Terpaksa Bercerai Muda

Terpaksa Bercerai Muda
Episode 37


__ADS_3

Siang ini, Melati menyambangi kantor Daniel untuk mengantar makanan siang. Tadi Dinda, memintanya datang untuk membawakan makan siang untuk mereka di sana.


Melati menuju kesana menggunakan mobilnya. Ya, sekarang Melati sudah punya mobil sendiri. Ia sudah tidak naik taksi online seperti yang sudah-sudah. Berkat cafenya yang cukup sukses, akhirnya ia menabung. Hingga tabungannya cukup, akhirnya ia bisa membeli mobil tanpa harus mencicilnya.


Setibanya di sana, Melati memakirkan mobilnya. Kemudian ia turun dan langsung memasuki perusahaannya, Daniel dengan menenteng kotak makanan di tangannya. Di lobi perusahaan, Melati bertanya pada resepcionis yang ada di sana.


" Selamat siang, mba." Ucap Melati.


" Selamat siang juga kak," ada yang bisa di bantu.


" Saya hanya ingin bertanya, dimana ruangannya pak Daniel." Seru Melati.


" Maaf, dengan kak Melati ya?" Tanya resepcionis itu.


" Iya benar. Kenapa mba?" Tanya Melati balik.


" Tadi sekretarisnya pak Daniel memberitahu pada saya. Jika ada seorang wanita bernama Melati datang. Langsung di suruh ke ruangannya pak Daniel bos saya." Jelas resepcionis itu.


" Ohh ya sudah kalo gitu mba. Ruangan pak Daniel di lantai berapa mba?" Ujar Melati.


" Di lantai 23 kak. Mari saya antarkan." Jawab resepcionis itu.


" Tidak usah. Biar saya sendiri saja yang kesana. Saya lihat mba cukup sibuk." Ucap Melati.


" Hehehe,,, iya kak." Ujar resepcionis itu.


" Ya udah kalo gitu saya tinggal. saya langsung naik ke atas ya mba." Ucap Melati.


" Iya kak. Silakan." Ucapnya pada Melati yang pergi meninggalkannya. Lalu ia me meneruskan pekerjaannya yang sempat tertunda karena melayani Melati tadi.


Melati pun naik lift dan menekan tombol angka 23 yang menuju ruangan Daniel. Setelah sampai di sana, Ayu sekretaris Daniel langsung menyambutnya dan mengantarkan langsung ke dalam ruangannya Daniel.


Tok tok tok..


" Masuk." Jawab seseorang dari dalam yang tak lain adalah Dinda.


" Mba Dinda, itu non Melati sudah sampai." Ucap Ayu.


" Suruh masuk aja Yu." Ucap Dinda.


Melati pun langsung masuk ke dalam ruangan tersebut begitu di beritahu oleh Ayu.


" Hai kak." Ucap Melati.


" Hai juga Mel, sini duduk." Balas Dinda.

__ADS_1


Melati pun berjalan menuju Dinda. Di lihatnya Dinda sedang bersama seorang gadis kecil.


" Loh kak. Ini anak siapa ada di sini." Tanya Melati.


" Ini anaknya teman aku. Ayahnya masih ada rapat sama Daniel. Jadi dianya di titipin ke aku gitu. Iyakan Arin sayang?" Jawab Dinda pada Melati lalu beralih pada Arin.


" Iya bunda." Jawab Arin.


Arka, ayahnya Arin menjalin kerja sama bersama dengan perusahaan milik Dinda dan Daniel yang sedang di kelola oleh adiknya, Daniel. Iya terpaksa membawa anaknya Arin, ikut dengannya karena tidak ada yang bisa ia percayai untuk menjaga anaknya. Ibu mertuanya sedang sakit tidak bisa menjaga Arin seperti biasanya. Dan mereka juga tidak menggunakan jasa seorang Baby sister untuk menjaga Arin. Karena mereka belajar dari kasus kasus yang pernah ada, jika ada baby sister yang suka memukul anak kecil ketika sedang tidak bersama orang tuanya. Hingga menyebabkan anak itu sakit bahkan anak yang sampai meninggal dunia. Maka dari itu, Arka maupun Mira mertuanya tidak ingin menggunakan jasa baby sister untuk mengasuh Arin. Ya walaupun, kadang mereka sampai kewalahan menjaga Arin.


Di perusahaan Daniel, ia bertemu dengan Dinda. Hari itu Dinda di suruh datang ke perusahaan oleh Daniel untuk menandatangani berkas yang butuh tanda tangannya Dinda. Dan Jadinya, ia meminta tolong pada Dinda untuk menjaga Arin sementara waktu ia akan rapat dulu dengan adiknya Daniel. Tentu dengan senang hati Dinda menerimanya. Apalagi Arin yang sudah seminggu tidak bertemu dengan Dinda. Begitu melihat Dinda, ia langsung minta di peluk dan di gendong oleh Dinda. Keduanya benar-benar terlihat seperti ibu dan anak sungguhan jika orang tidak mengetahuinya.


Dan untuk Dinda yang di panggil bunda oleh Arin. Itu terjadi secara tiba-tiba saja. Saat di tanya oleh Dinda Arka, dan neneknya. Arin mengatakan jika ia ingin memanggil bunda pada Dinda. Mereka pun menyetujui keinginan Arin itu. Apalagi itu adalah Dinda yang sudah mereka kenal baik bukan karena ada maunya. Tapi karena tanpa sepengetahuan Dinda, mereka menguji Dinda saat Arin sedang rewel rewelnya. Dan itu hanya ada dua dan Arin saja. Dan terbukti Dinda, dengan sabarnya mengasuh dan menenangkan Arin. Mereka juga berbuat seperti itu, karena belajar dari pengalaman yang sebelumnya.


" Aduh manisnya kamu sayang." Ucap Melati mencubit gemas pipi gembulnya Arin.


" Bunda, tante ini siapa." Tanya Arin pada Dinda.


" Tante ini, adalah temannnya bunda sayang. Dia baik kok sayang. Arin kenalan ya sama tante Melati." Jelas Dinda.


" Iya bunda." Jawab Arin.


" Tante kenalkan, nama aku Arin. Aku anaknya ayahnya Arka dan bunda Dinda. Iya kan bunda?" Ucap Arin pada Melati dengan mengulurkan tangannya kemudian menatap ke arah Dinda.


" Perkenalkan, nama tante Melati. Arin mau kan teman sama tante Melati." Ucap Melati menyambut tangan mungil milik Arin.


" Bunda?" Ucap Arin seperti meminta persetujuan pada Dinda. Dinda pun hanya mengangukka kepalanya tanda setuju.


" Karena bunda bilang iya. Jadi Alin mau tekanan sama tante cantik." Ucap Arin.


" Wah, benarkah?" Ucap Melati.


" Iya tante cantik." Jawab Arin.


" Berarti sekarang Arin sama tante temanan dong."Ucap Melati.


" Iya tante cantik. Mana tangannya tante cantik?" Ucap Arin mengambil tangan Melati. Lalu ia mengaitkan jari kelingking miliknya dan Melati bersatu " nah sepelti ini tante cantik." Sambung Arin.


" Uuhhh,, manisnya. Tante boleh peluk ngak?" Pinta Melati.


" Iya boleh tante cantik." Jawab Arin.


Melati pun memeluk Arin dengan hangat. Dinda tersenyum melihat keduanya yang sedang berpelukan itu. Setelah memeluk Arin, Melati menyerahkan makan siang pesanan Dinda tadi.


" Kak, ini makan siang kalian." Seru Melati.

__ADS_1


" Makasih ya Mel. Maaf juga kalo udah ngeropotin kamu." ucap Dinda mengambil kotak makan siang itu.


" Iya kak. Ngak papa kok. Kaya sama siapa aja." Ujar Melati dan Dinda hanya tersenyum.


" Arin sayang. Sekarang Arin makan dulu ya. Mainnya ntar aja ya sayang." Ucap Dinda pada Arin.


" iya bunda." Jawab Arin menghentikan mainnya.


" Mel, bisa minta tolong cuci tangannya Arin dulu. Kak Dinda, masih mengatur makan siang dulu. Karena sebentar lagi Daniel dan ayahnya Arin pasti kesini untuk makan siang. Tadi kak Dinda bilang pada mereka, kalau akan memesan makan siang dan keduanya meminta di pesankan juga." Pinta Dinda pada Melati.


" Iya bisa kak. Ayo Arin sayang ikut tante." Jawab Melati.


Melati pun membawa Arin untuk cuci tangan di dalam kamar mandi. Sementara itu, Dinda mengatur makan siang yang di bawa Melati tadi. Berhubung di ruangannya Daniel, sudah tersedia piring, sendok, gelas dan juga air minum. Jadi, Dinda sudah tidak perlu lagi meminta pada Ayu untuk mengambilnya dari pantry.


Melati dan Arin keluar dari kama mandi bertepatan Arka dan Daniel masuk ke dalam ruangan itu.


" Ayah." Teriak Arin berlari memeluk Arka.


" Hai sayangnya ayah." Sambut Arka memeluk Arin lalu mencium pipi Arin.


Dinda, Daniel maupun Melati hanya tersenyum melihat ke arah ayah dan anak itu. Lalu Arka menggendong Arin menuju Dinda dan yang lainnya.


" Loh, kamu Melati kan. Istrinya Aditya mitra bisnis saya." Seru Arka pada Melati. Ia kaget melihat Melati di tempat itu.


" Iya pak Arka. Lebih tepatnya mantan istrinya mas Aditya." Jawab Melati. Sejujurnya ia pun kaget melihat keberadaan di sana Arka yang ia kenal sebagai mitra bisnisnya Aditya. Sewaktu dulu, masih menjadi istri Aditya. Melati pernah mendampingi Aditya menghadiri pesta anak dari rekan bisnis Aditya. Di sanalah, Aditya memperkenalkannya pada rekan bisnisnya. Hingga ia mengenal Arka dan beberapa rekan bisnisnya Aditya.


" Maaf sebelumnya. Saya tidak tau." Ucap Arka tidak enak hati.


" iya tidak apa-apa pak Arka. Saya paham." Ucap Melati.


" Kak, kalian sudah saling mengenal sebelumnya." Tanya Dinda dan Daniel bersamaan.


" Iya. Waktu itu, kami bertemu di pesta pernikahan dari anak rekan bisnisnya aku. Dan di sanalah, saya bertemu dengan Melati ini karena Aditya memperkenalkannya pada kami." Jelas Arka.


" Oh begitu rupanya." Ucap Dinda. Dan Daniel hanya menganguk paham saja.


" Ya sudah ayo kita makan dulu. Kebur dingin dan rasanya pasti kurang enak. Melati kamu juga ikut makan bersama ya. Karena pasti kamu belum makan itu." Sambung Dinda pada Mereka.


" Iya kak." Jawab Melati.


Mereka semua pun mengambil makan siangnya masing-masing lalu menyantapnya. Kecuali Dinda. Ia menyuapi Arin makan dulu hingga anak itu kenyang. Baru setelahnya, ia akan mengisi perutnya. Sikap Dinda itu, tidak luput dari perhatian mereka semua, terutama Arka. Ia memakan nasinya, sambil sesekali melihat ke arah Dinda yang menyuapi anaknya dengan sabar. Ia tersenyum tipis melihat Dinda dan anaknya Arin.


Setelah makan siang, mereka semua pun pergi ke masjid yang di depan perusahaan Daniel untuk menunaikan sholat zuhur.


Sesudah itu, Melati pamit pulang ke cafenya. Dinda juga begitu, ia pulang dengan membawa Arin dengannya. Karena anak itu tidak mau lepas dari Dinda. Dengan izin Arka iapun membawa Arin pulang dengannya ke rumah.

__ADS_1


__ADS_2