Terpaksa Bercerai Muda

Terpaksa Bercerai Muda
Episode 68


__ADS_3

Sementara itu Aditya menemani Natasya dengan setia yang baru saja melakukan operasi pengangkatan kista yang sudah menjalar di rahimnya.


" Ayo Tasya, ini suapan terakhir." Ucap Aditya menyuapi Natasya.


" Baiklah mas." Ucap Natasya.


" Nah, sudah habis. Sekarang sekarang waktunya kau minum obat." Ucap Aditya.


Natasya pun meminum obat yang di berikan oleh Aditya padanya.


" Mas, aku ingin segera keluar dari rumah sakit ini. Aku sudah tidak tahan mas. Makanan di rumah sakit tidak enak. Tidak ada rasanya." Ucap Natasya.


" Kau kan baru selesai operasi. Belum bisa kau keluar dari rumah sakit." Ucap Aditya.


" Mas, ini kan sudah tiga hari. Luka ku juga sudah mengering." Ucap Natasya.


" Aku akan berbicara dengan dokter dulu kalau begitu." Ucap Aditya.


" Selamat pagi nona Natasya, pak Aditya. Bagaimana kabar anda nona." Tanya dokter wanita paruh baya yang masih terlihat cantik.


" Aku sudah merasa membaik dokter." Jawab Natasya .


" Syukurlah kalau begitu. Saya periksa dulu ya." Ucap dokter itu ya


" Iya dokter." Ucap Natasya.


" Luka operasi nona Natasya sudah cukup mengering. Tapi walau begitu anda harus menjaganya agar tidak kena air dulu." Ucap dokter selesai memeriksa Natasya.


" Iya dokter." Ucap Natasya.


" Dokter istri saya ingin keluar dari rumah sakit. Apa sudah boleh?" Tanya Aditya.


" Boleh saja pak Aditya. Asalkan istri anda bisa menjaga diri agar lukanya cepat sembuh." Jawab dokter.


" Iya dokter. Saya akan berusaha untuk jaga diri saya." Ucap Natasya senang.


" Saya akan buatkan surat izin keluar dulu. Nanti suster akan akan mengantarkan kemari." Ucap dokter.


" Iya dokter. Terima kasih." Ucap Aditya.


" Kalau begitu saya permisi dulu."Ucap dokter.


" Iya dokter silakan. Sekali lagi kami ucapkan terima kasih." Ucap Aditya dan Natasya.


" Sayang, kalau kamu keluar dari rumah sakit, kita akan tinggal di rumah mama dan papa dulu ya. Agar ada yang menjagamu selama aku bekerja." Ucap Aditya.


" Iya mas. Aku menurut sama kamu saja mas." Ucap Natasya.


Natasya sudah mulai menguap. Mungkin itu reaksi dari obat yang ia minum tadi. Secara perlahan matanya tertutup hingga ia tertidur.


Sementara itu, Aditya memeriksa email kerja yang di kirimkan oleh sekretarisnya. Ia begitu fokus memeriksanya. Hingga ia merasa badannya sudah sangat lelah. Ia pun menyudahi pekerjaannya. Di lihatnya Natasya masih nyenyak tertidur. Ia pun beranjak tidur di samping Natasya. Keduanya tertidur begitu pulas di ranjang yang sama.


Suster yang mengantarkan surat pun tidak berani membangunkan keduanya yang begitu pulas tidurnya. Ia meletakkan surat izin keluar dari dokter itu di atas meja di samping ranjang yang di tempati oleh keduanya.


******


Melati sedang menyiapkan sarapan pagi untuk suaminya dan penghuni rumah lainnya. Ia meminta pada asisten rumahnya untuk tidak membantunya. Walaupun mereka memaksa untuk membantu Melati. Tapi Melati menolak keinginan mereka. Akhirnya mereka mengerjakan pekerjaan rumah lainnya dan tidak mengganggu nyonya rumah itu memasak.


Selesai menyiapkan sarapan, Melati merasa kepalanya terasa pusing dan agak berat. Ia beristirahat sebentar sambil duduk di kursi. Merasa sudah baikan, ia berdiri dan segera ke kamar memeriksa suaminya.


" Hai sayang." Ucap Daniel.


" Hai juga mas. Aku kira kau belum bangun." Ucap Melati.


" Tentu sudah dong sayang. Kemarilah dan pasangkan dasiku." Ucap Daniel meminta Melati mendekat.


" Iya mas." Ucap Melati berjalan ke arah Daniel.


" Sayang wajahmu terlihat pucat. Apa kau sedang sakit?" Tanya Daniel memegang wajahnya.


" Tidak mas. Aku tidak sakit. Aku baik-baik saja. Sudah ayo kita sarapan."Jawab Melati.

__ADS_1


" Kau yakin sayang. Kau tidak sedang tidak berbohong padaku kan?" Tanya Daniel.


" Iya suamiku sayang. Sudah, ayo kita sarapan." Jawab Melati.


" Sayang kalau kau merasa sakit atau apapun itu, ku mohon beritahu padaku. Jangan rahasiakan padaku. Aku tidak ingin terjadi sesuatu padamu sayang. Jika itu terjadi, aku tidak akan memaafkan diriku sendiri sayang. Aku sudah berjanji pada diriku untuk menjagamu segenap jiwaku." Ucap Daniel menatap Melati tulus.


" Iya mas. Aku tidak akan merahasiakan apa pun itu padamu. Tadi aku memang merasakan sedikit pusing. Tapi setelah aku beristirahat sedikit, aku sudah merasa baikan kok." Ucap Melati.


" Ayo mas kita sarapan. Kau bisa terlambat ke kantor nanti. Aku juga minta izin mengecek cafe ya mas." Ucap Melati.


" Iya sayang. Ayo kita sarapan." Ucap Daniel.


" Sayang tunggu. Aku lupa pakai jam tangan." Ucap Daniel.


" Biar aku ambilkan saja mas. Jam yang biasa kau pakai bukan? "Tanya Melati.


" Tidak aku tidak memakai itu. Aku ingin memakai jam yang kau berikan padaku." Jawab Daniel.


" Baiklah tunggu sebentar, aku ambilkan dulu ya." Melati.


" Iya sayang." Ucap Daniel duduk di atas tempat tidur.


Saat sedang mencari jam tangan untuk Daniel di dalam laci meja, Melati merasa kepalanya tiba-tiba sangat pusing dan terasa berat. Dan akhirnya ia pingsan.


Brukkkkkk.


" Melati." Teriak Daniel kaget.


" Sayang bangun. Hei sayang bangun. Jangan menakutiku seperti ini. Ku mohon bangun sayang." Ucap Daniel menangis menepuk nepuk pipi Melati. Namun nihil, Melati tetap tidak bangun dari pisangnya. Ia pun segera menggendong Melati ke atas kasur lalu menelepon dokter keluarganya.


Di bawah bibi Ani, heran sudah jam tujuh lewat Melati dan Aditya belum turun juga. Saat ia akan memanggil mereka, terlihat seorang dokter datang.


" Selamat pagi bibi. Dimana kamarnya pak Daniel?" Tanya dokter itu menghampiri bibi Ani.


" Dokter di sini. Siapa yang sakit?" Tanya bibi Ani tanpa menjawab pertanyaan dokter itu.


" saya tidak tau bi. Pak Daniel hanya menelepon dan menyuruh saya datang kemari." Jawab dokter itu.


" Bisa pak. Mari saya antarkan." Ucap bibi Ani.


" Irma, tolong buatkan kopi untuk pak dokter ini ya. Saya akan mengantarkannya ke kamar den Daniel." Ucap bibi Ani saat Irma mendekat karena penasaran dengan kedatangan seorang dokter di kediaman majikannya.


" Iya mbok." Jawab bibi Irma.


" mari pak dokter ikut saya ke kamar den Daniel dan non Melati." Ucap bibi Ani.


" Oh iya." Ucap dokter itu.


Sesampainya di depan kamar Daniel dan Melati, bibi Ani mengetuk pintu dulu sebelum masuk.


Tok tok tok.


Mendengar ketukan pintu, Daniel segera berlari membuka pintu kamarnya.


" Dokter, akhirnya kau datang juga." Ucap Daniel.


" Den, siapa yang sakit? Dan non Melati ada dimana?" Tanya bibi Ani.


" Melati yang sakit bi. Tadi dia tiba-tiba pingsan." Jawab Daniel.


" Astaga non Melati." Ucap bibi Ani kaget.


" Ayo dok, silakan masuk dan periksa istri saya." Ucap Daniel pada dokter.


" Iya pak Daniel." Ucap dokter.


Dokter itu pun segera memeriksa tubuh Melati. Ia memegang denyut nadinya Melati. Ia tersenyum tipis. Dan bibi Ani terlihat sangat khawatir dengan keadaan Melati.


" Bagaimana keadaan istri saya dokter?" Tanya Daniel.


" Istri anda baik-baik saja pak Daniel." Jawab dokter.

__ADS_1


" Tapi kenapa dia pingsan dokter?" Tanya Daniel kesal.


" Itu karena istri sedang mengandung. Ia hanya kelelahan saja pak Daniel." Jawab dokter.


" Oh hamil." Ucap Daniel.


" Apa hamil. Istriku hamil dokter." Ucap Daniel sadar.


" Iya pak Daniel. Istri anda sedang mengandung. Untuk mengetahui yang lebih jelasnya lagi, silakan bawa istri anda untuk periksa di rumah sakit. Untuk menanyakan usia kandungan istri anda juga." ujarnya.


" Terima kasih dokter. Terima kasih banyak." Ucap Daniel tulus.


" Iya pak Daniel. Kalau begitu saya permisi dulu." Ucap dokter.


" iya dokter silakan." Ucap Daniel.


" Tunggu dok, tapi kenapa istri saya belum juga sadar dari pisangnya?" Tanya Daniel lagi.


" Sebentar lagi istri anda akan sadar dari pingsannya. Untuk mempercepat ia sadar, anda boleh menyibukkan ia aroma terapi." Jawab dokter.


" Baik. Terima kasih dokter." Ucap Daniel.


" Kalau begitu saya permisi dulu pak Daniel. Oh iya saya ucapkan selamat atas kehamilan istri anda. Semoga di perlancar hingga kelahiran nanti." Ucap dokter menjabat tangan dengan Daniel.


" Iya dok, terima kasih." Ucap Daniel tersenyum bahagia.


Dokter itu pun segera keluar dari kamar Daniel. Tinggallah hanya Daniel bibi Ani dan Melati yang masih belum sadar juga.


" Selamat ya den. Sebentar lagi Aden dan non Melati akan jadi orang tua. Bibi doakan agar kehamilan non Melati baik-baik saja hingga melahirkan nanti den." Ucap bibi Ani.


" Iya bi terima kasih." Ucap Daniel.


Daniel pun mencari minyak aroma terapi untuk di ciumkan pada Melati. Setelah ia dapatkan, segera ia ciumkan di hidung Melati. Bibi Ani telah keluar dari kamar Daniel dan Melati.


10 menit sudah Daniel menyiumkan aroma terapi itu pada Melati. Hingga perlahan Melati membuka matanya.


" Sayang, akhirnya kau sadar juga." Ucap Daniel bahagia.


" Aku kenapa mas?" Tanya Melati.


" Tadi kau pingsan sayang." Jawab Daniel.


" pingsan." Ucap Melati.


" Iya sayang." Ucap Daniel.


" Aku pingsan. Tapi kenapa wajahmu terlihat bahagia. Apa kau senang aku sakit mas?" Tanya Melati kesal.


" Hei apa yang kau bicarakan sayang. Tentu saja tidak. Aku bahagia karena di sini, di perut kamu sudah hadir anak kita." Jawab Daniel.


" Apa mas anak kita. Maksud kamu aku hamil mas. Begitu?" Tanya Melati.


" Iya sayang. Kau hamil anak kita. Di sini, dia sudah ada di sini. Tadi dokter mengatakan kau sedang mengandung buah cinta kita sayang. Terima kasih sayang. Terima kasih, aku sangat bahagia. Aku akan jadi seorang ayah." Jawab Daniel bahagia dengan menitikkan air matanya.


" Aku hamil mas. Terima kasih ya Allah. Akhirnya aku hamil juga." Ucap Melati menangis haru.


Kedua suami istri berpelukan sambil menangis bahagia atas anugerah yang di berikan oleh maha pencipta karena sudah mempercayakan sebuah titipan pada keduanya untuk jadi orang tua nantinya.


Bersambung....!


Ayo dukung author dengan cara


***Like


Coment


Vote


Share


Rating* 5**

__ADS_1


__ADS_2