
Malam hari usai makan malam, keluarga Melati berkumpul di ruang keluarga sambil menikmati cemilan malam mereka. Apalagi Dinda suami beserta anak anaknya juga datang berkunjung menambah suasana ramai di sana. Karena esoknya weekend, si kecil Arin meminta untuk menginap di rumah mami dan papinya. Dengan senang hati Aria dan Dinda pun menuruti kemauan putri kecilnya. Ia juga merindukan adik iparnya Melati dan nyonya Sarah yang sudah anggap sebagai ibunya sendiri. Nyonya menyayangi Dinda seperti anaknya sendiri. Bahkan nyonya Sarah meminta kepada Dinda dan suaminya Aeka untuk memanggil dia dan suaminya mama dan papa. Begitu pula dengan anaknya dengan Arka dan anak sambungnya Arin yang terlihat sangat manis dan ceria.
Para pria berkumpul di ruangan satunya bermain catur sambil membahas perkembangan bisnis mereka. Sedangkan para wanita asik bercanda ria di tambah dengan kehebohan Arin yang menjahili adiknya Bima. Bima yang sudah berusia setahun lebih sudah belajar berjalan secara perlahan. Tapi dengan jahilnya Arin menarik baju Bima agar tidak berjalan. Alhasil Bima pun menangis dan membuat mereka tertawa juga gemas dengan tingkah Bima yang terlihat mengadu pada Dinda.
" Ohh anak bunda. Cup cup jangan menangis ya." Bujuk Dinda.
" Ndaa akak kal. Hikssss..." Ucap Bima menangis.
" Kakak adiknya jangan di jahili, kasian kan dia nangis." Ucap Melati.
" Kan gemas mi, lucu lagi. Hahaha." Ucap Arin menoel noel pipi gembul Bima.
" Ndaa akak nakal. Huuuuaa." Adu Bima.
" Iya sayang. Kakak sudah ya sayang. Kasian adiknya." Ucap Dinda.
" Iya bunda." Ucap Arin menoel pipi Bima.
" Nda akak." Tangis Arin.
" Arin sudah ya nak. Kasian adiknya." Ucap nyonya Sarah karena dengan Bima yang di usili oleh kakaknya.
" Iya Oma." Ucap Arin memeluk nyonya Sarah.
__ADS_1
Nyonya Sarah pun membalas dengan mengelus rambut Arin dengan lembut.
Setelah Arin dan Bima akur kembali dan mulai bermain bersama lagi, Ketiga wanita itu berbincang bincang ringan.
" Sudah delapan bulan ya Mel?" Tanya Dinda.
" Iya ka delapan bulan lebih. Aku sudah tidak sabar menantinya lahir nanti." Jawab Melati.
" Mama juga sudah ngak sabar pengen liat dia lahir. Ngak sabar nambah cucu lagi." Ujar nyonya Sarah.
" Kira kira jenis kelaminnya apa ya?" Tanya Melati.
" Ngak tau kak. Aku juga penasaran. Kata mas Daniel biar jadi kejutan aja gitu." Jawab Melati.
" Itu bagus sayang." Ujar nyonya Sarah.
" Sayang." Ucap Daniel.
" Iya mas." Jawab Melati.
" Tidur yuk. Lihat udah jam 10, ngak buat kesehatan kamu dan baby kalau tidur terlalu larut." Ucap Daniel.
" Iya mas. Ma pa, kak Dinda, Kak Arka. Aku duluan ke kamar ya." Ucap Melati.
__ADS_1
" Iya Mel." Ucap Dinda dan Arka.
" Iya sayang." Ucap nyonya Sarah dan tuan Edy.
" Ayo mas." Ucap Melati.
" Hati hati sayang." Ucap Daniel.
" Mami papi." Panggil Arin.
" Iya sayang, ada apa?" Tanya Melati.
" Arin mau bobo sama mami dan papi malam ini ya." Jawab Arin.
" Boleh sayang. Tanya dulu sama bunda." Ucap Melati.
" Bunda, Arin mau bobo sama mami dan papi ya. Bolehkan?" Tanya Arin dengan nada cadel.
" Iya sayang boleh. Tapi jangan buat mami dan papi repot ya sayang." Ucap Dinda.
" Iya mami. Ayo mami, papi." Ucap Arin.
" Sini biar papi gendong sayang." Ucap Daniel mendekati Arin lalu menggendongnya.
__ADS_1
Melati dan Daniel pergi meninggalkan mereka di sana.
Tidak lama kemudian setelah Melati dan Daniel pergi, Arka dan Dinda juga pergi. Si kecil Bima mulai merengek menangis mungkin sudah ingin tidur. Nyonya Sarah dan tuan Edy pun sama. Mereka juga ikut kembali ke kamar mereka.