
Rio duduk di ruang sambil mengesap kopi hitam buatan asisten di rumahnya Daniel. Setelah tidur hampir tiga jam lebih, ia merasa tubuhnya kembali segar untuk melakukan aktivitas seperti biasanya.
Sambil melihat jam di tangannya ia melihat terus ke arah tangga berharap Daniel muncul dari tangga itu. Sudah hampir sejam ia menunggu, tapi orang yang di tunggunya tak kunjung datang. Bahkan ia sudah dua kali makan juga sudah dua kali meminta asisten rumah di sana untuk membuatkan kopi untuknya.
" Ini Daniel ngapain sih di kamar. Dari tadi belum muncul juga." Ujar Rio kesal.
Terlihat Dinda muncul dari arah lain menggendong si kecil Bima yang baru saja ia mandikan berjalan mendekatinya.
" Belum turun juga Danielnya?" Tanya Dinda.
" Belum kak." Jawab Rio.
" Mungkin masih kangen kangenan sama istrinya." Ucap Dinda.
" Kangen sih kangen kak. Tapi ingat juga dong kalau dia kesini bareng aku." Ucap Rio.
Dinda tidak menjawab perkataan Rio, ia hanya sibuk bermain dengan si kecil Bima.
" Halo adek ganteng. Sini om Rio gendong mau." Ucap Rio pada Bima.
Seakan paham dengan apa yang di katakan oleh Rio, Bima memberikan tangannya minta di gendong oleh Rio.
" Ohh pintarnya si ganteng ini. Kamu ganteng banget sih dek, kayak om Rio." Ucap Rio memuji dirinya.
" Ciiiihh kakak gue sama suaminya yang membuatnya masa iya gantengnya ikut lo." Ledek Daniel dari tangga lantai dua dengan Melati.
" Dari mana aja lo. Dari gue nungguin ampir karatan. Kopi bahkan habis dua kali di buat sama bibi." Ucap Rio kesal.
" Jangan marah kayak gitu. Nanti ponakan gue kaget. Tuh liat mukanya natap lo ketakutan udah mau nangis." Ucap Daniel.
" Ohhh sayang. Om ngak marah sama Bima kok. Om marahnya sama dai tuh om kamu yang ngak ada akhlaknya. Jangan nangis ya sayang." Ucap Rio mencium Bima agar tidak menangis.
__ADS_1
" Sialan lo ngatain gue ngak ada akhlaknya." Ucap Daniel kesal sambil membantu Melati duduk.
" Emang lo ngak ada akhlaknya kok. Buktinya sejam gue nungguin lo turun lonya kagak muncul muncul." Ucap Rio memberikan baby Bima kembali pada Dinda.
" Salah lo sendiri kenapa nungguin gue. Tau sendiri kan gue lagi kangen kangenan sama bini gue. Iya kan sayang." Ucap Daniel mengedipkan matanya pada Melati.
Melati jangan di tanya lagi. Wajahnya sudah merah Semerah tomat mendengar perkataan Daniel tadi.
" Ada apa lo nungguin gue?" Tanya Daniel.
" Ya gue mau pulang lah." Jawab Rio.
" Pulang ya pulang aja. Kenapa harus nunggu gue. Udah di kasih makan juga kan sama kak Dinda. Jadi untuk apa lo nungguin gue." Ucap Daniel santai membelai lembut tangan Melati.
" Dasar lo ngak tau terimakasih. Tau gitu ngak gue tolongin waktu di jebak si mbak lampir itu." Ucap Rio kesal.
" Jadi mau di ucapin terima kasih nih. Yau udah di dengarkan dengan baik. Gue ucapin terimakasih atas jasa lo karena udah mau nolongin gue dari terkaman mbak lampir kemarin. Mungkin kalau lo ngak gue ngak nolongin gue, ngak tau akan seperti apa rumah tangga gue sama istri gue Rio." Ucap Daniel tulus.
" Sialan lo." Umpat Daniel kesal.
"Oke sekarang gue mau pulang mana kunci mobil lo mau gue pakai pulang." Ucap Rio.
" Nih ambil. Lo bawa mobil gue yang satu. Jangan lupa di balikin." Ucap Daniel menyerahkan kunci mobilnya pada Rio.
" Thank's bro. Tenang aja bakal gue balikin itupun kalau gue ingat. Dadah Bima gantengnya uncle Rio. Muaaaacch." Ucap Rio mengecup pipi Bima sambil mengedipkan matanya pada Daniel dan berlalu.
" Iiiuuuuu jijik gue." Ucap Daniel geli melihat kedipan mata Rio padanya.
Setelah kepergian Rio, ketiganya pun membahas apa yang harus mereka lakukan pada Laura nantinya.
" Apa rencana kalian?" Tanya Dinda to the poin.
__ADS_1
" Kita biarkan dia berenang bebas kak. Setelah itu tenggelamkan dia sedalam-dalamnya sampai tidak akan kembali lagi permukaan. Tapi jika ia masih tetap kembali, ya terpaksa kita gunakan cara lain untuk menghancurkan hingga tidak bisa berkutik lagi." Jawab Daniel.
" Kamu setuju dengan perkataan Daniel Mel?" Tanya Dinda.
" Iya. Aku yakin mas Daniel sudah memikirkan cara yang tepat menangani wanita seperti Laura. Aku tidak tau sudah berapa banyak orang yang ia sakiti karena sikapnya itu. Tapi sebagai orang yang pernah merasakan hal itu, tentu aku tau itu sangat menyakitkan kak. Aku ingin dia berhenti melakukan hal itu. Dia teman baikku kak. Walaupun itu hanya dulu. Aku tidak tau apa yang membuatnya jadi seperti itu. Laura yang ku kenal adalah gadis lugu dan lemah lembut. Aku ingin ia kembali menjadi Laura yang ku kenal dulu." Jawab Melati.
" Tapi kalau dia tidak kembali berubah seperti yang kamu inginkan bagaimana?" Tanya Dinda.
" Aku serahkan semuanya pada mas Daniel. Tapi sebelum mau Daniel memulai aku ingin bertemu dulu dengannya. Aku ingin tau alasan apa yang membuatnya seperti itu." Jawab Melati.
" Baiklah, sesuai dengan keinginan sang ratu." Ucap Daniel mengecup tangan Melati.
" Ya sudah kalau itu sudah jadi keinginan kamu. Kakak hanya berharap semoga kedepannya rumah tangga kalian akan baik baik saja. Sebenarnya kakak sudah punya rencana sendiri pada wanita itu. Tapi kembali lagi. Kakak ingin kalian sendiri yang menangani wanita itu. Karena kakak merasa tidak terlalu berhak melakukan itu." Ucap Dinda.
" Iya kak makasih. Tapi kami akan melakukannya sendiri." Ucap Daniel.
Tin tin tin
Bunyi klakson mobil Arka memasuki pekarangan rumah.
" Sayang, ayah sudah pulang. Kamu senang ya nak." Ucap Bima tersenyum.
Arka muncul dari balik pintu sambil membawa tas kerjanya. Terlihat dari belakang kakak Arin berlari ingin di peluk ayahnya.
" Hore ayah sudah pulang." Ucap Arin melompat memeluk dan mencium Arka. Arka juga demikian pada gadis kecilnya itu.
Si kecil Bima juga sudah berontak dari gendongan Dinda karena ingin di peluk oleh ayahnya juga.
" Mas." Ucap Dinda menyalami Arka di balas Arka dengan mengecup kening istrinya.
" Sini sayang Bimanya. Lihat wajahnya memelas minta aku peluk. Ohh anak ayah ganteng banget sih kamu. Hmm wangi juga." Ucap Arka menggendong dan mencium gemas Bima setelah menurunkan Arin.
__ADS_1
Arka pun berjalan ke arah Daniel dan Melati di ikuti oleh Dinda. Sedangkan kakak Arin sudah kembali bermain dengan mainan Barbie nya.