
Satu bulan kemudian.
Kehamilan Melati sudah memasuki usia 9 bulan. Dokter memperkirakan bahwa ia akan melahirkan seminggu kemudian.
Di kamarnya.
" Nak, kata dokter sebentar lagi kamu akan lahir. Dan kita akan segera bertemu nak. Papi sudah ngak sabar pengen lihat dan gendong kamu sayang." Ucap Daniel mengelus perut Melati.
" Mami juga pi." Tambah Melati.
" Iya mami juga ya sayang." Ucap Daniel.
" Sayang, main yuk." Ucap Daniel mengelus paha Melati.
" Main apa mas?" Tanya Melati pura-pura.
" Masa harus di kasih tau sih. Main yuk. Mas pengen liat anak kita di dalam. Kata dokter itu bagus untuk memperlancar saat kamu lahiran nanti. Katanya kamu mau lahiran normal kan?" Jawab Daniel.
" Ngak. Aku lagi ngak mood mas. Mas kalau mau main, main aja sendiri." Ucap Melati.
" Menolak keinginan suami itu dosa sayang." Ucap Daniel merangsang Melati di bagian tertentu Melati.
" Mas, aku belum mau main." Ucap Melati gelisah karena rangsangan yang di berikan Daniel mulai bereaksi.
Daniel sangat tau bagian tubuh Melati yang paling sensitif.
" Yakin, ngak mau?" Goda Daniel.
Melati tidak menjawab, dia diam sambil merasakan sentuhan tangan Daniel di tubuhnya.
" Mas, cepat aku ngak kuat." Pinta Melati.
" Katanya tadi ngak mau." Goda Daniel.
" Mas! Ini juga gara-gara kamu. Cepat tanggung jawab." Ucap Melati melotot.
" Oke sayang. Dengan senang hati aku melakukannya." Ucap Daniel segera memulai penyatuan keduanya.
Jam 2 malam, Melati terbangun dari tidurnya. Ia merasakan sakit perut yang hebat.
" Mas, bangun." Ucap Melati menggoyang tubuh Daniel.
" Apa sayang." Jawab Daniel dengan mata tertutup.
" Mas, bangun dulu." Ucap Melati sambil menahan sakit.
" Apa sayang? Kamu mau lagi?" Tanya Daniel.
" Hikssss,, hikssss."
Melati menangis karena Daniel tidak bangun juga.
" Sayang kenapa kamu nangis? Kamu masih mau. Ya udah sini, kita main lagi." Tanya Daniel mendengar tangisan Melati dengan mata setengah sadar.
" Bukan mas." Ucap Melati.
" Terus apa sayang?" Tanya Daniel.
" Perut aku sakit banget mas." Jawab Melati.
" astaga, kenapa ngak bilang dari tadi." Ucap Daniel panik melihat Melati kesakitan dengan bulir keringat di dahinya.
" Aku sudah manggil kamu dari tadi mas, kamunya aja yang nyebelin." Ucap Melati.
" Panggil mama mas." Ucap Melati.
" Bentar sayang, mas pake baju dulu. Kamu juga mas pakein baju dulu." Ucap Daniel.
Setelah itu Daniel segera ke kamar mertuanya.
" Mama papa. Bangun. Mama papa bangun dong." Teriak Daniel mengendor ngendor pintu kamar mertuanya.
Teriakkan Daniel membuat seluruh penghuni rumah ikut bangun. Mereka kaget mendengar suara teriakkan Daniel yang begitu keras.
" Ada apa Daniel? Kamu ngendor ngendor pintu kamar mami sambil teriak teriak?" Tanya nyonya Sarah kesal karena terbangun dari tidur nyenyaknya.
" Iya ada apa Daniel?" Tanya tuan Eddy yang kesal juga.
" Maaf ma pa. Jangan marah. Itu mama papa." Jawab Daniel panik.
" Apa sih Daniel?" Tanya nyonya Sarah.
" Aaa lama. Ayo ma pa, ikut aku ke kamar." Ucap Daniel menarik tangan nyonya Sarah dan tuan Edy menuju kamarnya.
" Daniel jangan kurang ajar kamu ya. Saya ini mertua kamu. Daniel lepas." Ucap tuan Eddy marah.
Karena beliau hanya menggunakan sarung tanpa kaus dan kolor. Sama dengan Melati dan Daniel. Ia dan istrinya habis melakukan penyatuan dan baru saja tertidur. Hanya nyonya Sarah saja yang sudah memakai baju.
" Itu ma pa, Istri aku, anak kalian juga. Lagi merintih kesakitan. Perutnya katanya sakit banget." Ucap Daniel begitu tiba di kamarnya.
" Astaga Melati sayang." Ucap nyonya Sarah panik berlari ke arah Melati di ikuti Daniel dan tuan Eddy.
" Mama perut Melati sakit banget. Sakitnya ngak seperti biasanya ma. Melati ngak tahan." Adu Melati menangis.
" Sayang, ketuban kamu sudah pecah. Bayi kamu sudah mau keluar dari perut kamu nak." ucap nyonya Sarah.
" Hah lahiran ma? Bukannya kata dokter Istri Daniel akan melahirkan seminggu lagi." Tanya Daniel.
" Itu hanya perkiraan dokter saja Daniel. Cepat kamu gendong Melati ke mobil. Kita ke rumah sakit sekarang juga. Papa hubungi orang rumah sakit. Katakan putri kita akan melahirkan dan jangan lupa minta mereka siapkan kamar untuk Melati. Mama mau ambil keperluan Melati dan cucu kita di rumah sakit." Ucap nyonya Sarah.
" Baik ma." Ucap keduanya.
" Pak, Iwan cepat buka pintu mobilnya. Istri saya mau melahirkan." Teriak Daniel.
" Baik tuan." ucap pak Iwan.
__ADS_1
" Pak Iwan bisa nyetir mobil?" Tanya Daniel.
" Bisa tuan." Jawab pak Iwan.
" Tolong supirin saya dan istri saya ke rumah sakit sekarang juga ya pak Ini kuncinya." Ucap Daniel memberikan kunci mobilnya.
" Baik tuan." Ucap pak Iwan.
"Ma pa. Kami duluan." Teriak Daniel.
" Iya nak. Mama dan papa nyusul di belakang kalian. Pa cepat. Anak kita itu." Ucap nyonya Sarah.
" Iya ma, sabar. Jangan panik. Nanti susah mikirnya." Ucap Eddy.
" Gimana ngak panik. Orang putri kita mau melahirkan." Ucap nyonya Sarah.
Di mobil lain.
" Mas, sakit. Sakit banget." Ucap Melati.
" Kamu yang kuat sayang demi anak kita ini." Ucap Daniel menangis melihat kondisi Melati yang menahan sakit.
" Aku sudah ngak kuat mas." Lirih Melati.
" Kamu harus kuat sayang. Demi anak kita. Buah cinta kita." Ucap Daniel menguatkan Melati.
" Mas, kalau terjadi sesuatu denganku. Kamu jaga anak kita dengan baik ya. Jangan sembarang cari penggantiku untuk anak kita. Kalau pun iya, harus sesuai dengan persetujuan mama dan papa kak Dinda juga. Karena hanya mereka yang tau apa yang baik buat kamu dan anak kita kelak mas." Ucap Melati.
" Huuus kamu ngomong apa sih sayang. Tidak akan terjadi apa apa dengan kamu sayang. Kita akan merawat anak kita bersama-sama hingga tua nanti." Ucap Daniel.
" Tapi mas,,,"
" Udah kamu ngak usah ngomong. Sebentar lagi kita akan tiba di rumah sakit." Ucap Daniel
Tidak menunggu lama, mobil yang di tumpangi Daniel dan Melati sudah tiba di rumah sakit. Untungnya rumah sakit hanya berkisar 15 dari kediaman mereka.
Dokter wanita yang biasa memeriksa Melati sudah stay bay di depan pintu beserta dengan perawat. Daniel segera menggendong Melati dan meletakkannya di atas bangkar. Mereka segera memasukkan Melati ke dalam ruangan yang sudah mereka siapkan. Daniel ikut masuk ke dalam menemani Melati melahirkan.
Tuan Eddy dan nyonya Sarah juga sudah tiba di rumah sakit.
" Sus, putri saya dimana?" Tanya nyonya Sarah.
" Nona Melati sudah berada di dalam bersama dengan suaminya nyonya." Jawab suster.
" Boleh saya masuk ke dalam?" Tanya nyonya Sarah.
" Ma, mau ngapain di dalam?" Tanya tuan Eddy.
"Mama mau menemani putri kita pa." Jawab nyonya Sarah.
" Di dalam sudah ada Daniel suaminya ma. Kita tunggu saja di luar ma." Ucap tuan Eddy.
" Ngak mau pa. Mama pengen dampingi putri kita pa. Udah papa di sini saja. Suster buka pintunya. Saya mau masuk ke dalam menemani putri saya." Ucap nyonya Sarah.
" Tapi nyonya, saya takut dokter akan marah." Ucap suster tersebut takut.
" Ba baik nyonya. Silakan masuk." Ucap suster tersebut.
" Melati sayang." Ucap nyonya Sarah.
" Dokter ibu itu." Ucap suster di sebelahnya.
" Biarkan saja. Beliau adalah calon pemilik baru dari rumah sakit ini." Bisik dokter yang menangani Melati.
" Benarkah?" Tanya suster tersebut.
Dokter mengangukkan kepalanya.
" Mimpi aku, bisa melayani putri dari calon pemilik baru rumah sakit ini. Pasti bonus besar kalau putri mereka bisa melahirkan dengan selamat. Lumayan buat tambah tambah uang wisuda adikku." Batinnya tersenyum.
" Ma, mas. Sakit banget." Adu Melati.
" Iya sayang. Mama tau, kamu harus kuat ya. Demi anak kamu ini." Ucap nyonya Sarah mengelus kepala Melati.
" Benar kata mama sayang. Kamu harus kuat ya. Aku akan di sini menemani kamu." Ucap Daniel.
" Dokter berapa lama pagi putri saya menahan sakit?" Tanya nyonya Sarah.
" Iya dok. Saya tidak kuat melihat istri saya kesakitan." Tambah Daniel.
" Sudah waktunya. Tuan dan nyonya tolong semangati nona Melati untuk mengenjan ya. Nona dengarkan arahan dari saya ya." Ucap dokter.
" Baik dokter."
" Kita mulai ya nona. Tarik nafas dan yang panjang lalu buang. Silakan mulai." Ucap dokter.
" Uuuhhhhh,,, uuhhhhhh."
" Terus nona,"
" uuuuhhhhhhhhhh. Uuuuuhhhhhh."
" Terus lagi nona."
" Mas aku udah ngak kuat mas." Ucap Melati menyerah sambil menutup matanya.
" Sayang kamu harus semangat demi anak kita sayang. Demi aku. Aku ngak mau anakku di asuh oleh wanita selain kamu sayang. Pliss aku mohon kamu jangan nyerah ya . Pliss aku mohon sayang. Aku mencintaimu. Jangan menyerah demi aku dan anak kita. Buah cinta kita." Ucap Daniel menangis😭.
" Sayang kamu jangan menyerah. Mama ngak mau anak kamu punya ibu selain kamu sayang. Bangun sayang. Mama mohon. Kita hidup bersama lama sayang. Mama dan papa belum lama membuat kamu bahagia sayang. Izinkan kami melakukan itu saya." Ucap nyonya Sarah menangis juga.
" Tolong nona jangan menyerah itu kepala bayinya sudah terlihat." Ucap dokter.
Mendengar kata-kata ibu dan suaminya dan juga dokter Melati langsung membuka matanya.
" Sayang akhirnya kamu buka mata juga." Ucap Daniel bahagia mengecup keningnya.
__ADS_1
" Demi anak kita dan kalian semua." Ucap Melati.
" Ayo nona, kita mulai lagi. Kepala baby nya sudah tampak keluar. Suster tolong bantu dorong perutnya nona." Ucap dokter.
" Baik dok."
Melati mengangguk dan memulai aksinya.
Hingga akhirnya, terdengar suara tangisan bayi. Seorang bayi laki-laki yang tampan pun berhasil di lahirlah dengan selamat oleh Melati.
" Oeek Ooeeek." Suara tangis bayi.
" Tuan nyonya selamat. Anak dan cucu kalian sudah lahir. Dia bayi laki-laki yang tampan. Lahir dengan sempurna dengan berat badan 3,5 kg. Silakan gendong dan letakkan di dada ibunya. Agar dia bisa mencari kehangatan dan merasakan ASI pertamanya." Ucap dokter.
" Benarkah?" Tanya Daniel penuh haru.
" Iya tuan. Ini silahkan di gendong." Ucap memberikan bayi itu pada Daniel.
" Sayang, lihat ini anak kita. Kamu berhasil sayang. Kamu berhasil. Aku mencintaimu." Ucap Daniel menangis mencium bayinya.
Melati tersenyum lemah melihat bayinya dan tangis haru suaminya. Ia bisa dengan jelas melihat cinta di mata suaminya.
" Kamu nyusu sama mami dulu ya sayang." Ucap Daniel mengecup anaknya lalu meletakkan bayinya di dada istrinya.
Dengan di bantu nyonya Sarah, Melati duduk bersandar di kasurnya.
Sang bayi langsung mencari sumber kehidupannya. Ia menangis karena tidak berhasil menemukan sumber kehidupannya. Tingkahnya membuat semua orang di ruangan itu tertawa bahagia.
" Oh cup cup. Anak mami mau nyusu ya." Ucap Melati mengarahkan putingnya pada mulut anaknya.
Bayinya menyedot dengan kuat ASI miliknya.
" Anak papi lapar ya. Jangan di habisin ya nak. Punya papi lain." Ucap Daniel menoel noel pipi anaknya.
" Mas!" Ucap Melati malu juga kesal dengan perkataan suaminya.
" Hehehe, becanda sayang." Ucap Daniel suer.
" Ngak lucu." Rajuk Melati.
Dokter dan suster di ruangan di melihat kesomplakkan Daniel ikut tersenyum. Mereka pun pamit keluar dan akan kembali untuk memandikan bayi mereka.
" Daniel." Panggil nyonya Sarah.
" Iya ma." Jawab Daniel.
" Kamu sudah lihat bukan perjuangan istri kamu melahirkan anak kalian. Mama harap jangan kamu sakiti putri ini." Ucap nyonya.
" Kalau kamu sudah tidak mau lagi dengannya. Katakan padaku. Aku akan membawanya pergi darimu." Sahut tuan Eddy dari belakang.
" Ma pa. Daniel tau. Dan tidak pernah melakukan itu. Daniel tidak bisa berjanji kalau hal itu tidak akan terjadi. Tapi Daniel akan berusaha agar hal itu tidak akan terjadi dalam rumah tangga kami. Melihat reaksi istriku menahan sakit tadi ma pa. Membuat Daniel sadar, ternyata perjuangan seorang wanita melahirkan anaknya itu mempertaruhkan nyawanya sendiri. Kejadian tadi membuatku semakin mencintai istri dan juga anakku pa. Dan tolong tegur Daniel kalau berbuat salah. Walaupun kalian hanya Mertuaku saja. Tapi Daniel sudah menganggap kalian seperti orang tua Daniel sendiri. Sejak kedatangan kalian, Daniel dan kak Dinda bisa merasakan lagi kasih orang tua lagi." Ucap Daniel tulus.
" Mama dan papa pasti akan melakukan nak. Kami juga sudah menganggap kamu dan kakak kamu seperti anak kami sendiri." Ucap nyonya Sarah.
" Terima kasih ma pa. Sudah mempercayakan putri kalian kepada ku." Ucap Daniel.
" Sama-sama sayang." Ucap nyonya Sarah.
" Ma, hari masih gelap. Mama dan papa sebaiknya pulang saja. Istirahat di rumah saja." Ucap Melati.
" Iya ma pa. Biar Daniel saja yang menjaga Melati di sini. Sebentar lagi juga suster akan datang mengambil anak kami untuk di mandikan. Jadi Melati bisa istirahat dengan baik nantinya." Ucap Daniel.
" Baiklah. Tapi sebelum itu, foto atau video kan anak kalian. Mama dan ngak mau ada adegan anak yang tertukar." Ucap nyonya Sarah khawatir.
" Sudah ma tadi. Daniel sudah melakukannya. Dia punya tanda lahir di lengan dekat ketiaknya ma." Ucap Daniel.
" Ya sudah. Kalian mau di bawakan apa untuk sarapan besok?" Tanya nyonya Sarah.
" Kalau sarapan dari rumah sakit pasti sudah ada ma. Mama tidak perlu repot-repot." Ucap Melati.
" Ohh tidak bisa. Cucu ku harus merasakan masakan ku di hari pertamanya di dunia. Walaupun harus melalui ASI putriku." Ucap nyonya Sarah.
" Oke deh kalau itu maunya mama. Padahal Melati ngak mau ngerepotin mama." Ucap Melati.
" Mama ngak repot kok sayang. Kamu mama masakin apa? " Tanya nyonya Sarah.
" Sup buntut sama ayam kecap ma." Jawab Melati.
" Oke sayang. Mama dan papa pulang dulu ya." Ucap nyonya mengecup Melati dan cucu nya di ikuti oleh tuan Eddy juga.
" Iya ma pa. Hati hati di jalan." Ucap Daniel.
Nyonya Sarah mengaguk.
" Kalian juga istirahat saja. Itu susternya sudah datang mengambil anak kalian." Ucap tuan Eddy.
" Iya pa ma."
Setelah suster mengambil anak mereka. Daniel membantu Melati ke kamar mandi untuk pipis. Air matanya jatuh lagi melihat Melati yang merintih menahan sakit membuang seninya.
" Kamu kenapa menangis mas?" Tanya Melati.
" Aku merasakan seperti seorang pecundang saat kamu merasa sakit tapi aku tidak bisa melakukan sesuatu." Jawab Daniel menahan tangis.
" Aku ngak pa- pa kok mas. Asal ada kamu di samping ku itu sudah lebih cukup untuk aku." Ucap Melati mengusap air mata di pipi Daniel.
" Terimakasih atas perjuangan kamu melahirkan putra kita sayang. Aku sangat mencintaimu." Ucap Daniel memeluk Melati.
" Iya mas. Udah dong pelukannya."
" Kenapa? Kamu ngak suka aku peluk?" Tanya Daniel.
" Suka lah. Tapi ngak harus di kamar mandi juga kali mas." Jawab Melati cemberut.
" Hehehe maaf sayang. Mas lupa." Ucap Daniel cengir.
__ADS_1
Daniel langsung menggendong Melati kembali ke kasurnya. Keduanya tidur berpelukan hingga menjelang pagi.