Terpaksa Bercerai Muda

Terpaksa Bercerai Muda
Episode 82


__ADS_3

Malam harinya setelah makan malam, semua orang di kediaman Daniel berkumpul di ruang keluarga. Mereka berbincang ria di sana. Suara tawa pun terdengar karena melihat tingkah kocak Arin terhadap Bima.


Arin cemberut karena Bima terus menempel padanya bundanya, Dinda.


" Bunda, aku juga mau di pangku sama bunda. Kenapa hanya adek Bima saja yang di pangku." Rengek Arin.


" Tunggu sebentar ya kak, adeknya belum mau lepas dari bunda." Ujar Dinda.


" Ayah kenapa hanya diam saja. Cepat ambil adek Bima dari bunda. Arin ingin duduk di pangkuan bunda, ayah." Rengeknya pada Arka.


" Sayang adek lagi *****. Tunggu sebentar lagi ya sayang." Bujuk Arka.


" Issss ayah Arin juga mau ***** kayak adek Bima. Makanya Arin mau adek Bima keluar dari pangkuan bunda." Ucap Arin.


Kepala Arka terasa mau pecah mendengar permintaan Arin yang tidak mungkin. Sementara pasangan suami istri di sebelahnya hanya tertawa mendengar ucapan Arin.


" Arin sayang, Arin sudah tidak bisa lagi ***** seperti adek Bima. Karena Arin sudah besar sayang. Itu hanya adek Bima saja yang boleh ***** seperti itu. Kakak tidak bisa lagi." Ucap Arya.


" Bohong Arin, ayah kamu juga sudah besar masih sering ***** sama bunda kamu." Sahut Daniel tertawa.


" Mas, kamu tuh kalau ngomong di saring. Arin bukannya kamu bujuk malah kamu ucapkan kata-kata seperti itu." Ucap Melati mencubit lengannya.


" Aduh sayang sakit." Ucap Daniel.


" Makanya jangan suka ngomong kayak gitu sama anak kecil." Ucap Melati.


" Bunda benar yang di katakan sama papi, kalau ayah masih suka ***** sama bunda. Kalau ayah boleh Kenapa Arin tidak boleh bunda." Ucap Arin.


Gleekkkk .Arka menelan kasar ludahnya mendengar ucapan Arin. Ia memberikan tatapan tajamnya pada Daniel.


"Buaahahaahahahaa ha ha haha." Suara tertawa Daniel yang keras menghentikan adek Bima yang sedang *****. Kepalanya keluar dari sarung yang menutupinya saat sedang *****.

__ADS_1


" Mas, sudah dong. Kasian mas Arka." Ucap Melati menghentikan tawa Daniel.


" Papi, kenapa papi? Arin lucu ya?" Tanya Arin.


" Lucu sayang. Arin sangat lucu." Jawab Daniel tertawa.


Sebelum Arin bertanya hal yang aneh lagi, Dinda segera meminta Arka mengambil Bima dari pangkuannya.


" Mas, ambil Bimanya. Ia sudah selesai ***** karena mendengar suara tertawa Daniel yang keras." Ucap Dinda.


" Iya sayang." Ucap Arka mengambil Bima.


" Arin sayang, sini bunda pangku. Lihat kartun favorit Arin sudah tayang ( Masha anda the Bear )." Ucap Dinda.


" Iya bunda." Ucap Arin duduk di pangkuan Dinda.


Dinda mengelus lembut rambut Arin. Arka bermain dengan Bima yang tampak akif di pangkuannya.


" Sayang, susunya sudah kamu minum?" Tanya Daniel sambil mencium rambut Melati.


" Sudah mas. Tuh gelasnya kosong." Jawab Melati menunjuk ke arah gelas yang sudah kosong.


" Pintarnya istri ku." puji Daniel.


" iya dong, istri siapa dulu." ucap Melati.


" Istri Daniel seorang dong." jawab Daniel.


" Tidur yuk, udah malam. Ngak baik untuk kesehatan kamu dan baby kalau tidur terlalu larut." Ucap Daniel mengajak Melati ke arah tempat tidur.


" Iya mas. Ayo. Tapi kelonin ya mas." Ucap Melati.

__ADS_1


" Iya sayangku. Istriku cantik." Ucap Daniel.


Daniel mengeloni Melati hingga terlelap. Lalu ia menyusul Melati ke alam mimpi.


Di kamar lain, Arka telah sedang menidurkan putri kecilnya, Arin. Arin meminta di bacakan dongeng. Arka dengan senang hati membaca untuknya. Beberapa lagi cerita akan habis, Arin sudah terlelap. Arka pun menutup buku ceritanya. Ia memperbaiki selimut Arin dan mengecup pipi putri kecilnya itu. Lalu ia keluar menuju kamar yang di tempati istrinya.


" Sayang, Bima udah tidur belum?" Tanya Arka.


" Sudah mas." Jawab Dinda.


" Malam ini Bima tidur bersama baby siternya ya." Ujar Dinda sambil mencium leher jenjangnya.


" Mas geli tau. Kenapa Bima harus tidur bersama dengan baby sitter sih mas?" Tanya Dinda.


" Kamu lupa janji kamu semalam ya sayang. Hari ini aku mau buka puasa tau." Jawab Arka mengendus lehernya.


" Kamu ya mas. Kalau begituan kamu ngak pernah lupa." Ujar Dinda.


" Tentu dong sayang. Sudah satu Minggu aku puasa. Harusnya kemarin buka, eehh kamu malah tidur sama Melati. Ayo dong sayang, antar Bima sama baby sitter. Dosa loh nolak keinginan suami." Ujar Arka.


" Iya tunggu bentar. Aku antar Bima sama mbaknya dulu." Ucap Dinda beranjak menuju kamar baby sitter Bima.


Lima menit kemudian ia kembali ke kamarnya. Arka langsung menutup mengunci pintu kamarnya. Ia menggiring Dinda menuju kasur.


Arka pun langsung menerkam Dinda. Suara desahan kedua suami istri memenuhi sudut ruang kamar mereka. Untunglah kamar milik Dinda sudah kedap suara. Jadi sekeras apa suara yang mereka teriakan tidak akan sampai keluar mengganggu penghuni rumah yang lain.


Setelah mendapatkan maunya, Arka tumbang di atas badan sang istri.


" mas berat. Buruan turun." ucap Dinda.


" Iya sayang." ucap Arka mencabut senjata dari lubang kenikmatan sang istri.

__ADS_1


Keduanya pun tidur terlelap karena kelelahan.


__ADS_2