
Dini hari, usai sholat subuh kediaman Dinda sudah di sibukkan dengan persiapan pernikahan Dinda yang akan di gelar beberapa jam lagi
Di kamarnya, Dinda sedang di make up oleh make artis profesional kiriman dari mertuanya, Mira. Mereka merias Dinda secantik mungkin untuk hari ini. Mereka tidak merias Dinda terlalu tebal. Dinda di riasnya terlihat natural, namun tetap terlihat sangat cantik dari biasanya. Bahkan sangat terlihat kesan aura pengantin di wajahnya.
Selesai merias dan menata rambutnya Dinda, salah seorang dari mereka membantu Melati untuk merias dirinya. Karena ia akan menjadi pendamping untuk Dinda nanti juga akan menjadi bagian dari keluarga Dinda nanti.
" Wah mba yang ini juga terlihat sangat cantik. Pasti tamu undangan akan susah untuk mengenali siapa pengantinnya hari ini." Puji perias itu melihat wajah Melati lalu beralih ke Dinda.
" Mba bisa ajah. Tapi makasih loh atas pujiannya. Tapi tetap kak Dinda yang akan jadi ratunya hari ini. Lihatlah, wajahnya tidak berhenti tersenyum." Seru Melati pada Dinda.
" Makasih adik iparku tersayang. Kamu ngak godain aku kayak gitu. Setelah aku menikah nanti, giliranmu dan Daniel yang akan menyusulku nanti." Ucap Dinda.
" Iya deh kak." Ucap Melati.
Merasa sudah tidak di perlukan lagi, para perias itu keluar dari kamar Dinda menuju kamar yang di sediahkan untuk mereka atau bisa di bilang sebagai ruang tunggunya mereka.
" Kak, kakak cantik banget hari ini." Puji Melati lagi.
" Makasih. Kamu juga cantik Mel." Balas Dinda.
" Aku yakin kak Arka pasti pangling melihat wajah kakak ini." Ujar Melati.
Dinda hanya tersenyum saja mendengar ucapan wanita yang nantinya akan menjadi adik iparnya itu.
" Ehemmm." Batuk Daniel mengangetkan kedua wanita cantik itu.
" Daniel kamu ngagetin ajah." Ucap keduanya mengelus dadanya.
Daniel tidak menjawab ucapan mereka. Ia berjalan menghampiri Dinda.
" Kak, kakak cantik banget." Ucap Daniel menatap Dinda.
" Makasih adikku yang paling tampan." Ucap Dinda tersenyum.
" Kak, setelah mengalami banyak ujian yang kakak lalui, akhirnya kakak bisa menikah juga. Aku bahagia melihat kakak di persunting oleh lelaki baik seperti mas Arka. Aku dengan ikhlas melepaskan tanggung jawabku pada kakak kepada lelaki sebaik mas Arka. Beban yang ku pikul selama ini, sebentar lagi akan aku lepaskan." Ucap Daniel.
Dinda menatap adiknya itu dengan mata yang berkaca kaca setelah mendengar ucapannya tadi. Ia berusaha untuk tidak menangis. Namun kristal bening memaksa untuk keluar dari tempatnya.
" Kak aku mohon jangan menangis. Ini hari bahagia kakak. Air mata tidak di perlukan di sini. Yang di perlukan senyum kebahagiaan. Karena ini hari kabahagiaan untuk kakak. Bukan hari atau acara menangis." Ucap Daniel menghapus air matanya.
" Daniel kakak menangis bukan karena sedih, tapi karena terharu. Makasih ya, kamu selalu ada saat kakak terpuruk." Ucap Dinda.
" tidak perlu berterima kasih. Itulah gunanya saudara." Ucap Daniel.
" Maaf den, non. Itu keluarga dari pihak mempelai pria sudah tiba." Ucap pembantunya.
" Iya bi. Sebentar lagi saya akan turun." Jawab Daniel.
" Sayang kamu temani kak Dinda ya. Aku akan menyambut mempelai pria dan mempersiapkan diriku untuk jadi wali kak Dinda nanti." Ucap Daniel.
__ADS_1
" Iya pergilah. Aku akan menemani kak Dinda di sini." Ucap Melati.
" Kak aku ke bawah dulu. Nanti akan ada orang yang akan menjemput kalian nanti." Ucap Daniel.
" Iya Daniel." Jawab Dinda.
" Setelah ini. Persiapkan dirimu untuk menjadi istriku nanti." Bisik Daniel di kuping Melati saat ia melewati Melati menutup pintu.
Melati hanya tersenyum dengan pipi yang terlihat merona. Dinda melihat pipi Melati seperti itu, ia sudah tau apa yang terjadi padanya.
Sementara itu Daniel tengah menyambut kedatangan Arka bersama dengan rombongannya. Pemimpin adat mempersiapkan Arka untuk duduk di depan pak penghulu dan saksi pernikahannya dengan Dinda. Melihat Arka yang sudah duduk, Daniel pun mengambil tempat tepat di depan Arka sebagai wali dari pernikahan kakaknya, Dinda.
" Baiklah, karena mempelai pria ya sudah ada di sini. Untuk mempersingkat waktu kita mulai saja ijab kabulnya. Silakan dari pihak mempelai wanita untuk menjemput pengantin wanitanya untuk duduk di sampingnya pengantin pria." Ucap pak penghulu.
Karena orang tua Dinda dan Daniel sudah tiada. Maka dari itu dengan izin dari Daniel, Mira pergi untuk menjemput calon ibu dari cucunya itu.
Tok tok tok.
Mendengar suara ketukan pintu, Melati segera membuka pintunya.
" Tante Mira." Ucap Melati sopan.
" Hai Melati cantik." Ucap Mira.
" Hai juga tante." Balas Melati.
" Tante." Sahut Dinda.
" Iya tante eeeeh maksud aku mama." Ucap Dinda.
" Sudah waktunya untuk kalian turun. Ijab kabulnya akan segera di langsungkan." Ucap Mira.
" Iya ma." Jawab Dinda.
" Melati ayo." Ucap Mira.
" Iya tante." Jawab Melati.
Dinda pun turun dengan di apit oleh Mira dan Melati. Seperti kata Melati, semua tamu undangan pangling melihat kecantikan wajah Dinda. Wajah Melati juga tidak luput dari tatapan para tamu undangan. Arka menatap Dinda dengan penuh cinta.
Mira memakainkan tudung di kepalanya Arka dan Dinda.
" Karena mempelai wanitanya sudah di sini. Mari kita mulai ijab kabulnya." Ucap pak penghulu.
" Silakan nak Arka berjabatan dengan nak Daniel selaku wali nikahnya mempelai wanitanya." Ucap pak penghulu lagi.
Arka menjabat tangan Daniel. Tangannya terasa dingin seperti es batu. Jujur saja ia merasa sangat gugup. Walaupun ini bukan pernikahan pertamanya, ia tetap merasakan kegugupan itu.
" Ayo nak Daniel silakan ucapkan ijab kabulnya." Ucap pak penghulu.
__ADS_1
" Iya pak." Jawab Daniel.
" Saya nikahkan dan kawinkan kau Arka Ahmad dengan kakak perempuan saya Dinda Bayanaka binti almarhum Andi Bayanaka dengan mas kawin uang tunai senilai satu Milyar dan satu set perhiasan berlian juga seperangkat alat di bayar tunai." Ucap Daniel lantang.
" Saya trima nikah dan kawinnya Dinda Bayanaka binti almarhum Andi Bayanaka dengan mas kawin tersebut di bayar tunai." Ucap Arka dengan satu kali tarikan nafas.
" Bagian saksi?" Tanya penghulu.
" Saaahh." Jawab mereka kompak bersama dengan tamu undangan.
" Alhamdulillah, kita lanjutkan dengan membaca basmalah bersama sama." Ucap pak penghulu.
" Sekarang kalian sudah sah menjadi suami istri. Sekarang silakan pasangkan cincin itu di jari manis kalian secara bergantian." Tutur penghulu itu.
Arka dan Dinda melakukan apa yang di katakan oleh pak penghulu itu.
" Sekarang nak Dinda cium tangan suaminya dan nak Arka silakan cium kening dari istrinya." Ucap pak penghulu.
Dinda segera mencium tangan Arka. Begitu pula dengan Arka ia mencium kening milik Dinda. Dinda menutup matanya menerima kecupan dari Arka di keningnya.
" Kak Selamat ya. Aku harap kakak bahagia dengan pernikahan kakak ini." Ucap Daniel memeluk Dinda.
" Iya Daniel terima kasih." Ucap Dinda membalas pelukan Daniel.
" Mas Arka, aku mohon lindungi dan cintai kakaku sampai akhir hayatmu. Aku percayakan kak Dinda padamu mas." Ucap Daniel setelah melepaskan pelukannya dengan Dinda.
" Iya Daniel. Aku tidak akan berjanji. Tapi aku akan berusaha membuktikan jika aku sangat mencintaimu kakak dengan segenap hatiku." Ucap Arka.
" Terima kasih mas." Ucap Daniel.
" Tidak perlu berterima kasih. Sudah seharusnya seperti itu. Aku kan suaminya." Ucap Arka menatap Dinda yang sedang mengobrol dengan Arin anaknya.
" Kak, selamat atas pernikahanmu ya. Aku doakan kalian bahagia punya momongan hingga kakek nenek nanti." Ucap Melati.
" Dinda, mama ucapkan selamat atas pernikahanmu. Semoga kau akan jadi istri yang baik dan ibu yang baik untuk Arin nanti." Sambung Mira.
" Iya Melati, mama Mira. Terima kasih atas doanya. Dan terima kasih juga, mama sudah mempercayakan mas Arka dan Arin padaku." Ucap Dinda.
" Iya sayang." Jawab Mira.
" Sekarang bunda sudah nikah sama ayah. Berarti kita bisa tidur bertiga kan Bunda? Tanya Arin.
" Iya sayang." Jawab Dinda.
" Tapi Arin jangan terus tidur sama ayah dan bunda. Nanti Arin lama dapat adiknya." Sahut Daniel menghampiri mereka.
" Daniel apa sih kamu. Sama anak kecil ngomong kayak gitu." Ucap Dinda melotot.
" Emang bener ya bunda?" Tanya Arin.
__ADS_1
" Ngak kok sayang." Jawab Dinda.