
Proyek pembangunan hotel yang di kerjakan oleh Daniel dan Arka sudah selesai selesai di bangun. Kini tinggal mengisi bagian dalam hotel saja. Setelah itu, keduanya akan membuka resmi hotel itu. Hotel itu namakan PERMATA HOTEL oleh Daniel. Arka meminta Daniel memberi nama hotel tersebut. Karena Daniel lah yang lebih banyak membiayai pembangunan hotel itu sebanyak 60% dan untuknya 40%. Namun, walaupun begitu, pendapatan tetap akan di bagi sama sesuai keinginan Daniel.
Hotel yang di bangun keduanya, terlihat mewah dan elegan dari hotel hotel yang berada di daerah itu. Ada juga kamar khusus pasangan yang berbulan madu, aula pernikahan bagi yang ingin melakukan pernikahan di hotel itu. Terdapat juga restoran bintang lima di lantai satu hotel. Hotel itu menghadap langsung ke arah pantai. Terlihat pasir putih pantai, menambah suasana romantis bagi pasangan bulan madu atau juga pasangan yang ingin menghabiskan malamnya di sana.
Setelah selesai mengisi furniture, Daniel dan Arka sepakat untuk meresmikan hotel tersebut tepat malam minggu dan memulai pembukaanya dengan memberi diskon 50 % bagi yang ingin selama sebulan penuh bagi yang ingin menyewa kamar atau auala juga restoran di sana.
Di rumah Daniel.
Terlihat Daniel yang sedang bermanja dengan kakaknya Dinda.
" Daniel, minggu ini kamu sama kak Arka akan meresmikan hotel Kalian?" Tanya Dinda mengelus lembut kepala Daniel.
" Iya kak. Aku sama kakak ipar sepakat melakukannya minggu ini." Jawab Daniel.
" Ohhh." Ucap Dinda.
Dinda dan Arka sudah menjalin kasih. Tapi masih dalam tahap pacaran. Makanya, Daniel sudah memanggil Arka dengan sebutan kakak iparnya. Dinda belum ingin melangkah ke jenjang yang lebih serius lagi. Padahal Arka, sudah berkali-kali mengajukan keinginannya untuk menjadikannya istri dan ibu sambung untuk Arin anaknya. Tapi Dinda belum menerimanya. Ia masih sangat takut jika kejadian beberapa tahun lalu terjadi lagi. Arka pun paham. Jadi dia tidak akan memaksa Dinda lagi. Biarlah semua mengalir sendiri hingga nanti Dinda sudah merasa yakin terhadap dirinya. Ia takut jika memaksa Dinda, Dinda akan menjauhinya. Arka tidak ingin itu terjadi, karena ia sangat mencintai Dinda. Begitu juga dengan anaknya yang sangat menginginkan Dinda sebagai bundanya.
" Gimana kamu sama Melati?" Tanya Dinda lagi.
"Masih sama kak. Melati masih dengan pendiriannya. Ia belum ingin membuka hatinya. Atau mungkin dia masih mencintai mantan suaminya yang brengsek itu." Jawab Daniel lesu.
" Kasian kamu dek. Kamu harusnya ngerti posisinya Melati. Kakak yakin, Melati sudah tidak mencintai mantan suaminya itu. Dia hanya masih takut di khianati jika nanti ia membuka hatinya." Jelas Dinda.
" Entahlah kak. Aku bingung sama jalan pikirannya. Sudah setahun lebih aku mengejarnya. Tapi, Melati masih saja tidak bisa melihat rasa cinta aku padanya. Apa aku kurang meyakinkan buat Melati ya kak?" Ungkap Daniel.
"Kamu jangan ngomong kaya gitu. Kan kamu tau dia pernah tersakiti oleh orang yang sangat di cintanya. Kamu juga sih, kebanyakan becanda juga sama Melati. Makanya Melati pikir itu hanya becandaan kamu saja." Ucap Dinda menghibur adiknya yang terlihat galau.
Daniel hanya diam saja mendengar ucapan kakaknya itu.
" Kamu nyerah nih. Ngak mau ngejar Melati lagi?" Goda Dinda.
" Ya ngak lah kak. Kata siapa aku nyerah. Aku akan ngejar Melati sampai dia jadi istri aku." Ucap Daniel semangat.
"Kakak pikir kamu udah nyerah ngejar Melati. Soalnya ada teman kakak yang kirim salam sama Melati." Jahil Dinda pada Daniel.
"Siapa teman kakak yang berani kirim salam sama calon istri aku. Aku akan buat hidupnya sengsara karena berani mendekati milik aku." Ucap Daniel kesal.
" Hahahahaha becanda. Ngak ada kok yang kirim salam sama Melati nya kamu. Kakak menggoda kamu saja." Ucap Dinda tertawa.
"Kakak. Awas ya udah bohongin aku." Ucap Daniel menggelitik Dinda.
" Hahahaha ampun Daniel. Stop kakak udah ngak kuat tertawa lagi." Ucap Dinda memohon.
Daniel pun berhenti menggelitik Dinda.
" Aku ngak akan izinkan ada orang lain yang mendekati Melati aku. Melati itu hanya punya aku seorang." Tegas Daniel.
" Iya deh. Melati hanya milik kamu seorang. Tapi pertanyaannya, Melati mau ngak sama kamu." Ucap Dinda berlari ke kamar.
" KAKAKKKKK." Teriak Daniel kesal pada kakaknya.
" Mungkin aku terlalu mendekatinya secara terbuka. Aku harus menarik ulur hatinya Melati. Karena aku yakin Melati juga pasti sudah ada rasa sama aku. Hanya saja dia menepis perasaan itu. Lihat saja sayang. Pasti kamu akan jadi milikku sebentar lagi. Aaaaa Melati Kamu bikin aku gila. Hanya kamu bisa buat aku seperti orang gila kayak gini." Ucap Daniel pada dirinya sambil menghayal wajahnya Melati.
"Sayang, kamu sangat cantik. Aku ngak peduli sama status kamu itu. Aku sangat mencintaimu sayang. Tunggu aku ya. Jangan sampai kamu menerima cinta orang lain ataupun kembali sama mantan suami kamu itu. Jika itu terjadi, aku akan sembunyikan kamu di dalam lemari. Hehehe kalau itu bisa." Ucap Daniel terkekeh melihat foto Melati yang di ambil ya diam-diam saat bersamanya.
Cupppp
Daniel mengecup fotonya Melati lalu ia menyimpan kembali ponselnya. Daniel pun pergi ke kamarnya beristirahat.
********
__ADS_1
Seperti biasanya, Daniel selalu mengirim pesan selamat pagi pada Melati atau pun kata-kata penyemangat lainnya. Tapi, pagi ini Melati tidak menerima pesan itu lagi.
"Hmmm,, tidak seperti biasanya."Ucap Melati membuka ponselnya saat perjalanan ke cafe.
" Tapi, setidaknya aku bersyukur. Hari ini Daniel tidak menerorku dengan pesan cintanya yang aneh."Ucap Melati meletakkan kembali ponselnya.
Setibanya di cafe
" Selamat pagi kak." Ucap Dewi sang manajer cafe.
" Selamat pagi juga Wi." Jawab Melati.
Melati meminta para karyawannya memanggilnya dengan sebutan kakak. Ia tidak ingin di panggil ibu oleh karyawannya. Karena umurnya dengan mereka tidak jauh berbeda. Ia juga belum keliatan tua, kenapa juga harus di panggil ibu oleh karyawannya. Ia juga tidak ingin karyawannya memanggilnya dengan embel-embel bos. Menurutnya, itu terasa aneh di telinganya.
Menjelang jam makan siang. Melati memeriksa ponselnya lagi. Tidak ada pesan dari Daniel seperti biasanya menjelang jam makan siang. Hari ini Daniel tidak menelepon ataupun mengirim pesan kepadanya.
" Ngak kayak biasanya. Apa dia sibuk ya. Ehhh kenapa juga aku harus pusing mikirin itu." Gumam Melati.
Tok tok tok
" Masuk." Ucap Melati dari dalam.
" Kak, makan siang untuk pak Daniel sudah siap." Ucap Dewi begitu membuka pintu.
" Oke. Akan saya antarkan." Jawab Melati.
" Kamu bisa kan hendel yang di sini." Lanjut Melati.
" Ya bisa dong. Seperti biasanya juga kayak gitu kan." Jawab Dewi tersenyum.
" Iya juga ya. Ya udah saya pergi dulu ya." Ucap Melati mengambil makan siang Daniel dari tangan Dewi.
Di kantor Daniel.
Melati menyapa karyawan Daniel yang bertemu dengannya dengan ramah. Semua karyawan di kantor Daniel, menyukai sikap ramah Melati
Tidak seperti mantannya Daniel sebelumnya, yang suka bersikap angkuh seakan kantor ini adalah miliknya. Padahal, Daniel atau Dinda tidak pernah bersikap seperti pada mereka.
Melati menaiki lift karyawan. Padahal karyawan Daniel memintanya naik lift khusus Daniel. Karena mereka tau, Melati adalah kekasihnya atasan mereka. Itu sudah tidak jadi Rahasia umum lagi. Tapi Melati menolaknya. Itu yang semakin membuat mereka menyukai sikap rendah hatinya Melati.
Tin lift yang di naiki Melati terbuka di depan ruangan Daniel. Melati melangkah menuju ruangan itu.
" Selamat siang mba Ayu." Sapa Melati melewati meja sekretaris Daniel.
" Ehhh Melati. Selamat siang juga. Mau ngantar makan siangnga pak Daniel ya." Jawab Ayu pada Melati.
" Iya mba. Danielnya ada di ruangan?" Ucap Melati.
" Ada. Masuk aja." Ucap Ayu.
" Ya udah aku masuk ya." Ucap Melati.
"Oh iya, ini makan siang untuk mba ayu. Sampai lupa aku." Ucap Melati berbalik menyerahkan kotak makan siang pada Ayu.
" Makasih ya Mel. Jadi ngerepotin nih." Ucap Ayu menerima kotak makan itu.
" Ngak kok mba." Ucapnya.
" Hehehhe lumayan menghemat." Ucap Ayu terkekeh.
" Ya udah aku masuk dulu ya mba." Ucap Melati.
__ADS_1
" Iya silahkan." Jawab Ayu.
Tok tok tok..
Melati mengetuk pintu ruangan Daniel. Walaupun sudah biasa ia datang ke kantor Daniel. Tapi, Melati tidak pernah seenaknya masuk ke dalam ruangannya Daniel.
" Masuk." Jawab Daniel dari dalam.
Kleekkkk.
Pintu di buka oleh Melati.
" Hai Niel." Ucap Melati membuka pintu melihat Daniel menatap layar komputernya.
" Ehhh Melati." Ucap Daniel melihat ke arah Melati.
" Sibuk banget ya." Tanya Melati duduk meletakkan rantang di atas meja.
" Iya. Aku lagu lihat laporan persiapan peresmian hotel minggu ini." Jawab Daniel bohong berjalan ke arah Melati.
Sejak Melati tiba di perusahaannya. Daniel melihat Melati lewat layar monitornya.
"Ohh gitu." Ucap Melati mengagukkan kepalanya.
Melati terlihat sangat imut menggemaskan seperti itu di mata Daniel. Ingin rasanya Daniel memeluk wanita yang di cintanya itu seperti biasa. Tapi ia mempertahankan keinginannya sesuai rencananya.
" Ini makan siang aku ya." Tanya Daniel.
" Iyalah. Kamu pikir itu untuk siapa!" Jawab Melati.
" Aku makan sekarang ya." Ucap Daniel membuka rantang itu dan memakannya dengan lahap.
Hari ini Daniel tidak menyuapi Melati seperti biasa ataupun menawarkan makan siang pada Melati. Melati Daniel yang seperti itu, entah mengapa Melati merasa kesal di buatnya. Melihat Melati yang kesal, Daniel menahan diri agar tidak tertawa.
Eeeeeeuu
Daniel bersendawa sangat keras pertanda dirinya sangat kenyang.
" Alhamdulillah, aku kenyang."Ucap Daniel tanpa melihat Melati.
" Mel, kamu kenapa?" Tanya Daniel.
" Ngak papa kok. Oh iya. Karena kamu udah selesai makan. Aku langsung pulang ya." Jawab Melati.
" Iya. Makasih ya makan siangnya." Jawab Daniel.
" Iya sama-sama." Jawab Melati membereskan sisa makan Daniel.
" Aku pulang ya?" Tanya Melati pada Daniel.
" Iya Mel, hati-hati ya." Jawab Daniel.
Melihat Daniel yang tidak mengantarnya seperti biasa, membuat Melati semakin kesal saja. Ia pun langsung bergegas pulang dari sana. Melihat Melati keluar dari ruangannya. Tawa Daniel pun pecah.
" Hahaha hhahaha sayang kamu lucu banget kesal kayak gitu. Aku tadi pengen meluk kamu sayang. Tapi aku tahan. Aku ingin kamu menyadari perasaan kamu sama aku gimana." Ucap Daniel melihat Melati melalui layar monitornya menghentakkan kakinya di dalam lift.
Di mobil.
" Ngak biasanya dia manggil aku dengan nama. Biasanya dia manggil aku dengan kata sayang. Dia juga ngak ngantar aku keluar tadi. Ehhh tapi kenapa aku kesal ya. Dengan sikap Daniel seperti itu. Harusnya aku senang dong Daniel udah kembali normal kayak dulu. Udah ngak ganjen lagi sama aku. Aku kenapa ya jadi kayak gini. Aneh deh." Ucap Melati di dalam mobil.
" Tadi juga kenapa ngak nawarin aku makan siang bareng. Dia ngak tau apa, aku belum makan siang juga. Karena aku tau, dia selalu menyuapi aku makan siang bersamanya. Iiih Daniel kamu buat aku kesal sama laper tau." Ucap Melati kesal lalu ia menghidupkan mobilnya pulang ke rumahnya. Ia sudah tidak mood lagi kembali ke cafenya. Ia mengirim pesan kepada Dewi managernya untuk menghendel cafe.
__ADS_1