
Akhirnya Haru dan Akira sampai di hutan tempat camping Hana, tapi entah kenapa mereka sama sekali tak melihat keberadaan bis sekolah Hana di sana.
"Apa mungkin mereka parkir ke tempat yang lain?"tanya Akira.
"Kau tau hanya ini tempat parkir satu-satunya, mereka tidak mungkin masuk kedalam hutan kan?"ucap Haru.
Di tempat itu memang ada bekas tempat parkir yang bisa di gunakan untuk tur. Semenjak hutan itu di tutup oleh polisi, pemilik tempat itu terpaksa juga menutupnya karna para tur tidak di perbolehkan ke tempat itu lagi, dan akhirnya sang pemilik menelantarkannya hingga terbengkalai.
"Haru coba lihat kesana!"ucap Akira menunjuk salah satu pohon besar.
"Kenapa?"
"Aku ingat di pohon itu ada tertempel poster para remaja yang hilang itu tapi kenapa sekarang poster itu hilang?"
"Sepertinya ada yang sengaja mencabutnya agar tak ada mencurigai tempat itu, coba lihat di beberapa pohon terlihat bekas sobekan kertas."
Kecurigaan mereka berdua makin membuat mereka yakin kalau tidak ada yang beres dengan hutan itu, apalagi mereka belum menemukan atas sama sekali melihat rombongan Hana.
"Haru...ayo ikut aku!"
Tiba-tiba saja Akira menarik tangan Haru untuk mengikutinya, membuat pemuda berambut blonde itu sedikit binggung akan tetapi tubuhnya bergerak mengikuti temannya itu.
...
Di sisi lain kita bisa lihat beberapa anak yang di ikat dengan posisi kaki menggantung di atas pohon.
Anak-anak itu adalah teman-teman Hana.
Ya ternyata orang-orang dari sekte aneh itulah yang melakukannya hanya demi melakukan ritual aneh, entah dari mereka berasal tetapi mereka adalah sekelompok berbahaya yang bisa mengancam nyawa seseorang tak bersalah siapapun itu.
Hana yang melihat seseorang mendekatinya tak bisa membendung air matanya lagi, dia terisak tertahan bahkan berteriak untuk minta tolong saja dia tak mampu karna mulutnya di lakban.
"Dia cantik, pangeran iblis mungkin akan menyukainya jika kita menjadikannya seorang pengantin."ucap orang itu saat menatap wajah Hana.
"Tapi kita tetap harus melakukan ritualnya, jika salah satu jumlah pengorbanan kurang maka ritual akan gagal."ucap yang lain.
Mendengar kata pengorbanan dari mulut pria itu makin membuat Hana takut jika akan terjadi sesuatu yang buruk padanya dan teman-temannya.
Pikiran negatif mulai menghantui pikiran Hana, apa dia akan mati di sini?
Bagaimana dengan kedua orang tuanya?
Lalu kakaknya?
Ingin sekali dia melepaskan diri dan kabur dari mereka tetapi sayangnya dia tak bisa melakukannya.
Bahkan para guru mereka juga tak bisa melakukan apa-apa untuk melawan orang-orang itu.
Sementara itu...
__ADS_1
"Itu Hana dan teman-temannya kita harus menyelamatkan mereka Akira!"ucap Haru yang ingin beranjak dari tempat persembunyian mereka berdua diantara para pohon besar.
"Tunggu Haru jangan bertindak gegabah karna orang-orang itu mempunyai senapan dan senjata tajam."ucap Akira mencegatnya.
"Lalu apa yang haru kita lakukan?mereka berada dalam bahaya Akira apalagi aku melihat adikku sangat ketakutan disana."lirih Haru.
Akira lalu memandang sekelilingnya.
"Aku tau kau sedih tapi ini bukan waktunya untuk bertindak ceroboh, jika kita tertangkap maka semua berakhir.
Kita harus membuat sebuah rencana."
"Rencana apa?"
"Pancing mereka keluar dari tempat persembunyian mereka, dan salah satu dari kita melepaskan para korban tapi ingatlah kau harus hati-hati dan selamat!"ucap Akira tegas.
Haru mengangguk paham.
Dia akan melakukannya demi adiknya.
...
Srek!
"Hei siapa di sana!"
"Apa kita harus mengeceknya?"tanya mereka para ketuanya.
"Ya kalian harus mengeceknya, pastikan tidak ada orang lain yang melihat kita!atau mungkin dia adalah salah satu dari anak-anak ini yang berhasil kabur kalian harus berhasil menangkapnya!"perintah mutlak ketua mereka.
Beberapa dari mereka lalu pergi ke luar hutan untuk mengetahui keberadaan suara itu.
Tinggallah satu pria berjanggut putih yaitu ketua kelompok sekte aneh itu.
"Aku akan melakukan ritualnya..."gumam pria itu lalu mendekati Hana sambil memegang sabitan tajam membuat mereka panik dan semakin ketakutan.
"Em!"
Hana memekik sakit karna menahan rasa nyeri saat tangannya di gores oleh sabitan itu.
Setelah mendapat darah Hana pria itu lalu membuat simbol di atas batu besar itu dengan darah Hana.
Lalu dia juga melakukan nya pada satu persatu teman-teman Hana.
Hingga...
Bruk!
Sebuah batu berukuran sedang terlempar dan mengenai kepala pria itu hingga sampai berdarah.
__ADS_1
Pria itu sampai jatuh tersungkur ketanah dan pingsan.
Melihat situasi itu Akira langsung keluar dari persembunyian dan menyelamatkan Hana dan teman-temannya.
"Kak Akira..."ucap Hana saat Akira berhasil melepaskannya dan lakban di mulutnya.
"Kau baik-baik saja Hana?"
"Ya, tapi bagaimana kakak ada disini?"tanya Hana penasaran.
"Aku bersama kakakmu, kau tenanglah kamu berdua akan menolong kalian dan kita pergi dari sini."
"Kak Haru juga ada di hutan ini?!"ucap Hana terkejut.
Dirinya tak menyangka bahwa kakaknya itu akan datang menolongnya.
"Kau kira Haru akan membiarkan adiknya kesayangannya terluka huh?"ucap Akira terkekeh sambil menggoda adiknya Haru itu.
Hana yang mendengar itu malu, dia juga membantu Akira untuk melepaskan teman-temannya yang lain.
Dan para guru segera menelpon polisi untuk melapor kejadian yang terjadi pada mereka dan menangkap ketua sekte aneh itu.
"Kakak dimana kak Haru?"
"Dia akan kembali...."
Hanya itu yang Akira ucapkan karna dia tak bisa berbuat apa-apa.
Ya semoga saja temannya itu berhasil.
Akira menatap ketua sekte yang masih pingsan dan telah di ikat di pohon itu.
Melihat wajah itu entah kenapa dia merasa familiar.
Dia juga memandang sekitar mereka yang terdapat banyak simbol aneh dari darah hewan atau manusia yang masih segar.
Akira mendekati kearah ketua itu dan saat pria tua itu membuka kedua matanya.
Hal pertama yang ia lihat adalah wajah Akira yang juga tak asing dalam ingatannya.
"Sebentar lagi polisi akan menangkap dan memenjarakan kalian, ingatlaj bahwa setiap keburukan memiliki resiko besar , anggap saja ini sebagai balasan yang setimpal untuk kalian yang telah merenggut nyawa seseorang tapi lebih dari itu ada karma yang akan terjadi di masa depan untuk membalas semua perbuatanmu."
...
Asa: 'kurasa aku takut bahagia karena setiap aku merasakannya, sesuatu yang buruk selalu terjadi.'
Haru: 'Rasa sakit ini sudah muncul sejak beberapa tahun lalu. Tapi aku sudah terlalu lama merasakannya sehingga aku menganggapnya sebagai bagian tak terpisahkan dari hidupku.'
Akira: 'Jangan biarkan kejadian dalam hidup menjatuhkan mu. Dan, jangan mengeluh. Kamu bisa saja kecewa, tak apa, tapi jangan kehilangan semangat karena kejadian dalam hidup. Katakan saja 'Itulah hidup.'
__ADS_1