Terpaksa Bercerai Muda

Terpaksa Bercerai Muda
Episode 67


__ADS_3

" Mas, aku ingin sarapan di rumah kak Dinda."Ucap Melati usai memakaikan dasi untuk Daniel.


" Hahhhhh! Tapi kenapa?" Tanya Daniel kaget.


" Tidak kenapa kenapa. Aku hanya ingin sarapan di sana saja. Aku juga merindukan ka Dinda dan si kecil Arin." Jawab Melati.


" Ya sudah. Ayo kita berangkat." Ucap Daniel.


Melati dan Daniel pun menuju rumah suami kakaknya Dinda. Setibanya di sana, keduanya di sambut oleh pembantu rumah tangga di rumah Arka.


" Maaf tuan ada adik iparnya tuan bersama istri datang kemari." Ucap pembantunya.


" Daniel sama Melati datang? Kenapa tidak di kemari saja. Agar kita bisa sarapan bersama. Mungkin saja mereka juga belum sarapan. Suruh mereka kemari." Ucap Arka.


" Baik tuan." Ucap pembantunya.


" Mas, siapa yang datang?" Tanya Dinda.


" Melati sama Daniel." Jawab Arka membantu Dinda duduk di kursinya.


" Mereka datang mas? Lalu ada dimana mereka sekarang?" Tanya Dinda.


" Bibi masih memanggil mereka." Jawab Arka.


" Selamat pagi kak Dinda dan kakak ipar." Ucap Melati.


" Nah, itu orangnya datang." Ucap Arka kembali duduk di kursinya.


" Hai Niel. Tumben kalian datang kemari?" Tanya Arka.


" Iya. Tidak biasanya kalian datang kemari." tambah Dinda.


" Ini istriku tiba-tiba mengatakan ingin sarapan di tempat kalian." Jawab Daniel.


" Iya kak. Hehehe. Maaf ya. Aku dan mas Daniel numpang sarapan di rumah kalian. Tidak apa-apa kan?" Tanya Melati.

__ADS_1


" Ya tentu tidak apa. Kalau begitu silakan duduk. Kita sarapan bersama." Ucap Dinda pada Daniel dan Melati.


" Iya kak." Ucap keduanya mengambil kursi.


" Kak dimana mertua kakak dan so kecil Arin?" Tanya Melati.


" Ibu mengajak Arin jalan jalan ke bali." Ucap Dinda.


" Ohh. Ya padahal aku datang kemari karena merindukan si kecil itu." Ucap Melati.


" Mereka akan pulang hari ini. Mungkin akan tiba saat siang hari." Ucap Dinda.


" Benarkah. Aku akan menunggu di sini kalau begitu kak. Boleh kan mas?" Tanya Melati.


" Iya sayang boleh kok." Jawab Daniel.


" Mas, aku mau tambah nasi gorengnya." Ucap Melati pada Daniel.


" Sayang, cepat sekali punyamu sudah habis. Itu banyak loh sayang." Ucap Daniel heran.


" Hehehe ini enak mas. Kak Arka kak Dinda, boleh kan aku tambah lagi?" Tanya Melati.


Melati langsung menambah nasi goreng dengan porsi lebih banyak dari semula. Daniel terheran heran di buatnya. Tapi tidak dengan Arka dan Dinda. Suam istri itu menyimpulkan sesuatu yang lain pada Melati.


" Astaga sayang. Kau membuatku malu saja. Kakak ipar dan kak Dinda pasti menganggapku seperti tidak memberimu makan saja." Ucap Daniel dalam hati.


" Hmm sepertinya Melati sedang hamil. Hanya saja Daniel dan Melati tidak menyadari perubahaan yang ada pada dirinya." Ucap Dinda dalam hati. Begitu juga yang di pikirkan oleh Arka suaminya. Keduanya saling melempar senyuman lalu melirik Melati yang sedang lahap makan.


Sarapan pagi itu berjalan lancar tanpa hambatan. Sesudah sarapan, Arka dan Daniel segera pergi ke perusahaan masing masing. Sebelum pergi, keduanya pamit dulu dengan istri mereka. Mobil yang mereka kendarai berjalan beriringan keluar dari halaman rumah Arka dan berpisah di jalan raya menuju tempat kerja mereka.


Dinda dan Melati mengobrol di ruang keluarga sambil mengemil dan menonton tv.


" Sebentar lagi ya kak." Ucap Melati mengelus perut hamilnya Dinda.


" Iya Mel. Sebentar lagi aku akan melihatnya lahir ke dunia." Ucap Dinda.

__ADS_1


" Kau bagaimana? Apa sudah ada kabar baik?" Tanya Dinda.


" Belum ada kak. Bulan lalu saja, aku datang bulan. Sepertinya kami belum di kasih kepercayaan oleh Allah kak." Jawab Melati sendu.


Dinda menyipitkan matanya mendengar ucapan Melati. Jika di lihat, ada perubahan pada tubuh Melati. Hanya saja, Melati sendiri tidak menyadarinya.


" Itu kan bulan kemarin Mel. Kenapa kau tidak mencoba test untuk bulan ini. Ku lihat ada perubahan dengan tubuhmu ini Mel. Aku masih punya sisa testpeck yang ku gunakan beberapa bulan lalu di kamar. Kalau kau ingin mengtesnya akan aku ambilkan milikku yang ada di kamar." Ucap Dinda panjang lebar.


" Tidak usah kak. Datang bulanku belum juga satu bulan. Jadi aku belum ingin mencoba. Beberapa bulan lalu aku pernah mencobanya, dan hasilnya masih negatif kak. Aku memang merasakan ada yang aneh dengan tubuhku. Nafsu makanku pun meningkat. Tapi mungkin itu karena hormon siklus datang bulanku. Aku juga tidak berharap terlalu jauh. Nanti saja kalau aku sudah telat, aku akan mencoba memakai benda pipih itu." Ujar Melati.


" Ya sudah kalau begitu. Tapi kalau ku lihat kau memang sudah berisi Mel. "Ucap Dinda.


" Ahhhh sudahlah kak. Ayo kita cari topik lain. "Ucap Melati.


Keduanya pun mengubah topik pembicaraan mereka. Mereka membahas tentang tren fashion sekarang. Keduanya terhanyut dengan cerita mereka.


" Melati kau tidak ke cafe? "Tanya Dinda.


" Tidak kak. Aku sudah jarang ke cafe. Entahlah akhir akhir ini, aku malas sekali ke cafe. Aku hanya menyuruh manager ku untuk mengirim laporan cafe ke rumah. Aku hanya memeriksa laporan itu dan menandatangani berkas yang penting saja." Jawab Melati.


" Ohh gitu ya." Ucap Dinda.


Di perusahaan Daniel sedang melakukan rapat dengan beberapa orang yang menjalin kerja sama dengan perusahaannya. Di sana juga ada pak Burhan. Mereka sedang membahas proyek kerja sama mereka. Rencananya mereka akan membangun sebuah resort dengan Daniel sebagai sponsor utamanya. Pak Burhan datang dengan seorang wanita yang tak lain adalah kekasih daun mudanya Laura. Selain sebagai kekasihnya, rupanya Laura menjabat sebagai sekretarisnya. Saat rapat berlangsung, Laura sering mencuri pandang tanpa sepengatahuan pak Burhan terhadap Daniel. Daniel yang menyadarinya berpura-pura tidak mengetahuinya.


" Dasar wanita murahan. Kau pikir aku akan tergoda denganmu. Heehhhhh kau itu tidak sebanding dengan istriku. Kau berada jauh di bawahnya. Jangankan soal kecantikan, soal tubuh pun kau pun kalah jauh." Ucap Daniel tersenyum sinis dalam hati sambil menatap gambar proyeknya.


Rapat pun telah usai. Para pemilik perusahaan disana saling berjabat tangan berharap agar kerja mereka ini berjalan lancar tanpa kendala yang menghalanginya. Mereka menawari makan siang bersama dengan Daniel. Tapi Daniel menolaknya. Ia beralasan ingin makan siang dengan istrinya. Namun itu tidak benar. Ia hanya mengada ngada saja. Ia tidak ingin makan bersama rekan kerjanya karena tidak melihat wajah ganjen Laura. Terlihat raut kekecewaan di wajah Laura, saat Daniel menolak untuk makan siang bersama mereka.


" apa hebatnya sih Melati itu. Sehingga Daniel menolak makan siang bersama kami. Padahal aku ingin sekali berada di dekatnya. Awas kau Melati. Dari SMA kau selalu mendapatkan semua yang kau inginkan. Kau selalu mendapatkan perhatian semua orang. Tapi tidak sekarang. Aku akan membiarkan kau mendapatkan apapun yang menjadi kebahagiaanmu. Aditya saja luluh denganku. Apalagi seorang Daniel. Aku hanya perlu bersabar untuk menaklukkannya. Dia berbeda dengan pria lain. Aku harus bekerja keras untuk mendapatkannya. Tunggu saja Melati. Akan ku buat hidupmu seperti di neraka. Hahahhaha." Ucap licik Laura dalam hati.


" Kalau begitu kami permisi pak Daniel. Semoga lain kali kita bisa makan siang bersama." Ucap pak Burhan.


" Iya pak Burhan. Lain kali saya pasti akan makan siang bersama kalian. Tapi saya akan mengajak istri saya." Ucap Daniel.


" Ya ajaklah istri anda. Kami pun akan mengajak istri kami. Mungkin mereka bisa berteman." Ucap salah satu rekan bisnisnya.

__ADS_1


" Ya pasti." Ucap Daniel ramah.


" Kalau begitu kami permisi dulu." Ucap pak Burhan meninggalkan ruangan Daniel di ikuti oleh Laura dan yang lainnya.


__ADS_2