
Selesai dengan acara ijab kabul, Nayara dan Daniel juga seluruh tamu undangan yang lainnya kembali ke kediamannya Melati untuk melanjutkan acara usai ijab kabul.
Di sana mereka meraka melakukan sesi foto bersama. Kemudian di lanjutkan dengan acara makan makan.
" Daniel, Melati kakak ucapkan selamat untuk pernikahan kalian berdua. Semoga pernikahan kalian selalu di anugerahkan kebahagiaan hingga anak cucu kalian nanti." Ucap Dinda pada keduanya.
" Iya kak terima kasih atas do'anya." Ucap Melati tersenyum.
" Iya kakak. Terima kasih atas do'anya. Semoga pernikahan kakak juga selalu di liputi oleh kebahagiaan." Ucap Daniel.
" Daniel, Melati aku ucapkan selamat atas pernikahan kalian berdua. Akhirnya penantian Daniel terwujud juga. Ia berhasil menikahimu Melati." Ucap Arka menambahi.
" Ya tentu saja. Aku sangat bahagia setelah menikah dengannya." Ucap Daniel mengedipkan mata pada Melati.
Melati tersipu malu di buat Daniel.
" Lihatlah kakak, kakak ipar wajah istriku merah seperti kepiting rebus." Goda Daniel pada Melati.
" Daniel..." Ucap Melati melotot.
" Hahahahha sayang. Kau sungguh menggemaskan marah seperti itu." Ucap Daniel mencubit pipi Melati.
" Daniel, sudahlah. Jangan menggoda Melati." Bela Dinda pada Melati.
.
.
.
.
Acara pernikahan pun telah selesai. Semua tamu undangan telah pulang. Kini semua orang duduk di ruang tamunya Melati. Mereka bercengrama sambil sesekali melemparkan tawanya.
" Daniel, apa yang kau siap untuk nanti malam nantinya?" Tanya Arka pelan pada Daniel.
" Tentunya kakak ipar. Aku akan membuat Melati mendapatkan kepuasan hanya dari aku saja." Jawab Daniel tertawa.
" Iya itu harus. Kau tau bukan dia pernah menikah. Jadi kau harus lebih kuat dari mantan suaminya itu." Ucap Arka.
" Soal itu kakak ipar tenang saja. Semua aku persiapkan." Ucap Daniel.
" Kau harus extra keras untuk bekerja keras nantinya. Agar Melati cepat hamil. Lihatlah kakakmu, sekarang sudah hami anakku. Hebat bukan aku. Itu karena hampir setiap malam aku selalu membuat kakakmu itu mendesah dengan pusakaku ini. Kalau kau tidak percaya kau tanyakan saja padanya." Ucap Arka lagi.
" Okey. Akan aku buktikan jika aku bisa membuat Daniel junior lebih dari punyamu itu. Karena yang aku tau anak yang di kandung kakakku itu hanya satu saja." Ucap Daniel lagi.
" Yang penting Daniel, juniorku yang pertama dengan kakakmu Dinda sudah hidup di dalam perut istriku. Kau bekerja saja dulu. Dan buktikan kalau kau bisa membuat lebih dari aku." Tantang Arka.
" Oke siapa takut. Lihat saja aku pasti bisa membuatnya." Balas Daniel.
" Yayayayyaua buktikan saja dulu." Ucap Arka.
" Apa yang sedang kau kalian bicarakan bisik bisik seperti itu?" Tanya Dinda pada keduanya.
__ADS_1
" Aku hanya bilang pada Daniel tidak perlu memikirkan soal perusahaan. Bersenanglah dulu dengan pernikahanmu." Jawab Arka.
" Ohh. Aku pikir apa." Ucap Dinda.
" Semuanya makan siangnya sudah siap. Mari kita makan siang dulu." Ucap Ibu Sari istri pak Anwar.
" Baik bu. Kami akan kesana." Jawab mereka.
" Kalian pergilah lebih dulu. Aku akan mencari Arin dulu." Ucap Dinda.
" Kakak pergi duluan saja. Biar aku saja yang akan mencari Arin. Mungkin saja ia bermain dengan si kembar Devano dan Devina." Cegah Melati pada Dinda.
" Baiklah, Melati. Terima kasih." Ucap Dinda.
" Ayo sayang kita ke meja makan. Kau harus makan karena di perutmu ini ada buah cinta kita." Ucap Arka pada Dinda.
" Iya mas." Ucap Dinda.
" Mas, kenapa kau ada di sini juga?" Tanya Melati.
" Aku ingin menemanimu mencari Arin dan si kembar." Jawab Daniel.
" Tidak perlu. Kau pergilah makan terlebih dahulu." Ucap Melati.
" Tidak sayang. Aku akan makan kalau saat kau akan makan sayang. Ayo kita temui Arin dan si kembar."Ucap Daniel.
" Baiklah, ayo kita temui mereka. Lalu kita makan bersama." Ucap Melati.
Setelah makan siang, Mereka kembali duduk di ruang tamu sambil berbincang bincang ringan.
" Tidak usah nak Melati. Bapak sudah nyaman tinggal di rumah kontrakan itu." Tolak pak Anwar.
" Saya mohon pak Anwar. Tinggallah di sini. Dari pada rumah kosong nantinya dan akan menjadi sarang dedemit lebih bagus ada orang yang menempatinya." Bujuk Melati.
" Saya merasa keluarga saya selalu merepotkan nak Melati saja." Ucap pak Anwar.
" Tidak pak Anwar. Saya sama sekali tidak merasa di repotkan kok pak. Malah saya senang jika bapak dan istri dan juga kedua si kembar ini akan tinggal di sini nanti. Saya dan Daniel sudah membicarakan ini sebelumnya." Ucap Melati.
" Iya pak Anwar. Terimalah permintaan istri saya ini. Kami akan senang jika rumah ini di tempati oleh kalian nantinya. Bukan begitu sayang." Sambung Daniel.
" Iya pak. Yang di katakan suami saya itu benar." Ucap Melati.
" Bu, bagaimana?" Tanya pak Anwar pada istrinya.
" Ibu terserah bapak saja." Jawab ibu Sari.
" Baiklah nak Melati. Saya dan keluarga saya akan tinggal di sini." Ucap pak Anwar.
" Alhamdulillah. Saya senang sekali kalau kalian tinggal di rumah saya ini."Ucap Melati.
Arka dan Dinda hanya diam saja mendengar pembicaraan Melati dan lainnya. Karena merasa mereka tidak perlu ikut campur dalam urusan mereka.
" Melati, Daniel. Kakak pulang dulu ya. Badan kakak rasanya letih sekali."Ucap Dinda.
__ADS_1
" Iya kak. Kalian pulang saja. Lihat, Arin juga sudah tertidur bersama si kembar di sana. Mungkin kelelahan bermain." Ucap Daniel.
" Iya Niel. Mas cepat kamu gendong Arin." Ucap Dinda.
" iya sayang." Jawab Arka.
Keluarga Dinda pun telah pergi dari sana. Daniel memindahkan si kembar ke kamar secara bergantian. Pak Rahmat pulang ke kontrakan meninggalkan istri dan anaknya di sana untuk mengurus barang mereka yang ada di sana.
Melati dan Daniel juga sekarang sudah berada di kediaman milik orang tua Daniel. Di sana hanya ada mereka berdua di tambah satu satu asisten rumah tangga. Dinda sudah tidak tinggal di sana lagi. Ia di bawa Arka untuk tinggal di rumahnya sendiri.
.
.
.
.
Malam hari pun tiba. Usai menyelesaikan makan malamnya, Daniel dan Melati sekarang berada di dalam kamar.
Melati berada di dalam kamar mandi memakai baju yang di berikan kakak iparnya, Dinda.
" Astaga, baju apa ini modelnya seperti ini. Tipis sekali. Aku malu jika mas Daniel melihatnya nanti." Ucap Melati mondar mandir sambil menggigit kukunya.
Dinda memberikan lingerie berwarna merah pada Melati untuk malam pertama mereka nanti. Lingerie itu sangat kontras dengan kulit putihnya. Dulu saat menikah dengan Aditya, Melati tidak pernah memakai baju seperti itu.
" Sayang, kamu sedang apa di dalam?" Tanya Daniel dari luar.
Melati tidak menjawab pertanyaan Daniel. Ia bingung harus menjawab apa. Jadi ia diam saja.
" Sayang kenapa kau tidak menjawabnya. Kau tidak apa-apa kan. Jangan menakutiku seperti itu." Tanya Daniel lagi dan tetap tidak ada jawaban dari Melati.
" Sayang jika hitungan ke tiga kau tidak membuka pintunya. Terpaksa aku akan mendobraknya." Ucap Daniel.
Mendengar ucapan Daniel yang akan mendobrak pintu. Melati segera membuka pintunya.
Gleekkkkk
Daniel menelan kasar ludahnya. Ia melotot melihat tubuh Melati yang hanya di bungkus dengan kain transparan seperti itu. Terlihat jelas lekuk tubuh Melati yang sudah membangkitkan jiwa kelakiannya. Belum lagi dua gunung kembar milik Melati yang terlihat sangat besar dan menonjol. Di tambah terlihat juga di bawahnya bulu halus dari ladang kecil semakin membuat hasratnya menggebu gebu.
" Sayang. Apa kau sudah siap untuk malam ini?" Tanya Daniel yang sudah ada di dekat Melati.
" Iya mas." Jawab Melati malu.
" Sayang, aku tau ini bukan yang pertama untukmu. Tapi aku akan melakukannya dengan pelan pelan juga." Ucap Daniel.
Melati hanya menganguk saja. Dan terjadilah malam panas yang biasa di lalu pengantin baru seperti biasa.
" Sayang, apa kau puas denganku?" Tanya Daniel memeluk Melati.
" Iya mas, aku sangat puas." Jawab Melati.
" Syukurlah kau puas sayang. Ayo kita tidur. Aku tau kau sangat lelah untuk hari ini. Apalagi setelah aktivitas kita tadi yang sangat menguras tenaga." Ucap Daniel mengecup keningnya.
__ADS_1
" Iya mas." Ucap Melati.
Keduanya tidur sambil berpelukan mengarungi alam mimpi.