
Nyonya Sarah di bantu Daniel tengah mengatur barang Melati dan cucu untuk di bawa pulang. Melati duduk di sofa sambil menyusukan baby Arsen.
" Udah mas?" Tanya Melati.
" Udah sayang." Jawab Daniel.
" Terus mama mana?" Tanya Melati.
" Mama ada di kamar mandi sayang." Jawab Daniel.
" Ohh."
" Masih bobo anak papi." Ucap Daniel mencium pipi baby Arsen.
" Iya papi. Baby Arsen kekenyangan nyusu sama mami." Ucap Melati menirukan suara anak kecil.
" Aku ngak nyangka sayang, kita sudah jadi orang tua. Rasanya baru kemarin kamu hamil dia. Sekarang dia nya sudah ada di tengah tengah kita berdua." Ucap Daniel membelai rambut Melati dan kepala baby Arsen.
" Iya mas. Aku bahagia banget bisa melahirkan anak yang tampan buat kamu mas." Ucap Melati.
" Terimakasih sayang. Kehadiranmu menjadi pelengkap hidupku. I love Melati istriku. Aku selalu mencintaimu." Ungkap Daniel.
" Aku tau. Dan aku juga mencintaimu mas Daniel papi nya baby Arsen." Ucap Melati balik.
" Uhh sweet banget sih kalian." Ucap nyonya Sarah dari belakang.
" Iya dong ma. Itu harus." Ucap Daniel.
" Mama harap kemesraan kalian bukan hanya sampai di sini saja, bisa sampai hingga kalian punya cucu nanti." Ucap nyonya Sarah.
" Aamiin ma." Ucap keduanya.
" Papa belum datang ma?" Tanya Melati.
" Sedikit lagi sayang. Nah itu orangnya baru aja di omongin udah datang." Ucap nyonya Sarah melihat tuan Eddy berada di depan pintu.
" Ada apa nih ngomongin papa?" Tanya tuan Eddy.
" Cuma nanya kapan papa datang aja pa." Jawab nyonya Sarah.
" Ohh kirain. Cucu opa, masih tidur ya sayang. Sini nak papa mau gendong." Ucap tuan Eddy menghampiri Melati.
" Ini pa. Sayang kamu sama opa dulu ya." Ucap Melati.
" Tampannya cucu kita ya ma." Ucap tuan Eddy.
" Iya pa. Dia memang sangat tampan." Ucap nyonya Sarah.
" Karena papa sudah ada, kita berangkat sekarang ya." Ucap Daniel.
" Iya. Biar papa gendong Arsen sampai mobil." Ucap tuan Eddy.
" Ayo sayang naik kursi rodanya. Kamu belum bisa jalan jauh." Ucap Daniel.
" Iya mas." Ucap Melati.
__ADS_1
Keluarga itupun berjalan keluar rumah sakit menuju mobil.
" Biar Daniel yang nyetir pa." Ucap Daniel.
" Ngak usah Niel. Kamu terlihat kurang tidur. Yang ada kita bukannya balik ke rumah malah masuk lagi ke rumah sakit dengan kondisi kamu yang seperti ini." Cengah tuan Eddy.
" Ya udah pa. Mama mau duduk di samping Melati?" Tanya Daniel.
" Kamu aja duduk di samping Melati. Biar mama duduk di depan sama papa." Ucap nyonya Sarah.
" Oke." Ucap Daniel.
Mereka pun pulang ke rumah.
Sesampainya di rumah, mereka di sambut dengan meriah oleh Dinda sekeluarga dan asisten rumah tangga mereka.
" Selamat datang baby Arsen." Ucap Dinda heboh.
" Terimakasih aunty cantik." Ucap Melati.
" Ayah gendong, Arin mau lihat dedek Arsen." Pinta Arin.
" Baiklah my princess." Ucap Arka.
" Kok matanya dedek Arsen tutup sih ya? Dedek nya masih tidur ya yah?" Tanya Arin.
" Iya sayang. Dedeknya masih tidur." Jawab Arka.
" Suruh dedeknya buka mata yah." Pinta Arin.
" Ohh gitu yah." Ucap Arin.
" Ini kenapa kita malah berdiri di luar. Ayo masuk dong." Ucap Dinda.
" Kalian, papa dan mama tidak tuh." Ucap nyonya Sarah dari dalam.
" Eeh mama dan papa sudah di dalam ya." Ucap Dinda.
" Dari tadi nak. Ayo suruh Melati duduk dulu." Ucap nyonya Sarah.
" Melati langsung ke kamar aja ya ma. Mau taruh baby Arsen di box setelah itu Melati balik lagi ke sini." Ucap Melati.
" Ya udah kalau gitu. Mama juga mau periksa masakan yang di buat Art di dapur." Ucap nyonya Sarah.
" Ayo sayang,mas aja yang gendong baby nya." Ucap Daniel.
" Ini mas." Ucap Melati.
" Kak kami ke kamar dulu ya." Ucap Melati.
" Iya Mel. Kakak mau mandiin anak anak dulu." Ucap Dinda.
" Kakak nginap?" Tanya Daniel.
" Iya Niel. Kangen baby Arsen." Jawab Dinda.
__ADS_1
" Ngak kangen adiknya?" Tanya Daniel.
" Ngak tuh." Ledek Dinda.
" Dasar. Ayo sayang kita kem kamar." Ucap Daniel.
" Bunda, kok dedek nya di bawah ke kamar sih?" Tanya Arin.
" Karena dedeknya masih tidur kakak. Nanti setelah bangun dedek nya di bawah kesini lagi kok." Jawab Dinda.
" Gitu ya bunda." Ucap Arin.
" Iya sayang anak bunda yang cantik. Sekarang mandi dulu ya udah sore. Ade Bima juga mungkin sudah bangun." Ajak Dinda.
" Iya bunda."
Malam hari setelah makan malam, keluarga berkumpul di ruang keluarga sambil bercanda ria.
" Kak Arka pengen gendong Mel, boleh?" Tanya Arka.
" Boleh kok kak." Ucap Melati memberikan baby Arsen pada Arka.
" Huuaaahuaaaa." Tangis Bima.
" Adeknya kenapa nangis?" Tanya Arka tidak jadi mengambil baby Arsen dari Melati.
" Nda boleh. Ayah punya Bima." Jawab Bima.
" Ohh jadi ayah ngak boleh gendong adek Arsen?" Tanya Arka.
" Iya nda boleh. Nanti ayah di ambil dedek Arsen. Ayah cuma punya Bima." Jawab Bima.
" Punya kak Arin juga." Ucap Arin mendekat memeluk erat tubuh Arka.
" Unda unda. Akak akal. Huhuhu." Adu Bima.
" Ngak boleh gitu Bima sayang. Ayah itu punya kalian berdua sama bunda juga. Jadi Arka ngak boleh seperti itu ya." Bujuk Dinda.
" Tapi ayah punya Bima nda." Celoteh Bima.
" Punya kakak juga bunda." Ucap Arin tidak mau kalah.
" Iya punya kalian berdua. Udah jangan nangis lagi ya sayang. Nanti dedeknya bangun dan nangis loh." Ucap Dinda.
" Iya bunda. Tapi ayah nda boleh gendong dedeknya. Nanti ayah di ambil dedek nda." Ucap Bima.
" Siapa juga yang ngambil bapak lu bocah. Orang anak gue udah punya papi keren dan ganteng kayak aku gini." Ucap Daniel meledek.
" Unda api akal nda." Adu Bima.
" Api api. Papi bukan papi bocah. Gue pites juga ya loh." Ucap Daniel.
" Huuaaahuaaaa. Api akal nda." Tangis Bima.
" Mas, udah deh. Bimanya jangan di isengin. Udah jadi orang tua juga kayak gitu." Ucap Melati.
__ADS_1
" Hehehe maaf sayang. Becanda." Ucap Daniel.