
" Malam ini, kalian nginap aja ya." Pinta mama.
" Aku sih terserah mas Aditya aja ma." Jawab Natasya.
" Iya, malam ini kita nginap di rumah mama." Ucap Aditya, karena melihat wajah mertuanya yang memelas padanya.
" Benarkah?" Tanya mertuanya memastikan.
" Kamu serius mas?" Tambah Natasya.
" Iya, Benar." Jawab Aditya.
" Wah senangnya. Mama kira Aditya ngak akan setuju. Soalnya mama masih sangat rindu sama anak mama ini." Ucap mertuanya pindah ke samping Natasya mengelus lembut rambutnya.
" Mama terlihat sangat menyayangi Natasya. Bagaimana jika mereka tau, kalau aku selalu menyakiti anak mereka dengan sangat kejam." Batin Aditya menatap mertua dan istrinya.
" Mas Aditya kenapa menatapku seperti itu. Apa dia terpaksa untuk menginap? Mungkinkah dia marah?" Batin Natasya yang tidak sengaja melihat Aditya menatapnya. Ia pun mulai merasa takut.
" Sayang, ini sudah larut malam. Mama udah ngantuk. Kami duluan ke kamar ya. Kalau kalian udah ngantuk juga, kamu ajak juga suamimu ke kamar ya sayang." Ujar mamanya.
" Iya ma. Duluan aja." Jawab Natasya.
" Ayo pa." Ucap mamanya mengajak suaminya ke kamar.
Kedua orang tua Natasya pun pergi ke kamar meninggalkan keduanya dalam hening di sana.
" Emmm,, mas. Aku duluan ke kamar ya?" Tanya Natasya agak takut. Karena Aditya hanya diam saja seperti biasanya.
" Iya." Jawab Aditya singkat.
Natasya ke kamar meninggalkan Aditya sendirian di sana.
Cekleek
" Masih sama seperti dulu, saat aku belum menikah. Tidak ada yang berubah." Ucapnya menatap kamarnya.
Natasya pun, membersihkan sisa make up di wajahnya dengan kapas. Lalu ia ke kamar mandi mencuci muka dan menggosok gigi. Setelah itu, ia memakai pelembab di wajahnya. Kemudian ia membuka lemari mencari baju tidurnya.
Lalu Natasya bersiap untuk tidur. Ia memberikan bantal peluk, sebagai pembatas antara dirinya dan suaminya, Aditya. Karena selama mereka menikah, ini kedua kalinya mereka tidur sekamar. Yang pertama saat setelah menikah. Setelah itu tidak ada lagi kata tidur bersama antara dia dan Aditya. Semenjak keduanya tinggal bersama, mereka tidur di kamar yang berbeda sesuai permintaan Aditya. Walaupun Natasya menangis dan memohon, Aditya tidak pernah mau tidur sekamar dengannya.
Sementara itu, Aditya masih di bawah. Ia hanya duduk diam menatap lurus ke depan. Entah apa yang di pikirannya. Lalu ia meminum kopi buatan tadi.
" Hmmm,, benar kata papa, kopi buatan Natasya memang sangat enak. Sangat beda dengan kopi yang biasa ku minum di restoran mewah. Kopi buatannya dan Melati memang sangat enak. Ahhh,, mengingat Melati. Dimana kamu sayang. Kenapa setelah perceraian kita, susah sekali menemukanmu. Sebegitu bencikah dirimu padaku. Sehingga kau menyembunyikan dirimu agar tidak ku temukan. Apa kau bahagia setelah Bercerai denganku? Atau kau sudah mendapatkan ganti untuk diriku di sisimu? Andai aku tidak berkhianat, pasti sekarang kau masih ada di sisiku. Soal kedua orang tuaku yang tidak merestui kita, bukan perkara sulit untuk aku. Jika kita berjuang bersama mendapatkan restu dari mereka. Haaaah,, semua hanya andai saja. Sekarang pun aku sudah menikah dengan gadis pilihan mereka. Bahkan aku dengan terang terangan menyakiti istriku. Melati semoga kau bahagia di luar sana. Walau aku masih mencintaimu, tapi tetap ku doakan kau bahagia. Semoga kau mendapatkan pria yang baik dan keluarga yang menerima dirimu tulus dan apa adanya." Gumam Aditya pelan agar tidak di dengar oleh orang lain. Terutama kedua mertuanya.
Ketika Daniel dan Arka meresmikan hotel kerja sama mereka, Daniel memberikan undangan pada Aditya untuk menghadiri acara peresmian hotelnya. Begitu pula dengan kedua orang tuanya dan mertuanya. Karena mereka adalah salah satu pengusaha berpengaruh di negaranya. Namun karena terhambat dengan kesibukan pekerjaan, mereka tidak menghadiri undangan dari Daniel.
Aditya pun mulai menguap. Ia memutuskan ke kamar menyusul Natasya ke kamar. Sebelum itu, ia mengantar gelas kopinya di dapur. Saat ia membuka pintu, terlihat Natasya yang sedang tertidur dengan pulas. Ia pun ke kamar mandi untuk menggosok giginya. Di lihatnya di atas kasur, sudah ada baju tidur untuknya. Tadi mertuanya datang memberikan baju itu pada Natasya. Karena ia tau Aditya tidak punya baju tidur untuk tidur. Baju itu masih adalah baju papa mertuanya. Tapi masih baru dan masih label harganya. Ia memakai baju itu di kamar mandi.
__ADS_1
Setelah itu, ia berjalan ke arah tempat tidur. Di lihatnya ada pembatas bantal peluk antara dia Natasya. Ia tidak marah. Karena ia tau Natasya melakukannya untuk dirinya. Sebenarnya bisa saja Aditya tidur di sofa. Tapi karena ini di rumah mertuanya, ia tidak ingin melakukannya. Ia pun segera tidur menyusul Natasya ke alam mimpi.
Pukul 04.30 Natasya terbangun karena alarm yang ia pasang tadi malam. Ia pun segera bangun menenangkan pikirannya supaya rasa kantuknya hilang. Di lihatnya di samping, terlihat Aditya yang masih tertidur. Ia menatap wajah Aditya dengan penuh cinta.
" Andai setiap bangun tidur wajah ini yang ku lihat setiap bangun tidur. Betapa bahagianya aku. Tapi itu tidak mungkin, karena kamu selalu membatasi diriku untuk mendekatimu mas. Bahkan kamu tidak memberikan ruang sedikit pun untuk aku memasuki hatimu. Karena di hatimu hanya ada nama Melati seorang. Mungkin ini juga karma untuk aku. Karena sudah merebutmu dari tangan Melati." Lirih Natasya menatap wajah Aditya yang sedang tertidur pulas. Ia menghapus air matanya yang tanpa sengaja keluar.
" Aaaa dasar air mata sialan. Bisakah tidak keluar dulu walau hanya hari ini saja. Apa kau tidak bosan keluar. Bisa bisa aku kehabisan stok air mata, jika kau keluar setiap hari." Ucap Natasya tertawa pelan walau merasa sesak.
Merasa cukup baikan, ia segera ke kamar mandi. Keluar dari kamar mandi, Natasya mengambil sajadah dan mekenah lalu ia sholat subuh. Setelah enam bulan pernikahannya, ia sudah mulai sholat mendekat pada sang illahi. Setelah sholat, ia menyimpan kembali sajadah dan mukenahnya. Lalu ia turun ke dapur untuk membuat sarapan untuk orang tua dan suaminya.
Ketika Natasya sholat, Aditya terbangun dari tidurnya. Ia kaget melihat Natasya sholat. Sejak kapan ia sholat. Setau Aditya, Nastasya tidak pernah sholat. Apalagi saat Nastasya membaca ayat suci alquran yang terdengar sangat indah di telinganya. Karena Aditya mengenal Natasya dari kecil. Ia hanyalah anak manja yang ingin semua permintaannya harus di turuti oleh orang tuanya. Ia pun menggosok matanya untuk memastikan jika yang di depannya adalah Natasya, istrinya. Di lihatnya lagi itu adalah Natasya. Ia pun mencubit tangannya, ia merasa sakit. Ternyata itu memang istrinya, Natasya.
Di dapur, Natasya dengan di bantu mamanya membuat sarapan pagi untuk mereka. Setelah hampir 1 jam, ia berkutat dengan kompor. Setelah masak, ia menyedirikan untuk pembantunya yang sedang sakit. Lalu ia antakan sendiri ke kamar. Mamanya merasa anaknya berubah lebih baik lagi setelah menikah. Selama ini, ia tidak pernah peduli dengan hidup orang di sekitarnya. Tapi hari ini, ia melihat sendiri anaknya melakukan itu.
Setelah selesai menata meja, suami dan menantunya tiba di meja makan.
" Mama sendiri? Dimana Natasya?" Tanya suaminya.
" Natasya ada di kamar bibi mas. Dia mengantarkan sarapan untuk bibi." Jawabnya.
" Benarkah itu anakku Natasya yang manja?" Tanya suaminya kaget.
" Iya mas. Itu Natasya anak kita. Dia benar-benar berubah mas lebih baik lagi mas. Aku tadi sampai tidak mengenali anakku saat di dapur tadi. Ini semua sarapan adalah masakannya. Mama hanya membantu sedikit saja. Ia sendiri yang memasak dan membumbuinya. Mama ngak bohong pa." Jelasnya.
Keduanya menitikkan air mata melihat perubahan besar pada putrinya itu.
" Ekkhhh,, i,, iy,, iya ma." Jawab Aditya kikuk.
" Iya Adit. Dia berubah. Aku bangga pada putriku." Tambah papanya.
" Iya pa." Jawab Aditya.
Aditya merasa semakin bersalah pada kedua mertuanya. Karena ia tidak sebaik yang mereka kira dalam memperlakukan putri mereka dengan baik.
Setelah mereka sarapan, Natasya tiba di meja makan dengan membawa piring kosong.
" Sayang, kok lama sih?" Tanya mamanya.
" Tasya, bantuin bibi makan dulu ma." Jawab Natasya mulai makan sarapannya.
" Ohhhh begitu. Masakan kamu enak loh sayang. Mama ngak nyangka, anak mama pintar masak." Pujinya.
" Iya makasih. Tasya masih belajar kok ma." Ucap Natasya malu.
" Tapi beneran enak kok. Suami kamu pasti senang kamu masakin tiap hari." Ucap papanya menatap Aditya.
" Iya pa. Tiap hari Natasya selalu memasak untuk aku." Jawab Aditya.
__ADS_1
" Dan tiap hari juga dia sendiri yang memakan masakannya. Karena aku tidak pernah mau mencicipinya." Batin Aditya merasa semakin bersalah.
Natasya hanya tersenyum masam tanpa di ketahui oleh orang tuanya kecuali Aditya, saat mendengar ucapan papanya tadi.
Setelah Natasya sarapan, Aditya membawa pulang Natasya. Seperti biasa, mereka hanya diam saja. Apalagi setelah peristiwa di rumah mamanya tadi. Sesampainya di rumah, Aditya dan Natasya turun.
Aditya memasuki kamarnya untuk mengganti pakaiannya dengan baju kantor. Sedangkan Natasya ia memeriksa ikan peliharaannya sambil memberi makanan. Aditya turun melihat Natasya sedang berbicara dengan ikannya.
" Ikan yang cantik ya?" Ucap Aditya mendekat untuk melihat ikan hias pelihara Natasya lebih dekat lagi.
" Mas." Ucap Natasya kaget.
" Ada apa?" Tanya Aditya.
" Tidak ada." Jawabnya.
" Tumben mas Aditya mengajakku bicara. Biasanya selalu cuek padaku. Jika berbicara itupun karena aku yang membuka pembicaraan duluan saat dengannya." Batin Natasya melihat Aditya ikut memberi makan ikannya.
" Besok aku akan menyuruh orang untuk memindahkan ikan peliharaanku kemari. Apa kau mau membantuku merawatnya?" Ucap Aditya membuat Natasya kaget.
" I,,i,,iya mas. Aku akan merawatnya untukmu." Jawabnya terbata bata.
" Bagus." Ucap Aditya.
" Mulai hari ini, aku ingin kau memasak untukku. Seperti kata mama, masakanmu enak. Dan aku ingin kau memasaknya untukku." Ucap Aditya semakin membuat Natasya melonggo.
" Iya mas." Jawabnya tanpa sadar.
" Kalau begitu aku ke kantor dulu. Oh iya, ada orang suruhanku yang akan menjemputmu untuk mengantar makan siang ke kantor." Ucap Aditya berlalu.
Natasya semakin kaget dan bingung mendengar penuturan Aditya kaget.
" Apakah ini mimpi?" Tanyanya pada diri sendiri sambil mencubit lengannya.
" Auuu,,, ini sakit. Berarti ini nyata." Ucapnya kaget karena merasa sakit.
" Aaaaaaaa,,, bahagianya aku. Akhirnya mas Aditya mau bicara sama aku dan mau aku masakin." Ucap Natasya berteriak sambil melompat karena senang.
" Ekhhhh tunggu dulu. Dia dengar tidak teriakan aku tadi." Ucapnya mengintip mobil Aditya dari jendela.
" Syukurlah dia sudah pergi." Ucapnya lega.
" Oke ikanku kalian makan yang banyak ya." Ucapnya berbicara dengan ikan.
Setelah memberi makan ikan di aquarium, ia lalu beralih ke kolam kecil untuk memberi makan ikan di situ juga.
# OKE sampai sini dulu ya. Nanti author lanjut. Author lapar mau masak dulu. Bye. Sampai ketemu lagi. Jangan lupa berikan jejak ya👍
__ADS_1