Terpaksa Bercerai Muda

Terpaksa Bercerai Muda
Episode 88


__ADS_3

Di ruangan lain para membicarakan tentang hobi mereka masing dan biasalah tidak jauh jauh dari urusan pekerjaan. Arka menemani tuan Edy bermain catur, sebab Daniel kurang jago dalam bidang catur serta kurang suka dengan permainan catur. Entahlah hanya Daniel sendiri yang tau alasannya. Tidak mungkin alasannya Catur adalah permainan yang memutar otak, karena menangani masalah perusahaan adalah hal yang sangat menguras otak dan juga tenaga.


" Kalian masih muda, tapi sudah sangat hebat mengelola sebuah perusahaan yang cukup sukses." Ucap Edy sambil memindahkan bidak catur.


" Terima kasih atas pujiannya tau Edy." Ucap Daniel tulus.


" Panggil paman saja, jika berada di luar kerja." Ujar tuan Edy.


" Baiklah." Ucap Daniel.


Arka terlihat sangat fokus dan teliti dalam memindahkan bidak caturnya.


" Maaf paman Edy, skat. Kau kalah dan aku yang menang." Ucap Arka menumbangkan king caturnya tuan Eddy.


" Kau memang sangat hebat dalam bermain catur rupanya. Belum lama kita memulai permainan, aku sudah kau tumbangkan." Ucap tuan Edy.


" Ahh tidak. Mungkin saja nasib baik memang sedang berpihak padaku." Ucap Arka.


Tin, sebuah pesan masuk ke dalam ponselnya tuan Edy. Ia pun segera membuka pesan yang tak lain dari istrinya tercinta.


" Suamiku, Melati meminta kita untuk menginap di sini malam ini." Isi pesan dari nyonya Sarah.


" Baik kita akan menginap di sini." Balas tuan Edy.


" Sepertinya paman dan juga istriku akan menginap di sini sesuai dengan permintaan Melati istrimu Daniel. Bagaimana apa kau tidak keberatan?" Tanya tuan Edy.


" Tidak paman. Menginaplah di sini. Aku justru akan senang kalau paman dan istri menginap di sini, rumah akan semakin ramai jika banyak orang." Jawab Daniel.


Di sisi lain.


" Suamiku mengiyakan untuk kami menginap disini Melati." Ucap nyonya Sarah usai membaca pesan balasan dari suaminya.


" Benarkah bibi?" Tanya Melati memastikan.


" Iya Sayang." Jawab nyonya Sarah.


" Tapi soal untuk tinggal di sini untuk sementara waktu, nanti ibu bicarakan bersama suami ibu nanti." Ucap nyonya Sarah.


" Tidak apa Bu. Bicaralah di waktu yang tepat saja." Ucap Melati.


" Bi Irma." Panggil Melati.


" Iya non." Jawab bi Irma mendekat.


" Tolong siapkan kamar untuk ibu Sarah dan suaminya. Malam ini mereka akan menginap di sini. Dan tolong sediakan kamar utama untuk mereka." Ucap Melati.


" Baik non, akan segera Saya laksanakan." Ucap bi Irma undur diri.


Hari semakin larut, semua penghuni rumah sudah berada di kamarnya masing-masing untuk mengistirahatkan tubuh mereka dari rutinitas hariannya.

__ADS_1


Di kamar Melati dan Daniel.


" Mas, boleh tidak ibu Sarah dan suaminya tinggal di sini. Katanya mereka sedang mencari lokasi untuk pembangunan rumah mereka di kompleks kita. Sambil mencari lokasi aku meminta ibu Sarah untuk tinggal di rumah ini untuk sementara waktu." Ucap Melati sambil memakai skincare.


" Ibu Sarah!" Ucap Daniel.


" Iya mas ibu Sarah. Beliau meminta aku dan kak Dinda untuk memanggilnya ibu." Jelas Melati.


" Ohh. Apa pun keinginan nyonya hamba setuju saja." Ucap Daniel mencium pucuk kepala Melati.


" Terima kasih mas." Ucap Melati.


" Iya sayang. Apa pun keinginan mu selagi itu baik. Aku akan selalu setuju." Ucap Daniel.


Melati hanya mengangguk saja.


" Ayo kita tidur, malam semakin larut saja. Tidak untuk kesehatan mu dan calon anak kita jika kamu terlalu larut sayang." Ucap Daniel.


" Iya mas kita tidur. Aku juga sudah mengantuk.


Di kamar lain yaitu kamar tuan Eddy dan nyonya Sarah.


" Pa, Melati meminta kita tinggal di rumahnya selagi mencari lokasi untuk pembangunan rumah mereka." Ucap nyonya Sarah.


" Bukankah itu mau mu Bu, tentu dengan senang hati aku akan mengikuti kemauan mu." Ucap tuan Edy.


" Iya Bu, tapi dia bukan putri kita. Kau tau sendiri kan, kalau putri kita meninggal tepat di depan kita." Ucap tuan Edy.


" Iya pa, ibu tau. Apa mungkin Melati itu adalah kembaran putri kita ya pa." Ucap nyonya Sarah.


" Kau ini mengada Ngada saja bu. Sejak kapan kita mempunyai anak kembar." Ucap tuan Edy.


" Tapi pa...."


" Sudah lah Bu. Mari kita tidur. Hari semakin larut." Ucap tuan Edy memotong pembicaraan istrinya.


Keduanya pun segera tidur. Begitu juga dengan penghuni rumah di kamar lain.


Pagi hari.


Usai sholat subuh nyonya Sarah turun ke dapur. Tuan Edy suaminya masih tetap melanjutkan tidurnya.


" Selamat pagi nyonya, ada yang bisa kami bantu?" Tanya bibi Ani, melihat tamu majikannya berada di dapur pagi sekali.


" Selamat pagi juga, saya hanya ingin memasak sarapan pagi saja. Apakah boleh?" Jawab nyonya Sarah.


" Tapi nyonya, anda adalah tamu di rumah ini, biarkan kami saja yang menyiapkan sarapan pagi." Ucap bibi.


" Tidak apa-apa. Kalian tidak perlu khawatir atau pun takut. Aku hanya ingin memasak sarapan pagi untuk tuan rumah ini." Ucap nyonya Sarah.

__ADS_1


" Dan khususnya untuk Melati. Aku ingin sekali memasak untuk jelmaan putriku itu." Lanjut nyonya Sarah dalam hati.


" Baiklah nyonya. Tapi biarkan kami membantu anda." Ucap bibi Ani.


" Baik terima kasih. Ayo kita mulai memasaknya." Ucap nyonya Sarah.


Dengan di bantu oleh bibi Ani dan Irma menyiapkan bahan masakan, nyonya Sarah tidak perlu menggunakan waktu lama untuk menyiapkan sarapan untuk semua penghuni rumah.


" Sudah selesai. Apa mereka akan menyukainya." Ucap nyonya Sarah.


" Tentu saja nyonya. Apalagi non Melati, sarapan ini sangat cocok untuk ibu hamil seperti dirinya." Ucap bibi Ani.


" Dan ini sungguh sangat enak." Tambah bibi Irma.


" Syukurlah kalau begitu." Ucap nyonya Sarah.


Nyonya Sarah membuat sarapan dengan dua versi. Yaitu timur tengah tempat asal mereka dan juga Indonesia. Ia melakukan itu, agar yang tidak biasa dengan makanan timur tengah bisa memakan makanan dari Indonesia.


Jam 07.30 semua penghuni rumah sudah berada di meja makan menduduki kursinya masing-masing.


" Wah, apa ini? Sarapan kali sungguh berbeda." Ucap Melati dengan mata berbinar.


" Iya benar. Aku jadi tidak sabar untuk memakannya." Ucap Dinda.


" Sarapan pagi ini ibu yang membuatnya. Semoga cocok dengan lidah kalian." Ucap nyonya Sarah.


" Tenang saja pasti akan cocok dan akan suka. Aku sudah tidak sabar untuk makan." Ucap Melati menelan liurnya.


" Mau ibu ambilkan Melati?" Tanya nyonya Sarah.


" Boleh Bu. Aku mau makan nasi kebuli itu Bu." Jawab Melati.


" Baiklah, ini untukmu." Ucap nyonya Sarah.


" Terima kasih." Ucap Melati langsung menyantap makanannya.


" Pelan pelan makan nya sayang. Tidak akan ada yang berebut itu dari mu." Tegur Daniel.


" Ini enak mas. Sungguh enak." Ucap Melati.


" Iya tapi pelan pelan sayang. Itu masih banyak di atas meja, jadi kau tidak perlu khawatir kehabisan." Ucap Daniel.


Blussh wajah Melati merona karena malu. Karena yang di katakan oleh Daniel suaminya itu benar. Ia makan tergesa gesa agar bis tambah takut yang di atas meja habis.


Mereka tersenyum melihat rona wajah Melati. Daniel pun sama, ia merasa gemas melihat wajah Melati merona seperti itu. Andai di rumah hanya ada mereka berdua. Ia ingin mengurung istrinya itu di dalam kamar dan bergulat di atas kasur.


Dinda mengambilkan sarapan untuk Arka suaminya dan Arin anaknya. Setelah itu ia akan mengambil untuknya.


Tuan Edy dan nyonya Sarah sarapan dengan makanan khas Indonesia yaitu nasi goreng.

__ADS_1


__ADS_2