
Setelah memberi makan si kembar. Melati menidurkan keduanya di kamar pribadi yang berada di dalam ruangan miliknya. Sesudah, memastikan keduanya tertidur, Melati beranjak dari sana untuk membantu para karyawannya melayani para pelanggan. Setiap waktunya makan siang, cafenya selalu ramai di kunjungi oleh pengunjung. Kadang para karyawan sampai kewalahan memenuhi keinginan pengunjung yang memludak itu. Sehingga mau tidak mau Melati terjun langsung membantu mereka melayani pengunjung. Melati membantu mereka dengan membantu mencatat menu yang di pesan oleh mereka.
****
Malam hari, Dinda pergi ke rumahnya Arin untuk memenuhi undangan makan malamnya. Sebenarnya, Dinda enggan untuk datang. Hanya gadis kecil merengek agar Dinda datang ke rumahnya.
Jam 08.00 Dinda tiba di kediaman milik omanya Arin. Ketika melihat Dinda sudah sampai, Arin segera berlari memeluk Dinda dengan erat.
" Tante cantik." Teriak Arin berlari memeluk Dinda dan Dinda pun membuka tangannya menerima pelukan gadis kecil itu. " Akhirnya tante cantik datang juga. Arin kangen banget sama tante cantik." Sambung Arin dalam pelukan Dinda.
" Iya Arin sayang. Lain kali, Arin jangan lari kaya gitu lagi ya. Nanti Arin jatuh gimana? Pasti sakit kan?" Ucap Dinda melepas pelukan mereka.
" Iya tante cantik. Lain kali Arin tidak akan seperti itu." Jawab Arin.
Tanpa mereka sadari ada beberapa pasang mata yang sedang menatap ke arah keduanya. Mereka tak lain adalah oma Arin, ayahnya Arin dan beberapa asisten rumah tangga.
" Nak Dinda, terima kasih ya sudah datang memenuhi undangan kami." Ucap Mira mendekati keduanya.
" Assalamualaikum tante. Iya sama-sama." Jawab Dinda menyalami Mira. Dengan senang hati Mira mengulurkan tangannya pada Dinda. Ia begitu senang dengan sikap ramah Dinda kepadanya, mengingatkannya pada anaknya yang sudah meninggal beberapa tahun lalu meninggalkan anak dan suaminya.
" Wallaikumsallam. Oh iya. Perkenalkan ini Arka anak menantu saya." Ucap Mira melihat ke arah Arka.
Mendengar nama Arka Dinda pun segera menatap pada pria yang sudah dari tadi di di belakangnya Mira. Dinda sangat kaget ternyata Arka adalah anak menantu dari Mira. Arka adalah kakak kelas Dinda sewaktu mereka SMA dulu. Begitu juga dengan Arka dia tidak menyangka jika Dinda yang di pernah di ceritakan oleh anak dan mertuanya adalah Dinda adik kelasnya dulu.
" Ka Arka." Seru Dinda kaget.
" Kamu Dinda adik kelas aku waktu di SMA kan. Astaga dunia sempit sekali. Aku tidak menyangka ternyata kamu orang yang di ceritakan oleh mereka karena menolong Arin yang hilang dari ibu aku saat di supermarket." Seru Arka juga yang kaget.
" Hehehe. Iya dunia terasa sempit sekali rupanya. Aku tidak menyangka, kalau kakak adalah ayah dari gadis manis ini." Ujarnya. " Ka Arka apa kabar? Sambung Dinda.
"Aku baik. Kamu sendiri?" Jawab Arka tersenyum.
" Aku juga baik ka." Jawab Dinda.
" Ternyata kalian sudah saling mengenal toh." Sahut Mira yang kemudian menyadarkan keduanya yang sedang asik reuni.
" Ehhh,, tante. Maaf Dinda sampe lupa sama tante juga Arin." Sahut Dinda dengan wajah terkejutnya.
" Iya bu. Kami sudah saling mengenal. Dinda ini adalah adik kelas aku dulu di SMA." Jelas Arka.
" Iya tante. Aku dan ka Arka sudah saling kenal." Sambung Dinda.
" berarti ibu sia sia dong mengenalkan kalian berdua dong." Ucap Mira pura-pura cemberut.
" Ngak kok tante. Tante ngak sia sia. Kalau tante ngak kenalin, mungkin sampai sekarang aku tidak tau jika ayahnya Arin adalah kakak kelasku dulu." Jengah Dinda.
" Iya bu. Itu benar." Ujar Arka.
__ADS_1
" Ihhhh.. Kok, Arin di cuekin sih." Sahut Arin dengan wajah cemberut ke arah mereka.
" Astaga. Hehehe maaf sayang. Tante lupa." Ucap Dinda mendekati Arin.
" Ngak Arin tidak akan kasih maaf sama tante cantik, ayah dan juga oma karena sudah cuekin Arin tadi." Ujarnya sambil melipat kedua tangannya di dada.
" Sayang, ihh kok gitu sih." Ucap Arka mendekati anaknya.
" Arin sayang maafin oma juga ya." Ucap Mira juga membujuk cucunya itu.
" Ngak Arin tidak akan kasih maaf sama kalian." Ucapnya masih dengan wajah cemberutnya.
" Arin kok gitu sih. Emmm, tante harus apa supaya Arin kasih maaf." bujuk Dinda padanya.
" Tante cantik harus suapin Arin saat makan nanti." Ucap Arin yang akhirnya luluh dengan bujukan Dinda.
Mendengar ucapan Arin, ayahnya dan omanya menatap sedih kepadanya. Mereka seakan paham jika gadis kecil ini menginginkan di suapi oleh ibunya saat makan. Hal itu, tidak pernah ia rasakan sejak ibunya pergi meninggalkan sejak umur baru 1 tahun 8 bulan. Masih terlalu kecil bukan. Ibunya meninggal, karena menginap penyakit gagal Ginjal. Arka maupun ibunya tidak berhasil mendapatkan donor Ginjal yang cocok untuknya. Sehingga nyawanya tidak bisa bertahan lagi dan akhirnya ia meninggal dunia.
" Dengan senang hati tante akan melakukannya." Jawab Dinda.
" Ayo Ayah, oma ajak tante cantik makan. Arin sudah lapar tau." Ucap Arin dengan wajah imutnya. Membuat mereka tersenyum dengan sikapnya.
" Ayo kita ke meja makan sekarang juga. Ayo nak Dinda." Ajak Mira kepada mereka.
" Iya tante." Jawab Dinda.
Saat di meja makan, terdengar suara wanita dari luar menghampiri mereka.
" Hai semuanya. Selamat malam." Ucap wanita cantik yang berpenampilan cukup sexi itu.
Semua orang mengalihkan pandangan mereka ke arah wanita itu. Hanya Arka saja yang menyambutnya. Sementara Arin dan juga Mira hanya bersikap biasa saja. Apalagi Dinda, yang tidak mengenalnya.
" Laras, kamu di sini." Sahut Arka
" Iya Arka. Aku kesini karena kangen sama Arin." Ucap berjalan ke arah Arin mengabaikan Dinda begitu saja.
" Hai Arin sayang. Kamu apa kabar. Mama kangen banget sama Arin tau." Ucap Laras kepada Arin.
" Arin baik tante." Jawab Arin.
" panggil mama dong sayang." Pinta Laras.
" No. Tante bukan mama aku. Jadi untuk apa Arin harus memanggil tante dengan sebutan mama." Jawab Arin.
" Tapi tante sudah menganggap Arin seperti anak tante sendiri." Bujuk Laras.
" Ngak, Arin ngak mau. Tante bicara seperti itu. Karena ingin mengambil hati ayah saja kan. Kalau pun, Arin harus memanggil mama Arin pasti akan memanggil tante cantik ini dengan sebutan bunda untuk Arin tante. Bukan mama seperti tante bilang tadi." Ucap Arin memeluk Dinda.
__ADS_1
Laras kesal mendengar ucapan Arin. Ia mengcekram gaunnya dengan kuat. " sialan anak kecil ini. Jika bukan karena ayahnya, sudah ku robek mulutmu itu. Lihat saja jika aku berhasil menaklukkan ayahmu. Kamu orang yang pertama kali akan aku singkirkan. Dan kamu wanita jalang, sepertinya kamu akan jadi penghalang untukku untuk menjalankan rencanaku. Jadi kamu orang yang lebih dulu aku singkirkan untuk rencanaku ini." Ucapnya dalam hati.
Sementara Dinda, ia sangat kaget mendengar ucapan Arin barusan. Ia merasa tidak enak pada Arka dan Mira. Apalagi Laras yang menatap tidak suka padanya.
" Arin sayang, ngak boleh ngomong kaya gitu. Itu ngak sopan namanya." Tegur Arka pada Arin.
" Iya ayah." Jawab masih memeluk Dinda.
" Laras maafin sikapnya Arin tadi ya." Ujar Arka pada Laras.
" Iya ngak papa kok ka. Aku ngerti kok. Namanya juga anak kecil." Jawab Laras dengan sikap sok baik.
" Ohh iya. Kenalkan ini Dinda. Dia adalah temannnya aku di SMA." Ujar Arka mengenalkan Dinda pada Laras.
" Hai saya Laras." Ucapnya pada Dinda.
" Iya saya Dinda." Jawab Dinda.
" Ayo sekarang kita mulai makannya. Laras kalau kamu mau ikut makan bersama kami. Silakan ambil tempat duduk." Sahut Mira.
" Iya tante." Jawab Laras mengambil tempat duduk di samping Arka.
" Arin sayang. Mau tante ambiln apa? Tanya Dinda pada Arin.
" Arin mau ayam goreng tante." Jawab Arin.
"Ya udah sayang. Pake sayur ya Arin." Ujar
" Emm,, tante Arin sebenarnya ngak suka sayur." Ucap Arin menolak.
" Arin sayang. Arin harus makan sayur juga. Karena sayur bagus untuk tumbuh kembang Arin. Mau ya sayang? Dikit aja." Bujuk Dinda.
" Iya deh, tante cantik." Jawab Arin.
" pintar." Ucap Dinda.
Sementara Laras, ia menatap tidak suka melihat keakraban Dinda dan arin. Ia pun mencoba merayu Arka.
" Arka kamu mau makan apa. Nanti aku ambilin ya." Ucap Laras.
" Ngak usah Laras. Biar tante saja yang mengambilkan nasi dan lauk untuk Arka." Cegah Mira mengambil piring Arka.
" Iya Ras. Biar ibu saja yang mengambilkannya untuk aku." Ujar Arka.
" Iya Arka." Ucap Laras.
" Dasar wanita tua sialan. Ingin rasanya aku menyingkirkan Mertua Arka ini dari hidupnya. Tapi susah. Karena dia punya harta yang lebih banyak dari Arka. Aku menginginkan harta itu. Jadi aku harus bersabar sedikit untuk mengambil hatinya agar dia mau merestui aku menikah dengan Arka nanti.Dan pasti dia akan memberikan sebagian hartanya untuk aku nanti. Sabar Laras. Sabar." Batin Laras.
__ADS_1