
"iya sayang nanti kakak masuk kalian duluan saja " jawab Melati. Melihat Devano dan Devina sudah masuk ke dalam rumah. Melati mendekati kakek dan istrinya" Maaf nek, saya juga membawa makanan untuk ibu juga. Ini tolong di makan ya nek . Tadi kakek sudah makan bersama saya"
" iya terimakasih nak Melati" jawab istrinya mengambil makanan itu dan menyusul kedua cucunya untuk makan bersama
Kakek pun mengajak Melati masuk ke dalam rumahnya. Melati pun ikut kakek masuk ke dalam rumahnya. Di dalam rumah Melati melihat keadaan rumah mereka benar benar sudah layak untuk di huni. Tapi mereka tidak bisa berbuat apa. Karena hanya itu yang mereka bisa sewa untuk di tinggali. Melati pun mendekati Devano dan Devina yang sedang lahap menyantap makanannya.
" hai adik manis. Kakak suapin mau?kata Melati
" iya aku mau"jawab Devina. "aku juga mau kak" lanjut Devano
" iya kakak suapin kalian berdua" kata Melati
Melati pun menyuapi Devano dan Devina secara bergantian. Kedua bocah terlihat sangat bahagia bersama Melati. Begitu pula dengan kakek dan nenek mereka yang tersenyum haru melihat senyuman kedua cucunya. Kedua pasangan suami istri itu sangat menyayangkan, kedua cucunya itu harus kehilangan kedua orang tuanya di umur mereka yang seperti ini.
Sejak kematian orang tuanya beberapa bulan yang lalu jarang mendapatkan perhatian seperti itu. Karena kakek pergi mencari nafkah, sedangkan nenek yang sedang sakit sakitan tidak bisa terus menerus mengawasi kedua cucunya. Kedua cucunya juga bertanya saat kematian orang tuanya, kenapa banyak orang di rumah, kenapa kakek dan neneknya menangis dan kenapa juga ibu dan ayahnya tertidur dan di bungkus kain kafan seperti itu. Kakek hanya menjelaskan jika kedua orangnya sudah di panggil tuhan ke langit. Dan kakek juga mengatakan jika semua orang yang hidup suatu saat nanti pasti akan di panggil oleh tuhan ke langit.
Mendengar penjelasan kakeknya Devano hanya terdiam. Hanya Devina saja yang menangis. Mungkin merasa jika mereka akan berpisah dengan kedua orang tuanya selamanya.
Kedua kakak adik itu sudah merasa kenyang. Melati pun berhenti menyuapi mereka dan membereskan sisa nasi keduanya. Begitu juga nenek yang telah selesai memakan makanannya.
Saat Melati sedang di kamar mandi, datanglah pemilik kontrakan di rumah mereka. Pemilik tersebut datang menagih uang sewa kontrakannya. Kakek pun bingung, bagaimana ia harus membayar sewa kontrakannya. Sedangkan uang sewa kontrakan sudah ia pakai untuk membeli obat untuk istrinya dan juga kebutuhan untuk kedua cucunya. Akhirnya kakek mengatakan jika untuk bulan ini ia belum bisa membayar sewa kontrakannya.
" Maaf bu bulan ini saya belum bisa membayar sewa kontrakan ini. Soalnya saya belum punya uangnya" ujar kakek
Mendengar kakek belum bisa membayar sewa kontrakannya pemiliknya menjadi marah" apa kamu bilang belum bisa bayar sewa. Enak saja bilang begitu. Kamu pikir kamu bisa tinggal di sini jika tidak membayar sewa tinggal. Oh tidak bisa silakan angkat kaki dari kontrakan saya hari ini juga"
" bu saya mohon jangan usir saya dan istri juga cucu saya bu. Kami mau tinggal dimana bu. Kami tidak punya tempat tinggal lain selain di sini" ujar kakek memohon pada pemilik rumah sewanya
" kalau tidak mau saya usir. Gampang saja. Tinggal bayar bisa kan"
" tapi saya belum ada uangnya bu. Tolong kasih saya keringanan sebulan lagi bu. Saya janji saya akan membayarnya bulan depan dengan yang sewa bulan kemarin"
" enak saja minta keringanan. Kalau kamu tetap tidak bisa bayar silakan angkat kaki dari sini juga masih banyak yang ingin mengontrak di sini selain kamu sama istri kamu dan juga cucumu itu" ucap pemilik kontrakan dengan angkuh
Melati yang sedang di kamar mandi pun segera keluar ketika mendengar suara ribut di depan. Ia melihat sang kakek sedang di marahi oleh pemilik kontrakan membuatnya jengkel. Melati pun menghampiri mereka
__ADS_1
" ibu tenang saja, hari ini juga kakek sama istri dan kedua cucunya akan pergi dari kontrakan kumuhnya ibu ini" sahut Melati dari belakang
" kamu siapa berani mengatakan kontrakan saya kukuh hahhh" kata pemilik kontrakan marah
Melihat Melati mulai beradu mulut dengan pemilik kontrakannya. Kakek pun ingin menengahinya. Namun Melati memberi kode pada kakek untuk tenang dan di minta untuk masuk ke dalam rumah saja.
" anda tidak perlu tau saya siapa. Yang jelas hari ini juga kakek beserta keluarganya akan keluar dari rumah anda" ucap Melati
" Dasar kamu wanita tidak punya sopan santun sama orang tua. Saya ini lebih tua dari kamu. Harusnya kamu sedikit sopan pada saya" ujar wanita ini angkuh
" saya akan sopan pada orang yang pantasan saya sopani" jawab Melati santai " tadi anda bilang, anda lebih tua dari saya bukan. Sekarang tanya pada anda, apa anda juga bersikap sopan pada kakek ini tadi? Bukankah umur kakek lebih tua dari anda" sindir Melati
" kamu..." tunjuk pemilik kontrakan itu pada Melati
" apa, anda mau apa ibu pemilik kontrakan yang gembrot pendek dan juga tua " potong Melati meledek
" dasar kamu anak kurang ajar. Beraninya kamu mengatai saya seperti itu" tunjuknya pada Melati menahan emosi
" tentu saya berani. Anda pikir saya takut sama anda. Ohh tentu tidak. Baru punya kontrakan seperti itu sombongnya udah selangit" ledek Melati
" tenang saja ibu hari ini kakek akan pergi dari sini" teriak Melati pada wanita wanita itu.
Melihat wanita itu sudah pergi Melati pun kembali pada kakek dan juga keluarganya
" nak Melati, jika kami hari ini keluar dari rumah ini. Lalu kami akan tinggal dimana. Saya tidak punya tempat lain berteduh untuk istri dan cucu saya nanti" ucap kakek sedih menatap istri dan juga kedua cucunya secara bergantian
Melati yang paham dengan kerisauan kakek pun angkat suara" kakek tenang saja. Saya akan membawa kakek dan nenek juga Devano dan Devina pindah dari sini. Saya juga akan mencarikan tempat tinggal yang layak dan yang jelas lebih baik dari rumah ini untuk kalian tinggal nanti" terang Melati
" tapi kemana nak Melati" tanya kakek
" udah kakek tenang saja. Udah sekarang lebih baik kakek dan nenek bersiap siap saja untuk pergi dari sini" tutur Melati
Mendengar penuturan Melati, kakek dan nenek pun segera mengatur barang mereka yang masih layak di bawah nanti. Sementara Melati, sambil menunggu kakek dan nenek bersiap siap. Melati memesan mobil taksi online untuk mereka nanti pergi dari sana. Ia juga mencari rumah yang akan di sewakan untuk kakek dan keluarganya nanti secara online.
Sekitar hampir satu jam mereka pun selesai mengatur barang bawaan mereka. Kakek dan nene pasrah ikut Melati pergi dari sana. Karena menurutnya hanya Melati lah tempat ia berharap sekarang ini. Melihat kakek dan istrinya telah selesai bersiap. Melati pun segera meminta mereka memasukkan barang bawaannya ke dalam mobil. Mobil yang di pesan Melati datang sekitar 30 menit yang lalu. Setelah semua barang di masukkan ke dalam mobil. Mereka pun segera naik. Melati berada di depan, sementara kakek dan nenek juga Devano berada di kursi belakang. Hanya Devina saja yang berada di kursi depan duduk di pangkuannya.
__ADS_1
Perlahan lahan mobil pun segera berjalan melaju pergi dari sana . Melati meminta pada supir taksi online untuk membawa mobilnya dalam kecepatan sedang. Karena ia tau bahwa kakek dan keluarganya pasti akan mual jika naik mobil nanti. Suasana dalam mobil cukup ribut. Karena Devano dan Devina terus mengoceh dan berceloteh. Mereka terlihat sangat senang naik mobil dengan melihat kesana kemari. Devano tidak mau diam bergerak. Ia ingin melihat suasana luar dengan berdekatan dengan kaca mobil. Untunglah kakek selalu memegangnya, jika tidak mungkin Devano akan nyungsep karena selalu saja bergerak. Tapi ocehan kedua kakak adik itu sama sekali tidak mengganggu pendengaran mereka. Mereka malah menganggap itu sebagai hiburan bagi mereka. Maklum lah namanya anak kecil pasti begitu.
Sang sopir melajukan mobilnya ke alamat tempat tinggal kakek dan keluarganya kelak. Melati sudah memberikan alamatnya tadi sebelum mereka berangkat.
Sekitar hampir satu jam mereka pun sampai di tempat yang di maksud Melati. Melati turun dan meminta pada yang lainnya untuk tetap berada di mobil. Karena ia akan menemui pemilik rumah sewa itu.
Pemilik dari rumah sewa ternyata sudah menunggu Melati. Karena mereka sudah janjian tadi saat di telpon. Pemilik dari rumah sewa itu menjelaskan detail dari rumah yang akan Melati sewa itu dan juga biaya sewa perbulannya. Setelah semuanya jelas Melati segera melakukan pembayaran setahun penuh dan meminta bukti pembayarannya. Dan pemiliknya pun memberikannya. Melati dan pemilik itu pun berjabatan tangan pertanda deal dan pemiliknya segera memberikan kunci rumah itu pada Melati.
Melati menghampiri kakek nenek juga Devano dan Devina untuk turun. Mereka pun turun dengan Devina dan Devano di gandeng Melati di kiri dan kanannya. Melati memperkenalkan kakek dan keluarganya pada pemilik rumah sewa itu. Pemilik rumah sewa itu bersalaman dengan kakek dan nenek dan Devano dan Devina menyalami tangannya. Pemilik rumah sewa itu terlihat sangat ramah pada kakek dan keluarganya karena dan ia juga menawarkan bantuan pada mereka jika nanti mereka membutuhkan sesuatu nanti. Setelah berkenalan, ia pun mohon diri dari hadapan Melati kakek nenek dan juga kedua cucunya. Sebelum pergi pemilik rumah sewa mencubit gemas kedua pipi cucu kakek tersebut.
Usai kepergian dari pemilik rumah sewa itu. Kakek dan nenek pun berbicara pada Melati.
" nak Melati apakah ini tidak berlebihan. Rumah ini terlihat sangat bagus dari rumah yang kakek dulu. Dan sepertinya rumah ini terlihat mahal penyewaannya" ujar kakek sungkan
" kakek tadi kan saya sudah bilang saya akan membawa kakek pindah ke rumah yang lebih baik dari rumah yang biasa kakek. Nah inilah rumah ini sewa" ucap Melati
" tapi nak Melati, rumah ini terlihat mahal. Kakek rasa kakek tidak mampu untuk membayar sewanya nanti"
" udah kakek ngak usah pusing soal pembayarannya. Tadi Melati sudah membayar setahun penuh untuk rumah ini. Jadi selama setahu nanti kakek tidak perlu pusing untuk memikirkan biaya sewa nanti"
" nak Melati kakek rasa ini tidak perlu seperti ini. Kakek tinggal di rumah yang lain saja. Rumah ini terlihat mewah untuk orang seperti kami nank Melati"
" iya benar nak Melati bagi kami ini terlalu mewah" lanjut nenek melihat rumah itu
" kakek nenek udah terima saja. Ini semua saya lakukan untuk Devano dan Devina. Lihatlah kedua cucu kakek ini mereka terlihat senang dan antusias melihat rumah baru yang akan mereka tempati ini" ucao Melati lembut menatap kedua bocah mungil itu
Kakek dan nenek juga sama ia menatap kedua cucunya yang terlihat sangat senang " kakek kita akan tinggal di sini" ucap kedua cucunya gembira
" kalian suka kita tinggal di sini" tanya kakek pada kedua cucunya
" iya kek kami suka tinggal di sini. Rumah ini sangat bagus kakek nenek" ucap keduanya berlari kesana kemari di dalam rumah
Melihat kedua cucunya terlihat gembira kakek dan nenek pun saling menatap dan mereka pun setuju untuk tinggal di rumah itu" baiklah nak Melati saya istri akan tinggal di sini. Kami tidak tega jika melihat kedua senyum di wajah cucu kami hilang jika kami menolak tawaran nak Melati ini"
Mendengar persetujuan dari pasangan suami istri itu, Melati pun tersenyum bahagia
__ADS_1
#Di bab ini author buat Melati mempunyai jiwa sosial yang tinggi ya. Karena sejujurnya author tuh ingin bantu bantu orang yang kurang mampu seperti Melati itu. Tapi apa daya uang tak punya jadi author bantu bantunya di Novel aja deh😁. Siapa tau suatu saat nanti ada rejekinya Author bisa bantu beneran. Ngak halu kayak gini😅. Aduh jadi malu author guys 🤭🤭😆