Terpaksa Bercerai Muda

Terpaksa Bercerai Muda
Episode 87


__ADS_3

Tuan Edy dan nyonya Sarah berkunjung ke kediaman milik Daniel dan Melati. Dengan bantuan Dinda dan asisten rumah tangganya, ia mempersiapkan segala hal yang terbaik untuk menyambut tamu istimewa itu.


Kedatangan tuan Edy dan nyonya Sarah akan tiba malam hari. Dari pagi hari Melati dan Dinda mewanti wanti agar semua persiapan sesuai dan tidak mengecewakan tamunya jika datang berkunjung.


Malam hari pun tiba.


Tuan Edy dan nyonya Sarah sudah berada di kediaman milik Daniel dan Melati. Daniel dan juga Melati menyambut tamu mereka dengan sangat baik. Dinda dan Arka juga demikian.


" Silakan tuan Edy, nyonya Sarah. Maaf jika hidangan yang kami sajikan tidak sesuai dengan selera kalian." Ucap Daniel sopan.


" Ini sudah lebih dari cukup Daniel. Tidak perlu seperti itu. Semua yang ada di meja ini adalah menu kesukaan aku istriku." Ucap tuan Edy.


" Yang di katakan suamiku benar Daniel." Ucap nyonya Sarah menambahi.


Makan malam pun dimulai dengan tenang. Terlihat para istri melayani suaminya dengan baik dengan mengisi piring suaminya dengan nasi dan juga lauknya, terkecuali Melati. Karena dia sedang hamil. Akan sangat usah untuknya melakukan itu.


Melihat akan hal itu, nyonya Sarah menawarkan diri untuk mengambilkan Melati makanan.


" Melati, mau ibu bantu mengambil nasinya?" Tanya nyonya Sarah.


" Apa tidak merepotkan anda nyonya?" Tanya Melati sungkan.


" Tentu saja tidak nak. Ibu malah dengan senang hati membantu mu mengambilkan nasi dan juga lauknya." Jawab nyonya Sarah tersenyum tulus.


" Baiklah, silakan nyonya." Ucap Melati.


Nyonya Sarah mengisi piring Melati dengan menu yang baik untuk ibu hamil dan bayi yang di kandung Melati.


Makan malam pun di lanjutkan dengan diam dan tenang. Tapi sesekali nyonya Sarah dan tuan Edy memuji hidangan di atas meja. Melati dan Dinda senang karena tuan Edy dan istrinya menyukai apa yang mereka hidangan kan.


Setelah makan malam, mereka melanjutkan obrolan mereka. Para pria berada di tempat yang berbeda dengan kaum wanita. Yang mereka bicarakan pasti tidak jauh dari persoalan bisnis. Berbeda dengan kaum wanita yang membicarakan keseharian mereka sebagai istri dan ibu.

__ADS_1


" Sudah berapa bulan kandungan mu Melati?" Tanya nyonya Sarah mengelus perutnya.


" Minggu kemarin sudah masuk 8 bulan nyonya." Jawab Melati.


" Jangan panggil nyonya. Panggil ibu saja. Kamu juga seperti itu ya. Kalian sudah ibu anggap seperti anak sendiri." Ucap nyonya Sarah.


" Baiklah,nyo ehh maksud kami ibu." Ucap Dinda dan Melati.


" Ya begitu terdengar lebih baik." Ucap nyonya Sarah.


Dinda dan Melati hanya tersenyum saja. Sejujurnya keduanya masih sangat segan dengan nyonya Sarah. Tapi keduanya berusaha tenang agar nyonya merasa nyaman.


" Apa sudah tau jenis kelaminnya?" Tanya nyonya Sarah.


" Belum Bu. Saya dan mas Daniel sengaja tidak tau dulu jenis kelaminnya. Biarlah menjadi kejutan nanti." Jawab Melati.


" Terkadang kejutan itu menyenangkan." Ucap nyonya Sarah.


" Iya sayang ada apa?" Tanya Dinda.


" Mau susu bunda" jawab Arin.


" Gadis cantik ini siapa namanya?" Tanya Sarah.


" Sayang salim sama oma dulu." Ucap Dinda.


" Nama aku Arin oma." Ucap Arin menjawab pertanyaan Nyonya Sarah lalu menyalaminya


" Nama cantik sesuai orang nya." Puji nyonya Sarah.


" Terima kasih oma. Oma juga cantik kok." Puji Arin balik.

__ADS_1


Nyonya Sarah merasa sangat gemas dengan Arin.


" Andai putriku masih hidup, pasti sekarang dia sudah menikah dan akan punya anak." Batin nyonya Sarah sendu.


" Bunda, Arin mau minum susu. Buatin ya bunda." Ucap Arin.


" Iya sayang. Bunda buatin. Ibu saya permisi dulu mau buat susu untuk anak saya dulu." Ucap Dinda undur diri.


" Iya silahkan." Jawab nyonya Sarah.


Tinggallah nyonya Sarah dan Melati di sana.


" Bu, apa ibu akan menetap di negara ini?" Tanya Melati.


" Iya ibu dan suami akan menetap di negara. Kami memindahkan pusat bisnis kami di sini." Jawab nyonya Sarah masih mengelus perut Melati.


" Lalu ibu akan tinggal di daerah mana?" Tanya Melati.


" Kami akan tinggal di daerah sini. Apa kamu tau tanah kosong di lingkungan sini. Ibu ingin tinggal di lingkungan sini. Ibu lihat lingkungannya bersih dan asri juga." Jawabnya.


" Kalau itu, Melati tidak tau Bu." Ucap Melati.


" Apa ibu akan kembali ke hotel untuk menginap?" Tanya Melati.


" Ya, karena kami belum punya tempat tinggal di sini, jadi kami akan menginap di hotel dulu untuk sementara waktu." Jawab nyonya Sarah.


" Tinggallah di sini saja Bu untuk sementara waktu ibu mencari tempat tinggal. Kamar di rumah ini banyak yang kosong. Aku yakin mas Daniel pasti setuju." Ucap Melati.


"Baik. Ibu akan bicarakan dulu dengan suami ibu." Ucapnya.


" Baik Bu."

__ADS_1


" Tanpa bertanya pada suamiku, dia pasti akan setuju untuk kami tinggal di sini. Karena itu memang keinginan kami pindah ke negara ini. Kami ingin dekat bahkan tinggal dengan mu Melati. Aku seperti melihat putriku di dirimu. Aku merasa dia hidup kembali melalui kamu." Batin nyonya Sarah.


__ADS_2