Terpaksa Bercerai Muda

Terpaksa Bercerai Muda
Episode 78


__ADS_3

Pukul 11 siang, Daniel terbangun dari pingsan atau mungkin tidurnya. Ia merasa kepalanya masih sedikit pusing.


" Akhirnya lo bangun juga Niel. Gw pikir ngak lo udah mati soalnya ngak bangun bangun." Celetuk Rio.


" Kepala gw masih pusing." Ucap Daniel


" Iya efek dari obat itu masih ada Niel." Terang Rio.


" Karena ulah wanita jalang itu." Ucap Daniel.


" Astaga, aku belum memberi kabar untuk istri gue Melati Rio." Ucap Daniel berusaha bangun dari kasur.


" Ehhhh lo mau kemana sih?" Tanya Rio.


" Istri gue Rio, pasti dia khawatir mikirin gue." Ucap Daniel.


" Soal Melati. Udah lo tenang aja. Dia udah gue hubungi pake hp lo tadi." Ucap Rio membaringkan Daniel kembali.


" Beneran?" Tanya Daniel memastikan.


Rio menganguk pertanda iya.


" Lo bilang apa sama Melati?" Tanya Daniel.


" Ya semuanya." Jawab Rio.


" Kurang ajar lo Rio. Lo mau bikin istri gue sedih karena mikirin masalah ini. Gila ya lo. Otak lo dimana? Gimana kalo terjadi sesuatu dengan kandungannya. Lo mau tanggung jawab. Haahhhhhh." Bentak Daniel marah.

__ADS_1


" Upppsss santai dong Niel. Gue belum gila kok. Justru dengan aku kasih tau, istri loe bakalan kurang khawatirnya. Karena apa? Karena kalau ngak di kasih tau, pasti mikirin lo terus yang ngak ada kabarnya dan susah di hubungi. Itu ngak akan baik untuk kehamilannya. Lo tenang aja, di sana ada kak Dinda juga kok yang tenangin Melatih waktu gue kasih tau keadaan lo. Melati pasti baik baik aja sekarang. Yang harusnya di pikirin tuh lo. Buruan sehatnya supaya bisa pulang nemuin bini lo. Siapa tau khawatirnya kumat nungguin lo yang ngak pulang pulang." Ujar Rio menenangkan Daniel.


" Aku udah sehat. Aku mau pulang sekarang juga Rio." Ucap Daniel mendengar kalimat terakhirnya.


" Lo boleh pulang. Tapi minum dulu teh hangat dan bubur yang udah di buatin bibi tadi. Supaya lo punya untuk pulang nemuin bini lo nanti." Ucap Rio.


Daniel mendengarkan apa yang di katakan Rio. Ia dengan cepat menghabiskan bubur dan teh yang berada di atas meja.


Setelah itu, Rio memberikan baju ganti untuknya. Karena bajunya yang semalam sudah basah karena merendam semalam penuh di kamar mandi.


" Udah?" Tanya Rio.


Daniel hanya mengangguk.


" Ayo kita berangkat sekarang juga." Ucapnya.


" Iya karena tubuh lo belum benar benar pulih. Kalau ada apa-apa sama Lo, kasian bini lo. Mana cantik lagi." Jawab Rio menggodanya.


" Sialan lo muji muji istri gue kayak gitu." Kesal Daniel meninju bahu Rio lemah.


" Hehehe becanda kali. Di hati gue cuma ada yayang Rere seorang kok. Ngak mungkin juga gue suka sama bini lo. Tapi istri lo emang cantik kan?" Gurau Rio.


" Iya istri gue emang cantik. Cantik banget. Ehhh tunggu dulu. Ngapain lo muji istri gue. Mau gue hajar, hahhh. Sialan lo Rio" Ucapnya kesal.


" Hahahaha becanda Niel, sumpah. Ngak mungkin juga gue istri lo gue bilang burik kan." Ucap Rio tertawa.


" Ya ngak gitu juga. Tapi jangan muji dia kayak gitu dong. Cuma gue yang berhak kayak gitu. Yang lain jangan." Ucap Daniel.

__ADS_1


" Dasar posesif." Ledek Rio.


" Biarin." Ucapnya cuek.


" Seorang Daniel bucin pada seorang Janda." Ledeknya lagi.


" Biar janda. Tapi mantap banget kayak perawan. Gue yakin yang ngaku gadis di luar sana kalah jauh." Ucapnya sinis.


" Dasar mesum." Ucap Rio kesal.


" Biarin. Orang istri gue. Mana bentar lagi mau punya buntut. Hebat kan gue." ucapnya bangga.


" Isss males banget gue lo." Kesalnya.


" Ini kapan kita berangkat. Dari ngomong doang?" Tanya Daniel.


" Ini mau berangkat." Jawab Rio.


Daniel pun segera berdiri dan mengikuti langkah kaki Rio.


" Lo bisa kan, jalan sendiri?" Tanyanya.


" Bisa. Tenang aja." Jawabnya.


Di dalam mobil.


Rio langsung menjalankan mobilnya meninggalkan rumah kakek dan neneknya menuju bandara.

__ADS_1


" Tunggu aku pulang sayang. Maafin aku kurang waspada pada ular itu. Hampir saja aku membuat rumah tangganya kita dalam bahaya. Aku mencintaimu sayang. Sebentar lagi aku pulang untuk memelukmu." Batin Daniel dengan mata tertutup.


__ADS_2