
Melati sedang bersiap dengan di bantu oleh beberapa make up artist profesional yang di utus mamanya. Lebih tepatnya Dinda kakak iparnya. Ia sendiri juga bingung kenapa ia harus di dandani oleh mereka. Padahal ia sendiri pun bisa berhias. Ya walaupun tidak sebaik make up artist profesional. Tapi dandanannya cukup bagus dan tidak norak.
" Mari nona, saya bantu pakaikan gaunnya." Ucap make up artist itu.
" Ya." Jawab Melati pasrah.
Setelah bersiap.
" Ini ngak salah aku pakai gaun ini. Sudah seperti aku saja yang akan menikah. Hmm aneh." Ucap Melati bingung melihat pantulan dirinya di cermin.
" Anda sangat cantik nona." Ucap make up artist.
" Terima kasih. Kau juga cantik." Balas Melati tersenyum ramah.
Flash back.
" Sayang. Maaf ya. Kita ke butiknya ngak jadi. Soalnya papa kamu baru saja menghubungi mama. Dia ingin mama menemuinya di kantor. Ngak pa-pa kan? Ujar nyonya Sarah dengan wajah menyesal.
" Ngak pa-pa kok ma. Berarti aku ngak menemani mama nanti malam? Kan tidak jadi ke butik untuk membeli gaun." Tanya Melati.
" Ya jadi dong sayang. Nanti mama saja yang beli gaunnya untuk kamu pakai nanti malam." Jawab nyonya Sarah.
" Ohh. Tapi emang mama tau ukuran aku. Kan sekarang Melati lagi hamil? Jadi agak susah untuk mama cari gaun yang cocok untuk wanita hamil sepertiku." Ucap Melati.
" Soal itu kamu tenang saja nak. Mama tau kok gaun yang pantas untuk kamu. Kan dulu mama juga pernah hamil." Jawab nyonya Sarah mengelus kepala Melati.
" Ohh." Ucap Melati mengangguk paham.
" Kalau begitu kamu pulang saja ke rumah ya sayang pakai mobil ini." Ucap nyonya Sarah.
" Kalau aku pakai mobil ini, terus mama ke kantor papa pakai apa?" Tanya Melati.
" Itu gampang sayang. Kan mama tinggal naik taksi. Pulangnya kan mama bareng papa juga." Jawab nyonya Sarah.
" Ya udah. Kalau gitu aku pulang ya ma." Ucap Melati.
" Iya sayang. Pak hati hati bawah mobilnya." Ucap nyonya Sarah.
" Baik Bu." Ucap sopir menjalankan mobilnya meninggalkan nyonya Sarah di sana.
Melihat mobil yang membawa Melati, nyonya Sarah menelepon seseorang untuk menjemputnya lalu membawanya ke suatu tempat.
Flash on back
" Sayang, udah selesai bersiapnya?" Tanya nyonya Sarah menghampiri Melati.
" Ma, beneran Melati pakai baju ini?" Tanya Melati.
" Iya sayang kenapa? Kamu ngak suka dengan gaunnya?" Tanya nyonya Sarah.
" Ngak juga sih." Jawab Melati.
" Lalu?" Tanya nyonya Sarah.
" Hanya saja Melati aneh aja ma. Ini kan baju yang harusnya di pakai oleh wanita yang akan menikah. Kesannya Melati bersaing baju dengan pemilik pesta saja." Jawab Melati.
__ADS_1
" Ngak kok. Udah ngak usah mikir macam macam. Kita harus berangkat sekarang. Sebentar lagi acaranya akan di mulai." Ucap nyonya Sarah.
" Iya ma. Mbak makasih ya." Ucap Melati.
" Iya sama-sama nona. Itu memang sudah tugas kami." Balas mereka.
Melati tersenyum ramah dan mengikuti mamanya dari belakang.
Sesampainya di tempat acara.
Nyonya Sarah dan Melati memasuki sebuah hotel bintang lima. Hotel itu di hias dengan megahnya. Melati sampai terfana melihatnya.
" Sayang ayo." Ucap nyonya Sarah mengagetkan Melati.
" Iya ma." Ucap Melati.
Mereka tidak langsung memasuki tempat acara berlangsung. Nyonya Sarah membawa Melati memasuki sebuah ruangan.
" Ma, kenapa kita ke sini? Tanya Melati.
" Mama sedang menunggu seseorang. Nanti kita masuknya bareng sama dia." Jawab nyonya asal.
" Ohh." Ucap Melati.
" Kamu mau makan sesuatu sayang?" Tanya nyonya Sarah.
" Iya ma. Melati lapar." Jawab Melati.
" Mau makan apa sayang?" Tanya nyonya Sarah.
" Seblak boleh ma?" Jawab Melati.
" Ihh mama. Ya udah, Melati mau makan sup buntut saja. " Ucap Melati.
" Tunggu mama keluar dulu untuk menyuruh pelayan di luar menyiapkan makanan untuk kamu." Ucap nyonya Sarah.
" Iya ma." Ucap Melati.
Tidak lama kemudian, makanan yang di pesan Melati datang di bawah oleh pelayan. Nyonya Sarah tidak ikut kembali. Ia hanya berpesan pada pelayan itu, kalau dirinya sedang berbincang dengan seseorang.
Setelah menyelesaikan makannya, tidak lama kemudian ruangannya di ketuk oleh seseorang.
" Masuk." Jawab Melati.
" Sayang." Ucap orang tersebut yang tak lain adalah papa nya tuan Edy.
" Papa." Ucap Melati berdiri memeluk tuan Edy.
" Anak papa cantik sekali." Puji tuan Edy usai melepas pelukannya.
" Iya dong. Kan aku perempuan pa. Kalau aku laki-laki sudah pasti aku akan tampan seperti papa juga kan." Balas Melati.
" Bisa saja kamu sayang." Ucap tuan Edy mengelus sayang rambut Melati.
" Papa ngapain disini? Kata mama, papa sedang sibuk mengurusi pekerjaan papa. Makanya tidak bisa menemani di sini." Tanya Melati.
__ADS_1
" Papa usahkan untuk menyelesaikan pekerjaan papa. Supaya bisa menemani kalian di sini. Jarang jarang juga kita datang bersama menghadiri undangan seperti ini." Jawab tuan Edy.
" Ayo ikut papa." Ucap tuan Edy.
" Kemana?" Tanya Melati.
" Menemui mamamu dan juga tamu undangan lainnya." Jawab tuan Eddy.
" Ohh." Ucap Melati membulat kan mulutnya.
Dengan di dampingi tuan Edy, Melati begitu cantik dan anggun memasuki tempat itu berlangsung. Begitu juga dengan tuan Edy. Di usianya yang sudah terbilang berumur tidak mengurangi kesan wibawanya. Semua mata tertuju padanya. Terutama mamanya nyonya Sarah. Ia tersenyum haru melihat kedatangan suami dan putrinya. Melati bingung juga risih dengan tatapan mata para tamu di sana yang berbisik bisik tentangnya. Lalu matanya menangkap sosok pria yang selama ini membuatnya kesal dan juga galau berat yaitu Daniel. Daniel berdiri di atas panggung sambil tersenyum padanya. Karena masih kesal dengan Daniel. Melati membuang muka padanya.
Tuan Edy berjalan menuju panggung.
" Pa, ngapain kita kemari?" Tanya Melati.
Tuan Edy tidak menjawab. Ia hanya tersenyum lalu berjalan menuju Daniel.
" Daniel ku serahkan putriku padamu. Jangan kau sakiti. Sayangi dia sebagai mana kami orang tuanya menyayanginya. Buatlah dia tersenyum bahagia. Kalau kau sudah tak mampu putriku tercinta bahagia. Kembali kan dia pada kami. Biar kami sendiri yang membuatnya bahagia dengan cara kami sendiri. Dan kalau kau berani menyakiti hatinya, kau akan berhadapan denganku. Ini bukan ancaman atau pun peringatan. Ini hanya nasehat dari orang tua yang mencintai putrinya." Ucap tuan Edy dengan tegas.
" Papa." Ucap Melati menangis haru.
" Baik. Akan ku pastikan putrimu ini hidup bahagia bersama dengan ku kelak. Aku tidak bisa berjanji. Tapi akan ku usahkan hanya ada senyum di wajah istriku ini." Ucap Daniel tulus.
" Ciih senyum apanya. Kemarin kau baru saja membuatku menangis karena kau abaikan." Ucap Melati sinis. Ia yang tadi menangis haru mendengar perkataan ayahnya, seketika tersadar.
" Sayang kau merusak suasana saja. Itu juga aku lakukan agar rencana ini sukses. Bukan hanya aku saja lo yang terlibat dalam kejutan ini. Papa dan orang yang berada di bawah sana juga terlibat." Ucap Daniel mencubit gemas pipi Melati.
" Jadi kalian bersekongkol mengerjai ku." Ucap Melati kesal.
" Jangan marah dong sayang." Ucap Daniel.
" Tau. Percuma air mataku yang keluar itu. Semua terbuang sia sia." Ucap Melati.
" Jadi kau menyesal menangisi aku sayang?" Tanya Daniel.
" Tentu saja. Aku sangat menyesal dan aku juga sangat kesal padamu." Jawab Melati mencubit perut Daniel.
" Aaauu sayang sakit." Jerit Daniel.
" Iya maafin aku sayang. Sejujurnya aku juga tidak ingin mengabaikanmu seperti itu. Tapi kakak iparmu itu loh yang meminta ku seperti itu. Katanya supaya hasilnya bagus. Maafin aku ya istriku sayang. Ibu dari anak-anakku." Ucap Daniel mengecup kening Melati.
" Iya. Tapi aku masih kesal sama kamu mas." ucap Melati cemberut.
Cuupp. Daniel mengecup bibir merah Melati yang dari tadi menggodanya.
" Mas." Ucap Melati melotot.
" Sudahlah sayang, lihatlah semua orang memperhatikan kita lo." Ucap Daniel.
Melati seakan baru sadar, jika di tempat ini bukan hanya mereka berdua. Ada banyak pasang mata yang memperhatikan keduanya.
Keduanya pun duduk di singgasana yang di sediakan untuk keduanya.
Sementara itu di sudut sana, ada sepasang mata yang menatap Melati dengan wajah yang sulit di artikan.
__ADS_1
" Itu Melati? Tidak salah." Ucapnya.
# Maaf ya saya Hiatus lama. Saya sangat sibuk di dunia nyata. Di tambah lagi saya harus membantu adik saya mengerjakan tugas sekolahnya. 🙏🙏🙏. Tetap berikan dukungan kalian ya😉😉🥰🥰