The Best Trio Karakter

The Best Trio Karakter
Bab 87 Kakek yang sedih


__ADS_3

Dunia yang kira kita luas ternyata bisa begitu sempit ketika seseorang mencari jalan takdirnya sendiri.


Hal tak terduga akan selalu menanti kita ketika kita lengah bersiap.


Karna itu perlu perencanaan matang dan selalu fokus menjalani hidup.


We are born in one day. We die in one day. We can change in one day. And we can fall in love in one day. Anything can happen in just one day.


Kita lahir dalam satu hari. Kita mati dalam satu hari. Kita bisa berubah dalam satu hari. Dan kita bisa jatuh cinta dalam satu hari. Apa pun bisa terjadi hanya dalam satu hari.


...



Seorang pemuda berjalan dengan jaket dan masker serba hitam hingga membuatnya terkesan misterius.


Akan tetapi style atau pakaian apapun yang di pakai pemuda itu, terlihat tetap cocok karna perawakan dan postur tubuhnya.


Di tambah kedua earphone dan tas hitam kecil menambah kecoolan pemuda itu.


Tak heran para remaja perempuan yang melihatnya curi-curi pandang saat dia berhenti di sebuah halte bis untuk menunggu bis.


Hingga pemuda itu lalu duduk di dekat seorang kakek yang dari tadi memandang kosong kearah depan.


"Jika cucuku masih ada mungkin dia sudah setinggi dirimu anak muda.


Dia juga menyukai pakaian serba hitam dan mendengarkan musik di saat keramaian, cucuku itu sangat tampan sepertimu."ucapnya sendu.


Akira menoleh kearah kakek yang tadi berbicara.


Dia memandang kearah sekitar di mana beberapa orang mulai mencibir bahwa kakek itu sebenarnya kehilangan kewarasannya.

__ADS_1


"Nak jangan di dengarkan, dia sudah gila semenjak pagi dia disini dan saat kami berdiri disini dia mulai menceritakan sama tentang cucunya yang sudah tiada berulang kali."ucap seorang ibu-ibu memberitahu.


Sang kakek yang mendengar perkataan ibu itu membalasnya.


"Cucuku masih ada!dia hanya belum di temukan saat pulang dari bar yang biasa ia kunjungi bersama teman-temannya."ucap kakek tua itu langsung mendapat tatapan julid dari si ibu.


Baru saja ibu-ibu itu ingin bersuara lagi tapi suara telpon dari ponselnya mengurungkan niatnya dan ibu itu berjalan sedikit menjauh dari sana untuk mengangkat panggilan suaminya.


Sementara para remaja perempuan tadi hanya sibuk berbicara masalah sekolahnya.


Akira menoleh kearah kakek itu dan bertanya lembut.


"Apa cucu kakek menghilang?"tanyanya.


Sang kakek mengangguk, dia lalu melanjutkan ceritanya.


"Malam itu cucuku Arsa meminta izin pergi keluar karna temannya mengadakan pesta ulang tahun, aku sudah melarangnya karna terlalu larut baginya apalagi dia masih berusia 16 tahun untuk pergi ke bar.


Dan aku menunggunya pulang sampai tak bisa tidur, hingga keesokan paginya dia tak pernah kembali lagi atau pulang kerumah, tidak mungkin cucuku itu kabur atau pergi dia hanya menghilang saat itu dan aku berusaha melapor pada polisi tapi polisi mengatakan sebelum 24 jam berlalu maka polisi tidak menindak lanjuti atau mencarinya, mereka polisi tapi benar-benar payah dalam mencari cucuku."ucap kakek itu terisak, dia tak bisa membendung air matanya karna sangat mencemaskan cucunya, Akira yang melihatnya menjadi iba lalu mengelus punggung kakek itu untuk menenangkannya.


"Aku tau kehilangan orang yang paling kita sayangi dan terdekat adalah hal tersulit dalam hidup, karakter manusia itu takdir dan cita-cita bukan takdir tapi sebuah petunjuk arah, sama hal ketika manusia kehilangan alasannya untuk bertahan atau hidup dunia mereka akan putus asa dan menjadi bodoh.


Tapi kakek sebenarnya juga salah karna tak bersikap tegas, itulah penyesalan berat kakek.


Boleh saja memanjakan cucu kakek karna dia dari kecil tak mendapat kasih sayang orang tuanya yang telah pergi lebih dulu dari dunia tetapi apa yang di tuai bisa menjadi sebuah kebiasaan buruk ketika ia besar. Aku yakin suatu hari dia pasti di temukan kakek percaya saja pada Tuhan dan terus berdoa padanya."ucap Akira.


Bukannya dia tak mau membantu, hanya saja ikut campur dalam urusan orang lain membuatnya sadar atas kesalahan dulu di masa lalu.


Sang kakek mengusap wajahnya yang lelah dan basah karna air matanya, dia lalu memandang Akira dan tersenyum tipis.


"Nak apa kau percaya bahwa dunia itu sama sekali tak ada harapan?bagaimana kalau keyakinanku sudah roboh karna menunggu terlalu lama."

__ADS_1


"Aku tidak pernah percaya, tapi aku mempelajari apa yang sesudahnya berlalu untuk cerita atau pengalaman ku di masa depan karna aku tak pernah lari dari rasa sakit itu kek."ucap Akira membuat kakek itu sedikit tertegun.


"Manusia sering kali bersabar, ada seseorang mengatakan kalau kesabaran manusia dari dia kecil sampai dewasa seluas samudra bahkan melebihinya.


Kita tak pernah tau, dan tak akan bisa menebak, kapan kita kehilangan seseorang?atau kapan kita memulai menyalahkan diri dan putus asa?


Aku juga takut ketika memulai sesuatu tapi aku mencoba menjadi berani dan tangguh walaupun aku bukan orang kuat karna masih banyak orang kuat yang mampu melindungiku dan diri mereka.


Kakek bolehnya aku mengajukan satu pernyataan, bagimu apa tujuan manusia hidup saat takdir mereka terus mempermainkan mereka?"


Pertanyaa Akira membuat kakek itu terdiam cukup lama.


Namun setelahnya kakek itu mengeleng karna tak menemukan jawabannya.


"Tidak perlu mencari jawaban yang tepat kek, kau hanya bisa menjawabnya dengan menangis, tertawa dan marah karna itu adalah tujuan hidup manusia."ucap Akira.


Tanpa sadar dia melupakan kalau ponselnya dari tadi juga berbunyi, Akira buru-buru mengambil dan mengeceknya ternyata itu panggilan dari sang adik.


Dia terkekeh kecil karna tak jauh dari sana ada motor dan adiknya yang tengah menunggunya dari tadi.


"Maaf aku harus pergi."ucap Akira sambil membuka maskernya hingga membuat para remaja perempuan itu menjerit tertahan dan tersipu karna melihat wajah Akira sepenuhnya.


Namun sang kakek mencegatnya dengan menahan tangannya.


"Apa maksud ucapanmu tadi nak?"


"Maksudku? Hm....aku memikirkan jawaban itu secara acak, setiap manusia memiliki keunikan masing-masing dan dengan emosi mereka mengekspresikan segalanya, dan di situlah aku pikir kita tau kehidupan yang mereka jalani tanpa melihatnya di depan."ucap Akira.


...


Destiny is a good thing to accept when it goes your way. Otherwise, don't call it fate; call it injustice, betrayal, or simple bad luck.

__ADS_1


Takdir adalah hal yang baik untuk diterima ketika itu berjalan sesuai keinginan Anda. Jika tidak, jangan menyebutnya takdir; sebut saja ketidakadilan, pengkhianatan, atau nasib buruk yang sederhana.


__ADS_2