The Best Trio Karakter

The Best Trio Karakter
Melihat masa depan


__ADS_3

Selamat membaca!


(Jangan lupa pake earphone buat dengerin musik biar lebih tenang, soal lagu Aiden recommended semua lagunya Ava max.🤫)


.


.


.


"Akira apa yang kau bicarakan?apa maksudmu?kau bermimpi buruk?"tanya Haru bertubi-tubi, jujur saja dia sangat mencemaskan temannya itu sebelumnya, oleh karna itu dia datang untuk menemuinya.


Akira terkekeh kemudian mengelengkan kepalanya.


Dia mengeryit heran saat melihat tatapan intens dari kedua temannya.


"Apa kalian tak percaya padaku? ini kutukan tapi aku bisa melihat masa depan, Haru soal tanda bintang itu mungkin hal ku alami sekarang sudah menjelaskan semuanya."ucap Akira.


"Akira aku benar-benar tidak mengerti."ucap Asa sama halnya dengan Haru.


Bagi mereka Akira seolah bersikap aneh, walaupun anak itu berusaha tak menutupi apapun atau semuanya sendiri.


Akira menghela napas sambil memijit keningnya yang pusing.


Ini juga salahnya sih, orang mana yang mudah percaya dengan keistimewaannya sekarang, sama seperti seorang indigo yang merasa di bedakan padahal dirinya memiliki keistimewaan yang tak di sadari banyak orang.


"Lupakan itu, akan ku buktikan lain kali."ucap Akira akhirnya.


"Kau bicara aneh tapi tak dapat di pungkiri kau membuat kami sangat penasaran."ucap Haru tertawa seolah dia telah mendengar lelucon atau berhasil menyindir Akira hingga membuat wajah temannya itu masam.


"Apa kau sudah merasa baikan?"tanya Asa lembut berusaha mengalihkan topik mereka.


Dirinya sedikit tak nyaman.


Akira mengangguk kan kepalanya lalu mengacungkan jempol.


"Aku sudah baik tapi aku lapar sekali."cicit Anak itu seperti anak burung yang minta di beri makan oleh induknya.


"Hahaha lihatlah wajahnya, mengemaskan sekali."ucap Haru mengigit pipinya dalam untuk menahan rasa gemasnya dengan wajah memelas Akira.


Dia harus menahannya karna temannya itu sedang sakit.


Akira yang mendengar itu langsung melotot tajam kearah Haru.


"Aku tampan tau!bukan mengemaskan!"ucapnya tak terima.


"Iya tampan tapi tidak ada sangarnya sama sekali."

__ADS_1


"Ada ya!alisku seperti Jio garang!"


"Adikmu itu mempunyai tatapan tajam dan alis yang menukik hingga membuatnya sangar tapi walau kau memilikinya juga kau itu sangat berbeda dengannya Akira."


Akira lalu merubah wajahnya terlihat cool dan meniru raut wajah yang biasa adiknya tunjukkan membuat Haru melongo tak percaya dan Asa yang bersemu merah.


"Hei hei hentikan kau sama sekali tidak cocok!"


Dimana temannya yang mengemaskan itu? malah dia seperti melihat pantulan Jio yang menyeramkan  baginya.


"Bagaimana? aku sudah sangar kan?"tanya Akira tak menggubris ucapan Haru, malah menatap intens ke arah Asa hingga membuat gadis itu gugup dan jantungnya berdetak tak karuan.


"I-iya..."ucap Asa gugup.


Jika seperti ini Akira bisa mendominasi seperti lelaki maskulin pada umumnya.


Namun baginya jika itu Akira, Asa menyukai dan selalu mengagumi semua yang ada dalam diri pemuda pemilik hatinya itu.


Ya sejak kecil Akira telah merebut semua pusat perhatian dunianya dari yang lain hingga dia tak bisa berpaling sekalipun.


Akira merubah raut wajahnya seperti semula, dia mengerucutkan bibirnya.


"Lapar!makan!mau makan!"


Astaga mereka lupa kalau bayi mereka masih kelaparan ternyata.


...


Akira dan Haru mulai bosan memainkan PS game mereka di ruang keluarga sementara Asa gadis itu sejak tadi duduk di atas sofa melihat mereka sambil memakan Snack kentang yang di makannya dan menyuapi sang pacar membuat Haru makin panas dingin saja.


"Apa yang harus kita lakukan?aku bosan sangat bosan...."ucap Akira tanpa sadar merengek sambil memeluk kaki Asa karna dia duduk di karpet berbulu.


"Entahlah aku juga sudah kenyang."ucap Haru yang telah menghabiskan tiga botol cola.


Haru memang menyukai minuman itu.


"Bagaimana kalau kita bermain dare truth saja?"usul Asa langsung di angguki oleh dua pemuda itu.


Mereka lalu saling duduk melingkar di atas karpet berbulu.


"Aku yang putar botolnya."ucap Haru setelah meletakan Botol cola di tengah-tengah mereka.


Dia lalu memutar botol itu hingga saat botol berhenti menunjuk ke arah Asa.


"Oke aku pilih dare."ucap Asa saat tau dirinya kena sasaran.


Haru lalu menyeringai, dia melirik kearah Akira yang dari tadi tak berhenti memandang Asa.

__ADS_1


"Aku mau kau mencium Akira sampai dia tak bisa bernafas."ucap Haru memberi darenya.


"Hah?apa tunggu!kau mau aku mati karna kehabisan nafas hah!"ucap Akira.


Tapi tidak dengan Asa, dia langsung menyambar bibir manis pacarnya itu yang menjadi candu untuknya membuat Akira dan Haru membulatkan matanya tak percaya.


Hingga beberapa menit mereka berciuman, Akira dengan paksa melepas ciuman mereka karna tak ada tanda-tanda Asa menghentikannya, dia lalu menghirup rakus pasokan udara yang menipis.


"Wah oke kau sudah selesai, astaga tak ku sangka mataku ternodai melihat pemandangan di depan."ucap Haru kemudian kembali memutar botolnya tanpa memperdulikan rasa bersalahnya tadi.


Dan kini botol itu berhenti tepat di depan dirinya sendiri.


Akira yang melihat botol itu mengarah pada Haru langsung memberi dare padanya.


"Aku beri dare, bahwa besok di taman kau akan membuat pernyataan cinta romantis pada Hasya!"ucap Akira karna dia mengenal sosok Hasya dari cerita Haru sendiri yang waktu itu curhat padanya.


"Yak tapi aku..."


"Ini mutlak!"


Haru menghela napas pasrah sedangkan Akira dan Asa kompak bertepuk tangan sambil tertawa bahagia.


Wah mereka tak sabar melihat pertunjukan Haru menyatakan isi hatinya pada orang yang diam-diam dia sukai besok.


Kini giliran Akira yang mendapat dare atau truth karna Asa telah memutar botol itu.


Akira lalu menjawab.


"Aku pilih truth."


"Ah kau tidak asik Akira."


"Terserah Ku wle!"


Asa lalu memberi pertanyaan itu.


"Apa yang kau alami akhir-akhir ini?"tanya Asa sederhana membuat Haru akan protes tapi Akira terdiam.


...


What we fear is likely to happen to us. But that can all be overcome by preparing yourself from now on.


Learn to face your smallest fears, then the bigger ones. When you have successfully done it, you can easily face even the biggest fears.


The solution to every fear is always near you. But your eyes are always focused on the fear and ignore the solution.


Apa yang kita takutkan memang kemungkinan menimpa kita. Tapi itu semua bisa diatasi dengan mempersiapkan diri mulai dari sekarang.

__ADS_1


Belajarlah menghadapi ketakutannmu yang terkecil, kemudian yang lebih besar. Saat anda telah berhasil melakukannya, ketakutan besarpun bisa anda hadapi dengan mudah.


Solusi dari setiap ketakutan selalu ada di dekatmu. Tapi mata anda selalu fokus pada rasa takutnya dan mengabaikan solusinya.


__ADS_2