat lelah dan juga sangat lapar. Lihatlah kita sudah melewatkan jam makan paginya kita." Ucap Melati memperingati Daniel.
" Baiklah sayang. Tapi nanti malam boleh kan?" Ucap Daniel dengan wajah memelas.
" Iya sayang. Ayo kita mandi hari sudah semakin siang saja. Dan satu lagi wajahmu tidak pantas di buat seperti itu. Geli aku melihatnya. Badan berotot kelar sepertimu melakukan aigoo seperti orang korea."Ucap Melati.
" Iya sayangku, cintaku. Ayo aku gendong." Ucap Daniel.
Daniel menggendong Melati masuk ke kamar mandi. Mereka melakukan ritual mandi bersama. Hanya mandi saja. Tidak ak ada kegiatan lain. Karena kedua sudah sangat lapar.
Durasi mandi pun mereka percepat. Usai memakai baju, keduanya turun ke bawah bergandengan tangan.
" Selamat siang juga aden, non." Balas bibi yang sedang menyiapkan meja makan.
" Bibi sudah makan siang?" Tanya Melati.
" belum non. Masih ada bini kerjakan. Baru setelah itu bibi akan makan siang." Jawab bibi.
" Makan dulu bibi. Setelah itu baru bibi lanjutkan pekerjaan bibi itu." Ucap Melati.
" Iya non. Bibi akan makan siang dulu." Ucap bibi.
" Bibi makan di sini saja bersama kami. Lihat begitu banyak makanan di atas meja. Kami berdua tidak mungkin akan menghabiskan semua ini. Iya kan mas?" Ucap Melati menatap Daniel.
__ADS_1
" Iya bi, Melati benar. Bibi makan bersama kami saja di sini." Sambung Daniel.
" Tidak usah non. Bibi makan di belakang saja. Tidak pantas bibi makan bersama kalian di meja makan. Bibi hanyalah seorang pembantu no." Tolak bibi.
" bibi jangan bicara seperti itu. Melati tidak menganggap bibi bukan sekadar pembantu di rumah ini. Melati sudah menganggap bibi sebagai saudara juga. Ayo bi, duduk kita makan bersama." Ucap Melati menarik kursi untuk bibi.
" Terima kasih non."Ucap bibi.
" Tidak perlu berterima kasih bi. Ayo bi, silakan makan." Ucap Melati.
" Den Daniel tidak salah memilih menjadikan non Melati sebagai istrinya. Dia baik tanpa membedakan majikan dan pembantu." Batin bibi menyanjung Melati.
" Aku beruntung menikahi wanita sepertimu sayang. Kau sungguh baik tanpa membedakan kasta untuk menghargai seseorang. Aku semakin mencintaimu, istriku Melati." Batin Nayara menatap kagum Melati.
" Mas kamu mau aku ambilkan apa untuk lauknya?" Tanya Melati.
" Terserah kau saja sayang. Apapun yang kau ambilkan pasti akan aku makan sayang." Jawab Daniel.
" Baiklah mas. Ini cukup?" Ucap Melati.
" Iya sayang ini sangat cukup." Ucap Daniel.
Mereka pun makan siang dengan tenang. Selesai makan siang Melati membantu bibi membersihkan meja makan. Daniel pergi ke balkon untuk mencari udara segar.
" Bibi, jangan terlalu capek bekerjanya. Kalau sudah tidak mampu untuk bekerja, maka hentikan. Masih ada hari esok untuk melanjutkan pekerjaan itu. Bibi juga harus menjaga kesehatan bibi juga." Ucap Melati.
" Iya non." Balas biji tersenyum.
" Ya sudah bi, ini sudah selesai kan. Bibi pergi istrahat saja. Melati akan membuat kopi untuk mas Daniel dulu." Ucap Melati.
__ADS_1
" Iya non. Terima kasih." Ucap bibi pergi dari hadapan Melati.
Selesai membuat kopi untuk suaminya, Daniel. Ia membawa kopi untuk menghampiri Daniel yang sedang duduk di balkon rumah. Melihat istrinya datang. Daniel tersenyum padanya. Ia mengambil kopi yang di berikan Melati padanya, lalu meminumnya. Keduanya duduk bersama menghabiskan waktu di sana.